Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Terpaksa
"Jujur banget sih, lo?" gerutu Bian kesal.
"Sini Kakak bawain koper kamu."
Saga akan meraih gagang koper yang Bian genggam. Namun secepat kilat Bian melesat memasuki kamarnya dan segera mengunci pintu. Membuat Saga terkekeh gemas melihatnya.
Saga mendekat pada pintu kamar Bian. "Kamu istirahat dulu aja. Masih banyak waktu buat kita lanjutin yang waktu itu."
Bian menghembuskan kasar nafasnya mendengar Saga mengatakan itu. Namun kesal yang memenuhi dadanya tak bertahan lama saat kedua matanya menangkap kemewahan yang ada di kamar yang sekarang sudah menjadi kamarnya.
"Kenapa kamarnya sesuai dengan apa yang gue harapin?" gumam Bian terkagum-kagum.
Kamar itu didekorasi dengan benda-benda dan tembok dengan perpaduan warna putih, abu, soft pink, dan emas. Desainnya bergaya Eropa klasik. Berkesan anggun dan lembut. Benar-benar selera Bian.
"Gimana? Suka sama kamarnya?" teriak Saga dari luar kamar seakan bisa membaca pikiran Bian.
Bian langsung menghentikan wajah kagumnya. Ia tak menggubris ucapan Saga. Bian membawa kopernya ke ruang lemari, berniat untuk membereskan pakaiannya. Saat ia menyalakan lampu, Bian terkejut. Ruangan itu sudah dipenuhi berbagai pakaian, perhiasan, tas, sepatu, dan aksesoris lain yang tentunya milik brand-brand ternama dunia dengan harga selangit. Sebagai seorang calon model profesional tentu Bian sangat tahu berapa harga dari barang-barang tersebut.
"Gak, gue gak usah berlebihan. Tentunya nyiapin semua ini buat seorang Saga bukan masalah. Uang dia banyak. Kalau Theo yang beliin gue rumah, dia juga bisa menuhin lemari gue kayak gini di mansionnya dia." Bian tak ingin larut dalam keterpesonaannya pada apa yang sudah Saga lakukan untuknya.
Bian bahkan menegur dirinya, "Saga kayak gini cuma sogokan buat gue supaya gue tunduk sama dia. Sorry ya, gue gak akan luluh cuma karena hal-hal kayak gini. Dia kira gue cewek apaan?!"
Kemudian Bian kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Begitu punggungnya menyentuh punggung, ia langsung merasa seperti dipeluk. Kasurnya bahkan sangat nyaman. Sampai rasanya Bian tak mau beranjak dari sana. Ia pun membuka ponselnya dan melihat ada pesan dari Theo.
[Theo]: Maaf, Yang. Hari ini aku gak bisa ketemu. Mama minta aku nemuin dia di kantornya. Besok ya aku jemput ke rumah kamu, kita pergi ngedate.
Membaca awal kalimat itu, Bian kecewa. Padahal ia sangat ingin bertemu dan menghabiskan akhir pekan dengan Theo. Tapi tak sampai beberapa detik, Bian berubah bahagia.
"Gak apa-apa hari ini gue gak ngedate. Tapi besok gue bakal sama Theo seharian," gumamnya senang.
[Bian]: Ya udah gak apa-apa. Kamu temenin Mama kamu dulu aja. Kasihan Mama kamu pasti pengen bareng-bareng sama anak semata wayangnya di weekend kayak gini.
Di sisi lain, Theo berada di ruangan Julia. Julia memang meminta Theo untuk datang ke kantornya. Saat Theo datang, Julia sedang meeting. Ia pun menunggu di ruangannya.
Theo membaca pesan dari Bian. Bian tidak tahu betapa Theo terpaksa berada di sini. Ia lebih ingin menghabiskan waktunya dengan Bian dibanding bersama perempuan yang kini begitu obsesif terhadapnya itu.
[Theo]: Aku lebih pengen bareng sama kamu, Yang. Aku kangen.
Theo begitu rindu pada kekasihnya itu. Rindu yang bercampur rasa bersalah. Karena kini saat Theo berkata bahwa ia sedang bersama sang ibu, bukan aktivitas layaknya ibu dan anak pada umumnya yang ia lakukan, melainkan...
"Sayang, kamu udah nunggu lama?" Pintu terbuka dan tertutup, Julia yang anggun dan berkharisma berbalut setelan kantor berwarna biru tua terang itu pun berjalan mendekat pada Theo dan duduk di sebelahnya.
"Udah," sahut Theo singkat. Ia simpan ponselnya di saku jaket bomber yang dikenakannya.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Kamu pasti akan suka." Julia meraup pipi Theo agar menatap ke arahnya. "Hanya kita berdua."
Wajah Theo kembali tak nyaman, namun tak ada yang bisa ia lakukan. Menolak pun bukan pilihan sekarang.
Kemudian Julia mendekatkan bibirnya pada Theo. "Aku ingin cium kamu lagi. Balas seperti kemarin, ya?"
"Tapi, Mah..."
"Aku gak suka penolakan." Julia merajuk. "Cium aku."
Theo tak bergerak. Ia begitu tersiksa, ia tak mau melakukan ini. Bagaimana bisa ia melakukan ini dengan seseorang yang sudah ia anggap sebagai orag yang ia hormati? Namun sejak Julia mengancamnya waktu itu, Theo harus selalu tunduk jika Julia ingin menciumnya.
Tak sabar, akhirnya Julia mempersatukan bibirnya lebih dulu. Ia melmat bibir Theo dengan intensnya. Dalam dan berlangsung lama. Setelah itu ia menjauh.
"Good boy," bisik Julia dengan puas. Meskipun demikian ia merasa masih bekun cukup. Tapi ia menahan diri untuk melahap bibir Theo lagi. "Sebenarnya, aku ingin lebih dari ini. Tapi, aku masih tahan buat nunggu lakuin itu sama kamu nanti. Aku akan bersabar sampai kamu mencapai umur yang lebih dewasa."
Theo kembali tak berkata apa pun. Setidaknya ia bersyukur untuk saat ini, ia hanya perlu memenuhi keinginan Julia untuk berciuman. Meskipun itu saja sudah sangat membuat akal sehatnya meraung tak terima. Theo juga harus menyembunyikan fakta bahwa ia pernah melakukannya dengan Bian. Jika Julia tahu, ia akan berubah pikiran dan memintanya untuk melakukannya juga dengan Julia.
Theo tidak mau. Ia tak akan membiarkan itu terjadi. Theo akan mencari cara agar dirinya bisa lepas dari obsesi sang ibu tiri.
Tiba-tiba pintu diketuk. "Masuk," sahut Julia. Ia duduk agak menjauh dari Theo.
"Mohon maaf, Bu. Pak Sandy sudah tiba." Sekretaris Julia mengumumkan.
"Okay, suruh masuk," titah Julia. Ia menoleh pada Theo. "Kamu kenal 'kan sama Pak Sandy? Pemilik sekolah kamu?"
Sebelum Theo menyahut, seorang pria paruh baya yang masih kelihatan bugar itu masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang, Bu Julia."
"Selamat Siang, Pak Sandy. Silahkan duduk," sapanya. Sandy pun duduk di seberang Julia dan Theo. "Ini putra saya, Theo. Yang saya ceritakan kemarin."
"Theo, saya tahu dia." Sandy menatap Theo dengan senang. "Dia adalah salah satu siswa terbaik kami. Suatu hari dia pasti akan sukses. Tak disangka ternyata ia adalah putra anda."
"Kami memang kurang begitu mirip," ujar Julia tertawa.
"Tidak, maksud saya anda masih terlihat sangat muda untuk memiliki putra seusia Theo."
"Anda terlalu memuji."
Julia memang tak pernah secara gamblang memberitahukan jika Theo adalah putra sambungnya. Ia selalu ingin orang lain berpikir bahwa ia adalah ibu kandung Theo. Entah apa alasannya.
"Theo, kamu duluan ke atas ya. Mama mau ngobrol dulu sama Pak Sandy," ujar Julia lembut.
Theo tercengang melihatnya. Sang ibu sambung yang nampak normal dan lembut itu kembali dalam sekejap hanya karena ada orang lain bersama mereka di sana.
"Iya, Mah." Theo patuh, ia pun beranjak. "Permisi, Pak."
"Bu Julia beruntung punya anak seperti Theo. Dia anak yang sopan, tampan, dan calon bintang. Anda pasti sangat bangga," puji Sandy. Theo masih bisa mendengar percakapan itu.
"Terima kasih, Pak. Saya pun merasa demikian. Jadi bagaimana soal..."
Theo pun keluar ruangan dan berjalan menuju lift karena tadi ia diminta untuk pergi ke lantai atas. Saat lift terbuka, ia berada di rooftop. Sebuah helikopter terparkir di sana.
"Selamat siang, Tuan Muda," sapa seorang berpakaian serba hitam. "Silahkan anda bisa menunggu di dalam."
"Saya mau ke mana?" tanya Theo bingung. Ia pun mengikuti pria itu dan duduk di salah satu bangku penumpang.
"Hingga senin pagi, anda akan berada di Singapura bersama Bu Presdir. Beliau biasanya pergi sendiri, tapi kami diinformasikan, bahwa kali ini beliau akan bersama dengan anda."
Lalu tak lama Julia muncul dari lift dan bergabung bersama Theo di helikopter itu.
"Mah, aku ngapain ikut Mama kerja?" tanya Theo. "Biasanya kalau Mama ke Singapura, Mama pergi sendiri."
"Sayang, mulai sekarang setiap weekend kamu akan selalu ikut saat Mama berkunjung ke kantor Mama yang di Singapura," cetus Julia.