Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Jadi seperti ini rasanya menjadi orang tua? Senyum anak berarti segalanya baginya. Sangat disayangkan sekali, Rasta tidak menyaksikan hari kelahiran Vita. Tidak mendengar tangis pertamanya, tidak mendengar kata pertama yang bisa Vita ucapkan, dan tidak melihat langkah kaki pertamanya.
Hal yang akan terus menerus Rasta sesali entah sampai kapan.
Beruntung, Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuk Rasta mengenal anaknya sebelum dia beranjak dewasa.
"Kamu mau berteman sama aku?" tanya Rasta sebelum kebersamaannya dengan Vita berakhir. Sebelum Vita dibawa pulang oleh Viola. Mereka masih berada di taman, matahari terus merangkak naik membuat keadaan menjadi semakin terik.
Viola sudah memanggil-manggil Vita sejak tadi, mereka harus lekas pulang sebab Viola harus berangkat ke restoran.
"Mau," Vita menjawab sambil mengangguk.
Rasta sudah sepenuhnya melepas kostum badutnya. Ia sedang berjongkok di depan Vita, berusaha mensejajarkan tingginya dengan anak itu. Dari saku kemejanya, Rasta mengeluarkan sebuah gelang.
"Kamu mau terima hadiah dari aku? Sebagai simbol pertemanan kita?" tawar Rasta, menunjukkan gelang itu kepada Vita.
"Gelangnya cantik banget," puji Vita. Dia tidak keberatan menunjukkan tangan kirinya, lalu membiarkan Rasta memasangkan gelang itu di sana.
"Cocok banget di tangan kamu. Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya? Main bareng lagi, beli es krim bareng. Mau, kan?"
Vita mengangguk. "Mau!" serunya menjawab.
Rasta tersenyum, tangannya terangkat untuk mengacak-acak puncak kepala Vita. "Terima kasih."
"Aku mau pulang, Om."
Rasta mengangguk. "Iya. Hati-hati. Sampai ketemu lagi. Boleh peluk dulu, kan?"
"Boleh." Vita melingkarkan kedua lengannya, memeluk leher Rasta. Rasta membalas pelukan sambil terpejam. Rasanya hangat, seolah Rasta sedang memeluk dan dipeluk dunianya.
Seharusnya, pelukan ini bisa Rasta rasakan sejak empat tahun lalu seandainya ia tidak bertindak gegabah. Bodoh memang! Tidak ada habis-habisnya Rasta memaki dirinya sendiri.
*
"Ini hasil tes DNAnya, Pak Rasta, silakan dilihat," Dokter mengulurkan sebuah amplop putih tebal yang masih tersegel kepada Rasta yang duduk di hadapannya.
Hasil tes DNA keluar lebih cepat dari perkiraan Rasta. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rasta membuka segel amplop tersebut, mengeluarkan kertas di dalamnya, lalu membaca setiap huruf demi huruf.
Setiap baris laksana pedang yang menyayat-nyayat hati Rasta. Hasil tes menunjukkan adanya kecocokan DNA antara Rasta dan Vita. Bahkan ketika Rasta meminta ulang penjelasan dari dokter langsung, dokter pun tidak ragu mengatakan jika anak itu memang darah dagingnya Rasta. Anak kandungnya Rasta.
"Terima kasih, Dok," ucap Rasta sebelum meninggalkan ruangan serba putih itu.
Rasta keluar dari gedung rumah sakit, berjalan kembali ke mobil. Di sana, ia membaca lagi kertas hasil tes DNA sambil sedikit meremas kertasnya.
Rasa sesalnya semakin menjadi-jadi. Andai saja ia bisa memutar kembali waktu. Akan Rasta berbaiki semuanya, supaya ia tetap hidup bahagia bersama Viola dan Vita.
"Hasil tes DNAnya udah keluar," ucap Rasta, menghubungi Baim lewat telepon.
"Gimana hasilnya? Anak itu beneran anak lo kan?" sahut Baim dari seberang sana.
"99% anak gue." Rasta tercekat. "Brengsek banget ya gue. Ada nggak orang yang lebih jahat dari gue? Gue bukannya senang saat Vita hadir, tapi gue malah mengusirnya."
Baim terdengar menghela napas. "Semua yang udah terjadi nggak bisa lo ubah, Ta. Ibaratnya nasi udah menjadi bubur, tapi biar buburnya masih bisa dinikmati lo tinggal kasih toping deh. Kasih ayam suwir, kasih kuah, kasih daun bawang, kecap, sambel, biar jadi bubur ayam dan jadi enak. " Baim terkekeh. "Tapi ini bukan soal bubur, gue yakin lo tau harus gimana buat memperbaiki semuanya."
Rasta sedikit terhibur dengan gurauan Baim. Ia terkekeh kecil. "Sekarang tinggal cari bukti Viola beneran selingkuh atau enggak. Orang suruhan lo belum nemuin orang itu?"
"Belum, Ta, sabar ya. Gue suruh mereka gerak cepat."
"Kalau perlu tambahin bayaran mereka. Atau lo cari orang yang lebih handal lagi."
"Bisa diatur, Ta."
"Oke."
Setelah panggilan terputus, Rasta menjalankan mobilnya. Sebelumnya, ia telah menyimpan baik-baik hasil tes DNA itu ke dalam saku jasnya.
Mobil berhenti selama beberapa menit di depan toko bunga. Rasta memesan buket bunga tulip kuning, kemudian menjalankan mobilnya kembali ke restoran. Sedang ada sedikit pelanggaran, dan ketika Rasta sampai di sana, beberapa karyawan sedang bergotong royong membuat konten, termasuk Viola, yang sekarang sudah diterima dengan baik dan berbaur akrab dengan karyawan lainnya.
"Wiiihhh tumben bawa bunga segala. Buat siapa, Pak? Kayak yang punya pacar aja," ledek Ariel. Mentang-mentang dia si paling tengil, dia berani menggoda dan meledek bosnya.
Rasta meliriknya tajam, wajahnya memerah karena sekarang Rasta menjadi bahan tertawaan para karyawannya.
"Diam kamu, Riel!"
Rasta berjalan membawa buket bunga ke ruangannya. Namun, tak lama kemudian ia menelepon Gia dan menyuruh Viola datang ke ruangannya.
Lima menit kemudian, pintu ruangannya diketuk dari luar, menyusul suara Viola.
"Pak Rasta memanggil saya?"
"Masuk, Vi!"
Pintu terbuka, kemudian sosok perempuan yang namanya tak pernah benar-benar menghilang dari hati Rasta, masuk ke dalam.
"Ada apa, Pak?" tanya Viola setelah menutup pintu.
Rasta tersenyum, tentunya ia tidak akan pernah lupa apa bunga kesukaan Viola. Ia berikan buket bunga itu kepada Viola. Ia pikir Viola akan segera menerimanya, tetapi bunga itu hanya ditatap dengan pandangan datar.
"Kamu masih suka bunga tulip kuning, kan? Atau udah nggak suka?"
"Saya masih suka," jawab Viola. Mereka sedang berada di area restoran dan Viola sedang bicara dengan bosnya, maka ia memakai bahasa yang formal.
"Tapi, dalam rangka apa ngasih saya bunga?" tanya Viola, dan ia tetap kekeuh tidak mengambil bunga itu dari Rasta.
"Sebagai ucapan terima kasih."
"Terima kasih buat apa?"
"Banyak. Karena kamu udah ngizinin aku bertemu Vita kemarin, karena kamu udah berjuang melahirkan Vita dan menjaganya hingga saat ini. Aku mau berterima kasih karena kamu ... Udah memberi aku kesempatan untuk menjadi seorang ayah."
Hati Viola berdesir tidak karuan. Jadi, Rasta sudah percaya dan yakin jika Vita adalah anak kandungnya?
"Vita anak Bapak, dari dulu saya bilang seperti itu. Saya nggak akan pernah melarang Pak Rasta bertemu dengannya, kapan saja," sahut Viola. Dan Rasta benar-benar heran, mengapa Viola tidak mau menerima bunga darinya. Kedua tangannya malah disembunyikan di balik punggungnya.
"Kamu nggak mau terima bunga ini, Vi?"
Dan Viola menjawab dengan gelengan kepalanya tanpa ragu.
"Kenapa?" tanya Rasta. Ia menarik kembali tangannya yang diam-diam sudah menahan pegal sejak tadi.
"Nggak ada alasan untuk saya bisa menerimanya," tegas Viola.
Rasta terdiam. Sepertinya akan sulit baginya untuk menembus dinding penghalang yang Viola bangun di antara mereka.
Viola menarik napas setelah memutus tatapannya dari Rasta. "Pak Rasta tenang aja, saya akan menjelaskan pelan-pelan sama Vita, kalau Pak Rasta adalah ayahnya."
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu