Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Tok, tok, tok.
"Bu, apa ibu ada di dalam?" Terdengar suara Anin di depan pintu kamar nya.
Pak Johan dan Tika saling melirik satu sama lain, memberikan kode untuk diam.
"Aku akan semakin membuat hidup mu menderita jika kau berani bicara tentang kami pada Anin!" Pak Johan mengancam bu Ela sambil berbisik di telinga nya.
"Iya nak, ibu ada di dalam!" Jawab bu Ela dari dalam kamar nya.
"Ibu baik - baik saja kan?" Tanya Anin dengan nada khawatir.
"Iya nak, ibu baik - baik saja!" Jawab Bu Ela lagi dari dalam kamar nya.
"Anin pergi dulu ya bu, ibu gak usah masak buat makan siang. Nanti Anin beli saja di luar untuk makan siang nya, Anin pamit dulu ya bu!" Anin berkata dari luar kamar nya.
"Iya nak, kamu hati - hati ya di jalan!" Bu Ela berkata kembali pada menantu nya.
"Iya bu, ibu mau nitip sesuatu gak sama Anin?" Kembali terdengar suara Anin.
"Gak kok nak!" Jawab Bu Ela lagi.
Lalu suasana menjadi hening, tidak terdengar lagi suara Anin di depan pintu kamar nya bu Ela.
"Apa dia sudah pergi?" Tika bertanya sambil berbisik pada pak Johan.
"Seperti nya sudah, tidak ada lagi suara nya!" Jawab pak Johan pada wanita jalang itu.
"Ingat bu, ibu harus bisa memaksa Dirga akan memberikan kembali motor itu pada ku. Karena jika tidak aku akan membuat ibu semakin menderita!" Tika mengancam bu Ela.
"Lalukan lah apa yang ingin kalian lakukan pada ku, aku sudah tidak perduli lagi sekalipun kalian membunuh ku!" Bu Ela membalas ucapan Tika dengan nada berani.
"Oh, rupa nya ibu sudah sudah berani ya sekarang sama aku. Apa karena kehadiran menantu kesayangan ibu itu?" Tika bertanya dengan nada sinis.
"Kalian berdua memang jahat, tapi kalian harus ingat bahwa suatu saat kalian akan mendapat kan balasan nya!" Ujar Bu Ela lagi.
"Oh ya benar kah itu ibu? Apakah ibu fikir menantu baru ibu itu yang akan menolong ibu? Lihat saja bu, aku akan membuat putra bungsu mu itu tunduk pada ku, dan akan ku singkir kan istri nya itu dari rumah ini!" Tika berkata sambil mencengkram dagu bu Ela dengan kasar.
"Ayo lah kita pergi, seperti nya Anin sudah pergi sejak tadi!" Pak Johan mengajak Tika pergi dari kamar itu.
Pak Johan dan Tika langsung pergi dari kamar nya bu Ela, mereka keluar lewat pintu belakang menuju rumah nya Atar.
Sementara itu, bu Ela menangis sejadi -jadi nya setelah suami dan menantu nya keluar dari dalam kamar nya. Bu Ela menyesali kenapa putra sulung nya bisa memiliki istri seperti Tika, wanita licik dan serakah.
"Ya Allah, apa salah ku? Kenapa harus seperti ini?" Bu Ela menangis sambil memeluk lutut nya.
"Ya Allah, semoga Dirga tidak tergoda dengan wanita licik itu. Aku tidak rela jika dia sampai menghancurkan kehidupan putra ku!" Bu Ela terus menangis pilu.
Dulu rumah tangga Andri, putra kedua bu Ela dan pak Johan hampir saja hancur. Tika bahkan melakukan segala cara untuk mengoda Andri dan Andri pun tergoda. Tapi untung nya Weni bergerak cepat, dia tidak membiarkan suami nya jatuh terlalu lama ke dalam pelukan wanita penggoda seperti Tika.
Sementara itu, saat ini Anin sudah tiba di sebuah cabang bank nasional yang tidak jauh dari rumah nya. Bukan tanpa alasan Anin memilih untuk pergi ke bank secara langsung, dia punya tujuan lain selain menyetor uang itu ke rekening pribadi nya.
Kebetulan bank itu berada tidak jauh dari pasar, Anin lalu membeli bahan - bahan masakan tapi hanya dalam jumlah kecil. Tidak seperti kemarin dia belanja dalam jumlah banyak, setelah itu Anin pun membeli makanan jadi untuk makan siang mereka di rumah.
"Dengan mengunakan semua ini, aku yakin pelaku pencurian itu akan datang kembali!" Guman Anin sambil tersenyum.
Anin bergegas pulang ke rumah nya kembali, setelah meletakkan semua nya di dapur Anin pun keluar dari rumah nya. Anin berdiri di halaman samping, di mana terdapat kebun sayuran kecil milik bu Ela. Kebun itu tepat berada di samping kamar nya Tika.
"Bu, aku sudah belanja untuk makan siang, sekaligus aku belanja untuk stok isi kulkas. Aku tidak selera makan, aku mau beli bakso saja, aku pergi dulu ya bu!" Teriak Anin dari samping rumah.
Setelah itu, Anin bergegas masuk ke dalam kamar nya. Tapi sebelum nya Anin sudah membuka pintu samping yang ada di dapur, pintu itu dekat dengan dapur nya Tika.
Tika yang saat ini baru saja selesai berbagi keringat dengan pak Johan, mendengar dengan jelas teriakan Anin tadi. Dia tersenyum pada sang mertua sekaligus selingkuhan nya tersebut.
"Lapar juga ni perut, kebetulan sedang ada sesuatu yang bisa di ambil!" Tika berkata sambil mengusap perut nya yang saat ini masih belum mengenakan pakaian nya.
"Cepetan kamu ambil makanan nya, kita makan di sini saja. Aku juga udah laper!" Pak Johan berkata pada Tika.
Tika bergegas makakai semua pakaian nya, lalu dia pergi ke rumah mertua nya melalui pintu dapur. Dia keluar lewat pintu dapur nya, dan masuk ke rumah bu Ela lewat pintu samping yanh memang sengaja di buka oleh Anin.
Tika langsung menuju ke meja makan, dia tersenyum saat melihat ada 3 bungkus nasi padang di atas meja.
"Oh, dia beli nasi padang rupa nya. Bagus lah, biar untuk ku dan mas Johan saja. Untuk mereka berdua silahkan cari makan sendiri!" Guman Tika sambil tertawa cekikikan.
Tika tadi mendengar bahwa Anin sudah belanja isi kulkas, dia tudak ingin menyia - nyia kan kesempatan itu. Dia langsung membuka kulkas dan melihat ada sekitar satu kilo ayam dan juga buah - buahan.
"Belanja isi kulkas hanya segini, ku pikir tadi dia belanja banyak!" Tika berkata sambil mencebik kan bibir nya.
"Tapi tidak papa deh segini, dari pada tidak sama sekali!" Guman Tika sambil mengambil buah dan juga ayam yang di beli oleh Anin tadi.
Tapi Tika sendiri tidak sadar, bahwa semua aksi nya sudah di rekam oleh Anin. Anin sejak tadi berdiri di dekat pintu pembatas antara dapur dan ruang keluarga, kamera ponsel nya On sejak tadi. Sejak Tika masuk hingga sekarang, semua nya di rekam oleh Anin.
Tika membawa semua nya keluar dari dapur, tapi langkah nya mendadak berhenti sebelum dia mencapai pintu.
"Oh, rupa nya ini pencuri nya!" Tiba - tiba Anin berkata dengan suara lantang.
Sontak saja langkah kaki Tika langsung terhenti, dan dia pun refleks membalikkan badan nya.