INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Di rumah megah milik Ratna Maharani di Malang.
Seorang pria duduk di kursi tamu, butiran tasbih yang saling beradu di tangan Sheikh Khalid Al-Harits.
Pria itu duduk tegak di sofa panjang berlapis kulit coklat tua, wajahnya yang berusia 70 tahunan nampak tenang seolah memikirkan rencana.
Wajahnya tenang tetapi rahangnya mengeras, sorot matanya tidak kosong, melainkan sedang membuat rencana untuk mengambil putrinya.
Di hadapannya, meja marmer besar memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit.
Aroma Buhur dari makhraba tercium harum memenuhi ruangan.
Terdengar langkah lembut dari lorong, seorang wanita bersama dua putranya.
Muhammad bin Khalid berusia 13 tahun, sedangkan Fayez Bin Khalid berusia 10 tahun.
Ratna melihat kegelisahan di hati suaminya.
"Kalian masuk kamar dan ganti baju dulu," ujar Ratna kepada kedua putranya.
"Iya Mama," sahut keduanya.
Ratna Maharani mendekat mengenakan abaya modern warna krem lembut dengan selendang tipis menutupi rambutnya.
Wajahnya yang dulu seperti orang kampung dan tak terawat, sekarang terlihat anggun meski ada garis kekhawatiran jelas terlihat.
Ratna berhenti di samping suaminya, lalu duduk di sebelahnya.
"Bmadha tufakirin ya eazizti?" (“Apa yang kamu pikirkan, sayang?”) tanyanya pelan.
Tangan Ratna menyentuh pundak suaminya, seketika Khalid menghentikan putaran tasbihnya, manik-manik itu terdiam diantara jari-jarinya.
Sontak pria itu menoleh ke arah istrinya.
"Kunt 'ufakir fi Nayla." (“Aku memikirkan Nayla.”)
Tiba-tiba, dada Ratna menjadi sesak---kebencian di hati putrinya memang pantas di terima oleh Khalid maupun Ratna.
Karena mereka berdualah putri mereka sudah jauh masuk ke dalam dunia Mafia, dan sudah lama meninggalkan agama.
Tapi mereka juga bisa sedikit lega, lantaran Nayla belum membuat tatoo di tubuhnya.
Jika Nayla membuat tatoo terpaksa Khalid dan Ratna mengambil tindakan tegas, yakni menyuntik anestesi ke tubuh Nayla.
Lalu menyetrika tato di tubuh putri mereka, dan Ratna maupun Khalid siap menerima kesakitan asal putri mereka kembali.
"Laqad shatumak bima fih alkifayat eabr alhatif fi dhalik alyawmi." ("Sudah cukup dia memakimu di telepon tempo hari,") ucap Khalid menatap istrinya.
"Basrahatun, ant walidatuh wala 'utiq 'an yalean walidataha." ("Jujur saja, kamu ibunya dan aku tak terima dia memaki ibunya,") lanjutnya.
Ratna memejamkan matanya lurus ke depan, dirinya bisa mengerti mengapa sang suami bicara demikian.
Tapi disisi lain Ratna merasa bersalah pada Nayla, karena sudah menjualnya kepada Mafia.
"Khalid dia bukan anak kecil lagi, usianya sudah 22 tahun," ucap Ratna pada sang suami.
Khalid akhirnya dengan mantap mengatakan hal yang membuat Ratna membeku.
"Akhtut li'iieadat nayilat bialquati." ("Aku berencana membawa Nayla kembali dengan cara paksa,") tekad Khalid.
"Madha?" (“Apa?”) suaranya melemah.
"La 'astatie alaintizar 'akthar min dhalika. alealam aladhi taeish fih khatir. alsulutat tutariduha. aleadui yatarabas biha. 'iidha lam 'ataharaku, faqad 'afqadaha 'iilaa al'abdi."
(“Aku tidak bisa lagi menunggu. Dunia yang dia jalani berbahaya. Aparat memburu. Musuh mengincar. Jika aku tidak bertindak, aku bisa kehilangan dia untuk selamanya.”)
Ratna menggeleng pelan, dirinya bisa melihat bagaimana nanti Nayla akan semakin membencinya.
"La... la tafeal dhalika." (“Jangan… jangan lakukan itu,”) bisik Ratna sambil memegang dadanya.
"Ratna! hal turidin 'an tubqi nayla fi dawaamat min aldima' wal'aslihati?" (“Ratna! Apa kau ingin membiarkan Nayla tetap dalam lingkaran darah dan senjata?”) Khalid menoleh dengan mata yang tajam.
Naluri seorang ayah sebagai kepala keluarga muncul begitu saja, hanya demi melindungi putrinya.
"La 'uriduh 'an yaeud bimazid min alkarahiati. 'iidha 'ajbarathu, sayakrahuna 'akthara." (“Aku tidak ingin dia kembali dengan kebencian yang lebih besar, Jika kau paksa, dia akan semakin membenci kita.”)
Khalid terdiam sorot matanya menatap istrinya tajam, tangannya kembali memutar tasbih.
Kali ini lebih cepat.
"Laqad 'adaeat sanawat eadidatan maeah bialfieli. lan 'adie ma tabaqaa min waqti limujarad 'anani 'akhshaa 'an yaghdabu." (“Aku sudah kehilangan bertahun-tahun bersamanya. Aku tidak akan kehilangan sisa waktuku hanya karena takut dia marah.”)
Ratna memejamkan matanya sejenak, mengingat kesalahannya di masa lalu---yang mana dengan tega menjual Nayla kepada Aditya.
"Eazizi, 'asheur bialdhanba, fa'ana man samaht lah bialrahil wabaetihi." ("Sayang aku merasa bersalah, aku yang membiarkannya pergi dan menjualnya,") suara Ratna bergetar.
Khalid menatap istrinya dengan campuran emosi dan penyesalan,
"Hal faealat dhalik min 'ajl salamat nayilata?" ("Kamu melakukannya demi keselamatan Nayla?") tanya Khalid dengan lembut.
Ratna menggelengkan kepalanya, dan hari ini dirinya akan mengakui semua kesalahannya kepada sang suami.
"Ramiatuha hinaha." ("Aku membuangnya saat itu,") ucap Ratna.
Khalid menatap istrinya dengan tajam, sebelum Khalid menjawab suara langkah kaki mendekati mereka.
Pintu ruang tamu terbuka.
Seorang pria yang lebih tua dari Nayla masuk dengan postur tegap, wajahnya tegas, rahangnya kuat.
Mengenakan kemeja putih dan celana hitam.
“Baba,” sapanya hormat.
Dia adalah Fahad Al-Harits, putra pertama Khalid dan istri pertamanya, Latife binti Muhammad.
"Fahad," Khalid mengangguk.
Fahad mencium tangan Ratna dan sang ayah.
"Hunak amr nahtaj 'iilaa altahaduth eanh bikhusus nayla." (“Ada yang perlu kita bicarakan mengenai Nayla,”) ujar Fahad.
Ratna dan Khaled saling menatap satu sama lain, lalu menanyakan apa saya yang dilakukan Nayla.
“Jaringan yang dulu berafiliasi dengan geng Jekbla sedang goyah. Ada perebutan kekuasaan internal. Jika kita ingin menarik Nayla, sekarang momen yang paling memungkinkan karena Geng Keihn sedang sangat kocar-kacir.”
Ratna menatap Fahad lalu menyentuh lengan Khalid sang suami.
"Antum tatahadathun waka'anah hadaf eamaliaati." (“Kalian berbicara seolah dia target operasi,”) ucap Ratna menyipitkan matanya.
"Ratna, aku hanya ingin melindungi saudariku," ucap Fahad.
Ratna tersentak kaget mendengar ucapan yang di lontarkan anak tirinya ini.
Saudari---Mungkin Nayla tak pernah tumbuh bersama Fahad, tapi baginya Nayla tetap memiliki ikatan darah.
"La yumkinuna 'iijbaraha, nayilat eanidatun. 'iidha lajat 'iilayha bialquati, fasawf tuqawimu." (“Kita tidak bisa paksa dia, Nayla keras kepala. Jika kalian datang dengan kekuatan, dia akan melawan.”)
Ratna mengulang dengan tegas, karena sudah mengenal watak putrinya---meski keduanya tak pernah dekat.
Selama Nayla di tempat keluarga Suradinata, Ratna memantau gadis ini.
"Fahad kita ambil secara paksa, dan kita akan paksa keluar dari dunia hitam itu."
Ratna menatap Fahad sang suami dengan mata membulat.
"Khalid!" ucap Ratna menggelengkan kepala.
"Aku minta jangan hentikan aku, kali ini ayahnya Nayla akan bertindak."
Khalid pergi meninggalkan Ratna seorang diri di ruang tamu, dan Fahad mengikuti sang ayah.
Ratna memejamkan matanya dan terduduk di sofa, dirinya teringat awal bertemu putrinya.
Saat itu, Nayla hanya membantu membayar hutangnya----dan langsung pergi.
"Sudahlah Ibu, kita cukup sampai disini. Aku tak memiliki seorang ibu," ucap Nayla pergi berlalu dengan mobil.
Mendengar itu hati Ratna sakit, namun itu semua pantas di terimanya---kelakuannya yang sudah menjual Nayla sejak usia delapan tahun sangat pantas di terimanya.
*