Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi Keberuntungan
Setelah melewati malam penuh badai, pagi itu akhirnya Nia terbangun dari tidurnya.
Kepalanya masih terasa pusing dan sedikit mual. Gadis itu berusaha mengumpulkan kesadarannya dan mengingat-ingat kejadian semalam.
Tapi yang diingatnya hanyalah pertemuannya dengan Alex yang berakhir perdebatan. Setelah itu dia tidak dapat mengingat apapun dengan baik.
"Apa yang teriadi padaku..?? Kenapa aku tiba-tiba ada disini...??" gumam Nia sambil memijat pelipisnya, karena seingatnya semalam dia berada di Fantasia.
Alangkah terkejutnya Nia ketika ia berdiri di hadapan cermin. Gadis itu menjerit menyaksikan wajahnya sendiri. Matanya yang terlihat bengkak dan sembap akibat terlalu banyak menangis.
Seketika satu persatu ingatannya mulai kembali tentang kejadian semalam, tentang dia yang menenggak alkohol, dan semua hal bodoh yang ia lakukan di hadapan Veron.
"Aaaakkkkhhh aku pasti sudah gila...!! Bagaimana aku akan menghadapinya..?? Kau memang benar-benar bodoh Nia...!!" pekik gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya.
Nia mencoba keluar dari kamarnya, sambil berjalan perlahan dan mengendap-endap dia mengintip dari balik pintu untuk memastikan sang mafia tidak ada di sana.
Setelah dirasa aman, barulah Nia berani keluar menampakkan diri.
"Ehem....!!!" Ucap seseorang dari samping kamar membuat Nia terperanjat kaget.
Rupanya lelaki itu memang sudah menunggunya sejak pagi tadi.
Karena terlalu malu, tanpa pikir panjang Jenia bergegas putar balik kembali ke kamarnya.
Namun belum sempat ia masuk, Veron sudah lebih dulu mencegatnya.
"Mau kemana kau...??!!" ucapaya sambil mencengkram tengkuk Nia dari belakang.
"Awww aww aw aw... lepaskan aku...!!!" pekiknya berusaha melepaskan diri.
"Aku lapar..!! cepat buatkan sesuatu untukku...!!"
"I..iya iya...”
Akhirya mau tidak mau gadis itu keluar namun sejak tadi dia terus menghindari kontak mata dengan Veron.
Sementara sang mafia terus memperhatikan gerak geriknya saat di dapur.
Nia juga nampak diam dan tidak terganggu ketika Cloud hinggap di pundaknya sambil menyanyikan lagu andalannya.
Padahal biasanya dia yang paling tidak tahan dengan nyanyian Cloud yang selalu memuja-muja Veron.
"Minum...!! aku mau minum...!!"
"Ini minumuya..." ucap Nia menunduk dan langsung berbalik tanpa menatap Veron.
"Dilihat dari sikapmu sepertinya kau sudah benar-benar sadar..."
Mendengar itu Nia yang tengah memotong buah langsung terdiam dan berhenti sejenak, lalu kemudian ia lanjutkan lagi.
Setelah semua makanan tersaji, Jenia berencana untuk kemebali ke kamarnya, karena dia masih sangat malu berhadapan dengan Veron.
"Mau kemana..??" ucap lelaki itu sambi meraih lengannya.
"Tugasku sudah selesai, aku mau kembali ke kamar..."
“Tetap disini saja dan sarapan bersamaku…!!!”
Atas perintah Veron, Nia pun kembali duduk dan ikut sarapan bersama sang mafia. Veron menikmati makanannya dengan lahap, sementara Nia hanya diam sambil memainkan sendok dan di tangannya.
Sesekali dia memperhatikan lelaki di hadapannya.
"Kenapa melihatku seperti itu Nia...?? Apa kau masih ingin bertemu Alex...??
" ......"gadis itu hanya menggeleng pelan.
"Apa penawaran tadi malam masih berlaku...??" tanyanya nampak ragu.
"Aaa jadi kau ingin membalasnya...??"
"Tidak, tapi aku ingin uangku kembali..."
"Boleh tapi ada syaratnya...!!!" ucap Veron menatapnya dengan senyum penuh arti.
"A..apa syaratuya..??" Tanya Nia mulai gugup, sebab dia sudah menduga tidak mungkin
Veron mau membantunya tanpa syarat.
Dari banyaknya hal yang ia ragukan adalah, Nia paling ragu dengan syarat yang akan diajukan oleh Veron.
Tapi dia juga tidak rela membiarkan semua tabungannya lenyap begitu saja karena Alex.
"Syaratnya, habiskan dulu makananmu..." sahut Veron dengan santainya.
"Itu saja...??" tanya Nia nampak curiga seolah tidak percaya.
"Aaaa jadi kau mau ada syarat lain..??"
"Ehhh ti... tidak tidak...." mendengar itu Nia segera menghabiskan sarapannya sebelum Veron berubah pikiran.
Meskipun masih merasa aneh dengan syarat yang dikatakan Veron, namun saat itu Nia benar-benar bersyukur mendengarnya.
Untuk yang kesekian kalinya lagi-lagi dia salah dalam menilai seseorang.
Tanpa sadar gadis itu tersenyum sambil menghabiskan makanannya. Entah karena memang masakannya yang enak, atau dia tersenyum karena hal lain.
Nia juga tidak menyadari bahwa seseorang yang duduk di seberang juga tengah tersenyum dan memperhatikannya.
Entah rencana apa yang sedang dipikirkan oleh sang mafia, kali ini hanya Veron dan Tuhanlah yang tahu.
"Oo iya, sebelumnya aku ingin berterimakasih karena sudah menolongku semalam..." ucap
Nia sadar diri.
"Siapa yang menolongmu Nia...?? Aku hanya membawa kembali tawananku yang akan kabur
jika kutinggal begitu saia...!!"
Sepert perintah Veron, hari itu mami Oca selaku pengelola Casino mengumumkan balıwa malam nanti akan di adakan taruhan besar-besaran.
Dia juga mengatakan akan ada hadiah spesial langsung dari pihak Casino bagi siapapun yang mampu menjadi pemenang nantinya.
Dan benar saja, beberapa menit setelah pengumuman itu di rilis semua anggota langsung tertarik untuk mengikutinya, termasuk Alex.
Seolah tak mau ketinggalan, Alex yang memang hoby berjudi sangat yakin bahwa dia pasti akan jadi pemenang.
Malam itu mereka kembali pergi, tak lupa sang mafia juga merubah penampilan jadi lebih menarik dari sebelumnya.
Sepanjang perjalanan Nia benar-benar dibuat gelisah, pasalnvae dia sama sekali tidak mengetahui cara apa yang akan digunakan Veron untuk mendapatkan uangnya kembali.
"Ehem, kau tidak akan membunuh Alex ka…??”tanya Nia kembali memastikan.
"Menurutmu..??"
"Tolong jawab dulu, kalau kau berencana membunuhnya lebih baik batalkan saja semuanya..." ucap Nia yang masih khawatir.
"Nia... Nia, sepertinya kau masih sangat peduli pada laki-laki sampah itu ya.….??!!"
"Bu bukan begitu, aku hanya tidak ingin ada pertumpahan darah atau korban dalam rencanamu..." sahutuya dengan polos.
Seketika kalimat itu membuat Veron terkekeh, dia benar-benar tidak habis pikir dengan kepolosan Jenia.
"Tenang saia Nia, aku tidak akan membunuh sampah kesayanganmu itu. Jadi kau jangan banyak tanya dan serahkan semuanya padaku…..!!"
Sesampainya di sana Nia nampak heran, karena ternyata tempat yang mereka datangi bukanlah Fantasia Club, melainkan Casino yang merupakan tempat orang-orang berjudi dan memasang taruhan.
Lagi-dan lagi malam itu Nia mendapati Vivian yang turut hadir disana mendampingi para pemain.
Wanita cantik itu nampal tersenyum canggung saat melihat kedatangan Jenia.
Dan yang lebih mencengangkan, Nia juga melihat seseorang yang sangat ia kenal duduk tidak jauh dari Vivian, yang lain dan tidak bukan adalah Alex.
"Alex lagi...??" gumamuya nampak kaget.
“Tidak usah kaget Nia, sampah kesayanganmu itu memang sangat menyukai tempat ini. Dan disinilah dia menghamburkan semua uang hasil jerih payahnya dari meminjam dan menipu para gadis bodoh sepertimu...!!"
"Hmm, kau benar. senadainya sejak awal aku tahu siapa Alex, mungkin hidupku tidak akan sesial ini..." gumam Nia memandang ke arah laki-laki yang telah menipunya.
“Kalau begitu mulai sekarang jadilah Dewi keberuntungan untukku...!!” ucap sang mafia sambil menggenggam tangan Nia dan membawanya bergabung di meja Casino.
Seketika Alex berdiri saat melibat kedatangan Nia, kali ini dia dalam keadaan sangat sadar tanpa pengaruh alkohol.
Alex segera mendekat, namun Veron langsung menghadangnya.
Malam itu Nia benar-benar terlihat cantik, pakaian yang ia kenakan membentuk lekuk tubunnya hingga semua mata tertuju padanya.
"Nia, kenapa kau juga ada disini...?? Dan siapa dia...??" tanya Alex memandang Veron dengan tatapan sinis.
Karena sang mafia selalu mengenakan masker, jadi tidak ada seorangpun yang mengenalinya, kecuali orang terdekat atau musuh bebuyutannya.
“Kalahkan aku dulu jika ingin bicara dengannya..." sahut Veron menantang.
"Haha baiklah, bukan hanya kau, tapi semua orang yang ada disini akan ku kalahkan...!!” Ucap Alex dengan angkuh dan penuh percaya diri.
Sedangkan dia tidak tahu menahu kalau orang di hadapannya adalah pemilik Casino itu sendiri.
Bukan hanya terpaku pada hadiah yang akan dimenangkan. kini Alex juga terpaku dengan kecantikan Jenia.
Tipenya memang wanita dewasa seperti mami Oca, tapi menurutnya malam ini Nia terlalu menggoda.
"Akan ku menangkan permainan ini...!!" gumam Alex tersenyum licik.
Dan benar saja, malam itu Alex serasa berada di atas angin saat dirinya menang di tahap awal.
"Kau yakin bisa memenangkan permainan ini..??" bisik Nia yang mulai cemas melihat permainan Veron.
"Entahlah, semua tergantung padamu. sebaiknya kau doakan dan beri mantra pada tanganku supaya aku bisa menang..." sahut Veron menyodorkan tangannya.
Tanpa pikir panjang gadis itu memejamkan mata dan berdoa dalam hati sambil menggenggam erat tangan sang mafia.
Terakhir Nia juga meniup dan mencium tangan Veron.
Kepolosan itu lagi-lagi membuat Veron tersenyum di balik maskernya, namun cukup efektif untuk membuat Alex merasa kesal dan terbakar.
Puncak kekesalaannya adalah ketika sesi terakhir Veron mempertaruhkan semuanya, lalu Alex terpancing hingga ikut melakukan hal yang sama.
Dia sangat yakin bisa mengalahkan semuanya, namun nyatanya Veronlah yang jadi pemenangnya.
"Kau pasti curang kan...??!!" ucap Alex menggebrak meja sambil menunjuk wajah Veron dengan tatapan kesal.
Sementara Veron hanya tersenyum sinis sambil beranjak pergi bersama gadis di sampingnya.
"Nia...!! Tunggu dulu Nia, jangan pergi dulu, kita harus bicara hey...!!" teriaknya memanggil Jenia.
Namun para penjaga Casino sudah lebih dulu menahan Alex sebelum dia membuat keributan lebih jauh.
Malam itu Veron mendapatkan semua hasil kemenangannya. Singkatnya dia yang mengadakan taruhan dia juga yang menyediakan jasa piniam dana, dan dia juga yang akhiraya memenangkan permainan tersebut.
Jadi perjudian itu hanyalah alat pemancing yang ia gunakan untuk menarik lebih banyak mangsa hingga semua uang tetap berputar di sekitarnya.
Sebelum pulang Veron juga menyerahkan sebuah amplop pada Jenia, yang berisi kartu debit serta buku tabungan dan kode pin yang baru atas nama Jenia Dara.
Nominal yang tertera di dalamnya juga sama persis dengan milik Nia sebelumnya. Pas, tidak kurang dan tidak lebih.
Dalam perjalanan gadis itu masih menangis seolah tidak percaya. Rasanya seperti mimpi, uang yang susah payah ia kumpulkan selama bertahun-tahun bisa di dapatkan kembali oleh Veron hanya dalam waktu kurang dari dua jam.
"Sekali lagi terimakasih sudah membantuku..." ucapnya mengenggam tangan Veron.
"Semua berkat doa dan mantra yang kau tiupkan. Terlepas dari segala kesialan yang kau alami, malam ini kau adalah Dewi keberuntungan untukku...”
Bukannya berhenti, Nia justru makin menangis mendengar kalimat yang diucapkan Veron.
Sejak saat itu rasa bencinya terhadap Veron perlahan mulai hilang, meskipun dia tetap ingin segera pergi dari sana.
Ketika malam semakin larut, mereka semua masih dalam perjalanan kembali menuju markas.
Namun saat hendak sampai, samat-samar Benjamin melihat ada kendaraan lain yang melaju di belakang mereka.
"Tuan, sepertinya kita sedang di ikuti...!!" ucapnya sambil menyiapkan senjata.
Beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan dari mobil yang mereka tumpangi. Nampaknya bannya pecah hingga mobil tersebut oleng tak terkendali.
Seseorang di belakang mulai mendekat dan menembak mereka.
Nia yang ada didalam tentu saja mulai panik dan ketakutan.
"Tenang Nia, kau tidak akan terluka.….!!" bisik sang mafia sebelum akhiruya malam itu terjadi baku tembak dan pertumpahan darah.
…………………………………………………………………………………