NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Aroma yang Tak Terlupakan

Kegelisahan adalah bumbu utama yang merajai dapur megah Arunika sore itu. Setelah kepulangannya dari supermarket dengan kantong belanjaan yang terasa lebih berat daripada beban desain koleksi musim seminya, Nika segera menanggalkan sepatu hak tingginya dan menggantinya dengan sandal rumah yang empuk. Namun, ketenangannya berakhir di situ. Ia berdiri di depan kompor induksi yang canggih, menatap bungkusan ikan asin peda dan sekotak kecil terasi dengan pandangan seolah-olah ia sedang menghadapi bom waktu yang siap meledak.

"Oke, Nika. Fokus. Mama Sofia bilang cuma ikan asin dan sambal," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar agak gemetar di tengah keheningan rumah yang luas itu. Ia meraih ponsel, mencari video tutorial di internet dengan kata kunci "cara membuat sambal terasi paling enak sedunia".

Langkah pertama dimulai: mencuci ikan asin. Namun, baru saja menyentuh tekstur ikan yang kasar dan berbau tajam itu, Nika refleks menjauhkan kepalanya dengan wajah berkerut. "Baunya... luar biasa," gumamnya. Selama ini, indra penciumannya hanya akrab dengan aroma parfum niche atau lilin aromaterapi beraroma lavender. Kini, ia harus berdamai dengan bau yang sanggup menembus pori-pori kulitnya. Dengan penuh perjuangan, ia mencuci ikan itu, meski beberapa kali ia harus berhenti untuk sekadar menghirup udara segar dari jendela dapur yang ia buka lebar-lebar.

Masalah sebenarnya muncul saat ia mulai memanaskan minyak. Berdasarkan instruksi video, ia harus menggoreng terasi terlebih dahulu. Nika memasukkan sebongkah kecil terasi ke dalam minyak panas. Dalam hitungan detik, suara cesss yang nyaring terdengar, dan seketika itu juga, asap tebal beraroma sangat menyengat memenuhi dapur. Aroma itu begitu kuat, menyebar dengan kecepatan kilat, menempel pada gorden sutra, sofa beludru di ruang tengah, hingga ke lantai atas.

"Uhuk! Uhuk! Ya Tuhan!" Nika terbatuk hebat. Matanya mulai berair. Ia mencoba mengipasi asap itu dengan serbet dapur, namun bukannya hilang, asap itu justru berputar-putar di wajahnya. Dalam kepanikan, ia lupa mengecilkan api. Ia kemudian memasukkan cabai merah dan rawit ke dalam wajan yang sama. Kesalahan fatal. Suasana dapur berubah menjadi zona gas air mata. Cabai yang terkena minyak panas melepaskan senyawa capsaicin ke udara, membuat tenggorokan Nika terasa terbakar.

Ia berlari menuju wastafel, membasuh mukanya yang memerah, namun rasa perih di mata justru semakin menjadi karena tangannya tadi sempat menyentuh cabai. Di tengah kekacauan itu—dengan rambut yang mulai acak-acakkan, mata yang merah dan sembab karena pedas, serta daster yang terkena cipratan minyak—suara gerbang depan yang terbuka terdengar.

Jantung Nika seolah berhenti berdetak. Mas Devan datang.

Sesuai pesan Siska, Devan hanya ingin mengambil pakaian dan tidak ingin ditemui. Namun, bagaimana mungkin seseorang tidak terganggu jika rumahnya beraroma seperti pasar ikan di tengah hari bolong? Nika mendengar suara kunci pintu depan berputar. Ia panik. Ia ingin mematikan kompor, namun matanya terlalu perih untuk melihat dengan jelas.

Langkah kaki Devan yang biasanya tenang kini terdengar agak terburu-buru. Pria itu pasti mencium aroma yang sangat tidak biasa ini dari teras. Saat Devan sampai di ambang pintu dapur, ia terpaku. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya: asap putih mengepul di langit-langit, bau terasi yang memenuhi atmosfer, dan istrinya—wanita yang biasanya selalu tampil sempurna dan elegan—kini sedang berjongkok di dekat wastafel sambil menangis karena matanya perih, dengan tangan yang memegang spatula.

"Nika? Apa yang terjadi? Kamu mau membakar rumah ini?" Suara Devan terdengar panik bercampur heran. Ia segera melangkah maju, mematikan kompor dengan satu gerakan cepat, lalu membuka seluruh jendela dan pintu geser menuju taman belakang agar sirkulasi udara membaik.

Nika mendongak dengan susah payah. Air matanya terus mengalir, bukan hanya karena pedas, tapi karena ia merasa sangat malu dan gagal. "Aku... uhuk... aku cuma mau buat sambal, Mas," suaranya parau dan kecil.

Devan terdiam. Ia menatap wajan yang berisi cabai dan terasi yang sudah menghitam. Kemudian ia menatap Nika yang tampak sangat berantakan. Tak ada lagi kesan dingin atau angkuh pada diri istrinya saat ini; yang ada hanyalah seorang wanita yang tampak sangat rapuh dan... konyol di saat yang bersamaan.

"Sambal terasi?" tanya Devan, nada suaranya sedikit melunak, meski masih tersirat jarak yang lebar. "Sejak kapan kamu suka sambal terasi?"

"Bukan untukku," jawab Nika sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya, yang justru membuat matanya semakin perih. "Untukmu. Mama bilang kamu suka ikan asin dan sambal terasi. Aku... aku ingin minta maaf lewat ini, tapi sepertinya aku malah mengacaukan rumahmu."

Hening sejenak. Devan menatap istrinya dalam diam yang cukup lama. Ada pergolakan di matanya. Rasa sakit hati yang ia bawa sejak kemarin berbenturan dengan kenyataan bahwa Nika—istri yang begitu benci pada dapur—rela menderita terkena asap cabai demi dirinya. Namun, luka itu masih terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan satu aroma sambal.

"Sini," ucap Devan pendek. Ia menarik tangan Nika dengan lembut namun tegas menuju wastafel. Ia menyalakan keran, mengambil sabun pencuci tangan, lalu mulai membasuh tangan Nika dengan hati-hati. "Jangan kucek matamu dengan tangan yang kena cabai. Itu makin perih."

Sentuhan tangan Devan yang dingin dan mantap di kulitnya membuat Nika terpaku. Ia menatap wajah suaminya dari samping. Devan tetap tidak menatap matanya, fokus pada membersihkan tangan Nika seolah itu adalah tugas paling penting di dunia. Dalam jarak sedekat ini, Nika bisa mencium aroma parfum Devan yang bercampur dengan bau asap dapur. Kontras yang aneh, namun terasa sangat nyata.

"Mas..." bisik Nika. "Maafkan aku soal draf itu. Aku benar-benar tidak bermaksud—"

"Berhenti, Nika," potong Devan tanpa nada marah, tapi suaranya sangat datar. "Aku ke sini cuma mau ambil baju. Setelah tanganmu bersih, masuklah ke kamar. Aku tidak ingin bicara soal itu sekarang."

"Tapi Mas, aku sudah belikan ikan asinnya. Setidaknya makanlah sedikit sebelum pergi," pinta Nika dengan nada memohon yang belum pernah ia gunakan seumur hidupnya.

Devan melepaskan tangan Nika yang sudah bersih. Ia mengambil tisu dapur, mengeringkan tangannya sendiri, lalu menoleh sekilas ke arah meja makan yang masih kosong. "Rumah ini terlalu bau, Nika. Aku tidak bisa makan di sini. Lagipula, aku sudah ada janji makan malam dengan klien."

Jawaban itu terasa seperti siraman air es bagi Nika. Ia melihat Devan melangkah keluar dari dapur menuju tangga, tanpa menoleh lagi. Nika berdiri mematung di dapur yang kini mulai kembali jernih udaranya. Ia melihat ke arah belanjaannya. Kegagalan ini terasa sangat telak. Ia sudah mencoba merendahkan dirinya, mencoba melakukan hal yang paling tidak ia sukai, namun bagi Devan, itu seolah tidak lagi berarti.

Namun, Nika tidak membiarkan dirinya jatuh terlalu dalam. Ia menghirup napas panjang, mengabaikan rasa perih di tenggorokannya. Ia mengambil wajan baru. Ia tidak akan menyerah. Jika Devan tidak mau makan sekarang, ia akan tetap menggoreng ikan asin itu. Ia akan belajar sampai aromanya tidak lagi membuat rumah terbakar.

Setengah jam kemudian, saat Devan turun membawa koper kecilnya, ia mencium aroma yang berbeda. Kali ini bukan aroma hangus, melainkan aroma ikan asin yang digoreng dengan pas, gurih dan menggugah selera. Di atas meja makan, sudah tersaji satu piring nasi hangat, ikan asin yang tampak kuning keemasan, dan sambal yang meskipun warnanya agak terlalu merah, tampak lebih meyakinkan dari sebelumnya.

Devan berhenti di depan meja makan. Ia melihat Nika berdiri di sudut dapur, sedang mencuci sisa peralatan masak dengan tangan yang masih merah. Wanita itu tidak memanggilnya, tidak merayunya untuk duduk. Nika hanya diam, membiarkan makanan itu yang bicara.

Devan menatap makanan itu cukup lama. Ada kerinduan yang mendalam di perutnya, juga di hatinya. Ia hampir saja menarik kursi, namun bayangan draf cerai yang sudah ditandatangani Nika kembali terlintas. Ia mengatupkan rahangnya, lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu depan.

Blam.

Suara pintu tertutup itu membuat bahu Nika merosot. Ia melihat ke arah meja makan. Makanannya tidak disentuh. Nika duduk di kursi yang seharusnya diduduki Devan. Ia mengambil sesuap nasi dan sambal buatannya sendiri. Pedasnya luar biasa, membakar lidahnya, namun rasa perih di lidahnya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih saat melihat Devan pergi begitu saja.

"Satu babak kalah, Nika. Masih ada 95 babak lagi," bisiknya pada diri sendiri sambil terus mengunyah nasi yang terasa asin oleh air matanya sendiri. Ia menyadari, perjuangan ini bukan hanya soal memasak, tapi soal meyakinkan Devan bahwa ia bukan lagi wanita yang ingin pergi, melainkan wanita yang sedang berjuang untuk tetap tinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!