Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Tujuan yang Jauh Lebih Spesifik
Dengan kecepatan kilat yang mustahil dilakukan orang biasa, tangan kiri Cakrawirya melesat ke atas, menangkap leher botol arak itu tepat satu inci di depan hidungnya.
Tak ada setetes pun sisa arak yang tumpah, keseimbangannya sempurna.
Sawitri menyunggingkan senyum sinis yang tipis, tatapannya menyala membedah reaksi pemuda itu.
"Tangkapan yang sangat presisi untuk tangan yang mboten dominan."
Cakrawirya tertegun, menatap botol arak di tangan kirinya, lalu menatap gadis pucat di depannya dengan kilat mata yang sulit ditebak.
"Jenengan menyadari kulo kidal?" tanya Cakrawirya, nada suaranya berubah jauh lebih rendah dan dalam.
Seumur hidupnya, ia berhasil menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang pendekar kidal yang mematikan, sebuah rahasia yang bahkan Adipati Sasongko pun tak mengetahuinya.
"Gerakan motorik mboten pernah bisa berbohong," jawab Sawitri datar, menyilangkan tangannya di dada.
"Kemarin di warung sate, jenengan mencomot jadah bakar kulo menggunakan tangan kiri, meski piringnya berada di sisi kanan jenengan. Dan barusan, refleks pertahanan tubuh selalu menggunakan tangan yang paling dominan."
Sawitri mendekatkan wajahnya sedikit, membiarkan aura mengintimidasinya merayap menguasai Cakrawirya.
"Kulo mboten peduli jenengan ini pangeran, kerabat adipati, atau tukang pukul bayaran. Namun, jika jenengan terus menguntit dan mengganggu kulo dengan teka-teki identitas jenengan..."
Mata forensik Sawitri menyipit tajam bak sembilu es.
"Kulo pastikan kulo akan membedah otak jenengan dan mencari tahu sendiri rahasia yang jenengan sembunyikan."
"Kulo selalu menyukai orang yang jujur dengan observasinya," senyum tipis terukir di sudut bibir Cakrawirya, mengamati Sawitri yang tak gentar sedikit pun dengan tatapan mematikannya.
"Maka kulo akan membalas kejujuran jenengan. Rahasia identitas kulo jauh lebih berbahaya dari sekadar anak adipati. Jadi, tahan rasa penasaran jenengan jika jenengan masih ingin menikmati sarapan besok pagi, Ndara Tabib."
Pemuda itu memutar tubuhnya, berjalan gontai meninggalkan kereta kuda Sawitri yang mulai bergerak perlahan membelah dinginnya angin fajar.
"Pria arogan dengan kompleks dewa," gumam Sawitri tanpa emosi, kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu kereta.
Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya memutar kembali setiap kepingan bukti dari kasus semalam, menyusunnya dalam rak-rak rapi di dalam otaknya yang sedingin mesin analitik.
Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik rimbunnya pohon bambu saat kereta kuda Sawitri tiba di depan pesanggrahan reotnya.
Pintu gerbang bambu setengah terbuka.
Langkah Sawitri terhenti di ambang halaman. Insting kewaspadaannya langsung menyala.
Ia tak pernah membiarkan gerbang itu terbuka tanpa penjagaan.
"Ndara Ayu!"
Ndari berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur belakang, wajahnya pias dan tangannya gemetar memegang sebuah tampah bambu yang isinya berantakan.
"Wonten nopo, Ndari? Di mana Nyi Inggit?" tanya Sawitri cepat, nada suaranya tak berubah namun langkahnya langsung menyapu area sekitar.
"Nyi Inggit teng kamar, Ndara! Beliau menangis sejak tadi. Kulo bangun tidur, pintu dapur sudah terbuka, dan... dan semua bahan makanan untuk Grebeg Maulud kita hilang!"
Sawitri tak membuang waktu. Ia melangkah cepat menuju kamar pengasuh tuanya itu.
Nyi Inggit duduk bersimpuh di sudut ruangan, memeluk lututnya sambil terisak pelan.
"Ndara Ayu... ngapunten... kulo mboten saged menjaga harta Ndara," rintih Nyi Inggit dengan suara parau.
"Semua beras, daging sapi, dan kepingan perak di kendi beras habis tak bersisa..."
Mata Sawitri memindai ruangan itu. Tidak ada tanda-tanda kerusakan paksa pada kunci pintu atau jendela.
Pencuri ini masuk dengan mudah, seolah sangat mengenal seluk-beluk pesanggrahan ini.
"Siapa yang datang tadi malam, Nyi?" tanya Sawitri, suaranya tetap rasional dan tenang, sebuah oase di tengah kepanikan dua abdi dalemnya.
Nyi Inggit mendongak, matanya yang bengkak menyiratkan ketakutan yang dalam.
"N-Ndara Ratih Kumala... dan beberapa centeng Kadipaten..."
Sawitri memejamkan matanya sedetik. "Psikologi balas dendam yang sangat kekanak-anakan," batinnya menganalisis.
"Dia datang setelah jenengan pergi malam-malam, Ndara. Dia bilang... karena Ndara sudah dijodohkan dengan Raden Mas Dhaniswara, Ndara mboten pantas lagi memegang harta dari keluarga Danurejo," isak Nyi Inggit melanjutkan laporannya.
"Dijodohkan?" Ndari memekik kaget, menatap majikannya dengan mata membulat. "Gusti! Mboten mungkin Ndara Ayu mau menikah dengan pangeran Demak yang terkenal gila itu!"
Sawitri membuka matanya, menatap lurus ke arah Nyi Inggit yang masih gemetar.
"Berapa banyak yang Ratih ambil?"
"S-semuanya, Ndara. Bahkan kain mori dan sutra pemberian Ki Padmo juga dibawanya."
Hening sejenak. Sawitri tidak meledak dalam amarah atau meratapi nasib seperti yang mungkin dilakukan gadis seusianya.
Ia justru berjalan mendekati jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah tembok belakang pesanggrahan yang membatasi hutan bambu.
"Ndari," panggil Sawitri tanpa menoleh. "Kau bilang pintu dapur terbuka pagi ini?"
"Leres, Ndara. Tapi kulo yakin sudah menguncinya rapat-rapat semalam."
Sawitri memperhatikan kusen jendela kayunya dengan saksama. Ada serbuk tanah liat kering yang menempel di ujung ambang jendela bagian luar.
Ia menyentuh serbuk itu, menggosoknya di antara ibu jari dan telunjuknya.
"Tanah liat merah. Jenis tanah yang hanya ada di dasar Kali Opak, bukan di pekarangan ini," gumamnya sangat pelan.
Matanya lalu beralih menatap tembok belakang pesanggrahan. Di dekat pohon jambu air yang menempel ke tembok, ia melihat sesuatu yang ganjil.
"Nyi Inggit, apakah semalam turun hujan?"
"M-mboten, Ndara. Kering kerontang."
"Lalu kenapa ada jejak lumpur basah yang menempel memanjat ke batang pohon jambu ini?"
Sawitri melangkah keluar, mendekati pohon itu. Ia mengamati jejak kotor itu dengan mata forensiknya.
"Jejak telapak kaki bagian depan, tanpa tumit. Ini bukan jejak orang berjalan, ini jejak orang yang melompat turun dari tembok dengan mendarat menggunakan ujung kakinya."
Ia memutar tubuhnya, menatap tembok batu bata kusam di depannya.
Di bagian atas tembok, tepat di samping rimbunnya dedaunan, ada sedikit lumut yang terkelupas paksa.
"Seseorang memanjat masuk dari tembok ini tadi malam," simpul Sawitri telak.
"Pencuri?!" jerit Ndari panik. "Tapi kan Ndara Ratih masuk lewat pintu depan!"
"Ratih mungkin mengambil harta benda kita di depan mata Nyi Inggit," ujar Sawitri tenang, matanya menatap tajam ke arah jejak lumpur itu.
"Tapi orang yang melompat dari tembok ini memiliki tujuan yang jauh lebih spesifik daripada sekadar mencuri beras."
Sawitri kembali masuk ke kamarnya, memeriksa setiap sudut dengan sangat teliti.
Ia tidak menemukan barang berharga lain yang hilang.
Kotak jarum peraknya utuh, gulungan lontar medisnya tersusun rapi.
Hingga matanya tertuju pada dipan kayu tempat ia biasa tidur.
Seprai lurik kusamnya tampak rapi, persis seperti yang ia tinggalkan semalam saat Cakrawirya membangunkannya secara mendadak.
Namun, tepat di atas bantalnya, ada sebuah lekukan yang tidak wajar.
Ia mendekat, mengangkat bantal itu perlahan dengan penjepit bambu.
Di bawah bantal itu, meringkuk diam seekor kalajengking hitam berukuran ibu jari orang dewasa.
Capitnya mengembang siaga, ekornya yang berbisa melengkung mematikan.
"Gusti Pangeran!" pekik Nyi Inggit, nyaris pingsan melihat hewan mematikan itu.
Sawitri tidak bergeming. Ia mengamati kalajengking itu dengan ketenangan seorang ilmuwan biologi.
"Kalajengking hutan. Sengatannya mboten mematikan bagi orang dewasa yang sehat, namun bisa menyebabkan syok anafilaktik fatal bagi gadis dengan kondisi malnutrisi kronis," analisis Sawitri di dalam kepalanya.
"Ratih mungkin bodoh dan serakah," ucap Sawitri memecah ketegangan, menatap lurus ke arah kalajengking itu.
"Namun, dia mboten memiliki kecerdasan taktis untuk menyelundupkan hewan berbisa ke bawah bantalku tanpa membangunkan kalian berdua."
Sawitri mengambil wadah gerabah kosong, dengan gerakan secepat kilat ia mengurung kalajengking itu di dalamnya.
"Ada tamu kedua yang datang semalam. Dan tamu ini... bukan untuk merampok."
Mata Sawitri memicing tajam, aura dinginnya menyelimuti seluruh pesanggrahan.
"Dia datang untuk membunuh."