Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Keesokan paginya, dokter kembali datang untuk memeriksa kondisi Darrel. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan sederhana—mengecek suhu tubuh, pernapasan, serta memastikan tidak ada keluhan lain—dokter itu akhirnya tersenyum puas.
“Keadaannya sudah jauh lebih baik,” ucapnya ramah. “Kalau tidak ada keluhan lagi, hari ini Darrel sudah boleh pulang.”
Kabar itu tentu saja membuat suasana di kamar rawat menjadi sedikit lebih lega.
Di dalam ruangan itu sudah ada Nathan dan ibunya. Vivian berdiri di samping ranjang dengan sikap yang berusaha terlihat tenang, meskipun sebenarnya ada perasaan canggung yang terus mengganggu pikirannya. Hubungannya dengan Darrel memang tidak sepenuhnya buruk, tetapi sejak beberapa waktu terakhir, ia merasa ada jarak yang tidak bisa dijelaskan.
“Sayang, kata dokter tadi kamu sudah boleh pulang,” ujar Vivian lembut sambil menepuk pelan selimut yang menutupi tubuh cucunya.
Darrel mengangguk kecil.
“Iya, Nek,” jawabnya pelan.
Namun setelah itu, pandangan anak itu justru beralih ke arah pintu kamar. Matanya menatap ke sana cukup lama, seolah menunggu seseorang muncul dari balik pintu itu.
Vivian memperhatikan hal tersebut.
“Nak, kamu sedang melihat siapa?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Aku lagi nunggu Mbak Andin,” jawab Darrel polos.
Jawaban itu membuat hati Vivian seketika mencelos. Sejenak ia hanya bisa tersenyum kaku, berusaha menutupi sesuatu yang tiba-tiba terasa tidak nyaman di dalam hatinya.
Bahkan tanpa ia sadari, perasaan itu seperti menamparnya sendiri. Entah sejak kapan, kehadiran perempuan bernama Andin itu terasa begitu berarti bagi Darrel.
Sementara dirinya… yang seharusnya menjadi keluarga terdekat… justru terasa seperti orang luar.
“Ah… dasar dia lagi, dia lagi,” gumam Vivian dalam hati dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Sementara itu Darrel masih menatap pintu beberapa detik lagi sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Nathan.
Tatapan itu seperti sedang menagih sesuatu.
“Dad…” panggilnya pelan.
Nathan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari jendela langsung menoleh.
“Iya?”
“Apa Daddy sudah bilang sama Mbak Andin kalau sekarang aku sudah boleh pulang?”
Pertanyaan itu membuat Nathan tertegun. Untuk beberapa saat, pria itu tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang menahan suaranya.
Ia tahu Darrel sangat berharap Andin datang.
Namun sejak semalam… setelah mengantar perempuan itu sampai di depan kontrakannya… Nathan belum lagi menghubungi Andin.
Bukan karena ia tidak ingin. Melainkan karena ia ragu. Ragu apakah kehadirannya kembali akan membuat Andin merasa terganggu.
Darrel yang melihat ayahnya diam justru semakin menatap penuh harap.
“Dad…?”
Nathan menarik napas pelan sebelum akhirnya mendekat ke ranjang anaknya.
“Daddy belum sempat bilang,” jawabnya jujur.
Wajah Darrel langsung berubah sedikit kecewa.
“Kenapa?” tanya anak itu lirih.
Nathan terdiam sejenak, lalu mengusap pelan rambut putranya.
“Karena Daddy tidak ingin mengganggu Mbak Andin,” katanya pelan.
Darrel mengerutkan kening kecilnya, jelas tidak terlalu mengerti maksud kalimat itu.
“Tapi Mbak Andin pasti senang kalau tahu aku sudah sembuh,” ujarnya polos.
Perkataan itu membuat Nathan tidak bisa langsung membalas. Justru kalimat sederhana dari anaknya itu terasa seperti menyentuh sesuatu di dalam hatinya.
Vivian yang berdiri di samping ranjang ikut memperhatikan percakapan itu dengan wajah yang sulit ditebak. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu berkata dengan nada yang berusaha terdengar ringan.
“Darrel, kamu kan sudah boleh pulang. Nanti di rumah juga banyak yang bisa menemani kamu.”
Namun Darrel malah menggeleng kecil.
“Aku tetap mau ketemu Mbak Andin.”
Jawaban itu membuat suasana di ruangan menjadi sedikit canggung.
Nathan menunduk sebentar, lalu menghela napas pelan. Ia tahu satu hal dengan sangat jelas. Anaknya benar-benar menaruh rasa sayang pada Andin.
Dan yang lebih menyakitkan lagi— perempuan itu memang selalu ada untuk Darrel… bahkan ketika dirinya sendiri pernah menyakiti Andin begitu dalam.
Nathan akhirnya mengeluarkan ponselnya dari saku. Gerakan itu langsung menarik perhatian Darrel.
“Mau telepon Mbak Andin?” tanya anak itu dengan mata berbinar.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya beberapa detik… sebelum akhirnya membuka kontak yang sejak tadi sebenarnya sudah ada di pikirannya.
Nama itu masih tersimpan di sana.
Andin.
Jarum jam seolah berjalan lebih lambat saat Nathan menatap nama tersebut. Entah kenapa, jari-jarinya terasa sedikit berat untuk menekan tombol panggil.
Bukan karena ia tidak ingin.
Melainkan karena ia tidak tahu, apakah Andin masih bersedia datang lagi. Namun di sampingnya, Darrel menatap penuh harap. Dan pada akhirnya, Nathan menarik napas panjang sebelum menekan tombol itu.
Ponsel ia dekatkan ke telinga.
Nada sambung mulai terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sementara Darrel menatap ayahnya tanpa berkedip, berharap suara yang ia tunggu segera terdengar dari seberang sana.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain tepatnya di sekolah pagi-pagi ini Andin mulai menata jualannya satu persatu, bahkan dirinya hampir tidak sempat untuk mengangkat handphone yang mulai berdering sedari tadi.
"Siapa ya kira-kira," gumamnya sendiri sambil meraih handphone-nya.
Alisnya sedikit terangkat saat melihat nama yang tertera di sana.
Nathan.
Jantungnya berdebar pelan. Ia sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menggeser layar untuk menerima panggilan itu.
“Halo…” jawabnya singkat.
Di seberang sana tidak langsung terdengar suara Nathan. Justru suara kecil yang lebih dulu terdengar.
“Mbak Andin!”
Suara itu begitu ceria dan penuh semangat.
Andin langsung mengenalinya. “Darrel?” katanya sedikit terkejut.
“Iya! Ini aku!” sahut anak itu cepat.
Seketika sudut bibir Andin terangkat membentuk senyum kecil yang hangat.
“Kamu sudah bangun?” tanyanya lembut.
“Bukan cuma bangun… aku sudah boleh pulang!” jawab Darrel dengan nada bangga.
Andin ikut merasa lega mendengarnya. “Benarkah? Wah… itu kabar bagus sekali,” ucapnya tulus.
Di seberang sana terdengar suara kecil Darrel yang seperti menutup mikrofon sebentar sebelum kembali berbicara.
“Aku yang minta Daddy telepon Mbak Andin,” katanya tanpa merasa bersalah.
Andin sempat terdiam sebentar. Sementara Darrel melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, namun tetap terdengar penuh harap.
“Mbak Andin… nanti kalau aku sudah pulang, kita bisa bertemu lagi, bercanda kembali sampai lama ya," pinta anak itu dengan manja.
Permintaan sederhana itu membuat hati Andin terasa hangat. Ia memandang ke arah halaman sekolah yang semakin ramai oleh anak-anak yang berdatangan.
Namun pikirannya sesaat kembali pada anak kecil yang sedang berbicara di seberang sana.
“Tentu saja,” jawab Andin lembut. “Kalau Darrel sudah sembuh, Mbak Andin pasti akan menjadi pendengar yang baik, untuk Darrel."
Di seberang sana terdengar tawa kecil yang sangat bahagia.
“Yeay! Aku bilang juga Daddy pasti Mbak Andin tidak akan lupa sama aku!”
Andin terkekeh pelan. "Gak akan lupa, Dek."
Suasana pagi yang semula terasa biasa saja tiba-tiba menjadi lebih hangat. Sebelum panggilan itu berakhir, suara Nathan akhirnya terdengar sebentar dari kejauhan.
“Darrel, jangan terlalu lama.”
Namun Darrel masih sempat berkata cepat,
“Mbak Andin… nanti kita ketemu ya!”
Andin mengangguk meskipun anak itu tidak bisa melihatnya “Iya… kita ketemu setiap hari.”
Panggilan itu akhirnya terputus. Andin menatap layar handphone beberapa detik sebelum perlahan menyimpannya kembali ke dalam tas.
Di depannya, beberapa anak sudah kembali mengantre membeli jajanan.
Andin kembali menata bungkus kertas di atas meja, namun kali ini ada senyum tipis yang tidak ia sadari masih tersisa di wajahnya.
Entah kenapa, pagi itu hatinya merasa sangat bahagia, meskipun hanya mendengar suara kecil dari seberang sana.
Bersambung.....