dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelulusan Yang Hampa Dan Langkah Menuju SMA
Waktu berlalu begitu cepat, seolah-olah baru kemarin aku melangkahkan kakiku yang gemetar masuk ke gerbang SMP ini, membawa serta luka-luka lama dan hati yang penuh keraguan. Dan sekarang, tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu: hari kelulusan.
Hari ini, lapangan sekolah dipenuhi dengan siswa-siswi yang mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi. Wajah-wajah mereka berseri-seri, dipenuhi senyum kebahagiaan yang tulus. Suara tawa, teriakan saling mengucapkan selamat, dan obrolan riuh memenuhi udara. Di sana-sini terlihat pelukan hangat antar teman, dan orang tua yang memotret anak mereka dengan bangga. Bagi mereka, kelulusan adalah momen perayaan, puncak dari kebersamaan yang terjalin selama bertahun-tahun.
Namun, bagiku, kelulusan ini terasa sangat berbeda. Sepi.
Tidak ada satu pun orang yang datang menghampiriku untuk mengucapkan kata sederhana itu: "Selamat ya, Larasat." Tidak ada teman yang mengajak berfoto bersama, tidak ada guru yang menepuk bahuku dengan bangga, dan tentu saja tidak ada orang tua yang berdiri di antara penonton dengan senyum bangga menanti ku. Aku berdiri di sana, di tengah keramaian yang riuh, tapi rasanya aku seperti berdiri sendirian di sebuah pulau terpencil.
Sajian pedas berupa hinaan, cacian, dan ketidakpedulian yang selama ini menjadi makanan sehari-hariku, kini memang perlahan berlalu menjadi kenangan seiring berakhirnya masa sekolah ini. Tapi, ketidakhadiran ucapan selamat itu seolah menjadi penegas bahwa bagi mereka, keberadaan ku dan kelulusanku ini tidak terlalu penting.
Aku memegang ijazah dan surat keterangan lulus yang sudah ada di tanganku dengan erat. Angka-angka di lembar itu mungkin tidak secemerlang siswa-siswa jenius lainnya, dan mungkin masih ada tatapan sinis yang melirik sekilas ke arahku sebelum mereka sibuk dengan kesenangan mereka sendiri, tapi aku tidak peduli lagi.
Aku sudah sampai di garis finis ini dengan caraku sendiri. Dengan keringat, air mata yang sering aku tahan, dan perjuangan yang tidak bisa dilihat oleh mata mereka. Kelulusan ini adalah bukti nyata bahwa aku telah bertahan melewati segalanya. Dan itu sudah cukup bagiku. Aku tidak butuh ucapan selamat dari mereka untuk membuktikan bahwa aku berhasil.
Setelah upacara selesai dan orang-orang mulai bubar, bergerombol pergi merayakan kelulusan mereka, aku berjalan perlahan meninggalkan lapangan sekolah sendirian. Angin sore berhembus pelan, membelai wajahku. Aku memandang ke depan, ke arah jalan yang terbentang luas di hadapanku.
Meskipun hari ini terasa sepi dan tidak ada yang merayakannya, aku tidak berniat untuk berhenti sekolah. Pendidikan adalah satu-satunya jembatan yang aku punya untuk mengubah nasibku sepenuhnya. Dan aku tahu, aku masih ingin belajar, aku masih ingin berkembang.
Dalam hatiku, sebuah tekad baru mulai bulat. Aku ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Aku ingin masuk SMA.
Aku tahu, perjalanan ke SMA nanti mungkin tidak akan mudah. Mungkin aku akan lagi bertemu orang-orang yang meremehkan, mungkin aku akan lagi kesulitan memahami pelajaran yang lebih sulit, dan mungkin masalah biaya akan lagi menjadi tantangan besar. Tapi, aku juga tahu satu hal: aku sudah bukan Laras yang dulu mudah hancur karena kesepian atau hinaan. Aku punya "Usaha Brokat"-ku, aku punya tanganku yang terampil, dan yang paling penting, aku punya pengalaman bahwa aku bisa melewati segalanya asalkan aku tidak menyerah.
SMA, aku akan datang. Ini bukan tentang membuktikan sesuatu pada orang lain yang bahkan tidak sudi mengucapkan selamat padaku. Ini tentang membuktikan pada diriku sendiri bahwa Laras bisa melangkah lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih baik dari apa yang orang lain katakan atau pikirkan tentang diriku.
Masa lalu yang penuh hinaan dan kesepian itu sudah berlalu. Sekarang, aku siap menulis lembaran baru di bangku SMA, dengan atau tanpa siapa pun di sisiku.