Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Datang ke rumah mertua
Enam bulan sudah Intan menjalani rumah tangganya bersama dengan Aldy. Keluarga kecil mereka cukup harmonis dan bahagia. Walaupun hingga saat ini umi Fatimah masih belum bisa menerima Intan sebagai menantunya.
Begitu juga dengan Wulan adik perempuan Aldy yang nampak tidak sudi mempunyai kakak ipar seperti Intan. Sedangkan Dirga kakak laki- laki Aldy, lebih tidak perduli. Dirga tidak ingin ikut campur urusan Aldy. Sebagai kakak, Dirga hanya mendoakan yang terbaik untuk keluarga kecil sang adik.
Namun bagi umi Fatimah urusan Aldy adalah urusannya juga. Dia kerap datang ke rumah Aldy untuk memastikan apakah Intan bisa mengurus Aldy dengan benar atau tidak. Sekecil apapun kesalahan yang dilakukan oleh Intan apalagi yang berurusan dengan Aldy, maka tak segan- segan umi Fatimah akan memarahi Intan. Maklumlah Aldy itu anak kesayangan uminya.
Seperti hari ini , umi Fatimah tiba- tiba datang ke rumah Aldy. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Biasanya sebentar lagi Aldy pulang dari kantor. Namun Intan belum menyiapkan makan malam untuk sang suami.
"Intan, kamu belum masak...? Sebentar lagi Aldy pulang lho...?" tanya umi Fatimah begitu melihat di meja makan belum ada makanan.
"Belum umi, Intan belum sempat masak, seharian ini Arkan rewel. Maunya digendong terus..." jawab Intan sambil menggendong Arkan.
Iya, namanya juga anak kecil, kadang anteng, kadang juga rewel. Jika sedang anteng, Arkan biasa main sendiri di lantai dengan mainannya. Sedangkan Intan mengerjakan perkerjaan rumah dari mulai memasak, mencuci, mengepel, menyetrika baju dan lainnya Intan bisa mengerjakannya sendiri.
Namun jika Arkan sedang rewel, otomatis pekerjaan rumah akan tertunda. Sebenarnya Aldy tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Dia paham jika menjaga anak kecil dan mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri itu cukup repot.
Aldy pernah mengusulkan untuk mencari pembantu agar meringankan pekerjaan Intan. Namun ditentang oleh umi Fatimah. Kata umi jadi ibu rumah tangga itu harus bisa mengerjakan apa- apa sendiri. Tidak boleh cengeng dan apa- apa maunya pakai pembantu. Umi Fatimah tidak suka melihat hal itu.
Karena Wulan adik Adly juga tidak mempunyai pembantu. Dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri walaupun selain sebagai ibu rumah tangga, tapi Wulan juga bekerja sebagai pegawai pegawai di kantor kecamatan.
"Kamu ini alasan saja... Aldy itu pulang kerja biasanya langsung makan. Masa gara- gara Arkan rewel kamu tidak sempat masak. Kamu saja yang kebiasaan punya anak digendong- gendong terus, makanya jadi kebiasaan kan..." sahut umi Fatimah dengan ketus.
"Nanti Intan beli makanan jadi saja Umi di warteg, soalnya Intan benar- benar nggak sempat masak..." ucap Intan.
"Apa...? Beli makanan...? Eh Intan, sudah enam bulan kamu menjadi istri Aldy masa tidak tahu kalau Aldy tidak suka makan makanan yang beli di luar. Dia itu maunya makanan rumah..." sahut umi Fatimah lagi- lagi dengan nada ketus.
Iya, sebenarnya Intan tahu kalau Aldy tidak begitu suka makanan yang dibeli dari luar. Dia pasti hanya akan makan sedikit. Karena baginya makanan rumah jauh lebih enak dan higienis dibandingkan yang beli di luar.
"Sudah lah, biar umi saja yang masak, punya menantu tapi tidak bisa diandalkan. Mengurus makanan suami sendiri saja tidak becus. Di kulkas ada apa saja...!'' sahut umi Fatimah sambil berjalan menuju lemari es.
Intan menghela nafas mendengar perkataan ibu mertuanya. Padahal setiap hari Intan selalu masak buat Aldy. Hanya hari- hari tertentu saja dia tidak masak, itu pun karena Arkan rewel. Tapi perkataan umi Fatimah seolah- olah Intan tidak pernah masak untuk suaminya.
"Hanya ada ayam sama tempe Umi..." jawab Intan sambil mengikuti sang ibu mertua.
Akhirnya umi Fatimah memasak untuk putra kesayangannya. Dan ketika umi Fatimah selesai masak, pas kebetulan Aldy pulang dari kantor.
"Aldy , ayo makan, tadi umi masakin makanan kesukaan kamu..." ucap umi Fatimah begitu Aldy sudah mandi dan berganti pakaian.
"Lho... Kok umi yang masak...?'' tanya Aldy heran sambil duduk di meja makan.
Umi Fatimah melirik Intan yang berdiri di samping Aldy sambil mengendong Arkan.
"Tuh si Intan tidak sempat masak katanya..." jawab umi Fatimah.
"Maaf ya mas, seharian ini Arkan rewel..." ucap Intan dengan perasaan bersalah pada sang suami.
"Jangan jadikan Arkan sebagai alasan kamu tidak sempat masak...jadi ibu rumah tangga itu harus pintar- pintar membagi waktu..." sahut umi Fatimah lalu menyendokkan nasi untuk Aldy.
"Kamu harus bangun pagi- pagi, masak dan beberes rumah. Kalau Arkan tidur, kamu jangan ikutan tidur, tapi cepat- cepat kerjakan pekerjaan lainnya. Kalau kamu malas- malasan, bisa- bisa Aldy kurus karena tidak kamu urus makannya dengan baik..." sambung Umi Fatimah lalu meletakkan piring berisi nasi dan lauk di depan Aldy.
"Nggak papa umi, Intan kan juga pasti repot mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, ..." Aldy meraih tangan Intan agar dia duduk di sampingnya ikut makan bareng.
"Arkan mau makan juga...?'' tanya Aldy pada putra kesayangannya.
"Kamu itu jangan terlalu memanjakan istri kamu Aldy. Nanti dia ngelunjak...." Umi Fatimah kesal karena setiap dia menasehati Intan Aldy selalu membelanya.
"Kamu juga Intan... Kamu dengar tidak saya ngomong...?'' tanya umi Fatimah karena sejak tadi Intan hanya diam.
"Iya umi, Intan dengar..." jawab Intan.
"Jangan cuma didengar saja... Dilakukan dong apa yang umi katakan tadi..." sahut umi Fatimah lagi- lagi dengan ketus.
"Iya umi...." jawab Intan sambil mengangguk.
Aldy mengusap punggung Intan seolah menunjukkan kalau Intan harus sabar dengan apa yang umi katakan padanya.
Iya, sebenarnya di hati Intan ada rasa kesal juga pada ibu mertuanya yang bawel itu. Di mata umi Fatimah Intan memang tidak ada benarnya. Padahal setiap hari Intan selalu menggunakan waktunya dengan baik. Dia mengerjakan pekerjaan rumahnya seorang diri sambil mengurus Arkan. Hari ini mungkin hari yang sial buat Intan.
Pas umi Fatimah datang berkunjung, Arkan pas kebetulan sedang rewel dan Intan tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan leluasa karena sebentar- sebentar Arkan nangis minta gendong.
Tidur siangnya pun hanya sebentar. Dan otomatis pekerjaan rumah Intan harus ditunda.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Hari ini di rumah umi Fatimah sedang mengadakan pengajian ibu- ibu. Iya, tiga hari lagi abi Abdul akan berangkat umroh, jadi di rumah mengadakan doa untuk kelancaran dan keselamatan abi Abdul selama menjalani ibadahnya nanti.
Tentu saja Intan dan Arkan pergi ke rumah mertuanya untuk menghadiri pengajian itu. Sedangkan Aldy akan menyusul setelah dia pulang dari kantor nanti. Dengan naik angkot Intan dan Arkan pergi ke rumah umi. Tak lupa dia juga membawa kue sebagai buah tangan.
Karena Arkan sudah besar dan usianya sudah tiga tahun, Intan tidak terlalu repot membawanya naik angkot. Setelah turun dari angkot, Intan menuntun Arkan berjalan memasuki halaman rumah sang mertua.
Iya, ini baru pertama kali Intan datang hanya bersama Arkan saja. Biasanya jika Intan berkunjung selalu bersama Aldy.
Di rumah sang mertua, sudah ada beberapa ibu- ibu pengajian yang datang. Karena pengajian baru akan dimulai lima belas menit lagi.
"Assalamualaikum..." ucap Intan lalu menyalami umi Fatimah dan beberapa ibu- ibu pengajian yang sudah datang.
"Waalaikumsalam..."
"Intan... Apa yang kamu pakai ini...pergi ke pengajian kok pakai kerudung seperti ini. Ini nggak pantes tahu..." bisik umi Fatimah dan langsung menyeret Intan masuk ke ruang tengah.
Iya, intan hanya menggunakan kerudung segi empat panjang yang dipakaikan di kepalanya dan rambut panjangnya pun masih terlihat di punggungnya. Sedangkan bajunya dia memakai kaos lengan panjang yang membentuk tubuh, dan bawahan rok panjang.
"Kamu jangan malu- maluin umi dong Intan, masa pakai kerudung kayak gini..." sahut umi Fatimah dengan ketus.
"Ma...maaf umi tapi Intan nggak ada kerudung yang lain. Cuma punya ini..." jawab Intan.
"Dasar orang nggak tahu agama.... Kamu ini kan orang islam bukan sih...! Namanya orang islam itu wajib pakai kerudung...! Jangan pakai polosan seperti ini kalau pergi- pergi...! Apa lagi ke acara pengajian...! Aurat kok di umbar ke mana- mana...! Memalukan...!'' sahut Umi Fatimah nampak marah.
"Harusnya tuh kamu pakai baju gamis seperti ini... Pakai kerudung yang panjang yang menutupi dada. Bukan kain seperti ini....!'' umi Fatimah manarik kerudung yang dipakai intan.
Iya, karena apa yang dipakai oleh Intan itu bukanlah kerudung, melainkan hanya kain penutup kepala.
"Lihat nih... Baju kamu juga ketat begini...! Kamu mau bikin umi malu di depan jamaah pengajian...!'' umi nampak geli melihat baju Intan yang ketat hingga bagian dadanya terlihat menonjol dengan sempurna.
"Maaf umi... Tapi Intan tidak punya baju gamis..." jawab Intan.
"Iya jelas nggak punya...! keseharian kamu saja selalu pakai baju yang ketat- ketat begini...! Sana cepat ganti baju kamu. Di kamar ada bajunya Wulan, kamu pakai saja baju dia...!'' sahu umi Fatimah.
"Iya umi..." jawab Intan.
"Mama..." ucap Arkan takut melihat neneknya memarahi mamanya. Intan mengusap kepala Arkan agar dia tidak takut karena melihat sang nenek ngomel- ngomel.
"Ini ada apa sih Umi...?'' tiba- tiba abi Abdul menghampiri sang istri yang sedang ngomel pada Intan.
"Tuh lihat si Intan... Masa datang ke pengajian pakai baju kayak begini. Umi tuh malu bi, sama ibu- ibu..." umi Fatimah melirik pada Intan.
"Iya tapi tidak usah ngomel- ngomel begitu dong, kasih tuh si Arkan jadi takut..." sahut abi Abdul.
"Sini Arkan, sama kakek sini..." abi Abdul mengajak Arfan ikut bersamanya. Sedangkan Intan masuk ke kamar untuk mengganti bajunya.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Acara pengajian pun di mulai. Ibu- ibu pengajian membaca sholawat dan doa untuk abi Abdul agar diberi kesehatan, keselamatan dan kelancaran saat menjalankan ibadah umroh nanti. Dan bisa kembali pulang ke tanah air dalam keadaan sehat walafiat.
"Umi... Jadi itu menantunya umi yang namanya Intan...?'' tanya bu Yeni salah satu jamaah pengajian.
Kebetulan acara pengajian sudah selesai. Sebagian besar ibu- ibu sudah pulang. Hanya tinggal bu Yeni saja. Dia adalah bestie nya umi Fatimah. Jadi sebelum pulang mereka ngobrol terlebih dulu.
Iya, umi Fatimah memang pernah cerita pada bu Yeni kalau Aldy menikahi perempuan yang bernama Intan.
"Iya..." jawab umi Fatimah.
"Kalau tidak salah Intan itu anaknya bu Yuyun kan mi...?'' tanya bu Yeni sambil menoleh ke arah Intan yang sedang membereskan piring- piring bekas wadah kue yang disuguhkan untuk tamu pengajian.
"Iya...jeng Yeni kenal ibunya Intan...?'' tanya Umi Fatimah.
"Atuh kenal dong bu, dulu sebelum saya pindah ke rumah yang sekarang, saya kan tetanggaan sama bu Yuyun..." jawab bu Yeni.
Umi Fatimah pun mengangguk- angguk.
"Umi, deket sama bu Yuyun...?'' tanya bu Yeni.
"Nggak... Saya ketemu sama dia cuma dua kali saja. Waktu Aldy menikahi Intan dan terakhir waktu saya tidak sengaja ketemu sama dia di rumah Aldy.
"Lagian saya tidak terlalu suka sama besan saya itu. Saya geli melihat cara dia berpakaian, sudah tua tapi pakaiannya masih kayak anak muda saja..." sambung umi Fatimah.
"Mi, maaf ya bukannya mau gimana- gimana, saya cuma ingin tanya saja, tapi umi jangan tersinggung ya..." ucap bu Yeni.
"Mau tanya apa sih jeng...?'' tanya umi Fatimah.
"Ehm...Aldy menikahi Intan atas kemauannya sendiri atau dijodohkan...?'' tanya bu Yeni.
"Ya kemauannya sendiri lah...." jawab umi Fatimah.
Lalu umi Fatimah memberitahu bu Yeni kalau dia pernah mau menjodohkan Aldy dengan anak sahabatnya abi Abdul, tapi Aldy menolak dan malah menikahi Intan.
"Kok umi Fatimah merestui sih. Memangnya umi nggak tahu bu Yuyun itu siapa..?'' tanya bu Yeni.
"Saya juga sebenarnya tidak setuju, tapi apa boleh buat, Aldy tetap mau menikahi dia..." jawab umi Fatimah.
Namun umi Fatimah tidak memberitahu bu Yeni kalau sebenarnya Aldy menikahi Intan karena dia telah menghamili Intan. Bagi umi Fatimah itu adalah aib keluarga yang harus disembunyikan dari orang luar. Mau di taruh di mana muka Umi Fatimah jika orang- orang tahu kalau Aldy melakukan zina. Karena di mata orang lain keluarga umi Fatimah adalah keluarga terhormat. Apa lagi Aldy yang terkenal sebagai anak alim dan dulu sekolah di pesantren.
"Memangnya apa yang jeng Yeni tahu tentang bu Yuyun...?" tanya umi Fatimah.
Bu Yeni menoleh ke arah Intan yang masih bolak balik membereskan piring dan gelas bekas para tamu. Iya, tentu saja bu Yeni tidak enak pada Intan jika apa yang ingin dia sampaikan pada umi Fatimah terdengar oleh Intan.
Melihat kekhawatiran bu Yeni, umi Fatimah pun mengajaknya keluar rumah dan mengobrol di teras rumah agar lebih leluasa ngobrolnya.
Dan ketika sampai di teras tiba- tiba Wulan anak bungsu umi Fatimah datang.
"Assalamualaikum umi... Maaf ya Wulan datangnya telat. Tadi di kantor banyak kerjaan..." Wulan salim pada umi dan bu Yeni.
"Iya nggak papa, sudah sana kamu masuk, bantuin Intan beres- beres ruang tamu..." sahut umi Fatimah yang sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin bu Yeni sampaikan tentang bu Yuyun.
"Idih umi... Baru datang udah disuruh kerja..." Wulan ngedumel sambil masuk ke ruang tamu.
"Jeng... Cepat ceritakan apa yang jeng Yeni ingin katakan tentang bu Yuyun..." umi Fatimah terlihat sudah tidak sabar.
Bu Yeni menghela nafas. Kemudian dia menceritakan pada umi Fatimah jika bu Yuyun adalah seorang p*lacur.
"A....apa...? bu Yuyun seorang p*lacur....?'' umi Fatimah kaget.
Bersambung....