NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hakim di Atas Dek yang Runtuh

Ledakan di ruang mesin kapal kargo menciptakan guncangan hebat yang melempar beberapa anak buah Baskoro dari atas kontainer. Api mulai menjilat bagian belakang kapal, menciptakan siluet merah yang mengerikan di tengah kegelapan subuh. Pasukan khusus pusat mulai merangsek masuk, suara tembakan terukur menyahut di antara kontainer besi.

​"Baron! Amankan area pelabuhan! Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos!" perintah Arkan sambil menahan luka di bahunya yang kembali berdarah.

​"Siap, Tuan!" Baron bergerak cepat, menghilang di balik bayangan dengan sisa tenaganya.

​Arkan menatap Liana yang masih menggenggam Glock-17 dengan tangan gemetar namun mata yang tajam. "Liana, tetap di belakangku. Kapal itu akan tenggelam dalam tiga puluh menit. Kita harus menangkapnya sebelum dia meledakkan seluruh dermaga ini."

​"Tidak, Arkan,"

Liana melangkah maju, melewati Arkan. "Dia merenggut keluargaku. Dia harus melihat wajahku saat dunianya berakhir."

Mereka berlari menaiki tangga besi menuju dek utama kapal yang mulai miring. Di sana, di tengah kepulan asap hitam, Baskoro duduk tenang di kursi rodanya. Di tangannya, ia memegang sebuah pemantik perak yang identik dengan milik Arkan—namun pemantik ini terhubung dengan sebuah detonator kecil.

​"Berhenti di sana, Anakku yang durhaka," suara Baskoro parau namun penuh kemenangan. "Atau aku akan mengubah galangan kapal ini menjadi kembang api terbesar yang pernah dilihat kota ini."

​Arkan berhenti, merentangkan tangannya di depan Liana. "Cukup, Ayah! Pasukan pusat sudah mengepung tempat ini. Kau tidak punya jalan keluar. Matikan detonator itu!"

​Baskoro tertawa, suara tawanya pecah oleh batuk yang menyakitkan. Ia menoleh ke arah Liana. "Jadi, kau adalah gadis kecil dari rumah bernomor 12 itu? Kau tumbuh menjadi cantik... dan mematikan. Apakah Arkan memberitahumu betapa indahnya api saat melahap atap rumahmu?"

Liana merasakan darahnya mendidih. Ia mengangkat senjatanya, membidik tepat ke arah jantung Baskoro. "Kau bukan manusia. Kau hanya monster yang bersembunyi di balik jas mahal."

​"Dan Arkan adalah monster kecilku," balas Baskoro licik. "Dia yang menyulutnya, Liana. Dia yang melihat ibumu memohon nyawa, namun dia tetap melempar obor itu. Dia mencintaimu sekarang hanya karena rasa bersalah, bukan karena ketulusan!"

​"DIAM!" teriak Arkan.

Ia melangkah maju, mengabaikan ancaman detonator. "Aku memang berdosa, Liana punya hak untuk membenciku selamanya. Tapi kau... kau adalah akar dari semua abu ini!"

​Tiba-tiba, kapal berguncang hebat akibat ledakan kedua di bagian bawah. Baskoro kehilangan keseimbangan, kursi rodanya merosot ke arah pinggiran dek yang tidak memiliki pagar. Detonator di tangannya terlepas, jatuh ke celah lantai besi yang panas.

​"ARKKAN! SELAMATKAN AKU!"

teriak Baskoro ketakutan saat kursi rodanya tersangkut di besi yang membara.

Arkan sempat ragu sejenak. Naluri seorang anak bertarung dengan logika seorang pria yang tersakiti. Namun, Liana lebih cepat. Ia berjalan mendekati Baskoro yang terjepit, ujung laras pistolnya kini menempel di dahi pria tua itu.

​"Liana, jangan!" Arkan memperingatkan. "Jangan kotori tanganmu dengan darahnya. Biarkan hukum yang menyelesaikannya. Jika kau membunuhnya sekarang, kau tidak akan pernah bisa lepas dari bayangannya."

​Liana menatap mata Baskoro yang kini penuh ketakutan. Tak ada lagi kewibawaan, hanya seorang pria tua pengecut yang takut akan kematian. Liana teringat wajah ibunya, teringat tangisan adiknya, dan teringat Arkan remaja yang meraung kesakitan dalam rekaman suara itu.

​"Membunuhnya sekarang adalah hal yang terlalu mudah," bisik Liana dingin.

​Liana menurunkan senjatanya. Dengan satu tendangan keras, ia mendorong kursi roda Baskoro menjauh dari api, namun tepat ke arah pasukan khusus yang baru saja menyerbu naik ke dek.

​"Tangkap dia," ucap Liana datar kepada para petugas.

"Biarkan dia membusuk di sel yang paling gelap, melihat semua kekuasaannya hancur berkeping-keping."

​Baskoro berteriak marah saat petugas menyeretnya pergi. "KAU LEMAH, LIANA! KAU SAMA LEMAHNYA DENGAN ARKAN!"

​Suasana mendadak sunyi saat Baskoro dibawa pergi. Hanya suara api yang berderak dan sirine yang meraung di kejauhan. Arkan terduduk di lantai dek yang miring, wajahnya sangat pucat.

​Liana menghampirinya, berdiri tepat di depan pria itu. Matahari mulai terbit di ufuk timur, membiaskan cahaya jingga di atas permukaan laut yang penuh tumpahan minyak.

​"Kenapa kau tidak membiarkanku membunuhnya?" tanya Liana lirih.

Arkan menatap Liana dengan mata yang sayu namun penuh rasa syukur. "Karena aku ingin kau tetap menjadi Liana yang kulihat sepuluh tahun lalu. Gadis yang hatinya terlalu berharga untuk dihancurkan oleh kebencian. Aku sudah kehilangan jiwaku, Liana. Aku tidak mau kau kehilangan jiwamu juga."

​Liana terdiam. Ia melihat tangan Arkan yang penuh bekas luka, tangan yang dulu dipaksa membakar dunianya, namun semalam mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya.

​"Aku belum memaafkanmu, Arkan," ucap Liana pelan. ia mengulurkan tangannya, membantu Arkan berdiri.

"Tapi aku memutuskan untuk berhenti membencimu. Karena membencimu hanya membuatku terus terikat pada malam kebakaran itu."

​Arkan menggenggam tangan Liana. Dingin, namun untuk pertama kalinya, Liana merasakan kehangatan yang tulus dari sentuhan itu.

​"Beri aku waktu seumur hidup untuk membayar hutangku padamu," bisik Arkan.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!