“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP14
Dirham Mangkujiwo adalah dokter spesialis bedah ternama, sekaligus pimpinan Rumah Sakit Mangkujiwo. Ia juga ayah dari Tommy Edwin Mangkujiwo.
Di mata para pasien yang pernah berada di bawah penanganannya, Dirham dikenal sebagai tangan malaikat—tak peduli separah apa kondisi mereka saat masuk ke meja operasi, bahkan yang telah divonis tak punya harapan, semuanya pulang dalam keadaan hidup dan sehat.
Namun, tak ada yang tahu sisi gelap Dirham.
Di balik jas putih dan reputasi cemerlang itu, ia adalah seorang pembunuh berantai—sosok yang telah menghabisi banyak nyawa, baik di dalam negeri maupun lintas negara.
Contohnya malam ini. Di sebuah lorong sempit di salah satu kota di Filipina, pria itu baru saja merenggut nyawa seorang lelaki yang tak lain adalah rekan bisnisnya sendiri dalam perdagangan organ. Mengetahui karier Dirham tengah melejit, sang rekan sempat melontarkan candaan—jika Dirham tak memberinya uang tutup mulut sebesar satu juta dolar, ia akan membuka kedok siapa sebenarnya Dirham di balik layar.
Sayangnya, Dirham tak pernah menganggap kata bernada ancaman sebagai guyonan. Ia selalu memilih menyingkirkan siapa pun yang berpotensi menjadi kerikil di jalan masa depannya.
Dan malam itu, Dirham tanpa sengaja bertemu seorang bocah dengan kondisi luka berat di area anussnya. Berhubung hatinya sedang senang karena baru saja menghabisi nyawa seseorang, maka ia pun sudi memberi pertolongan.
Bocah bernama Andika itu dibawa ke gudang tempat ia sering membedah manusia-manusia yang organnya diperjualbelikan. Pemeriksaan singkat menunjukkan kondisi anuss Andika rusak parah, sfingter ani (otot pengontrol) robek total — serta mengalami cedera ekstrem yang menyebabkan anak malang itu kehilangan fungsi menahan dan mengeluarkan feses. Dirham pun memutuskan untuk membuat stoma/kolostomi (pembuangan feses lewat lubang di perut yang terhubung dengan usus besar).
Andika siuman dalam keadaan setengah linglung. Pandangannya masih buram saat ia merasakan perih asing di tubuhnya—dan sesuatu yang menempel di perutnya. Tangannya bergerak pelan, menyentuh permukaan plastik lembut itu.
“Kau sudah siuman rupanya.”
Dirham berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan bersedekap. Tatapan dingin menelisik tangan Andika yang masih fokus meraba tubuh.
“Mulai sekarang, kotoranmu akan keluar melalui perut dan ditampung dengan benda itu,” jelasnya datar. “Itu disebut kantong kolostomi.”
Dirham pun menjelaskan bagaimana kondisi tubuh Andika sekarang. Mata Andika membesar. Bibirnya bergetar.
“Kau harus bersyukur,” lanjut Dirham dingin. “Di negara ini, banyak anak-anak dengan kondisi sepertimu tak pernah mendapat kesempatan kedua.”
Andika tetap membisu, matanya menatap nanar langit-langit ruangan. Entah apa yang direnungkan bocah berusia delapan tahun itu.
“Te ... terima kasih, Om,” ucapnya akhirnya.
Dirham tak menanggapi. Ia hanya memalingkan wajah, seolah ucapan itu tak lebih dari angin lalu.
Tak ada yang menyangka, pertemuan singkat di lorong gelap Filipina itu tak berakhir di sana. Dirham tak pernah benar-benar melepaskan bocah itu. Andika dibawa bersamanya kembali ke Indonesia, menempuh perjalanan panjang menuju sebuah kota terpencil yang jauh dari sorotan. Di sanalah ia ditempatkan—di bawah naungan Yayasan Mangkujiwo, tempat yang kelak menjadi rumah, sekaligus awal dari perubahan hidupnya.
Di Yayasan Mangkujiwo, Andika tumbuh bukan seperti anak-anak lain. Dirham sangat terobsesi dengan sorot mata penuh dendam di mata Andika, maka ia mencuci isi otak bocah itu habis-habisan.
Sedari usia itu, Andika diajarkan tentang bisnis gelap yang sedang Dirham kembangkan. Dirham kerap membawanya ke ruangan-ruangan sunyi, memperlihatkan berkas, grafik, dan peta alur distribusi yang tak pernah dijelaskan sebagai kejahatan. Andika belajar bahwa manusia bisa menjadi angka, aset, atau risiko.
Sampai akhirnya lima belas tahun telah berlalu, Andika menemani Dirham rapat dengan para pria tua yang sering disebut Elit.
“Permintaan meningkat,” ujar salah satu dari mereka sambil mendorong map tipis ke tengah meja. “Bukan hanya organ. Mereka menginginkan permainan, seperti berburu dan memangsa. Mereka sanggup membayar dengan jumlah besar.”
Dirham menelusuri isi map itu sekilas. “Kita butuh tempat,” katanya datar. “Jalur lama mulai ramai, akan terlalu banyak mata.”
“Kau benar. Apalagi, hukum mulai mencium bau bisnis kita,” timpal pria lain. “Kita memang butuh lokasi baru. Lebih terpencil dan diabaikan oleh negara.”
“Darasila.”
Andika yang sejak tadi berdiri di belakang Dirham, memperhatikan tanpa bicara, akhirnya angkat suara. Semua mata otomatis beralih padanya.
“Sebuah pulau ... tempat di mana saya dilahirkan,” lanjut Andika. “Akses terbatas. Tak memiliki nilai ekonomi bagi negara. Tak ada sumber daya yang menarik perhatian. Pulau itu nyaris dilupakan.”
Andika kembali menjelaskan bagaimana keadaan pulau itu, kebetulan dua minggu yang lalu ia baru saja berkunjung ke sana — dan sesuai dugaan, kondisi Pulau Darasila semakin memprihatinkan.
Selain menjelaskan tentang Darasila, Andika juga mengusulkan sebuah ide yang ia dapatkan secara tak sengaja saat menonton televisi. Di layar itu, ia melihat wajah yang tak pernah bisa ia lupakan sampai kapanpun, wajah Bupati yang dulu menjualnya ke luar negeri. Dan kini, pejabat bejat itu telah menjabat sebagai Menteri Kesehatan.
“Maksudmu, kau ingin menciptakan virus?” tanya salah satu elit penuh minat setelah mendengar penjelasan Andika.
Andika mengangguk pelan.
“Virus Necro,” ucapnya tenang. “Dikembangkan dari bakteri yang berasal dari bangkai-bangkai manusia hasil bisnis kalian. Bukankah sangat disayangkan jika sisa para korban itu dibuang begitu saja? Akan jauh lebih berguna jika saya mengambilnya, mengembangkannya, memutasinya—menjadi sesuatu yang mampu melumpuhkan otak orang-orang yang terpapar, lalu membawa kematian.”
Beberapa pria tua itu saling pandang.
“Boleh saja,” sahut salah satu dari mereka akhirnya. “Tapi apa untungnya bagi orang-orang farmasi seperti kami? Jika kau ingin merintis bisnis, tentu kau juga wajib memberi keuntungan pada kami.”
Andika tersenyum miring.
“Tuan-tuan tak perlu khawatir,” katanya santai. “Yang namanya virus, tentu selalu ada penawar. Para ilmuwan akan berlomba menciptakan vaksin—dan vaksin itu,” ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di hadapannya, “akan kita perjualbelikan ke negara-negara yang membutuhkan dengan harga selangit.”
Para Elit tertawa girang. Ide itu terdengar terlalu cerdas dan terlalu menguntungkan untuk ditolak. Beberapa gelas kaca diangkat, senyum-senyum licik saling bersirobok di meja pertemuan.
“Percobaan virus pertama akan saya luncurkan di negeri pertiwi ini,” lanjut Andika. “Dan vaksin baru akan dirilis setelah Menteri Kesehatan itu dilengserkan.”
Dirham menatap Andika antusias, ujung jarinya mengetuk meja. Sudut bibirnya terangkat puas.
“Kembangkan.”
Flashback selesai.
*
*
*
k dehwa lekas sembuh 😩