Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 14
Arka terkejut bukan main saat mengetahui tangan siapa yang menutup matanya barusan.Ia tidak menyangka sang kekasih bisa ada di tempat yang sama.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Arka terkejut.
"Aku lagi antar teman, kebetulan daerah sekitar sini terus tadi niatnya mau makan dulu di cafe ini.. eh malah liat kamu."
Arka melihat sekitarnya "Terus sekarang teman kamu nya mana?" Tanya nya.
"Eu..itu, dia lagi ke toilet dulu." Jawab Ervina,wajahnya yang penuh riasan serta pakaian yang begitu seksi membuat mata para laki-laki selalu mencuri-curi pandang pada dirinya.
Ervina, wanita yang di pacari Arka sejak satu tahun lalu merupakan teman kuliah Arka namun berbeda prodi.Ervina merupakan mahasiswi prodi broadcast and film semester lima yang artinya ia merupakan adik tingkat Arka.
Hubungan keduanya nampak begitu harmonis dan romantis, hanya saja hubungan keduanya di kekang oleh Altheza dan juga Fara.
Altheza yang merupakan seorang mantan mafia, tidak akan membiarkan anak semata wayangnya berhubungan dengan sembarang orang.Sejak kecil Arka selalu mengawasi Arka, hanya saja semenjak Arka masuk ke fakultas ia sedikit melonggarkan pengawasan.
Namun sayang, kebebasan yang Altheza berikan ternyata di salah gunakan oleh Arka.Arka justru berhubungan dengan wanita yang menurut Altheza tidak baik.Beberapa kali Altheza menyuruh Arka untuk menjauhi Ervina, namun sama sekali tidak di gubris Arka.Apalagi Ervina yang pandai merayu membuat Arka selalu percaya pada Ervina.
"Kamu sendiri sedang apa disini? " Tanya Ervina balik
"Aku kan sudah bilang sedang ada proyek baru, ya disini tempatnya."
"Jadi kamu nginep di hotel ini?" Tanya nya lagi.
"Iya, udah hampir dua minggu."
Raut wajah Ervina berubah gugup, namun sebisa mungkin ia berusaha menyembunyikannya.
"Terus sampai kapan kamu disini?"
"Sampai proyeknya selesai lah, mungkin satu minggu an lagi."
Ervina menelan ludahnya kasar,mendadak dada nya berdebar tidak karuan.Udara di sekitar pun terasa sesak.
"Oh iya, kamu jadi makan disini?" Tanya Arka "Kalau jadi, bareng aku aja sayang."
"Eu..itu sayang, kayanya aku gak jadi deh.Temen aku barusan ngabarin ngajak aku balik sekarang juga."
Arka mengerutkan keningnya.Ia kembali memutar kepala nya. Menelusuri setiap sudut ruangan tersebut. Namun tetap saja ia tidak melihat orang yang Ervina maksud.
"Temen kamu mana sayang?"
"Itu..itu barusan udah keluar.Tuh mobilnya udah mulai keluar." Tunjuknya pada sebuah mobil hitam yang kebetulan baru saja meninggalkan parkiran hotel.
Arka hanya mengangguk tanpa curiga."Oh."
"Aku langsung balik ya,honey" Pamit Ervina memeluk Arka dari belakang, kemudian mencium pipi Arka. "Kamu jangan lama-lama di sini nya, aku kan kangen sama kamu."
Arka hanya mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kamu hati-hati ya bawa mobilnya."
"Ok, honey. Bye" Pamitnya kemudian mencium b*bir Arka sekilas kemudian berjalan keluar cafe dengan begitu anggun.
Arka menatap punggung sang kekasih yang mulai menjauh. Entah kenapa kali ini hatinya merasa tak nyaman.Rasanya seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Ervina.
Arka menghembuskan nafas kasarnya.Nafsu makannya tiba-tiba menghilang begitu saja, rasa seperti aneh. Namun entah apa yang membuatnya tidak nyaman dan aneh.
"Gue percaya sama cewe gue." gumamnya. Matanya masih memperhatikan mobil Ervina yang perlahan mulai keluar parkiran.
°°°
Pesantren Al Hikmah.
Pesantren besar yang kini terkenal di seluruh penjuru kota, semakin lama semakin berkembang begitu pesat.
Apalagi kini di bawah naungan Gus Ilham dan Umma Zura, pesantren berubah menjadi sebuah pesantren modern yang begitu maju.Bukan hanya tentang ilmu Agama namun juga kini Abi Ilham dan Umma Zura juga mengedepankan ilmu teknologi yang tentunya tidak berbenturan dengan ilmu Agama.
Gu Ilham benar-benar menggunakan harta kekayaannya untuk membantu sesama.Terbukti, kini pondok pesantren di gratiskan 100% bagi siapa saja namun fasilitasnya tak kalah komplit dan mewah dengan pondok pesantren Modern lainnya yang tentunya ada biayanya.
Di dukung para donatur dari kalangan pengusaha besar dan ternama membuat para santri dan santriwati sangat terjamin hidupnya.
Kini para pengajar dan pengawasnya pun begitu banyak yang tentunya mempunyai kredibilitas yang sangat baik.
"Assalamu'alaikum Ning Alya." Sapa seorang Ustadzah yang kebetulan melihat Alyana sedang duduk di bawah pohon mangga dekat ruang perpustakaan.
"Wa'alaikumsalam Ustadzah Ais." Jawab Alyana ramah.
"Sedang apa Ning sendirian duduk di bawah pohon gini."
Alyana tersenyum manis, "Lagi hapalan Ustadzah,disini enak adem jadi bikin cepat masuk hapalannya."
"MasyaAllah Ning Alya ini bisa aja.Memangnya hapalan apa Ning?"
"Tasawuf Ihya Ulumuddin Ustadzah."
"MasyaaAllah.. bab apa Ning?" Tanya nya kembali.
"Rub'ul Munjiyat Ustadzah." Jawabnya sambil menunjukan halaman kitab yang terbuka.
Ustadzah Ais mengangguk. "Coba Ustadzah mau tanya, bab itu tentang apa sih Ning?"
"Rub‘ul Munjiyat adalah bab pembahasan tentang cara membersihkan dan menghiasi hati dengan akhlak yang baik agar kita selamat di akhirat.Isinya membahas sifat-sifat terpuji yang harus dimiliki, seperti Taubat,Sabar,Syukur,Khauf (takut kepada Allah),Raja’ (harap kepada Allah),Zuhud,Tawakal,Ikhlas,Cinta kepada Allah. "
"Kamu tau tidak kenapa Ustadz Ali memberi mu tugas untuk mempelajari dan menghapal kitab tersebut?" Tanya Ustadzah Ais.
Alyana menggeleng, karena memang dirinya tidak tau kenapa Ustadz Ali memberinya tugas seperti itu.
"Karena di dalamnya ada pelajaran yang berhubungan dengan apa yang terjadi sama Ning Alya. "
Alyana diam membeku,otaknya mencerna apa yang di ucapkan Ustadzah Ais.
"Ning ngerti?"
"Maksudnya gimana Ustadzah? "
Ustadzah Ais tersenyum melihat kepolosan dari seorang Ning Alyana yang memang umurnya baru menginjak 17 tahun.
"Ning Alya sadar tidak dengan apa yang terjadi pada Ning Alya beberapa waktu lalu?"
Alyana mengangguk, ia mengerti ini pasti berhubungan dengan pernikahan dadakan nya.
"Ning Alya juga pasti tau kalau apa yang terjadi pada Ning Alya merupakan hal besar yang membutuhkan sebuah kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan yang begitu luar biasa.Dan Ustadzah juga tau, sulit untuk Ning menerima dengan ikhlas dan sabar takdir ini maka dari itu Ustadz Ali meminta Ning belajar Kitab Tasawuf ini agar Ning Alya bisa lebih memahami apa yang terjadi pada hidup Ning Alya dan bagaimana cara menjalaninya agar lebih ringan."
"Tawakal dan ikhlas adalah dua sifat mulia dalam Rub‘ul Munjiyat dari kitab Ihya Ulumuddin karya Abu Hamid al-Ghazali. Tawakal berarti berserah diri kepada Allah setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, sehingga hati tetap tenang apa pun hasilnya. Sedangkan ikhlas adalah melakukan setiap sesuatu semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan pujian atau penilaian manusia. Keduanya mengajarkan bahwa seorang hamba harus membersihkan niatnya dalam beramal dan menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah.Begitupun dengan keputusan yang di ambil dalam masalah Ning kemarin."
"Ning tidak lupa kan Abi Ilham pernah menjelaskan, Jika seseorang benar-benar ikhlas dan tawakal, Allah akan memberinya ketenangan hati, kecukupan dalam hidup, serta pahala dan derajat yang tinggi di sisi-Nya. Ikhlas membuat amal bernilai besar karena dilakukan hanya untuk Allah, sedangkan tawakal membuat hati tenang karena yakin Allah yang mengatur hasilnya. Balasan terbesarnya adalah ridha Allah dan keselamatan di dunia maupun akhirat."
"Ning Alya harus Ikhlas menerima keputusan yang sudah di ambil keluarga Ning dan juga Ning harus Tawakal dengan apa yang terjadi pada Ning Alya. Agar apa? Agar hidup Ning Alya bisa lebih tenang dan juga bahagia."
Alyana masih terdiam, ia masih mendengarkan setiap penjelasan Ustadzah Ais.
Ada beberapa kalimat yang langsung menghantam hatinya, membuat dadanya berdesir.
Alyana faham sekarang kenapa Ustadz Ali memberinya tugas untuk mempelajari Kitab tersebut.Perlahan Alyana mulai merasa pikiran sedikit terbuka dan hati nya mulai merasakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.