Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beneran di lamar?
Pagi di desa selalu dimulai dengan simfoni bunyi ulasan sambal dan deru motor tukang sayur gerobak. Di depan rumah Mbak Yul, gerobak sayur Pak Kumis sudah dikerumuni ibu-ibu dasteran yang tangannya lincah memilih kangkung sambil mulutnya lebih lincah mengolah gosip.
"Eh, Jeng, sudah lihat belum? Tamunya Aruna yang dari kota itu?" tanya Mbak Yul sambil memilah tempe. "Gantengnya ampun deh, kulitnya kayak porselen, nggak ada pori-porinya!"
"Iya, Jeng!" Sahut Bu RT yang ikut nimbrung. Tadi pagi saya lihat dia lari pagi. Larinya saja rapi banget, tiap sepuluh langkah dia lihat jam tangan. Kayaknya orang penting itu, denger-denger auditor ya?"
"Auditor itu apa? Tukang hitung duit ya?" tanya Bu Lasmi polos.
"Iya tukang hitung yang teliti banget. Pantesan Aruna betah merantau, dapetnya 'emas batangan" begitu," Mbak Yul menimpali. "Tapi ada yang bilang dia kaku banget. Masa kemaren pas beli kerupuk di warung sebelah, dia tanya tanggal kadaluarsanya sampai ke jam-jamnya."
"Ah, biarin kaku, yang penting sayang sama Aruna. Daripada dapet yang lemes tapi hobi ghosting kayak mantannya yang dulu itu," tutup Bu RT yang langsung disetujui dengan koor "betul" dari ibu-ibu lainnya.
Sementara di dalam rumah, Gavin sedang mengalami krisis eksistensi. Ia sudah memakai batik terbaiknya sejak pukul tujuh pagi. Di atas meja kamar tamu, ia menyusun dokumen: sertifikat GIA berlian, hasil uji laboratorium kadar emas 18 karat, dan sebuah kertas berisi poin-poin pidato lamaran.
'Runa, apakah menurutmu jika saya menggunakan istilah "Merger Permanen" itu terlalu teknis?" tanya Gavin cemas saat Aruna masuk ke kamarnya membawa kopi.
Aruna hampir menyemburkan kopinya. "Mas, kalau kamu bilang "Merger", Bapak bakal kira kamu mau beli sawahnya! Bilang saja mau melamar. Titik!"
Gavin menarik napas panjang. "Baik, prosedur standar: Langsung ke inti sasaran."
Malam harinya setelah makan malam masakan ibu yang legendaris, suasana menjadi hening. Bapak sedang menyeruput kopi hitamnya saat Gavin tiba-tiba berdiri dan membungkuk sembilan puluh derajat.
"Bapak, Ibu, suara Gavin terdengar berat dan stabil, meskipun tangannya sedikit berkeringat. "Sesuai dengan rencana jangka panjang yang telah saya susun, saya ingin menyampaikan sebuah proporsi formal."
Bapak Aruna menurunkan gelas kopinya. "Proposisi apa, Mas Gavin?"
Gavin mengeluarkan sebuah kotak beludru merah Maroon dari saku batiknya. Di dalamnya sebuah cincin berlian berkilau tertimpa lampu ruang tengah yang temaram.
"Saya telah menghitung resiko, peluang, dan masa depan saya. Hasilnya menunjukkan bahwa hidup saya hanya akan mencapai efisiensi maksimal jika ada Aruna di dalamnya," Gavin menatap Aruna yang mulai berkaca-kaca.
Gavin berlutut di atas tikar pandan. "Bapak, Ibu... saya ke sini bukan hanya untuk berkunjung. Saya ingin meminta izin untuk mengambil tanggung jawab atas kebahagiaan Aruna secara sah dan permanen. Ini cincin emas 18 karat, sudah saya audit sendiri kadarnya. Tidak akan karat sana seperti niat saya.
Ibu Aruna langsung menutup mulut dengan tangan, terharu. Bapak Aruna terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar.
"Mas Gavin, kamu ini orangnya aneh, tapi Bapak suka. Kamu teliti sama cincin, berarti kamu bakal teliti jagain anak Bapak. Bapak setuju!"
Aruna menangis bahagia saat Gavin menyematkan cincin di jarinya. "Mas, makasih ya. Meskipun lamarannya rasa presentasi di kantor, tapi ini adalah momen paling indah dalam hidupku.
Gavin mengusap air mata Aruna dengan ibu jarinya. "Runa, berdasarkan data yang saya miliki, tingkat kebahagiaan di ruangan ini sekarang mencapai seratus persen. Dan saya berjanji angkanya tidak akan pernah turun."
*********
Pagi harinya suasana di depan rumah Aruna tampak sibuk. Gavin sedang melakukan "inspeksi terakhir" pada mobilnya, memastikan tekanan ban berada pada level psi yang identik dan mengecek cairan pembersih kaca. Sementara Bapak dan Ibu Aruna sibuk memasukkan berkarung-karung oleh-oleh ke dalam bagasi.
"Bapak, Ibu, ini berat muatan bagasi sudah mencapai batas ambang suspensi," ujar Havin sopan sambil menatap tumpukan beras, pisang dan kerupuk mentah. Tapi demi stabilitas asupan gizi Aruna di kota, saya akan menyesuaikan gravitasi mobil ini."
Ibu Aruna tertawa sambil memeluk Aruna. "Mas Gavin, jaga anak ibu, ya. Jangan cuma dihitung kalorinya, tapi di sayang juga."
Gavin membungkuk takzim, menyalami kedua orang tua Aruna. "Laporan pertanggungjawaban akan saya sampaikan secara berkala lewat WA, Bu."
"Kalo begitu, kami berangkat ya, Pak, Bu," Pamit Aruna.
Gavin membukakan pintu mobil buat Aruna. Setelah itu dia juga masuk ke mobil, menyalakan mobil. Sebelum menjalankan mobilnya, Gavin membunyikan klakson.
"Eh, Aruna dan Mas Gavin udah mau balik ke Jakarta?" terik Mbak Yul dari halaman rumahnya yang nggak jauh dari rumah Aruna.
"Iya Mbak. Sampai jumpa lagi ya," kata Aruna.
"Oke, hati-hati ya di jalan," pesan Mbak Yul.
"Iya Mbak, Makasih," jawab Aruna. Lalu Gavin kembali membunyikan klakson dan menjalankan mobilnya menyusuri jalan desa.
Mobil pun melaju meninggalkan debu desa yang asri. Di dalam kabin, Aruna menatap cincin di jarinya dengan senyum yang tak kunjung padam.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, Gavin memecah keheningan. "Runa, saya sedang menyusun draf anggaran untuk resepsi kita. "
Aruna menoleh, "Baru lamaran semalam, Mas, sudah ada drafnya?"
"Tentu, efisiensi adalah kunci. Saya sudah menghitung jika kita menggunakan konsep outdoor di halaman rumah kita yang sudah menyatu, kita bisa menghemat biaya sewa gedung sebesar tiga puluh persen," jelas Gavin tanpa melepas pandangan dari aspal.
"Terus, tamunya gimana?"
"Saya akan membuat sistem reservasi digital dengan kode QR. Tamu yang tidak melakukan konfirmasi kehadiran tiga hari sebelum hari H, akan secara otomatis masuk ke dalam daftar tunggu." Jawab Gavin datar.
Aruna tertawa terpingkal-pingkal. "Mas, itu pernikahan, bukan konser band Internasional! Masa ada daftar tunggunya?"
Gavin berdehem, sedikit tersipu. "Saya hanya ingin memastikan rasio catering dan jumlah mulut dan perut yang datang adalah satu banding satu. Saya tidak mau ada anomali kekurangan rendang di tengah acara."
Begitu mobil hitam itu memasuki gerbang kompleks perumahan Harmoni. Sosok Bu Tejo, sudah berdiri di depan rumahnya dengan daster kuning kunyit dan tangan yang berkacak pinggang. Matanya semalam elang, langsung tertuju pada jari manis Aruna yang menyembul dari jendela mobil.
"Waduh! Kilau apa itu?" teriak Bu Tejo bahkan sebelum Gavin mematikan mesin.
Gavin turun dari mobil, merapikan kemejanya dan menyapa dengan formal. "Selamat sore, Bu Tejo. Intensitas cahaya matahari sore ini, memang sedang tinggi, namun pantulan yang Ibu lihat berasal dari berlian dengan tingkat kejernihan WS1!"
Bu Tejo langsung menghampiri Aruna dan menarik tangannya. "Beneran di lamar, Na? Ya ampun, Mas Gavin! Akhirnya kulkas ini luluh juga di desa. Gimana? Makanannya enak di sana? Mana oleh-olehnya?"
Aruna turun sambil tertawa, membukakan bagasi yang penuh sesak. "Ada rengginang, beras organik, sama pisang raja, Bu Tejo."
"Aduh, asyik! Nanti malam saya ke rumah Mbak Runa, ya. Mau dengar laporan lengkapnya!" ujar Bu Tejo girang.
Bersambung....