Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Minggu demi minggu berlalu, dan Hutan Aethelgard perlahan berubah wajah.
Daun-daun yang dulu hijau mulai menguning, sebagian jatuh dan menutupi tanah dengan lapisan kering yang berderak setiap kali diinjak, sementara udara pagi terasa semakin dingin, menyusup bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Perubahan itu terasa jelas di luar, namun di dalam pondok kecil milik Alexandria, ada sesuatu yang justru terasa semakin akrab, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari kesehariannya.
Ia tidak lagi terbangun dalam keheningan.
Setiap pagi, sebelum benar-benar membuka mata, ia sudah bisa merasakan keberadaan lain di ruangan itu—napas berat yang stabil, pergerakan halus yang hampir tak terdengar, dan tatapan yang entah kenapa selalu terasa mengarah padanya. Awalnya mengganggu, bahkan membuatnya sulit tidur, namun tanpa ia sadari, semua itu berubah menjadi sesuatu yang ia kenali, sesuatu yang kini justru membuatnya tenang.
Pagi itu, ia membuka mata perlahan lalu langsung menoleh ke arah yang sama seperti biasanya.
Macan kumbang itu sudah terjaga.
Matanya yang keemasan tidak berkedip, menatap dengan tenang namun terlalu sadar untuk sekadar insting hewan. Alexandria menghela napas kecil sambil duduk, rambutnya masih berantakan, lalu mengusap wajahnya sebentar sebelum berbicara.
“Sejak kapan kau bangun? Jangan bilang kau tidak tidur lagi semalaman.”
Tidak ada jawaban, tapi ekor itu bergerak pelan di lantai, seolah memberi respon yang hanya bisa ia pahami sendiri. Alexandria tersenyum tipis, lalu berdiri dan meraih jaket kulitnya, melangkah mendekat tanpa ragu seperti yang dulu sempat ia lakukan.
“Aku mulai curiga,” lanjutnya sambil berjongkok di depan makhluk itu, “kau ini benar-benar hanya hewan atau tidak.”
Tangannya secara otomatis meraih kaki yang dulu terluka, menyentuhnya dengan hati-hati, memeriksa kondisi yang kini hampir pulih sepenuhnya. Bekas luka itu masih ada, tapi tidak lagi mengkhawatirkan. Ia menekan sedikit di sekitarnya, menunggu reaksi.
“Masih sakit?”
Macan itu tidak menarik kakinya, tidak juga menunjukkan tanda tidak nyaman. Sebaliknya, ia menundukkan kepala sedikit, lalu menyentuhkan dahinya ke pergelangan tangan Alexandria dengan gerakan yang terasa terlalu terarah.
Alexandria sempat diam, menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Aku anggap itu ‘tidak’,” ucapnya pelan, meski matanya masih menyipit tipis, mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Ia berdiri kembali, lalu menghela napas ringan.
“Kalau begitu kita keluar. Aku butuh air dan beberapa akar dari arah timur.”
Ia melirik sekilas ke arah macan itu.
“Kau ikut atau menjaga rumah?”
Belum sempat ia benar-benar menyelesaikan kalimatnya, makhluk itu sudah berdiri. Gerakannya halus, cepat, dan terlalu presisi untuk ukuran tubuh sebesar itu, membuat Alexandria tanpa sadar mengangkat alisnya sedikit.
“Kadang aku merasa kau mengerti semuanya,” katanya setengah bergumam, tapi ia tidak menunggu jawaban.
Ia hanya mengambil keranjang, lalu berjalan keluar, dan seperti yang sudah menjadi kebiasaan belakangan ini, macan kumbang itu mengikuti di sampingnya.
Hutan pagi masih diselimuti kabut tipis yang menggantung rendah di antara pepohonan. Udara dingin menyentuh kulit, namun langkah Alexandria tetap ringan, sementara di sampingnya, makhluk itu bergerak tanpa suara, nyaris seperti bayangan yang selalu berada dalam jarak yang sama.
Sesekali ia menghilang dari sisi Alexandria, bergerak ke balik pepohonan atau semak, lalu muncul kembali beberapa langkah di depan, seolah sedang memeriksa sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.
“Jangan terlalu jauh,” ucap Alexandria tanpa menoleh.
Tidak lama kemudian, makhluk itu kembali ke sisinya.
Ia mendengus pelan.
“Bagus. Setidaknya kau masih bisa disuruh.”
Perjalanan menuju sungai berjalan tanpa hambatan. Saat mereka sampai, air yang jernih mengalir di antara bebatuan, memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai menghangat. Alexandria langsung bekerja, berjongkok untuk mengisi kantong air, lalu berpindah ke sisi tebing kecil untuk mencari akar tanaman yang ia butuhkan.
Di belakangnya, macan kumbang itu naik ke batu besar, tubuhnya menghadap ke arah hutan, bukan ke sungai, seolah secara naluriah memilih posisi yang paling menguntungkan untuk mengawasi sekitar.
Alexandria sempat melirik, lalu menggeleng kecil.
“Aku tidak akan kabur,” katanya santai, meski ia tahu itu bukan alasan makhluk itu berjaga.
Ia kembali fokus pada tanah di depannya, menggali dengan pisau kecil yang ia bawa. Namun belum lama ia bekerja, suara itu muncul—gemerisik yang berbeda, lebih berat, lebih terarah, dan jelas bukan bagian dari suara alam biasa.
Tubuh Alexandria langsung menegang.
Tangannya berhenti di tengah gerakan.
“...kau dengar itu?” bisiknya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Jawaban datang bukan dalam kata, tapi dalam reaksi.
Dalam satu gerakan cepat, macan itu melompat turun dari batu, tubuhnya merendah, otot-ototnya menegang, dan geraman rendah keluar dari tenggorokannya dengan getaran yang terasa sampai ke dada Alexandria.
Itu bukan peringatan biasa.
Itu ancaman.
Alexandria tanpa sadar mundur satu langkah, mendekat ke arahnya, napasnya mulai tidak stabil. Suara gemerisik itu berhenti seketika, seolah pihak di seberang sana juga menyadari perubahan situasi.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan.
Lalu terdengar langkah mundur, cepat, menjauh, menghilang ke dalam hutan tanpa meninggalkan jejak yang jelas.
Macan itu tidak langsung bergerak. Ia tetap dalam posisi itu beberapa saat, matanya tajam menembus semak, memastikan tidak ada yang kembali. Baru setelah benar-benar yakin, ia berdiri tegak dan berbalik ke arah Alexandria.
Jarak di antara mereka tertutup dalam beberapa langkah.
Alexandria masih berdiri di tempat, jantungnya berdegup keras.
“Kau lihat itu?” tanyanya pelan, meski ia tahu ia tidak akan mendapat jawaban.
Makhluk itu berdiri sangat dekat sekarang, cukup untuk membuat Alexandria bisa merasakan panas tubuhnya bahkan tanpa menyentuh.
Ia menatapnya beberapa saat, lalu perlahan mengangkat tangan dan menyentuh lehernya, memastikan dirinya kembali tenang.
“...aku tidak suka itu,” gumamnya pelan.
Tangannya sempat mencengkeram bulu itu sedikit lebih kuat sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan melepaskannya.
“Kalau kau tidak ada tadi… mungkin hasilnya berbeda.”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Ia hanya berdiri beberapa detik lagi, lalu menggeleng pelan.
“Kita pulang saja.”
Perjalanan pulang terasa berbeda. Alexandria tidak lagi bersenandung, langkahnya sedikit lebih cepat, sementara macan kumbang itu berjalan lebih dekat dari biasanya, hampir selalu dalam jangkauan sentuh, seolah memastikan tidak ada celah di antara mereka.
Setiap suara kecil membuat telinganya bergerak, setiap bayangan membuatnya waspada, dan Alexandria menyadari semua itu tanpa perlu melihat secara langsung.
“Ini bukan kebetulan,” ucapnya akhirnya, memecah keheningan.
Ia melirik ke samping.
“Kau tahu sesuatu, kan.”
Tidak ada jawaban, tapi langkah makhluk itu tidak berubah.
Dan itu justru terasa seperti jawaban.
Sesampainya di pondok, Alexandria langsung duduk di kursi kayu di teras, menarik napas panjang sambil mencoba meredakan sisa ketegangan di tubuhnya. Makhluk itu berhenti di depannya, menatap seolah menunggu sesuatu yang tidak diucapkan.
Alexandria mengangkat wajahnya sedikit.
“Kalau ada sesuatu yang mengincar kita,” katanya pelan, “aku tidak akan hanya bersembunyi di belakangmu.”
Ia menyipitkan mata sedikit.
“Jangan mencoba menyelesaikan semuanya sendirian.”
Makhluk itu mendekat, kepalanya turun perlahan, berhenti tepat sebelum menyentuh lutut Alexandria, seolah menahan diri.
Alexandria memperhatikan itu, lalu menghela napas kecil.
“Kau melakukan itu lagi.”
Ia akhirnya mengangkat tangan dan menyentuh kepalanya, lebih ringan dari sebelumnya.
“Seolah kau mengerti.”
Malam datang lebih cepat, dan kali ini keheningan terasa lebih berat dari biasanya.
Alexandria tertidur, tapi tidak sepenuhnya nyenyak. Dalam mimpinya, bayangan gelap bergerak tanpa bentuk yang jelas, selalu berada di tepi pandangan, selalu terlalu jauh untuk disentuh tapi terlalu dekat untuk diabaikan.
Saat ia terbangun, napasnya sedikit tersengal, dan ruangan di sekitarnya masih gelap.
Namun ia tidak sendirian.
Makhluk itu sudah berada di dekat tempat tidurnya, duduk diam dengan mata terbuka.
“Kau tidak tidur lagi?” bisiknya pelan.
Ia tidak menunggu jawaban, hanya mengulurkan tangan dengan sedikit ragu, lalu menyentuh kepala itu.
Hangat.
Nyata.
Dan cukup untuk membuat napasnya kembali stabil.
Ia menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, tubuhnya kembali rileks.
“Kalau kau memang menjaga,” gumamnya pelan, “jangan sampai aku terbiasa.”
Matanya terpejam perlahan, dan kali ini ia benar-benar tertidur.
Di sampingnya, makhluk itu tetap diam, tidak bergerak, matanya terbuka dalam kewaspadaan penuh.
Dan jauh di balik tatapan itu, ada sesuatu yang tidak lagi bisa disebut sekadar naluri.
Sesuatu yang menunggu waktu yang tepat untuk muncul.
____