NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3: Jejak Tak Terlihat dan Rasa Rindu yang Aneh

Minggu demi minggu berlalu, dan musim di Hutan Aethelgard mulai bergeser.

Daun-daun di pohon-pohon purba yang tadinya hijau rimbun kini mulai berubah warna menjadi semburat kuning dan merah keemasan, menandakan bahwa musim gugur telah tiba. Udara di pagi dan malam hari terasa lebih dingin, menusuk kulit meski hanya dengan selimut tipis.

Namun, di dalam pondok kayu kecil Alexandria, suasana terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya—bukan hanya karena api perapian yang terus menyala, tapi karena kehadiran sosok besar yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Hari ini, seperti biasa, Alexandria bangun lebih awal saat embun masih menempel di kaca jendela. Ia meregangkan tubuhnya, mendengar bunyi sendi yang berderit pelan, lalu menoleh ke arah sudut ruangan. Macan kumbang itu—yang kini sering ia panggil dengan sebutan "Kumbang" dalam hati—sudah terbangun. Matanya yang keemasan terbuka lebar, menatapnya dengan tatapan yang seolah sudah menunggu sejak lama.

"Selamat pagi, Kumbang," sapa Alexandria dengan senyum cerah, suaranya masih sedikit serak karena baru bangun tidur.

Sosok besar itu menggerakkan ekornya pelan di lantai, sebuah tanda yang kini sudah Alexandria pahami sebagai sapaan balik yang antusias. Seiring berjalannya waktu, Alexandria semakin paham dengan bahasa tubuh macan itu. Gerakan telinga, arah pandangan mata, hingga cara ia menggeser tubuh—semuanya memiliki makna tersendiri bagi Alexandria.

Alexandria turun dari tempat tidurnya, mengenakan jaket tebal dari kulit rusa yang dijahit ibunya dulu. Ia berjalan mendekati macan itu, lalu berjongkok di hadapannya.

"Bagaimana kakimu hari ini? Masih sakit?" tanyanya sambil tangan kecilnya dengan terbiasa meraba perban di kaki macan itu yang kini sudah diganti beberapa kali.

Lukanya sudah jauh lebih baik. Daging yang tadinya terbuka kini sudah menutup, dan peradangan sudah hilang sepenuhnya. Berkat ketekunan Alexandria merawatnya dan kekuatan penyembuhan alami yang dimiliki oleh makhluk seperti Leonard, luka itu sembuh jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan manusia biasa.

Macan itu menggelengkan kepalanya sedikit, lalu menjulurkan lidahnya yang kasar dan hangat, menjilat punggung tangan Alexandria dengan lembut—sebuah tanda kasih sayang dan jaminan bahwa ia baik-baik saja.

Alexandria tertawa kecil, matanya berbinar.

"Syukurlah. Kalau begitu, hari ini aku mau pergi agak jauh ke sungai di sebelah timur. Air di sana lebih jernih, dan aku juga mau mencari beberapa akar tanaman obat yang tumbuh di sekitar tebing. Kamu mau ikut atau menunggu di rumah?"

Pertanyaan itu sebenarnya lebih merupakan kebiasaan. Sejak macan itu bisa berjalan dengan lancar lagi, ia hampir tidak pernah meninggalkan sisi Alexandria. Ke mana pun Alexandria pergi, macan itu akan berjalan di sampingnya, sedikit di belakang, seolah menjadi pengawal pribadi yang setia. Ia tidak pernah terlalu dekat untuk tidak mengganggu, tapi juga tidak pernah terlalu jauh untuk tidak bisa melindungi.

Benar saja, mendengar kata-kata Alexandria, macan itu segera bangkit berdiri. Tubuhnya yang besar dan kekar berotot terlihat begitu gagah, bulu hitamnya berkilau indah di bawah sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela. Ia menggoyangkan badannya sekali, lalu menatap Alexandria seolah berkata, Aku ikut.

"Ya sudah, ayo," kata Alexandria sambil mengusap kepala macan itu.

"Tapi janji ya, jangan lari-lari dulu terlalu cepat. Kakimu masih butuh dijaga."

Mereka pun berangkat. Alexandria membawa keranjang anyaman di punggungnya, sementara macan kumbang itu berjalan dengan langkah tenang di sampingnya. Hutan pagi itu sangat indah. Kabut tipis masih menyelimuti tanah, berkilauan seperti butiran berlian saat terkena sinar matahari. Aroma tanah basah dan dedaunan segar memenuhi udara, menciptakan suasana yang menenangkan jiwa.

Sepanjang perjalanan, Alexandria bersenandung pelan lagu-lagu lama yang diajarkan ibunya. Macan itu berjalan dengan tenang, matanya waspada mengamati sekeliling, tapi telinganya selalu terarah pada suara Alexandria. Sesekali, ia akan berhenti sejenak untuk mencium bau udara atau memeriksa semak belukar, memastikan tidak ada bahaya yang mengintai pasangannya—atau setidaknya, itulah yang terasa bagi Alexandria.

Sesampainya di sungai, airnya memang sangat jernih, mengalir deras namun tenang melewati bebatuan. Alexandria segera mulai bekerja. Ia mengisi kantong air kulit yang ia bawa, lalu mulai mencari akar tanaman obat yang ia butuhkan. Macan kumbang itu tidak ikut campur, ia hanya berbaring di atas batu besar yang hangat terkena matahari, matanya tidak lepas dari sosok Alexandria yang sibuk bergerak di antara bebatuan.

Saat Alexandria sedang membungkuk untuk menggali akar tanaman di dekat tebing, tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik yang aneh di balik semak belukar di seberang sungai. Bukan suara hewan kecil seperti tupai atau burung, tapi suara yang lebih berat, seolah ada makhluk besar yang sedang bergerak dengan hati-hati.

Alexandria menghentikan gerakannya seketika. Ia menegang, perlahan menoleh ke arah sumber suara.

"Siapa di sana?" serunya, suaranya sedikit bergetar.

Ia tidak membawa senjata apa pun selain pisau kecil di pinggangnya—sesuatu yang biasanya cukup untuk memotong tanaman, tapi tidak untuk menghadapi bahaya besar.

Sebelum suara itu menjawab atau makhluk itu muncul, macan kumbang yang tadinya berbaring tenang tiba-tiba melompat turun dari batu. Rambut di punggungnya berdiri tegak, gigi taringnya terlihat jelas, dan ia mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan hati. Geraman itu bukan geraman main-main, tapi geraman peringatan yang penuh ancaman, seolah memberitahu bahwa siapa pun yang bersembunyi di sana sebaiknya segera pergi atau akan menyalami cakarnya yang tajam.

Suara gemerisik itu berhenti seketika. Terjadi keheningan yang mencekam selama beberapa detik. Kemudian, terdengar suara langkah kaki yang mundur perlahan, lalu menghilang ke dalam kedalaman hutan.

Macan kumbang itu tetap berdiri dalam posisi waspada, matanya tajam menatap ke arah semak belukar itu sampai ia yakin bahwa ancaman itu benar-benar pergi. Baru setelah itu, ia menurunkan postur tubuhnya, berbalik menghadap Alexandria, dan mendekatinya dengan langkah pelan.

Alexandria masih berdiri mematung di tempatnya, jantungnya berdegup kencang. Ia berlutut, lalu memeluk leher macan kumbang itu dengan erat.

"Terima kasih, Kumbang," bisiknya, suaranya penuh rasa lega dan syukur.

"Kamu menyelamatkanku lagi. Kamu benar-benar pelindungku."

Macan itu membiarkan dirinya dipeluk, kepalanya menunduk menyentuh bahu Alexandria, seolah menenangkannya. Aroma tubuhnya yang khas—bau musky yang hangat dan menenangkan—menyelimuti indra Alexandria, membuat rasa takutnya perlahan menghilang.

Mereka tidak tinggal terlalu lama di sana setelah kejadian itu. Alexandria merasa lebih baik untuk pulang saja, mengingat ada sesuatu yang mengintai di sekitar sana.

Sepanjang perjalanan pulang, macan kumbang itu berjalan lebih dekat dengan Alexandria, kadang-kadang berjalan di depan seolah memeriksa jalan, dan kadang di samping, memastikan tidak ada lagi bahaya yang mengancam.

Sesampainya di rumah, rasa lelah mulai menghampiri Alexandria. Ia meletakkan keranjangnya, lalu duduk di bangku kayu di teras depan, menarik napas panjang. Macan kumbang itu duduk di sampingnya, kepalanya bertumpu pada pangkuannya. Alexandria mengusap kepalanya dengan lembut, pikirannya melayang kembali pada kejadian di sungai tadi.

Siapa atau apa yang ada di balik semak itu? Apakah itu pemburu liar? Atau hewan buas lain? Entah mengapa, Alexandria memiliki firasat yang tidak enak.

Ia merasa bahwa kejadian itu bukanlah kebetulan semata. Sejak ia membawa macan kumbang ini pulang, ia merasa seolah-olah ada pasangan mata yang terus mengawasi mereka dari balik bayang-bayang hutan.

"Kamu tahu sesuatu, kan?" tanya Alexandria pelan, menatap mata keemasan macan itu.

"Kamu sepertinya tahu siapa yang ada di sana tadi."

Macan itu hanya menatapnya, matanya tampak misterius. Ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata, tapi tatapan itu seolah menyimpan banyak cerita.

Alexandria tidak tahu bahwa macan itu—Leonard—benar-benar tahu. Indranya yang tajam menangkap bau yang familiar, bau yang tidak ia temui di dunia manusia ini. Itu adalah bau yang berasal dari dunianya, dari Eldoria. Dan itu adalah bau yang ia kenal sebagai bau pengikut Lord Valerius.

Jadi, mereka sudah menemukannya. Pikiran itu membuat hati Leonard terasa berat. Ia tahu bahwa kehadirannya di dekat Alexandria bisa membawa bahaya bagi wanita itu. Musuhnya tidak akan berhenti sampai ia menemukan dan menghancurkannya. Dan sekarang, mereka tahu di mana ia berada.

Tapi Leonard juga tahu satu hal, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh rambut Alexandria sedikit pun. Ia sudah kehilangan terlalu banyak hal karena kutukan dan pengkhianatan. Ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya sekarang.

Malam itu, suasana di dalam pondok terasa lebih hening dari biasanya. Alexandria tidur dengan gelisah, mimpi buruk yang aneh menghantuinya—mimpi tentang bayangan hitam yang mengejarnya, dan tentang sosok macan kumbang yang terluka lagi. Setiap kali ia terbangun, ia akan melihat macan kumbang itu masih berjaga di dekat tempat tidurnya, matanya terbuka, seolah ia tidak pernah tidur sama sekali.

Saat Alexandria terbangun di tengah malam karena mimpi itu, ia melihat macan itu menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam, begitu penuh emosi yang sulit diartikan. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh macan itu, sesuatu yang penting, tapi terhalang oleh wujudnya yang tidak memungkinkan untuk berbicara.

"Kumbang..." panggil Alexandria pelan.

Macan itu bergerak mendekat, lalu menjulurkan kepalanya, menyentuh dahi Alexandria dengan lembut. Sentuhan itu terasa hangat, dan anehnya, melalui sentuhan itu, Alexandria merasakan aliran rasa tenang yang masuk ke dalam dirinya, seolah macan itu sedang mentransferkan ketenangan dan kekuatan padanya. Rasa takutnya menghilang, dan ia pun bisa kembali tidur dengan nyenyak.

Hari-hari berikutnya, kehidupan mereka berjalan seperti biasa, tapi ada perubahan halus yang terjadi. Macan kumbang itu menjadi lebih protektif dari sebelumnya. Ia tidak akan membiarkan Alexandria pergi ke mana pun sendirian, bahkan hanya ke halaman belakang untuk mengambil air. Jika ada suara yang sedikit mencurigakan, ia akan langsung berada di depan Alexandria dalam sekejap mata.

Alexandria menyadari perubahan itu, dan meskipun kadang ia merasa sedikit terbatasi, jauh di lubuk hatinya, ia merasa tersentuh. Ia tahu bahwa macan itu sangat mencintainya dan melindunginya dengan segenap kemampuannya. Dan perlahan, perasaan yang ia miliki terhadap macan itu pun mulai berubah. Bukan lagi sekadar rasa sayang kepada hewan peliharaan atau teman, tapi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terasa seperti cinta.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Ini tidak masuk akal. Ia adalah manusia, dan ia adalah hewan. Tapi hati tidak pernah memilih berdasarkan logika. Setiap kali ia melihat mata keemasan itu, setiap kali ia merasakan sentuhan hangatnya, setiap kali ia merasa aman di dekatnya—semua itu menciptakan ikatan yang begitu kuat, seolah mereka memang ditakdirkan untuk bersama.

Namun, di balik kebahagiaan dan kedamaian yang mulai tumbuh itu, ancaman yang nyata semakin mendekat. Jejak-jejak tak terlihat itu semakin sering muncul, dan rasa rindu yang aneh—rasa rindu pada sesuatu yang belum pernah ia miliki—mulai menghantui pikiran Alexandria.

Ia tidak tahu bahwa perubahan besar sedang menanti mereka, sesuatu yang akan mengubah segalanya selamanya, dan membuka tabir misteri di balik wujud macan kumbang yang ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!