Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 – Rahasia di Balik Tatapan
Pagi hari di Akademi Arclight selalu dipenuhi hiruk-pikuk para siswa yang berlatih sihir. Suara dentuman mantra, kilatan cahaya elemen, serta teriakan para instruktur memenuhi lapangan latihan. Namun bagi Ren, pagi itu terasa berbeda.
Ia berdiri di pinggir lapangan sambil memperhatikan tangannya sendiri.
Energi aneh yang semalam muncul masih terasa samar di tubuhnya.
“Kenapa rasanya seperti… ada sesuatu yang bangun di dalam diriku…” gumam Ren pelan.
Tiba-tiba sebuah suara lembut terdengar dari belakangnya.
“Ren, kamu melamun lagi.”
Ren menoleh.
Di sana berdiri Lilia dengan rambut peraknya yang berkilau terkena cahaya matahari pagi. Gadis itu mengenakan seragam akademi lengkap, dengan pita biru di rambutnya.
“Ah… Lilia. Pagi.”
Lilia menatap Ren dengan mata birunya yang tajam.
“Aku sudah memanggilmu tiga kali.”
Ren menggaruk kepalanya.
“Maaf… aku sedang memikirkan sesuatu.”
Lilia menyilangkan tangan.
“Memikirkan apa?”
Ren ragu sejenak.
Ia tidak yakin apakah harus menceritakan kejadian semalam.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara keras tiba-tiba memotong percakapan mereka.
“HEY! REN!”
Suara itu begitu keras sampai beberapa siswa menoleh.
Ren sudah tahu siapa pemilik suara itu.
Mira.
Gadis berambut merah itu berlari menuju mereka dengan ekspresi penuh semangat.
“Latihan duel hari ini! Kamu harus lawan aku!”
Ren menghela napas.
“Tentu saja…”
Mira berhenti tepat di depan Ren dengan senyum menantang.
“Jangan bilang kamu takut.”
Ren tersenyum kecil.
“Tidak. Aku hanya tidak ingin membuatmu menangis lagi.”
Mira langsung memerah.
“APA?!”
Beberapa siswa di sekitar mereka mulai memperhatikan.
“Aku tidak pernah menangis!”
Ren mengangkat bahu.
“Kalau begitu buktikan.”
Mira menunjuk Ren dengan penuh semangat.
“Baik! Kita duel sekarang!”
Lilia menghela napas pelan.
“Aku tidak mengerti kenapa kalian selalu bertengkar…”
Namun di dalam hatinya, ia justru menikmati melihat Ren seperti itu.
Ren tampak lebih hidup dibanding biasanya.
Lapangan duel akademi cukup besar, dikelilingi oleh lingkaran sihir pelindung. Para siswa mulai berkumpul untuk menonton.
“Ren lagi.”
“Lawan Mira.”
“Ini pasti seru.”
Instruktur duel, seorang pria tinggi bernama Gareth, berdiri di tengah arena.
“Baik, duel latihan dimulai.”
Ren dan Mira berdiri saling berhadapan.
Mira langsung mengangkat tangannya.
Api kecil mulai muncul di telapak tangannya.
“Siap kalah?”
Ren mengangkat satu alis.
“Kita lihat saja.”
Gareth mengangkat tangannya.
“Mulai!”
Mira langsung bergerak.
“Flame Burst!”
Bola api melesat menuju Ren dengan cepat.
Namun Ren menggeser tubuhnya sedikit dan bola api itu meleset.
“Terus lari saja!” teriak Mira.
Ren tersenyum.
“Aku hanya menghangatkan badan.”
Mira mengerutkan kening.
“Baik! Kalau begitu coba ini!”
Ia mengangkat kedua tangannya.
Api besar muncul di sekelilingnya.
“Blazing Storm!”
Beberapa bola api besar meluncur bersamaan ke arah Ren.
Para siswa mulai berbisik kagum.
“Serius sekali dia.”
“Ren bisa menghindar?”
Namun saat semua orang mengira Ren akan menghindar lagi, sesuatu terjadi.
Ren mengangkat tangannya.
Energi gelap samar muncul di sekelilingnya.
BOOM.
Semua bola api Mira lenyap sebelum menyentuhnya.
Seluruh arena langsung sunyi.
Mira membelalakkan mata.
“APA ITU?!”
Lilia yang menonton dari pinggir arena juga terlihat terkejut.
Energi yang keluar dari Ren bukan sihir biasa.
Instruktur Gareth mengerutkan kening.
“Energi itu…”
Ren sendiri tampak sama terkejutnya.
“Apa… yang barusan aku lakukan?”
Mira menunjuk Ren.
“Kamu menyembunyikan kekuatan itu?!”
Ren menggeleng cepat.
“Aku tidak—”
Tiba-tiba lingkaran sihir pelindung arena bergetar.
Energi dari tubuh Ren mulai keluar tanpa terkendali.
Tanah di bawah kakinya retak.
Para siswa mundur ketakutan.
“Energi itu terlalu kuat!”
“Ini bukan sihir biasa!”
Ren menggertakkan giginya.
“Tidak… berhenti…”
Namun energi itu semakin kuat.
Tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar dari atas arena.
“Menarik.”
Semua orang menoleh.
Di atas tembok arena berdiri seorang gadis berambut hitam panjang.
Matanya merah seperti rubi.
Seragamnya berbeda dari siswa lain.
Ia adalah siswi transfer yang baru datang hari ini.
Namanya…
Selene.
Selene menatap Ren dengan senyum tipis.
“Jadi akhirnya aku menemukanmu.”
Ren menatap gadis itu bingung.
“Kita pernah bertemu?”
Selene melompat turun dengan anggun ke dalam arena.
“Belum.”
Ia berjalan perlahan mendekati Ren.
Namun setiap langkahnya membuat udara terasa semakin berat.
Lilia langsung masuk ke arena.
“Berhenti di situ.”
Mira juga berdiri di depan Ren.
“Aku tidak tahu siapa kamu, tapi jangan dekat-dekat.”
Selene tertawa kecil.
“Aku tidak tertarik pada kalian.”
Tatapannya kembali ke Ren.
“Aku hanya tertarik pada dia.”
Ren merasa merinding.
Ada sesuatu yang aneh dari gadis ini.
Selene berhenti beberapa langkah di depan Ren.
Kemudian ia berbisik pelan.
“Halo, pewaris.”
Ren membeku.
“Apa maksudmu?”
Selene tersenyum.
“Jadi kamu bahkan belum tahu.”
Mira terlihat kesal.
“Apa yang kamu bicarakan?!”
Selene mengabaikannya.
Ia menatap langsung ke mata Ren.
“Kekuatan yang barusan kamu gunakan…”
Ia mengangkat jarinya.
“…adalah kekuatan yang bisa menghancurkan dunia ini.”
Seluruh arena langsung sunyi.
Ren menelan ludah.
“Itu tidak mungkin.”
Selene mendekat sedikit lagi.
“Percayalah.”
Matanya menyipit.
“Karena aku datang untuk membangunkan kekuatan itu sepenuhnya.”
Lilia langsung menarik Ren ke belakang.
“Ren, jangan dengarkan dia.”
Mira juga mengangkat tangannya siap menyerang.
Namun Selene hanya tersenyum.
“Tenang saja.”
Ia berbalik dan mulai berjalan keluar arena.
“Saat waktunya tiba, kita akan bertemu lagi.”
Sebelum pergi, ia menoleh sebentar ke arah Ren.
“Dan saat itu…”
Senyumnya menjadi lebih misterius.
“…aku akan membuatmu menjadi milikku.”
Setelah itu Selene menghilang begitu saja.
Para siswa langsung gempar.
“Siapa dia?!”
“Apa yang terjadi barusan?!”
Namun Ren hanya berdiri diam.
Kata-kata Selene terus terngiang di kepalanya.
Pewaris.
Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia.
Ren mengepalkan tangannya.
“Apa sebenarnya yang terjadi padaku…?”
Di pinggir arena, Lilia menatap Ren dengan wajah khawatir.
Sementara Mira menyilangkan tangan dengan kesal.
Namun di dalam hatinya, mereka berdua memikirkan hal yang sama.
Ren…
…bukan orang biasa.
Dan entah kenapa, semakin banyak gadis misterius mulai mendekatinya.