"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Teror Pagar Besi dan Diplomasi Kafe Remang
Suasana ruang tamu masih mencekam. Di atas meja, berdampingan dengan bingkai Biji Kedondong Emas yang datang kemarin, kini ada sebuah kiriman baru yang baru saja diantar kurir ekspres. Isinya bukan lagi buah-buahan kering, melainkan sebuah amplop cokelat besar dengan tulisan: "Hanya untuk yang pernah terjepit."
Bagas membukanya dengan tangan gemetar. Begitu isinya keluar, Bagas langsung terduduk lemas di samping Supra. Itu adalah foto berukuran 10R, sangat jernih, memperlihatkan Bagas dengan kepala yang terjepit di antara jeruji pagar rumah Pak RT 1 tahun lalu. Di foto itu, wajah Bagas terlihat pasrah, sementara lehernya sudah penuh lumuran minyak goreng curah hasil usaha penyelamatan warga.
"Ndoro... ini namanya Double Kill," bisik Bagas dengan suara yang hampir habis. "Setelah biji kedondong lo dikirimin kemarin, sekarang giliran leher gue yang dijadikan monumen kegagalan."
Dira menatap foto itu, lalu beralih menatap biji kedondong di sebelahnya. "Pir, gue tau siapa pelakunya. Di dunia ini cuma ada satu orang yang hobi banget ngumpulin dokumentasi penderitaan orang lain di IGD sambil nungguin istrinya pembukaan empat."
"Si Ferry," gumam Bagas. "Si sutradara gadungan yang waktu itu malah nawarin gue kontrak iklan pelumas pagar pas gue lagi nangis bombay."
Tepat saat itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Bagas.
"Gimana koleksinya? Bagus kan buat dipajang di atas TV? Gas, gue butuh bantuan lo buat proyek dokumenter gue. Kalau lo nolak, gue pastikan foto 'Manusia Pagar' ini jadi wallpaper di semua komputer kantor lo besok pagi. Temuin gue di Kafe Remang jam 8 malem. Bawa 'Ndoro' lo juga."
Malam harinya, di Kafe Remang (yang suasananya lebih mirip tempat uji nyali daripada tempat ngopi), Ferry sudah menunggu dengan senyum licik yang membuat Bagas ingin melemparnya pakai sandal jepit.
"Selamat malam, Pasangan Ikonik IGD," sapa Ferry sambil menepuk-nepuk laptopnya. "Satu tahun lalu, kalian adalah inspirasi terbesar gue. Yang satu keselek kedondong sampai mukanya biru, yang satu kepalanya nyangkut di pagar sampai minyak goreng tumpah ke mana-mana. Itu adalah seni, kawan!"
Dira melipat tangannya di dada. "Seni pala lo, Fer! Lo mau apa sebenernya? Kenapa lo teror kita pake barang-barang antik itu?"
Ferry menyandarkan punggungnya. "Gue mau bikin reality show berjudul 'Gara-Gara Biji Kedondong'. Gue mau kalian jadi bintang utamanya. Gue mau pasang kamera di setiap sudut rumah kalian buat rekam gimana cara kalian hidup normal dengan otak yang nggak normal itu."
Bagas langsung berdiri. "Nggak sudi! Rumah gue itu zona suci buat Supra dan patung Jago! Gue nggak mau rahasia sosiologi tutup botol gue dicuri korporasi!"
Ferry terkekeh. "Oh ya? Terus gimana kalau foto 'Manusia Pagar' dan video Dira yang nyanyi lagu 'Balonku' pas lagi dibius itu gue sebar di YouTube? Bakal viral, Gas. Judulnya: Kisah Cinta Tragis di IGD."
Dira berpikir cepat. Dira melirik Bagas, lalu melirik Ferry. "Oke, Fer. Gue punya tawaran balik. Lo mau konten kan? Kita main adil. Lo dapet file itu balik dari kita, tapi syaratnya lo harus jadi asisten Bagas di kantor selama seminggu. Kalau lo bisa bertahan ngadepin 'frekuensi' Bagas tanpa minta ampun, gue kasih ijin lo pasang satu kamera di dapur."
Ferry tertawa meremehkan. "Cuma jadi asisten Bagas? Anak SD juga bisa!"
"Jangan sombong, Fer," sahut Bagas sambil tersenyum misterius. "Anak SD nggak pernah gue suruh bikin analisis pasar berdasarkan warna kotoran cicak di tembok kantor."
Tiga hari kemudian, Ferry ditemukan sedang duduk di pojok gudang kantor Bagas sambil memeluk lututnya sendiri. Wajahnya pucat, rambut kuncir kudanya sudah berantakan.
Tugas pertama dari Bagas: Mengurutkan seribu lembar kertas kosong berdasarkan 'tingkat keheningannya' saat dijatuhkan ke lantai.
Tugas kedua: Menemani Supra 'rapat internal' selama empat jam tanpa boleh berkedip.
Tugas ketiga (yang paling parah): Membantu Bagas mencari filosofi hidup dari sebuah sedotan plastik yang sudah digigit-gigit.
"Gas... gue nyerah," bisik Ferry sambil menyodorkan sebuah flashdisk. "Ambil... ambil semua foto dan video itu. Gue nggak mau lagi berurusan sama kalian. Hidup bareng lo ternyata lebih horor daripada film Insidious. Lo itu bukan manusia, lo itu anomali semesta."
Bagas mengambil flashdisk itu dengan senyum kemenangan. "Hati-hati di jalan ya, Fer. Oh ya, biji kedondong emas sama foto pagarnya gue simpen ya, lumayan buat pajangan biar kita inget kalau kita pernah sealiran di IGD."
Malam harinya, Bagas dan Dira merayakan kemenangan mereka di rumah. Mereka menghapus semua file itu sambil makan martabak telor.
"Misi sukses, Ndoro. Rahasia masa lalu kita aman," ujar Bagas puas.
Dira tersenyum, lalu menatap bingkai biji kedondong dan foto pagar yang kini dipasang berdampingan di dinding. "Tapi dipikir-pikir, lucu juga ya, Pir. Kalau lo nggak kejepit pagar dan gue nggak keselek kedondong, kita nggak bakal duduk di sini sekarang."
"Iya, Ndoro. Itulah takdir. Tuhan itu maha asyik cara nemuin jodohnya," sahut Bagas tulus.
Tapi, keharuan itu terhenti saat Dira melihat sebuah surat terselip di balik pintu depan. Sebuah surat resmi dengan stempel emas.
"Selamat kepada Saudara Bagas. Patung 'Keheningan Unggas' (Jago Semen) Anda secara resmi terpilih masuk dalam Pameran Seni Kontemporer Nasional di Galeri Nasional Indonesia sebagai karya paling jujur tahun ini."
Dira melongo. "Pir... Bagas... lo dapet masalah baru."
"Apa lagi, Ndoro? Ada yang keselek buah lagi?"
"Bukan! Patung Jago lo... dia bakal jadi artis nasional! Kita harus bawa dia ke galeri besok pagi!"
Bagas langsung berdiri tegak. "Supra! Siapin jas lo! Kita bakal kawal Sang Maestro Jago ke ibu kota!"
Rahasia IGD memang sudah beres, tapi kini mereka harus memikirkan cara membawa patung semen seberat 50 kg itu ke pusat kota. Apakah ban mobil mereka akan kuat menahan beban harga diri sang patung ayam jago?
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍