"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERNIKAHAN
Suara musik islami mengiringi pernikahan sederhana Bara dan Aira. Keduanya berdiri di pelaminan dengan pakaian pernikahan yang tidak terlalu mencolok.
Senyum mengembang dari bibir keduanya. Senyuman kebahagiaan pengantin yang saja menyelesaikan akad nikah di ruang tengah rumah milik orang tua Bara.
"Selamat Bu Norma, akhirnya mantu juga, " sapa tetangga bawel yang selalu bertanya kapan Bara menikah.
"Alhamdulillah, Bu Susi. Akhirnya Saya lepas dari pertanyaan itu, nanti jangan tanya yang lain ya Bu, " sindir Norma dengan seringai yang membuat Susi tertawa kikuk.
Satu persatu undangan mengucap selamat pada pengantin dan keluarga.
"Istri Bara ini katanya yatim ya? Memangnya kurang ganteng apa dia? padahal masih bisa dapat yang lain, " celetuk salah satu tamu undangan sambil menikmati potongan buah semangka.
"Namanya jodoh, Bu. Kita nggak tahu, " sahut yang lain membela.
"Cantik sih, kerja apa istrinya? " tanya yang lain masih dalam lingkaran meja yang sama.
"Sebelumnya bantu-bantu di Panti. Jadi pengasuh dan pengajar anak-anak yatim di sana. Di situ juga Bara kenal waktu ngurus acara kantornya, cerita Bu Norma waktu antar undangan ke rumah Saya, " sahut Bu RT yang berpenampilan paling modis di antara yang lain.
Spontan semua di meja itu mengangguk dengan bibir membulat dengan suara "Oooh."
Waktu bergulir cepat, keramaian acara semakin berkurang menunjukkan semakin sedikitnya tamu yang datang.
Beberapa tetangga yang membantu, mengumpulkan sampah dan piring kotor ke belakang rumah.
Hawa tanah basah masih terasa dari hujan panas mendadak siang tadi.
"Bara, kami pamit dulu ya. Selamat sekali lagi, semoga langgeng sampai kakek nenek," ujar salah satu rekan seniornya di kantor.
"Aaamiiin ya Allah. Terima kasih doa dan kedatangannya Mba Pur, teman-teman semua. Maaf ini, istri mendadak pusing jadi minta ijin ke kamar, " sahut Bara sungkan sambil menangkup kedua tangan ke dadanya dengan senyum yang masih merekah ditengah lelahnya.
"Nggak apa-apa Mas Bara, titip salam aja nanti sama Mbak Aira. Kami harus balik kantor, nanti di cariin pak bos, " timpal Sri rekan se ruangannya.
"Siap-siap, nanti di sampaikan salamnya. Terima kasih nggih semua."
Rekan kerjanya bersalaman satu-satu dan berjalan menuju mobil kantor yang mereka bawa.
"MAS BARAA!!"
"Kak Aira pingsan," ujar Puspa adik Bara setengah berlari menghampiri Bara yang berdiri di tempat acara.
Bara terhenyak lalu bergegas ke dalam rumah.
"Ya Allah Aira.. "
Bara spontan menggendong istrinya yang masih berpakaian pengantin lengkap ke dalam kamar.
Ibu-ibu rewang yang berlari dari dapur ke ruang tengah ribut menyuruh Puspa mengambil air, ada yang menyuruh mengambil kipas sampai suara-suara itu terdengar seperti gemuruh di dalam rumah yang kecil.
Norma yang tadi sempat di kamar mandi nampak bingung melihat kepanikan di ruang tengah.
"Kenapa Mba yu? " tanya Norma pada kakak iparnya.
"Itu, mantumu pingsan barusan."
Norma terkejut, lalu buru-buru ke kamar pengantin.
"Pingsan kenapa Bara? " tanyanya.
"Mungkin cuma kecapekan Bu, katanya semalam kurang tidur."
"Lagian, sudah tahu mau nikahan malah nggak istirahat cukup. Ada -ada aja istrimu ini. Ambil minyak angin di kotak obat Puspa, " titah Norma.
Tak lama, Puspa kembali ke kamar menyerahkan sebotol minyak angin.
Norma dengan gesit memakaikan minyak angin ke punggung dan tengkuk Aira yang sudah dilonggarkan baju pengantinnya.
Tangannya memindahkan bantal dari kepala ke atas kaki, supaya ada suplay oksigen masuk ke otak.
"Sudah nggak apa, sebentar lagi paling sadar."
Puspa berlalu ke luar memberi ruang untuk mereka.
Bara duduk cemas di samping istrinya.
"Jaga aja dulu di sini. Tamu sudah habis kan?Ibu mau bantu yang lain berbenah."
Bara mengangguk kecil.
Norma melenggang keluar kamar, tanpa rasa kecemasan atau kepanikan. Hanya terkejut di awal.
Hingga jelang senja, Aira tak kunjung sadar.
"Bu, Apa Bara bawa ke IGD rumah sakit aja ya?" tanya Bara cemas.
"Ya, sudah ini pingsannya sudah nggak wajar sampai 3 jam. Apa tiduran dia? sudah kamu coba bangunin tadi?"
"Sudah, Bu. Nggak ada respon sama sekali."
"Telpon aja dulu taksi online jangan pakai ambulance nanti heboh sekampung."
Norma bergegas mengambil baju santai dan mengganti pakaian Aira. Melepas hiasan di kepala dan membersihkan make up dari wajahnya perlahan dibantu Puspa.
10 menit kemudian Mobil berukuran agak besar parkir di depan rumah Bara.
Bara menggendong perlahan tubuh istrinya dan menaruhnya di jok penumpang. Norma duduk lebih dulu dan memangku kepala Aira.
Ban mobil taksi berputar di aspal, melaju menuju IGD rumah sakit terdekat.
BRAKK!!
Bara menutup pintu mobil dan buru-buru memberitahu perawat jaga untuk membawa brankar.
Dengan wajah cemas, Norma dan Bara duduk di kursi tunggu depan ruang IGD. Dokter dan perawat bergerak cepat memeriksa kondisi Aira yang masih belum sadar.
Detik jam di ruangan itu berdetak keras karena ruangan yang sepi dari pengunjung. Hanya perawat yang sesekali lewat.
CEKLEK
"Keluarga pasien ya Pak? " tanya dokter yang baru saja keluar.
"Oh iya, Dok. Bagaimana? " tanya Bara yang bergegas berdiri dan menghampiri dokter.
"Kita coba cek keseluruhan ya, jadi kita rawat dulu malam ini. Tadi sempat siuman setelah kami tindak, tapi sepertinya ada masalah di otak. Pasien mengeluh sakit kepala hebat jadi kami beri suntikan obat penenang."
Norma yang ikut berdiri di samping Bara menyimak penjelasan dokter tertegun.
Hatinya tiba-tiba gusar.
"Baik, dok. Saya ikut arahan, Terima kasih, " jawab Bara cepat.
Dokter jaga itu kembali ke dalam.
"Bara, kamu sebelumnya pernah tanya nggak riwayat kesehatan istrimu itu?" tanya Norma dengan tatapan kesal.
"Sudah, Bu. Waktu urus berkas ke KUA kan harus buat surat kesehatan juga. Nggak ada masalah apa-apa Aira, " sahut Bara.
"Pak, bisa urus administrasi dulu ya. Kamar rawat inapnya masih di siapkan. "
Perawat menyerahkan selembar surat pengantar dari ruang IGD.
Bara berlalu ke ruang yang di tunjuk.
Norma kembali duduk ke kursi tunggu menghubungi putrinya Puspa untuk menjemputnya dengan sepeda motor ke rumah sakit.
"Bara, kamu ibu tinggal ya. Puspa diperjalanan jemput Ibu. Ibu capek mau istirahat dulu."
"Iya, Bu. Nanti Bara kabari kalau ada apa-apa."
Tak lama, ponsel Norma berdering.
Bara mencium punggung tangan ibunya dan melihat punggung ibunya yang makin menjauh keluar dari gedung rumah sakit.
Pintu IGD terbuka lebar, beberapa perawat menarik dan mendorong brankar tempat Aira berbaring masih tak sadarkan diri.
Bara mengiringi langkah, perawat menuju ruang inap di kelas 2 lantai 1.
Raut kesedihan dan luka terlihat jelas dari tatapan Bara pada istrinya.
'Sakit apa yang membuat Aira jadi begini ya Allah?' batinnya.
Kumandang adzan isya dari masjid rumah sakit menggema, menemani langkah Bara dan roda brankar yang masih berputar di lantai keramik.
Hati Bara sedikit menguat, ia yakin ada Allah yang akan membantunya menghadapi semua ini.