NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Menuju Samudera Biru

Angin pagi di Kerajaan Ayodya Pala membawa aroma dupa dan melati yang menenangkan, namun bagi Wira, aroma itu seolah tanda bahwa masa tenang telah usai.

Di gerbang belakang istana yang tersembunyi, Prabu Yudhistira berdiri berdampingan dengan putrinya, Dewi Ratnawati.

Suasana perpisahan itu terasa berat, seolah udara di sekitar mereka menebal oleh emosi yang tak terucapkan.

Wira, yang kini sudah bisa berdiri tegak meskipun tubuhnya masih dibalut beberapa kain kassa di balik jubah pengembaranya, membungkuk hormat.

Di sampingnya, Sekar Arum telah menyandang tas perbekalan dan sepasang pedang pendeknya yang berkilau bersih.

"Gusti Prabu, terima kasih atas segalanya. Ayodya Pala telah memberiku lebih dari sekadar tempat bersembunyi. Tempat ini memberiku alasan untuk tetap menjadi manusia," ucap Wira dengan nada tulus, tanpa ada nada candaan yang biasanya terselip.

Prabu Yudhistira mengangguk pelan, tangannya menepuk bahu Wira.

"Dunia luar masih sangat luas dan penuh duri, Wira. Ingatlah, kemenangan di Majapatih hanyalah percikan kecil dari api yang akan kau hadapi. Jaga dirimu, dan jaga cahaya di hatimu." ucap Prabu Yudhistira.

"Ingatlah juga, bahwa Ayodya Pala selalu terbuka lebar untukmu." lanjutnya dengan penuh wibawa.

Wira mengangguk dan kemudian menoleh ke arah Ratnawati.

Sang putri tampak ragu sejenak, wajahnya yang jelita merona merah saat matanya bertemu dengan mata biru Wira. Ia melangkah maju dan menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi bekal perjalanan dan sebuah sulaman baru.

"Ini... untukmu, Wira. Jangan sampai hilang," bisik Ratnawati pelan, hampir tak terdengar.

Wira tersenyum lebar, membuat Sekar yang berdiri di belakangnya berdehem sangat keras hingga burung-burung di pohon terdekat beterbangan.

"Tentu, Tuan Putri. Akan kusimpan di tempat paling aman, mungkin di dekat jimat yang lama, Hehehe.." jawab Wira dengan meringis.

Plak!

"A-ahh-aww"

Sekar menepuk tengkuk Wira dengan gemas. "Ayo cepat jalan! Kapal nelayan yang akan membawa kita ke penyeberangan benua tidak akan menunggu pengembara yang hobi merayu!"

Wira tertawa renyah, melambaikan tangan terakhir kalinya saat ia dan Sekar mulai melangkah meninggalkan kedamaian Ayodya Pala.

Mereka bergerak menuju pelabuhan rahasia, memulai perjalanan panjang melintasi samudera menuju benua yang jauh.

Melihat punggung Wira yang semakin menjauh, Dewi Ratnawati terlihat sangat sedih.

"Tenanglah putriku, Wira pasti akan kembali, setelah itu kupastikan dia meminangmu." ucap Prabu Yudhistira melihat kesedihan putrinya.

_

Sementara itu, di wilayah Kerajaan Majapatih yang sedang berbenah, sebuah fenomena luar biasa terjadi.

Sang Raja Majapatih, atas perintah hati nuraninya yang telah kembali dan didorong oleh desakan jutaan rakyat, memerintahkan pembangunan sebuah monumen raksasa di tengah alun-alun kota.

Bukan patung dewa, bukan pula patung raja terdahulu. Di sana berdiri sebuah patung pemuda setinggi sepuluh meter yang terbuat dari batu hitam gunung yang sangat kokoh.

Patung itu menggambarkan seorang pemuda dengan caping bambu miring, memegang sebatang tongkat kayu, dengan pandangan mata yang menatap jauh ke depan.

Rakyat Majapatih menyebutnya sebagai Patung Sang Penyeimbang.

Setiap pagi, warga meletakkan bunga dan hal lain secara unik seperti meletakkan beberapa buah ubi bakar di kaki patung tersebut sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Mereka mengenang hari di mana cahaya biru langit turun dan membebaskan jiwa mereka dari cengkeraman kegelapan Kalingga.

Nama Wira Wisanggeni telah menjadi legenda yang hidup, bisikan harapan yang diceritakan orang tua kepada anak-anak mereka sebelum tidur.

Namun, di belahan dunia lain, kegelapan dengan wajah berbeda sedang berkuasa.

Setelah menempuh perjalanan laut selama beberapa minggu yang melelahkan, di mana Wira menghabiskan waktu dengan berdebat bersama Siwa tentang cara memancing ikan menggunakan energi sukma, hingga mereka akhirnya menginjakkan kaki di pesisir Kerajaan Samudera Biru.

Kerajaan ini terletak di sebuah semenanjung raksasa yang dikelilingi oleh air laut yang selalu bergejolak.

Secara kasat mata, kerajaan ini nampak makmur dengan pelabuhan-pelabuhan dagang yang sibuk. Namun, aura yang dirasakan Wira melalui Siwa sangatlah menyesakkan.

Ada aroma penindasan yang kental di setiap embusan angin lautnya.

"Kabar yang kudengar benar, Sekar," ucap Wira sambil memperbaiki letak capingnya saat mereka berjalan menyusuri pasar pelabuhan.

"Kaisar Laut, ia adalah Kaisar Baruna, sedang mengadakan Sayembara Pendekar Baru. Namun sayembara ini bukan untuk mencari pelindung rakyat, melainkan untuk menyaring pendekar-pendekar berbakat yang akan dijadikan pilar bagi kekuasaan absolutnya."

Sekar mengamati sekeliling. Ia melihat banyak pemuda dengan wajah cemas sedang mengantre di pos pendaftaran.

"Wira, aku merasakan tekanan energi yang konstan di kota ini. Seolah-olah ada sebuah formasi raksasa yang menarik sedikit demi sedikit energi sukma dari siapa pun yang masuk ke wilayah ini." ucapnya pelan.

"Kau benar, Sekar," suara Siwa bergema di batin mereka berdua.

"Samudera Biru dikuasai oleh sistem kultivasi yang sangat kaku dan menindas. Para pendekar di sini dibagi dalam ranah-ranah yang dipaksakan oleh dekrit Kaisar dan berbeda dari tempatmu." lanjut Siwa menjelaskan.

Wira mengangguk, ia teringat informasi yang diberikan Guntur sebelum mereka berpisah.

Di Kerajaan Samudera Biru ini, kekuatan pendekar diukur dengan sangat ketat untuk memastikan tidak ada yang bisa melampaui sang Kaisar,

Ranah Arus Pasang (Tahap Awal): Pendekar yang baru menguasai manipulasi air sederhana.

Ranah Gelombang Karang (Tahap Menengah): Kebanyakan prajurit elit kerajaan berada di sini, memiliki tubuh sekeras karang.

Ranah Badai Samudera (Tahap Tinggi): Para jenderal besar yang konon bisa membelah lautan dengan sekali tebas.

Ranah Kedalaman Abadi: Hanya Kaisar Baruna yang dikabarkan mencapai tahap ini, sebuah kekuatan yang mampu memberikan tekanan gravitasi air yang sangat dahsyat kepada lawan-lawannya.

Kaisar Baruna ini dikenal selalu menindas rakyatnya dengan pajak energi. Setiap pendekar yang ingin naik ranah wajib menyetorkan setengah dari hasil kultivasinya kepada kerajaan,

Guntur pernah memperingatkan mereka berdua,

"Di Samudera Biru ini seperti sebuah bentuk perbudakan kultivasi."

Wira mengepalkan tangannya pada gagang Siwa.

"Ini persis seperti yang dilakukan Kalingga, hanya saja dibungkus dengan hukum kerajaan yang seolah-olah sah. Jika kita membiarkan ini, entitas kuno yang diperingatkan Guru akan dengan mudah menelan tempat ini karena rakyatnya sudah tidak memiliki semangat hidup." gumam Wira lirih.

"Jadi, apa rencana kita, Wira? Ikut sayembara?" tanya Sekar.

Wira kembali menunjukkan seringai konyolnya.

"Tentu saja. Kapan lagi seorang pedagang ubi sepertiku bisa menjadi Pendekar Baru di kerajaan semegah ini? Kita akan masuk ke jantung kekuasaan mereka, melihat seberapa dalam kedalaman abadi milik sang Kaisar itu." jawab Wira dengan senyuman anehnya.

"Bocah, jangan sombong. Aku merasakan ada aroma dewa kegelapan yang tipis di istana pusat mereka. Sepertinya Kalingga bukan satu-satunya pion yang ditebar di bumi," Siwa memperingatkan dengan nada serius.

"Aku tahu, Siwa. Itulah sebabnya kita di sini," jawab Wira tegas.

Saat mereka mendekati meja pendaftaran, seorang petugas dengan zirah bersisik biru menatap Wira dengan pandangan menghina.

"Nama? Asal? Dan ranah kultivasi?" tanya petugas itu malas.

Wira membungkuk dengan gaya yang terlalu rendah hingga capingnya menutupi wajahnya. "Nama saya... Wira. Asal dari desa seberang laut. Ranah kultivasi saya? Aduh petugas, aku cuma bisa jualan ubi dengan satu tangan, mungkin itu masuk ranah Arus Ubi?"

Petugas itu tertawa terbahak-bahak, sementara Sekar hanya bisa menepuk dahinya di belakang.

"Masuk ke barisan pendekar rendahan! Kita lihat berapa lama kau bertahan di arena nanti!" ucap petugas itu mengejek.

Wira pun hanya langsung melangkah masuk ke dalam area sayembara dengan langkah yang ringan.

Di dalam hatinya, tekadnya sudah bulat. Ia akan berkeliling ke setiap benua, membasmi setiap benih keserakahan yang ditanam oleh iblis dan dewa, sebelum sosok dari dunia atas benar-benar turun ke bumi.

"Sekar," panggil Wira pelan saat mereka berjalan menuju penginapan peserta.

"Ya?"

"Nanti kalau aku menang, jangan pukul kepalaku lagi ya? Malu dilihat orang banyak."

Sekar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti.

"Tergantung. Kalau kau melihat wanita cantik lagi dengan tatapan melongo seperti saat melihat si Ratnawati itu, maka aku tidak menjamin kepalamu akan tetap utuh." jawab Sekar dengan sinis.

"Hahaha..." tawa Siwa dalam kepala Wira secara tiba-tiba.

"Cihh... Dasar tongkat jelek," keluh Wira dalam hati.

Namu Wira pun kemudian juga tertawa, tawa yang bergema di tengah hiruk pikuk kota Samudera Biru yang mencekam.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!