Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Pengawasan
“Kau masih punya waktu untuk menghentikan semua kegilaan ini sebelum darah benar-benar tumpah.”
Suara Gray terdengar sangat tenang, frekuensi suaranya merambat melalui earpiece Leon dengan kejernihan yang menyakitkan. Di seberang sana, Gray mungkin sedang menatap belasan layar monitor yang menampilkan grafik suhu, aliran data, dan peta satelit District 6.
Leon duduk diam di atas motor hitamnya di ujung jalan yang mengarah langsung ke jantung Distrik 6. Dari posisinya yang tersembunyi di balik bayangan gedung parkir yang runtuh, ia bisa melihat gang sempit tempat Klinik Arden berdiri. Bangunan kayu kecil itu tampak rapuh, terjepit di antara beton-beton raksasa yang sudah berlumut. Di tengah distrik kumuh ini, klinik itu tampak seperti sebuah anomali—sesuatu yang terlalu bersih untuk tempat seburuk ini.
Lampu di dalam ruangan masih menyala, memancarkan binar kuning yang hangat ke aspal. Alice sudah membuka kliniknya sejak satu jam lalu, memulai rutinitas yang mungkin ia anggap biasa.
Leon tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu kayu yang sedikit miring itu dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Leon,” lanjut Gray ketika keheningan berlangsung terlalu lama. “Aku serius. Ini bukan hanya soal uang tujuh juta lagi.”
Leon akhirnya membuka suara, nadanya pendek dan tajam. “Aku juga serius, Gray.”
Di bawah sana, kehidupan distrik mulai menggeliat. Seorang buruh pabrik dengan tangan terbungkus kain penuh noda oli masuk ke dalam klinik. Tak lama kemudian, seorang ibu muda yang menggendong anak kecil yang batuk-batuk duduk di kursi plastik biru di depan pintu, menunggu giliran. Semuanya terlihat normal. Begitu damai hingga terasa menyakitkan bagi seseorang seperti Leon yang tahu bahwa maut sedang menghitung detik di sekitar mereka.
Gray kembali memecah kesunyian. “Kontrak Helix masih aktif di sistem. Statusmu masih terdaftar sebagai eksekutor utama.”
Leon menjawab datar sembari membetulkan posisi sarung tangannya. “Aku tahu.”
“Jika kau tidak mengeksekusinya dalam siklus ini, reputasimu sebagai kurir yang tak pernah gagal akan runtuh menjadi abu.”
Leon sedikit memiringkan kepalanya, matanya tetap terpaku pada pintu klinik. “Reputasi tidak pernah membuatku tetap hidup di jalanan, Gray. Peluru dan kecepatan yang melakukannya.”
Gray mendengus kecil, suara digital yang terdengar skeptis. “Justru reputasi 'Phantom' itulah yang membuat orang-orang berpikir dua kali sebelum mencoba menusuk punggungmu. Jika kau terlihat lemah, mereka akan datang seperti hiu yang mencium bau darah.”
Leon tidak membantah. Ia tahu Gray benar, namun ada hal lain yang kini lebih berat daripada nama baiknya di dunia bawah.
“Batalkan kontraknya melalui protokol darurat,” kata Gray lagi, nadanya mendesak.
Leon menggeleng pelan, meski Gray tidak bisa melihatnya. “Tidak.”
“Kenapa? Apa yang kau cari?”
Leon menjawab tanpa sedikit pun emosi. “Karena membatalkan kontrak tidak akan mengubah apa pun bagi wanita itu.”
Gray terdiam selama beberapa detik. Suara ketikan keyboard yang riuh di latar belakang berhenti seketika. “Apa maksudmu?”
Leon berkata pelan, suaranya nyaris menyerupai bisikan. “Helix tidak akan berhenti hanya karena aku mengundurkan diri. Kau tahu bagaimana mereka bekerja.”
Gray tidak menjawab, memberikan ruang bagi Leon untuk melanjutkan.
“Jika aku mundur, mereka akan segera mengalihkan kontrak itu kepada orang lain. Mungkin kepada sepuluh orang sekaligus,” Leon menatap pintu klinik yang baru saja tertutup. “Dan orang itu tidak akan ragu-ragu untuk menembak kepalanya.”
Gray menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang berat. “Ya. Itu memang cara dunia ini bekerja.”
Leon tetap menatap pintu klinik, seolah ia bisa melihat Alice di balik dinding kayu itu. “Jadi aku tidak akan mundur dari kontrak ini.”
Gray berkata dengan nada tajam, hampir terdengar seperti peringatan. “Kau tidak bisa melindunginya selamanya, Leon. Kau hanya seorang pria dengan satu pistol dan satu motor.”
Leon menjawab tenang, suaranya tetap stabil meskipun adrenalin mulai merayap di nadinya. “Aku tidak perlu melindunginya selamanya. Aku hanya perlu melakukannya hari ini.”
“Kau sedang berpikir seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehatnya!” Gray meledak, suaranya meninggi di frekuensi radio.
Leon menjawab dingin. “Mungkin. Tapi ini satu-satunya hal yang terasa benar bagiku sekarang.”
Gray mencoba sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih persuasif. “Leon. Jika kau benar-benar tidak tega membunuhnya, maka berhentilah. Berhentilah menjadi Phantom. Kita bisa menghilang ke luar negeri.”
Leon tidak langsung menjawab. Motor yang ia duduki masih mati, namun ia bisa merasakan getaran kota di bawah rodanya. Tangannya berada di setang, tubuhnya tegak dan waspada.
“Aku tidak bisa berhenti,” katanya akhirnya.
“Kenapa? Kau punya cukup uang untuk hidup tujuh kali lipat.”
Leon menjawab pendek. “Karena aku sudah masuk terlalu jauh ke dalam kegelapan ini. Bayanganku sudah menyatu dengan aspal Valmere.”
Gray berkata dengan suara yang lebih rendah, penuh dengan kekecewaan. “Tidak ada yang memaksamu untuk tetap berada di sini, Leon.”
Leon menatap gang yang mulai dipenuhi kabut tipis itu. “Ada.”
Gray bertanya. “Siapa? Atau apa?”
Leon menjawab singkat. “Helix. Mereka menciptakan 'Phantom', dan sekarang mereka akan belajar bahwa hantu tidak selalu bisa dikendalikan.”
Sunyi jatuh kembali. Gray berkata pelan, hampir menyerupai bisikan sedih. “Dendam pribadi bukan alasan yang cukup baik untuk mati konyol di gang kumuh.”
Leon tersenyum tipis di balik visor helm gelapnya. “Siapa bilang ini tentang dendam? Ini jauh lebih sederhana dari itu.”
Gray tidak menanggapi, menunggu penjelasan.
“Ini tentang menjaga seseorang agar tetap memiliki hari esok,” Leon melanjutkan.
Gray menghela napas panjang. “Kau berubah, Leon. Kau bukan lagi mesin yang aku temukan di selokan sepuluh tahun lalu.”
Leon tidak menyangkalnya. Ia merasa jantungnya berdetak dengan cara yang berbeda. Gray berkata lagi, nadanya kini penuh kekhawatiran profesional. “Phantom tidak pernah terikat pada siapa pun. Keterikatan adalah celah bagi peluru musuh.”
Leon menjawab pendek. “Sekarang iya. Aku punya celah itu.”
Gray terdengar hampir putus asa. “Leon, kau harus sadar. Jika kau terus seperti ini, seluruh dunia bawah akan melihatmu sebagai titik lemah. Mereka akan berbondong-bondong datang untuk menjatuhkanmu.”
Leon berkata pelan. “Biarkan saja mereka mencoba.”
Gray bertanya tajam. “Dan bagaimana ketika seseorang datang yang jauh lebih kejam? Seseorang yang tidak peduli pada etika, pada klinik itu, atau pada korban sampingan yang tak berdosa?”
Leon berkata datar. “Aku tahu risikonya.”
Gray berkata pelan, menyebutkan sebuah nama yang membuat suhu di sekitar Leon seolah turun drastis. “Rook.”
Nama itu menggantung di udara malam, dingin dan mengancam. Leon tetap menatap ke arah klinik, matanya tidak berkedip. “Dia sudah datang, Gray.”
Gray terdiam seketika. “Kapan? Bagaimana aku bisa melewatkan sensornya?”
“Semalam. Dia menemuiku di gang ini.”
Gray mengumpat pelan dalam bahasa yang tidak dimengerti Leon. “Damn it. Kenapa kau tidak mengatakannya tadi?”
Leon berkata tenang. “Dia memberiku waktu satu hari. Sebuah bentuk penghormatan antar predator.”
Gray langsung mengerti skenario yang sedang berjalan. “Ultimatum.”
“Ya. Dia akan kembali saat matahari berada di puncak besok.”
Gray berkata dengan nada yang sangat serius. “Leon, dengarkan aku. Jika Rook kembali besok pagi, dia tidak akan datang sendirian. Dia akan membawa seluruh pasukan atau setidaknya peralatan berat untuk meruntuhkan distrik itu.”
Leon menjawab pendek. “Aku tahu.”
“Dan kau tetap tidak akan menyelesaikan kontrak eksekusi Alice?” Gray memastikan sekali lagi.
Leon berkata tanpa ragu sedikit pun. “Tidak. Aku tidak akan menyentuhnya.”
Gray menghela napas panjang yang terdengar seperti bunyi statis. “Kau benar-benar gila. Kau mempertaruhkan segalanya demi seorang wanita yang bahkan mungkin tidak tahu namamu yang sebenarnya.”
Leon tidak menanggapi. Saat itu, pintu klinik terbuka kembali. Seorang pria tua keluar sambil memegang lengan yang baru saja diperban. Alice berdiri di ambang pintu, memberikan beberapa instruksi medis tambahan dengan senyum kecil yang tulus. Wanita itu terlihat tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak sedang bersiap untuk meledak dalam kekerasan.
Leon berbisik pelan. “Dia tidak tahu apa yang sedang mengintainya.”
Gray menjawab. “Dan kau ingin ia tetap tidak tahu sampai akhir?”
“Ya. Itu lebih baik.”
Beberapa menit berlalu dalam pengawasan yang menyesakkan. Lalu, suara raungan mesin motor besar yang berat terdengar dari ujung jalan utama. Suaranya kontras dengan bisingnya distrik. Leon langsung menegakkan punggungnya.
Motor itu berhenti tepat di depan pintu klinik. Pengendaranya turun dengan gerakan yang sangat santai, hampir menyerupai gerakan seorang turis. Ia mengenakan jaket kulit gelap dan sepatu bot militer yang berat. Helm hitamnya menutupi wajahnya sepenuhnya.
Gray berkata pelan di earpiece. “Leon. Deteksi biometrik terkonfirmasi.”
Leon sudah tahu tanpa perlu konfirmasi. Pria itu melepas helmnya, menunjukkan rambut pirang pendek yang terpangkas rapi dan senyum tipis yang mematikan. Rook.
Leon memegang setang motornya lebih erat, buku jarinya memutih di balik sarung tangan. “Dia kembali lebih cepat.”
Gray berkata tegang. “Sekarang, Leon. Kau harus memutuskan.”
Leon tetap diam, matanya terpaku pada Rook yang kini sedang memarkir motornya dengan santai. Rook berjalan menuju pintu klinik tanpa senjata yang terlihat. Hanya langkah kaki yang mantap.
Leon berbisik pelan. “Dia tidak melakukan serangan terbuka.”
Gray menjawab. “Belum. Dia sedang bermain-main denganmu.”
Rook berhenti di depan pintu klinik, menatap papan nama 'Klinik Arden' selama beberapa detik. Lalu, dengan jari-jari yang terlatih untuk membunuh, ia mengetuk pintu kayu itu dengan sopan.
Klik.
Pintu terbuka. Alice muncul di sana, wajahnya tampak lelah namun tetap ramah. Ia menatap pria asing bertubuh besar di depannya tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Selamat siang,” kata Alice ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Rook tersenyum, sebuah senyuman yang bagi Leon tampak seperti serigala yang sedang menyapa domba. “Tentu, Dokter. Aku punya luka yang butuh perhatian profesional.”