Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10.Antara Dendam dan Cemburu
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar di aula utama terasa menyilaukan dan menusuk mata Aira yang masih sayu.
Ia berjalan menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, mencoba menyembunyikan rasa sakit di pinggangnya dan tanda-tanda baru yang ditinggalkan Dante semalam di balik kerah tinggi gaun hitamnya.
Di bawah tangga, sosok yang paling ia hindari sejak kemarin sudah berdiri tegak. Kael.
Kael tidak mengenakan seragam pelayan formalnya.
Ia mengenakan kemeja hitam dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan otot leher yang tegang. Ia baru saja kembali dari tugas luar yang diberikan Dante—sebuah pengalihan agar Dante bisa memiliki Aira sendirian semalam.
"Anda tampak sangat pucat, Nyonya," suara Kael menggelegar, kasar dan penuh dengan nada sindiran yang tajam. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Aira di anak tangga terakhir. "Atau mungkin 'lelah' adalah kata yang lebih tepat?"
Aira mencoba membusungkan dada, meniru wibawa Isabella yang terlihat pada sampul novelnya. "Minggir, Kael. Aku tidak punya waktu untuk ocehanmu."
Kael tidak bergerak. Malahan, ia maju satu langkah lagi, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aira.
Aroma keringat maskulin dan debu jalanan dari tubuhnya menyerbu indra penciuman Aira.
"Dante keluar dari kamar Anda pagi ini dengan senyum yang sangat menjijikkan," bisik Kael, suaranya kini rendah seperti geraman serigala yang lapar.
Ia mengulurkan tangannya yang kasar, dengan sengaja menarik kerah gaun Aira sedikit ke bawah hingga tanda kemerahan yang ditinggalkan Dante terlihat jelas di bawah cahaya matahari.
Mata Kael berkilat dengan kecemburuan yang gila. "Jadi ini alasan saya dikirim ke perbatasan? Agar kepala pelayan itu bisa menaruh bibirnya di sini sementara saya membusuk di tengah hutan?"
Kael mencengkeram lengan Aira dengan kuat, menariknya ke arah ruang latihan pedang yang sunyi di balik aula. Aira tersentak, mencoba melepaskan diri, namun tenaga Kael jauh lebih besar.
"Kael, lepaskan! Beraninya kau!" seru Aira panik.
"Aku berani karena kau yang memulainya, Isabella!" Kael memojokkan Aira ke dinding batu yang dingin di lorong menuju ruang latihan. Ia memerangkap Aira dengan kedua tangannya yang kokoh.
"Kau membiarkan Julian menciummu di kereta, kau membiarkan Zane menyentuhmu di kegelapan, dan kau membiarkan Dante memiliki malammu. Apa kau pikir aku akan diam saja?"
Tiba-tiba, di pantulan pedang perak yang tergantung di dinding, Aira melihat Isabella asli. Sosok itu tertawa terbahak-bahak, matanya berkilat senang melihat kemarahan Kael.
“Berikan apa yang dia mau, Aira... atau dia akan merobek gaunmu di sini juga,” bisik suara itu di kepala Aira.
Kael tidak menunggu jawaban. Ia mencium Aira dengan kasar—sebuah ciuman yang penuh dengan dendam, rasa lapar, dan hasrat yang tertahan selama bertahun-tahun.
Ciuman itu terasa asin dan liar, sangat berbeda dengan dominasi dingin Dante. Aira merintih, tangannya mencengkeram kemeja Kael saat pria itu mulai menggigit bibirnya, menuntut bagian yang ia rasa telah dicuri oleh pelayan lainnya.
Di kejauhan, suara langkah kaki Dante yang teratur mulai terdengar mendekat. Kael melepaskan ciumannya sedikit, menatap mata hijau Aira yang kini basah dengan air mata ketakutan dan gairah yang membingungkan.
"Mulai sekarang, tidak ada lagi tugas luar bagiku," bisik Kael tepat di depan bibir Aira.
"Jika mereka bisa memilikimu, maka aku akan memastikan aku yang paling sering melakukannya."
Punggung Aira menghantam dinding batu yang dingin dengan keras, membuat napasnya terputus sejenak.
Di depannya, tubuh Kael yang besar dan panas memerangkapnya sepenuhnya. Lorong menuju ruang latihan pedang ini gelap dan lembap, jauh dari jangkauan lampu-lampu kristal aula yang hangat.
Kael tidak seperti Dante yang mencengkeram dengan keanggunan seorang predator kelas atas. Kael adalah kekerasan murni.
Tangan kasarnya kini merayap naik, bukan untuk mengelus, melainkan untuk mencengkeram rahang Aira dengan jemari yang menuntut.
"Kau pikir aku buta, Isabella?" bisik Kael, suaranya parau oleh kecemburuan yang membakar.
"Aku mencium aroma Dante di lehermu. Aku melihat caramu berjalan yang sedikit tidak stabil. Mereka semua sudah mencicipimu saat aku dipaksa membusuk di hutan demi tugas konyol itu!"
Aira mencoba memberontak, namun tenaga Kael jauh di atas kemampuannya. "Lepaskan aku, Kael! Aku adalah majikanmu!"
"Majikan?" Kael tertawa sinis, sebuah suara yang sangat dalam dan berbahaya. Ia merendahkan wajahnya, hidungnya menyentuh leher Aira, menghirup aroma parfum mawar yang kini bercampur dengan aroma maskulin milik Dante yang masih tertinggal.
"Kau adalah tawanan kami, Nyonya. Dan aku tidak akan membiarkan mereka berbagi milikku tanpa aku mengambil bagianku."
Tanpa peringatan, Kael mencium Aira dengan liar. Ciuman itu tidak memiliki rasa manis; itu adalah ciuman yang penuh dengan rasa lapar dan dendam.
Bibir Kael menggigit bibir bawah Aira hingga Aira mendesah kesakitan yang bercampur dengan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tangan Kael yang lain merangkak masuk ke bawah paha Aira, mengangkat satu kakinya dan menempelkannya ke pinggangnya, membuat posisi mereka semakin intim di tengah kegelapan lorong.
Aira merintih di sela-sela ciuman itu. Ia merasa kewalahan. Di saat yang sama, sosok Isabella asli muncul di bayangan pedang yang tergantung di dinding. Sosok itu tertawa puas, matanya berkilat senang melihat kemarahan Kael yang menghancurkan pertahanan Aira.
"Rasakan itu, Aira... serigala ini tidak akan berhenti sampai dia merobek jiwamu," bisik suara itu di kepala Aira.
Ciuman Kael baru saja berpindah ke leher Aira—tepat di atas tanda yang ditinggalkan Dante semalam—saat sebuah suara langkah kaki yang teratur dan sangat dingin terdengar dari ujung lorong.
"Lepaskan dia, Kael. Sekarang."
Suara itu adalah Dante.
Kael tidak langsung melepaskan Aira. Ia justru memberikan satu gigitan kecil di leher Aira sebagai tanda kepemilikan terakhir sebelum perlahan menoleh ke arah sumber Di ambang cahaya, Dante berdiri tegak dengan tatapan biru es yang seolah bisa membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
Di belakangnya, Julian berdiri dengan senyum manis yang kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi manipulatif yang sangat gelap.
"Tugas luar tampaknya membuatmu lupa akan etika pelayan, Kael," ujar Dante, suaranya rendah namun mengandung ancaman kematian yang nyata.
Kael menurunkan kaki Aira, namun ia tetap merangkul pinggang Aira dengan posesif, menantang tatapan Dante.
"Etika? Sejak kapan ada etika di antara pria yang semuanya sudah menaruh bibir di leher wanita yang sama?"
Julian melangkah maju, memutar botol kaca kecil di tangannya—ramuan yang mungkin bisa membuat Kael pingsan dalam sekejap.
"Kael, kau terlalu kasar. Nyonya kita yang 'rapuh' ini butuh kelembutan, bukan serangan mendadak di lorong gelap."
Aira berdiri gemetar di antara ketiga pria itu. Ketegangan di antara mereka sudah mencapai puncaknya.
Ini bukan lagi tentang siapa yang menjaga Isabella; ini adalah perang dingin untuk menentukan siapa yang berhak memiliki "Aira" di dalam tubuh tersebut.
"Dante... Kael... Julian... sudah cukup," isak Aira pelan, suaranya pecah oleh ketakutan dan kelelahan emosional.
Dante melangkah mendekat, mengabaikan Kael sepenuhnya. Ia meraih tangan Aira dan menariknya dari dekapan Kael dengan satu gerakan yang sangat berwibawa.
"Kembali ke kamarmu, Nyonya. Saya akan mengurus 'anjing liar' ini dan memastikan dia tahu di mana tempatnya berdiri."
Kael mengepalkan tangannya, namun tatapan tajam dari Zane yang tiba-tiba muncul di belakang Dante membuatnya terdiam.
Pagi itu, The Velvet Manor tidak lagi terasa seperti rumah; itu adalah arena di mana empat serigala siap saling mencabik demi satu mangsa yang sama.
Lanjuutt