" Aku telah kehilangkan kedua orang tuaku dari karna ulah keluargamu, maka bersiap lah menerima akibat dari perbuatanmu itu!" Ucap seorang pria dengan mata penuh dendam.
” Aku menerima semua kemarahan mu tuan, atas apa yang telah di perbuat oleh orang tuaku untuk menebus semua kesalahan itu. Tapi jika aku lelah aku pamit pergi tuan." Balas seorang wanita dengan wajah sendiri penuh kepasrahan apa yang akan ia terima dengan ikhlas untuk menebus semua kesalahannya pada pria yang membenci dirinya itu.
Bagaimana kelanjutannya ikuti terus cerita ini sampai selesai ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda sri ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empatbelas
Dinginnya AC mobil tersebut membuat tubuh Naura menggigil kedinginan hingga Naura makin mendekap tubuhnya dengan erat. Apalagi baju yang ia kenakan tidak cukup tebal membuat AC di dalam mobil itu bisa menembus bajunya hingga kedalam.
Entah sengaja atau tidak Shaka menghidupkan AC itu sampai dengan volume yang tinggi apalagi pandangan mata shaka tidak melihat ke arah naura yang duduk di sampingnya.
Sampai Shaka mendengar suara lirik dari gadis itu meminta tolong untuk mematikan AC mobil dengan bibir bergetar.
" Tolong matikan AC mobilnya tuan." lantas mendengar hal itu membuat shaka menoleh kesamping dan terkejut saat melihat gadis itu tengah kedinginan.
Menyadari hal tersebut shaka pun langsung meminggirkan mobilnya dan mematikan AC mobil lalu mengambil sesuatu di jok belakang dengan tangannya yang ternyata adalah sebuah jaket kulit hitam.
" Kamu pakai ini. dasar norak baru naik mobil ber AC saja sudah kedinginan." Ujar shaka dengan senyum miring memandang rendah gadis itu sambil melemparkan jaket miliknya pada naura yang tidak membalas ucapan dari pria itu yang memandang rendah dirinya.
Setelah itu Shaka pun kembali menjalankan mobilnya menuju arah jalan pulang kerumah. namun sesekali sudut mata shaka melirik kesamping di mana gadis itu berada sudah memakai jaket yang ia berikan untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan.
Naura sudah memakai jaket yang di berikan oleh pria itu membuat hawa dingin yang tadi menusuk kulitnya sudah mulai berangsur hangat kembali. apa lagi AC mobil sudah di matikan membuat mobil itu menjadi lebih hangat.
Sampai tidak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh shaka pun sampai di depan rumah mewah milik almarhum kedua orang tuanya.
Namun yang menjadi fokus utama penglihatan shaka saat berhenti adalah sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumahnya yang tidak asing bagi shaka.
Rasa penasaran kini menghantui shaka siapakah yang datang kerumahnya. namun sebelum turun dari mobil shaka pun menoleh sesaat pada gadis itu yang juga hendak turun dari mobil.
"Saya peringatkan sekali lagi, dan kamu ingat baik baik perkataan saya ini. jangan pernah kamu bisa berharap pergi jauh dari saya atau kalo tidak kematian akan menghampiri dirimu karna sampai ujung dunia pun akan saya cari!" Ancam shaka dengan tegas pada gadis itu yang hanya menunduk kan kepalanya dengan tangan berpegangan kuat pada tas dan juga jaket yang di kenakan oleh dirinya.
Setelah mengatakan hal tersebut shaka pun menutup pintu mobil dengan kencang meninggalkan naura yang terdiam dengan wajah terkejut dengan suara pintu mobil yang di tutup dengan keras.
Lalu setelah itu naura pun keluar dari mobil pria itu berjalan masuk melalui pintu belakang rumah mewah itu yang terhubung ke dapur dengan tubuh yang masih terbalut jaket milik shaka.
Sampai di dapur naura masuk melihat mbak sari dan bu ijah tengah sibuk dengan pekerjaannya masing masing sampai tidak menyadari kedatangan naura.
Sampai suara salam dari naura membuat mereka menoleh kebelakang dan terkejut melihat naura yang berdiri di sana.
" Assalamualaikum bu, mbak." Ucap naura dengan ramah.
"Walaikumsalam. ya allah mbak naura akhirnya pulang juga ibu dan mbak sari khawatir banget sama mbak naura yang tiba tiba saja gak ada di kamar tadi pagi." Ujar bu ijah dengan suara serak menangis saat memeluk tubuh gadis itu.
Naura pun terharu mendengar kalo bu ijah dan juga sari menghawatirkan dirinya ketika pergi tadi pagi dari rumah itu.
" Maafkan saya bu, mbak sari sudah membuat kalian khawatir. tadi pagi naura gak kemana mana kok cuma berangkat ke sekolah aja lebih pagi supaya gak terlambat, jadinya gak sempat bilang ibu dan mbak." Jelas naura agar tidak ada salah pahaman atas apa yang terjadi.
Naura juga tidak akan bilang sama mereka berdua jikalau pria itu sudah membuat dirinya di rawat di rumah sakit karna sesak nafas yang ia miliki kambuh karna perilaku pria itu.
Karna naura gak mau mereka terlalu mencemaskan dirinya seandainya tau apa yang terjadi pada dirinya.
"Naura baik baik aja kok bu, jadi ibu jangan khawatir ya insyaallah naura gak papa." ucap naura tersenyum sambil mengelus pundak bu ijah.
" Oh ya di depan ada lagi ada tamu ya bu?" Tanya naura sambil mengalihkan pembicaraan agar bu ijah dan sari lupa mengenai dirinya.
" Oh itu mbak di depan kakek dari den shaka yanh dari luar negeri baru saja datang." Celetuk sari memberitahu kalo tamu yang datang kakek dari shaka.
" Ohh gitu toh mbak sari." kata naura sambil menganggukan kepalanya dengan mengerti.
Pantas saja tadi di depan ada mobil mewah terparkir di sana ternyata kakek pria itu yang lagi berkunjung di rumah cucunya.
*
*
*
" Kenapa kakek tiba tiba datang tampa memberitahukan shaka?" Pemuda itu tampak terkejut saat mengetahui orang yang datang ternyata adalah sang kakek dan shaka sudah bisa menebak tujuan kakeknya kesini.
Sang kakek yang mendengar ucapan dari cucunya tersebut pun hanya tersenyum saja.
" Jadi kekek tak perlu menjelaskan apa pun lagi ketika kamu sudah tau yang kakek mau hahah...." Ujar sang kakek tertawa melihat wajah dingin dari cucunya itu.
Namun shaka tidak memberi reaksi apa pun saat kakek tua itu tertawa seperti itu. hanya wajah datar dan dingin yang ia perlihatkan.
Sang kakek pun menghentikan tawannya dan beralih dengan wajah serius sambil menatap wajah shaka sang cucu kesayangan sekaligus keras kepala.
" Kakek akan tinggal disini sampai kamu siap ujian lalu habis itu kami ikut kakek pergi kesana untuk melanjutkan pendidikan kamu." Ujar sang kakek pada shaka yang masih terdiam sejak tadi.
Entah apa yang saat ini tengah shaka pikirkan yang ada di dalam kepalanya.
Kakek tua itu yang melihat wajah cucunya itu pun mengerutkan keningnya dengan heran.
" Jangan coba coba kamu menolak permintaan kakek ya atau kalo tidak ancaman yang kakek berikan sama kamu benar benar akan kakek lakukan detik itu juga jika kamu menolak." Dengan tegas sang kakek langsung memberi peringatan untuk cucunya itu agar tidak menolak keinginannya.
" Gak usah di ancam segala kek aku bukan lagi anak kecil. aku punya pilihan hidup sendiri." balas shaka tak kalah tegas pada sang kakek yang terus memaksa dirinya untuk mengikuti kemauan yang tidak ia inginkan.
" Oh kamu bukan anak kecil ya. kalo begitu silakan kamu keluar dari sini jangan membawa barang apa pun milik almarhum orang tua kamu itu. apa kamu masih bisa bersikap keras kepala lagi ketika tidak punya apa apa lagi untuk hidup di luar sana!!"
....