akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 – Perintah Penangkapan
Ruang rapat pusat pemerintahan dipenuhi suara debat.
“Kalian belum tiba di lokasi sampai monster itu hancur dan membiarkan tim Rey pergi begitu saja setelah berhasil!”
Seorang pejabat senior membanting meja. Wajahnya merah karena marah.
“Kini satu kota diselamatkan tanpa campur tangan kita. Media darurat menyebut mereka ‘pahlawan yang sebenarnya’!”
Seorang jenderal berdiri dengan tangan di belakang punggung. “Kita tidak punya pilihan waktu itu. Jika kita memaksa mereka tetap di bawah komando pemerintah, bisa terjadi konflik terbuka saat itu juga.”
“Konflik?” potong pejabat lain. “Sekarang justru lebih buruk! Mereka punya senjata tak dikenal, anak dengan kekuatan waktu, dan dukungan rakyat!”
Layar di dinding menampilkan rekaman Deva saat menghentikan waktu di Kota Arvion.
“Anak itu…” gumam seseorang. “Itu senjata strategis.”
Suasana menjadi hening.
Akhirnya, seorang pria berambut abu-abu yang duduk di kursi tertinggi bicara, suaranya rendah namun tegas.
“Kita tidak bisa membiarkan kekuatan seperti itu berada di luar kendali negara.”
Ia menekan tombol di meja.
“Maka dikeluarkan perintah khusus.”
Layar berubah.
TARGET PRIORITAS: DEVA
STATUS: BAWA DENGAN KEADAAN HIDUP DAN TIDAK MENYAKITINYA
“Tidak perlu menyerang Rey secara langsung, karena itu hanya merugikan kita,” lanjutnya.
“Ambil anak itu diam-diam.”
Beberapa orang ragu.
“Tapi itu anak kecil…”
“Justru itu,” jawab pria tua itu dingin. “kita jadi lebih mudah mengambilnya.”
Sementara itu, di Kota Arvion, suasana berbeda.
Warga berkumpul di alun-alun darurat.
Spanduk kain terbentang dengan tulisan tangan:
TERIMA KASIH TELAH MENYELAMATKAN KAMI, TIM REY
Anak-anak berlari kecil, tertawa.
Para ibu membicarakan banyak hal dan anak muda bercanda gurau.
Para lansia duduk di kursi lipat, memandang tim Rey dengan mata berkaca-kaca.
Seorang wanita tua maju dengan tongkat kayu.
“Kami pikir kami akan mati di kota ini,” katanya gemetar.
“Tapi kalian datang… dan kami masih hidup.”
Ia membungkuk dalam-dalam.
Yang lain ikut membungkuk.
Rey terdiam sejenak, lalu ikut menunduk. “Kami hanya melakukan yang seharusnya.”
Boy menggaruk kepala. “Heh… kekuatan ada untuk menolong.”
Leoni tersenyum tipis. “Di dunia yang hancur ini, ternyata masih ada suasana penuh kasih di tempat ini.”
Sila mengelus kepala Deva. “Lihat? Kau pahlawan kecil.”
Deva menunduk malu.
“Aku cuma… membantu sedikit.”
“Itu sudah menyelamatkan ratusan orang disini, suatu saat kalau kau terus berjuang akan lebih banyak lagi yang bisa diselamatkan,” jawab Rey pelan.
Di sudut alun-alun, seorang pria muda berdiri canggung sambil membawa tas medis.
Rambutnya hitam acak-acakan, wajahnya tampak kelelahan.
Ia mendekati Rey.
“E-eh… aku Leo,” katanya. “Dokter relawan di kota ini.”
Rey menatapnya. “Ada yang bisa kami bantu?”
Leo menggeleng cepat. “Bukan itu… aku yang ingin membantu kalian.”
Leoni menaikkan alis. “Dengan apa?”
Leo mengangkat tangannya.
Cahaya putih lembut muncul di telapak tangannya.
Udara di sekitarnya terasa hangat.
“Aku… bisa menyembuhkan luka. Tidak sempurna, tapi cukup cepat dalam penyembuhan.”
Boy bersiul. “Healer?”
Leo mengangguk. “Aku baru bangkit beberapa minggu lalu. Selama ini kupakai untuk menolong warga.”
Sila mendekat. “Bisa sembuhkan luka dalam?”
Leo ragu. “Kalau tidak terlalu parah… bisa. Tapi butuh waktu.”
Rey memandangnya beberapa detik.
“Kau mau ikut kami?” tanya Rey langsung.
Leo terkejut. “A-aku?”
“Dunia ini tidak kekurangan petarung,” lanjut Rey.
“Tapi kekurangan orang yang bisa menyelamatkan.”
Leo menelan ludah.
Ia menatap kota di belakangnya.
“Kalau aku ikut… kota ini bagaimana?”
Rey membuka ruang dimensinya sedikit.
Beberapa kotak makanan dan obat muncul.
“Kami akan tinggalkan persediaan.”
Leoni menambahkan, “Dan regu Olan dari pemerintahan bisa membantu mengawasi wilayah ini.”
Leo mengepalkan tangan.
“Kalau begitu aku lega, memang sudah lama aku ingin berkeliling dan menolong lebih banyak manusia diluar sana… aku ikut kalian.”
Malam hari.
Tim Rey bersiap meninggalkan Arvion.
Di kejauhan, lampu kota menyala satu per satu.
Deva berdiri di samping Rey.
“Paman… aku bahagia melihat mereka bahagia?”
“Itu bagus, jangan hilangkan perasaan ini ya,” jawab Rey sambil menunjuk dada Deva.
"Sekarang kekuatan Deva telah terekpose, aku kuatir pemerintah tidak tinggal diam" ujar Leoni.
Deva terdiam.
“Kalau… pemerintah datang menjemputku?”
Rey menoleh.
“Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu.”
Di kejauhan, sebuah drone kecil melintas di langit malam, nyaris tak terlihat.
Di layar pusat komando pemerintah, wajah Deva terpantul jelas.
“Target terkonfirmasi,” kata seorang operator.
“Subjek bersama Rey.”
Perintah singkat keluar.
“Mulai operasi pengambilan, Hati-hati jangan sampai ketahuan.”
Di jalan keluar kota, Leo berjalan di samping Leoni.
“Tim kalian… bukan seperti regu resmi, kalian juga tidak memakai seragam.”
Leoni tersenyum miring. “Kami bukan milik siapa pun.”
Leo melirik Deva. “Justru itu yang berbahaya.”
Rey berjalan paling depan.
Entah kenapa, dadanya terasa tidak enak.
Seolah sesuatu sedang bergerak…
menuju mereka.