Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Festival Istana
Cahaya senja menembus jendela aula utama, memantul di lantai marmer dan menyorot bendera kerajaan yang berkibar lembut.
Alunan musik lembut dan aroma manisan mengisi udara, namun bagi Arvella, setiap detik dipenuhi ketegangan tak terlihat.
Bayi itu duduk di pangkuan Liora, matanya merah menyala, membaca setiap gerakan tamu, setiap bisikan, dan setiap senyum yang menyembunyikan maksud.
“Arvella, hati-hati di sini,” bisik Liora, sambil menatap anak itu.
Arvella mencondongkan tubuh, tangan mungilnya menunjuk ke arah seorang bangsawan muda yang terlalu percaya diri.
Matanya berkilat—dia merasakan niat tersembunyi dalam tatapan bangsawan itu.
Tiba-tiba seorang pelayan tersandung, nampan berisi gelas hampir jatuh.
“Astaga, maaf!” teriaknya, wajah panik.
Arvella menggeliat, tangan kecilnya menahan nampan sebelum terjatuh.
Liora tersenyum kagum, “Kau selalu tahu kapan harus bertindak…”
Namun saat bayi itu mencondongkan tubuh, Arvella juga menangkap ketegangan lain—seorang bangsawan menatap penasihat raja dengan nada sarkastik.
“Jangan terlalu dekat, Lord Mirren,” bisik Arvella melalui gerakan tangan kepada Liora.
Liora menunduk, memahami maksudnya, dan menanyakan minuman favorit Lord Mirren, sehingga potensi salah paham berubah menjadi percakapan ringan.
Lord Mirren menatapnya sedikit terkejut, tapi tersenyum—tidak menyadari bahwa tindakan Arvella telah mengubah dinamika sosial di aula.
Sementara itu, di sudut lain aula, seorang diplomat tetangga mencoba memprovokasi percakapan.
“Apakah kerajaan kita benar-benar siap menghadapi perubahan ini?” tanyanya, dengan nada lembut tapi menyiratkan keraguan.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya menyala, dan menepuk kain Liora sedikit.
Liora mengalihkan perhatian diplomat itu dengan menanyakan rencana festival kerajaan lain, sehingga ketegangan reda.
Namun masalah tidak berhenti di situ.
Seorang bangsawan muda, tidak puas dengan perhatian yang diberikan, secara sengaja menyenggol meja makanan, membuat beberapa gelas bergetar.
Arvella merasakan bahaya sebelum terjadi. Tangan kecilnya menahan meja, piring-piring aman.
“Tolong… hati-hati di sini,” ujar Arvella melalui tatapan intens, dan Liora menepuk bahu bangsawan itu sambil tersenyum diplomatis.
Tamu itu menunduk, tampak sedikit terintimidasi oleh bayi yang jelas terlalu peka untuk usianya.
Raja mengamati dari podium, tersenyum hangat.
“Arvella, kau perhatian pada hal-hal yang tidak terlihat orang dewasa,” katanya lembut.
Bayi itu menggeliat, menepuk kain Liora, seakan menjawab, “Aku hanya mengikuti apa yang kulihat.”
Festival berlanjut dengan pertunjukan tari dan musik.
Di tengah keramaian, seorang pelayan tersandung lagi, kali ini hampir menjatuhkan nampan berisi hidangan mahal.
Arvella menggeliat lebih cepat, menahan piring dengan satu tangan, tangannya yang lain menepuk bahu pelayan agar tetap stabil.
“Terima kasih… Arvella,” bisik pelayan itu, kagum.
Namun ketegangan semakin meningkat.
Seseorang menyelipkan surat di meja Raja, tak bertanda, namun energi negatifnya terasa kuat oleh Arvella.
Bayi itu mencondongkan tubuh, tangan mungilnya menunjuk ke arah surat.
Liora mengangkat alis, mengerti maksudnya, dan segera menaruh surat itu di bawah pengawasan penasihat raja.
“Arvella, kau merasakan hal-hal yang tak bisa kulihat,” kata Liora pelan, hampir berbisik.
Saat malam semakin larut, bayangan laki-laki misterius muncul di lorong aula, matanya biru, menatap Arvella dengan rasa penasaran.
Bayi itu mencondongkan tubuh, tangannya menggenggam kain Liora, menandakan kewaspadaan tapi juga rasa penasaran.
Bayangan itu perlahan menghilang, meninggalkan rasa misteri yang menggantung—sebuah isyarat bahwa kisahnya belum selesai.
Ketika lampu-lampu taman menyala, memantul di kolam dan patung, Arvella mencondongkan tubuh, matanya menatap cahaya yang memantul di permukaan air.
Dia menyadari bahwa festival ini bukan hanya tentang musik dan makanan, tetapi juga tentang diplomasi sosial, membaca niat tersembunyi, dan menjaga keharmonisan di lingkungan yang penuh intrik.
Arvella menggeliat, tangan kecilnya menepuk kain Liora, seakan menegaskan bahwa dia siap menghadapi tantangan berikutnya—tantangan yang lebih besar, lebih nyata, dan lebih rumit dari sekadar mencegah gelas jatuh atau kesalahan kecil di aula.
Di luar, angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga dari taman istana.
Arvella mencondongkan tubuh, menatap bayangan misterius yang jauh di lorong, matanya bersinar dengan rasa ingin tahu dan kewaspadaan.
Hari ini, bayi itu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan bahwa instingnya akan menjadi kunci untuk menghadapi dunia yang luas, penuh intrik, dan penuh misteri.
Akhir bab kali ini tidak diakhiri dengan tidur Arvella seperti biasa.
Sebaliknya, bayi itu menatap langit malam dari jendela, mata merah bersinar, dan tangannya menunjuk samar ke arah kolam di taman.
Liora tersenyum pelan, mengerti maksudnya—ada sesuatu yang harus diperhatikan besok.
Festival telah selesai, tapi petualangan baru, konflik baru, dan rahasia tersembunyi menunggu untuk terbuka.