Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Jatuh Cinta?
Ogi menemani Arisa mengumpulkan bunga. Gadis itu tampak serius melakukannya. Sesekali Arisa akan tersenyum senang saat melihat bunga yang dirinya sukai.
Tanpa sadar, Ogi kembali terhipnotis akan sosok Arisa. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis tersebut.
Dari jauh, Eyang Imas berhasil melihat bagaimana cara Ogi menatap Arisa.
“Sigana incu anjeun kacida mikacintana ka pamajikanana, (Kayaknya cucumu itu kecintaan sekali sama istrinya,)" bising Eyang Retno.
“Aluslah lamun kitu. Éta hartina manéhna geus mopohokeun mantanna. Éta nu panghianat téh, (Baguslah kalau begitu. Itu berarti dia sudah melupakan mantannya. Si pengkhianat itu,)" timpal Eyang Imas.
“Anjeun masih kénéh kuciwa ka incu anjeun nu hiji éta. Padahal sigana Ogi geus damai jeung éta. (Kau masih kesal sama cucumu yang satu itu. Padahal kayaknya Ogi sudah berdamai dengan itu.)"
“Éta mah Ogi, lain abdi! Heru téh incu nu kurang ajar. Ti baheula gé manéhna teu kungsi paduli ka abdi. Gaweanana ngan ukur kalayapan wé. Kuduna nu meunang warisan panggedéna mah Ogi. (Itu Ogi, bukan aku! Heru itu cucu kurang ajar. Dari dulu mana peduli dia sama aku. Kerjaannya kelayapan aja. Harusnya yang dapat warisan paling besar tuh Ogi.)" Eyang Imas menggerutu. “Pokona abdi bakal mastikeun taneuh ieu ragrag ka leungeunna, (Pokoknya aku akan pastikan tanah ini jatuh ke tangannya,)" lanjutnya yang kembali melirik Ogi.
“Muga-muga Neng Arisa téh awéwé nu hadé. Muga manéhna teu nyeri haté incu abdi, (Semoga saja Neng Arisa itu wanita baik. Semoga dia nggak menyakiti hati cucuku,)" harap Eyang Imas.
Tak lama kemudian, Arisa merasa sudah cukup mengambil bunga. Dia dan Ogi istirahat sebentar di gubuk. Di sana mereka minum teh dan makan kue kering.
Setelah cukup istirahat, Ogi dan Arisa memutuskan untuk pulang. Kini keduanya berjalanan beriringan di jalanan setapak menuju rumah.
"Ini masih jauh kan ya? Kakiku udah pegel nih, Kang..." ucap Arisa.
"Mau aku gendong atuh, Neng?" tawar Ogi.
"Emang kamu nggak capek?" tanya Arisa. Entah kenapa dia mendadak merasa malu.
"Aku udah biasa jalan begini atuh, Neng. Ayok naik aja ke punggungku." Ogi tiba-tiba membungkukkan badannya ke hadapan Arisa.
Arisa mengerjap cepat. Dia sedikit malu, tapi di sisi lain kakinya sudah pegal. Alhasil Arisa pun memutuskan menerima tawaran Ogi. Ia segera naik kepunggung pria tersebut.
Mata Ogi membelalak saat Arisa sudah naik ke punggungnya. Wajahnya memerah bak tomat matang. Ia bisa merasakan dengan jelas tubuh Arisa bersentuhan dengan punggungnya. Jujur saja, itu cukup menggoda iman Ogi. Dia jadi memikirkan hal yang tidak-tidak.
Keringat Ogi jadi mengucur deras saat kedua tangan Arisa memeluknya. Padahal gadis itu hanya berusaha berpegangan pada Ogi.
Saat itulah Ogi merasakan ada sesuatu hal yang bangun dari tubuhnya.
"Astagfirullah..." Ogi melepaskan Arisa tanpa aba-aba.
Gedebuk!
Arisa sontak jatuh ke tanah. Pantatnya menghantam rerumputan tipis di jalanan.
"Aduh! Kang Ogi! Kenapa aku dijatuhin? Sengaja ya?!" omel Arisa.
"Maaf atuh, Neng. I-ini pinggangku mendadak encok. Aduh... Kayaknya aku nggak kuat deh gendong Neng Arisa. Jalan sendiri aja ya, Neng..." sahut Ogi sambil memegangi pinggangnya. Ia meringiskan wajah seolah benar-benar kesakitan. Padahal itu hanya kebohongan belaka. Itu hanya alasan Ogi agar dirinya tak dipaksa menggendong lagi.
Meski Arisa adalah pasangan halalnya, Ogi sadar kalau dirinya harus bisa membatasi diri. Lagi pula ayahnya Arisa adalah orang yang sangat dirinya hormati.
"Dih! Tadi sok-sokan nawarin gendong aku. Kalau begini harusnya dari awal nggak usah kali!" geram Arisa.
"Sekali lagi maaf ya, Neng... Sini aku bantu." Ogi mencoba membantu Arisa berdiri.
"Nggak usah! Aku bisa sendiri. Pegalku jadi hilang gara-gara kelakuanmu!" timpal Arisa memberengut. Dia melangkah cepat menyusuri jalanan setapak.
Di belakang Ogi hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Dia heran kenapa dirinya tiba-tiba seperti tadi.
"Apa aku jatuh cinta ya sama Neng Arisa? Nggak... Jangan, Gi... Jangan..." gumam Ogi sambil menggeleng.
"Kenapa geleng-geleng gitu?" tegur Arisa.
"Eh, nggak apa-apa atuh, Neng. Kumaha atuh, Neng?" tanggap Ogi gelagapan. Dia seperti maling yang tertangkap basah mencuri.
"Ini jalannya ada dua. Yang mana yang benar? Aku lupa," ujar Arisa.
"Yang kanan, Neng..." jawab Ogi. Dia dan Arisa lanjut berjalan.