Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Felicia datang dan memperkenalkan Zack sebagai temannya kepada suaminya. Felicia sangat berharap jika Arion akan merasakan tanda-tanda kecemburuan.
Namun, Arion malah mempersilahkan Zack untuk ikut bergabung dengan mereka. Dan itu langsung membuat Felicia merasa kecewa. Mood gadis itu langsung memburuk seketika.
"Arion, makanlah ini. Kau sangat menyukai makanan ini sejak dulu, bukan?" Cintia mengambilkan makanan untuk Arion, dan Arion pun diam dan menerimanya saja.
Suasana hati Felicia yang buruk semakin menjadi. Felicia merasa perjuangannya selama ini hanya sia-sia saja. Sepertinya suaminya itu memang masih mengharapkan masa lalunya.
Arion tersenyum tipis melihat Felicia yang hanya diam saja. Dia yakin pasti pria bernama Zack ini adalah pria yang istrinya maksud semalam. Arion tidak akan terkecoh begitu saja oleh tipu daya sang istri.
"Kenapa Kau tidak mengambil makananmu? Kau pasti juga lapar, biarkan Aku saja yang mengambilnya untukmu," ucap Zack yang juga mengambilkan makanan untuk Felicia.
Felicia melirik Arion yang tampak tenang mengunyah makanannya. Sepertinya suaminya itu sangat menikmati makanan itu. Felicia jadi tambah frustasi di buatnya. Semakin terhempas saja mood Felicia saat ini.
Felicia mulai berdiri. Entah kenapa rasanya matanya begitu memanas melihat Cintia yang sangat perhatian dengan suaminya dan suaminya hanya diam menerimanya.
"Aku tidak lapar. Kalian habiskan saja semuanya, Aku tidak lagi berselera. Zack, jika Kau sudah selesai, Kau bisa kembali pulang," ucap Felicia dan langsung meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.
Arion menatap punggung Felicia yang perlahan mulai menghilang.
'sekarang Kau yang masuk kedalam perangkap mu sendiri. Aku tahu pasti saat ini Kau merasa sangat kesal' Arion membatin dengan senyum tipisnya.
Zack terbengong melihat Felicia yang seolah sedang mengusirnya. Sepertinya rencana tak berjalan lancar. Dia melihat Cintia yang terus memberikan perhatian pada Arion. Zack hanya berdecih dan lebih memilih pulang dan mengatakan situasi yang terjadi pada Aluna.
---
Di dalam kamar, Felicia menggerutu kesal karena rencananya yang tak sesuai. Bibirnya terus menggerutu tapi matanya menitihkan air mata.
"Arion, Kau menyebalkan sekali! Tidak bisakah sekali saja Kau menyenangkan hati istrimu?" Bibir Felicia terus komat-kamit mengatai suaminya.
"Apa ini? Kenapa air mata ini malah tidak tahu diri dan keluar begitu saja?!" Tangannya mengusap air mata tersebut. Hatinya merasa kacau. Jatuh cinta memang sangatlah rumit
"Aku lapar! Mungkin karena lapar membuat Aku tidak bisa berpikir jernih. Tapi Aku malas jika harus makan ke bawah dan melihat wajah sang pelakor." Felicia terus saja menggerutu.
Tiba-tiba Dia teringat dengan Fero. Namun dia ragu untuk menelponnya mengingat pria itu yang sangat sibuk dengan aktivitas syutingnya.
"Tidak ada salahnya mencoba, kan?" Felicia pun langsung mengirimkan pesan pada nomor Fero. Dan tak berapa lama Felicia pun mendapat balasan.
'Ada apa, Tuan Putri?'
Felicia tersenyum karena ternyata Fero cepat membalas. Felicia langsung mengetikkan kata dan membalasnya.
'aku lapar. Kak Fero bisa menemaniku mencari sesuatu untuk mengganjal perut?'
'aku free sekitar 2 jam, jadi Aku bisa membawamu kemanapun kau ingin pergi' balas Fero.
Felicia mengulas senyumnya. 'kalau begitu Aku akan menjemput Kak Fero. Kirimkan lokasi Kakak saat ini'
Fero lalu mengirimkan lokasinya saat ini. Felicia tersenyum senang dan langsung mengganti pakaiannya bersiap untuk menjemput Fero.
---
"Cintia, jika Kau sudah menghabiskan sarapanmu, Kau juga bisa kembali pulang," ucap Arion yang telah menyelesaikan sarapannya. Arion berdiri dan hendak menuju ke ruang kerjanya, tapi Cintia langsung menghentikan.
"Arion, ada hal yang ingin kukatakan padamu." Cintia dengan cepat langsung menghadang Arion.
Arion hanya diam tak menjawab. Dia tahu akan ke mana arah pembicaraan Cintia nanti.
"Sebaiknya Kau pulang, Cintia. Urusan pekerjaan sudah di selesaikan. Untuk makanannya, Aku berterimakasih. Jadi, sudah tidak ada alasan lagi untuk melakukan pembicaraan lainnya." Arion berusaha menolaknya.
"Ku mohon jangan seperti ini, Arion! Setidaknya, tidak bisakah Kau bersikap tidak dingin padaku? Aku ... Aku hanya membutuhkan seorang teman. Apa Kita tidak bisa berteman?" Cintia memasang wajah putus asanya. Itu adalah andalannya karena Cintia yakin jika Arion selalu luluh dengan itu.
Cintia mencoba menyentuh tangan Arion. Tepat di saat itu, Felicia turun dari anak tangga dan melihatnya. Matanya melotot tak percaya.
Kebetulan Arion melihat Felicia. Dia lantas menatap Cintia dan tersenyum.
Felicia langsung turun dan melewati mereka berdua dengan hati yang sangat panas.
"Mau kemana?" tanya Arion.
Felicia menghentikan langkahnya dan menatap Arion juga Cintia dengan senyum di paksakan.
"Aku akan bertemu dengan pria tampan," ucap Felicia asal.
Dalam hati Arion terkekeh geli melihat ekspresi wajah Felicia yang begitu kesal. Dia tahu apa yang memicunya.
"Sampaikan salamku untuk pria tampan yang akan Kau temui," ucap Arion dan membuat Felicia memanyunkan bibirnya.
"Aku pergi!" Dengan kesal, Felicia langsung meninggalkan Arion dan Cintia.
Cintia tersenyum puas karena dia menang dari Felicia.
Sepeninggalnya Felicia, Arion langsung menarik tangannya kembali dari Cintia. "Sebaiknya Kau segera pulang, Cintia."
"Tapi, Arion... Bukankah kita sudah menjadi seorang teman sekarang? Kau mengusirku?"
Arion menghela napas sejenak. Dia tidak ingin membuat dirinya terbelenggu dalam kisah masa lalunya. Walaupun ada sedikit rasa yang masih samar untuk Cintia.
"Kita memang berteman. Tapi, Kau juga harus tahu kalau Aku juga seorang suami dari wanita lain." Arion menatap kearah lainnya berusaha menghindari tatapan Cintia.
"Tapi, Arion...." Cintia masih berusaha untuk membujuk Arion.
"Ku mohon, Cintia! pulanglah! Jangan membuatku kembali memutuskan pertemanan yang baru saja terjalin."
Cintia tidak dapat berkata apa-apa. Dia tidak ingin lagi Arion menjauhinya. Cintia pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
---
"Makan pelan-pelan! Kau makan seperti satu bulan tidak makan saja," ledek Fero. Felicia mengerucutkan bibirnya.
"Jangan mengataiku, Kak! Hari ini suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja. Jadi jangan menambahkannya dengan mengolokku!" tegas Felicia setelah menelan makanannya.
"Baiklah, Tuan Putri. Habiskan makananmu. Setelah itu Aku akan mengajakmu ke tempat syuting ku. Ada suatu barang yang tertinggal di sana."
Felicia langsung mengacungkan jempolnya dan menghabiskan makanannya.
Setelah Felicia menyelesaikan makannya, mereka bergegas menuju mobil Felicia. Namun, sebelum itu Fero harus memakai topi dan juga masker untuk menutupi wajahnya.
Dia tidak ingin mengambil resiko jika ada orang yang mengetahui jika itu dirinya. Maklum, Fero Raymond adalah seorang aktor yang sedang naik daun saat ini. Jika ada reporter atau orang yang mengenalinya, maka itu tidak akan baik untuknya.
Ketika Fero hendak memakai maskernya, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berlarian di sana dan menabraknya. Alhasil masker itu jatuh dan membuat wajah Fero terpampang jelas.
"Bukankah itu Fero Raymond?" beberapa orang menunjuk ke arah Fero dan Felicia.
Fero menjadi cemas. Di raihnya tangan Felicia dalam genggaman tangannya. Fero lalu membisikkan sesuatu pada Felicia.
"Dalam hitungan ke tiga. Kita lari secepatnya!" Felicia mengangguk mengerti. Dia tahu profesi Fero akan membuat pria itu kesulitan untuk membaur dengan masyarakat.
Beberapa orang telah memotret Fero dan juga Felicia saat ini dan meng
unggahnya dalam akunnya soal medianya. Dalam beberapa detik saja, berita itu langsung menjadi topik utama di dunia maya.