Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Menegangkan
Langkah kaki Lana bergema cepat di koridor rumah sakit terbesar di kota itu. Di belakangnya, Bima mengikuti dengan raut wajah yang tidak kalah cemas. Begitu pintu lift terbuka di lantai VVIP, suasana sunyi yang steril menyambut mereka. Pengawal Belinda sebelumnya mengabarkan bahwa sang nyonya besar terjatuh di tangga. Setelah melewati penanganan di IGD, kini wanita itu telah dipindahkan ke kamar inap.
“Mana nenekku?” Lana bertanya dengan nada memburu begitu sampai di depan pintu kamar. Namun langkahnya mendadak kaku saat matanya menangkap sosok familiar, “Kevin?”
Ia tertegun melihat tangan kanan kakaknya berada di sana.
“Nyonya besar sudah ditangani, Nona. Ada retak di bagian pergelangan kakinya,” jawab Arlo, pengawal pribadi Belinda yang telah berusia hampir setengah abad.
Lana mengembuskan napas lega yang sempat tertahan. Ia melirik sekilas ke arah Bima yang masih berdiri siaga di belakangnya, lalu kembali menatap Kevin dengan tatapan menyelidik.
“Apa... kakakku juga ada di sini?”
Kevin mengangguk singkat, “Tuan ada di dalam.”
Seketika wajah Lana memucat pasi. Kelegaan yang baru saja ia rasakan menguap, digantikan oleh kepanikan yang merayap naik. Ia sama sekali tidak menyangka Jake akan datang secepat ini. Pikirannya berputar liar. Ia tidak boleh membiarkan Bima bertemu dengan Jake. Ada terlalu banyak rahasia yang bisa hancur hanya karena satu kecurigaan kecil dari Bima.
Lana segera berbalik, memangkas jarak dengan Bima, “Em, Bima... aku akan tinggal di sini. Terima kasih banyak sudah mengantarku. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat.”
Bima mengerutkan kening, tampak ragu, “Karena aku sudah sampai di sini, kurasa lebih baik aku menyapa nenekmu sebentar.”
“Tidak! Jangan!” Sahut Lana cepat. Terlalu cepat hingga membuat Bima tertegun bingung.
Sadar akan reaksinya yang berlebihan, Lana segera mengatur raut wajahnya sesempurna mungkin. Sebuah senyuman manis namun dipaksakan terbit di bibirnya, “Maksudku... kau sudah lelah mencari Shasha seharian ini. Aku tidak ingin kesehatanmu terganggu. Kau bisa menyapa Nenekku di lain waktu saja, ya?”
Bima menatap Lana dan dua pria tegap di sana bergantian, seolah sedang menimbang sesuatu. Namun akhirnya ia mengangguk, “Baiklah. Selama beberapa hari ke depan, fokuslah menjaga nenekmu. Kau tidak perlu menemaniku mencari Shasha dulu. Aku bisa menanganinya sendiri.”
“Tapi—“
“Keluarga tetap yang terpenting, Lana. Nenekmu membutuhkanmu sekarang.”
Lana terdiam, hanya mampu mengangguk patuh. Kalimat lembut dan perhatian Bima barusan justru membuatnya semakin tenggelam dalam perasaan kagum yang sulit ia bendung.
“Kalau begitu, aku pamit,” ucap Bima. Ia sempat menunduk sopan ke arah Kevin dan Arlo.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka dari dalam berhasil menghentikan gerakan Bima. Jantung Lana seketika terasa sampai merosot ke perut. Ia membalikkan badan dengan mata melebar sempurna.
Dari balik pintu, Jake muncul. Pria itu mengenakan masker hitam yang menutupi separuh wajahnya, namun aura dominannya tidak bisa disembunyikan. Dibalut mantel panjang berwarna abu-abu gelap, Jake berdiri tegak, memaku pandangannya pada Bima. Ia meneliti pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang mengintimidasi.
Lana sedikit mendesah lega dalam hati. Kakaknya memang memiliki insting yang luar biasa.
Jake melangkah mendekat, atau lebih tepatnya, ia memposisikan dirinya tepat di hadapan Bima. Tatapan mata di balik masker itu terasa sangat dingin dan tajam, seolah sedang menguliti lawan bicaranya.
“Dia...?” Suara Jake rendah dan berat.
“Ah, dia Bima,” jawab Lana dengan nada yang diusahakan tetap tenang.
Bima terpaku sejenak, sibuk mengamati pria asing di depannya. Ada sesuatu yang sangat mengintimidasi dari tatapan itu, sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.
“Dia kakakku,” tambah Lana dengan cepat sebelum suasana semakin canggung.
Bima menguasai diri dan mengangguk sopan. Ia mengulurkan tangannya, mencoba membangun keramahan, “Bima Elbar.”
Jake menatap tangan itu selama satu detik yang terasa sangat panjang sebelum akhirnya menyambutnya, “Jake Giordino,” jawabnya pendek dan dingin.
Genggaman itu segera terputus. Jake kemudian mengangkat tangannya dan mengelus lembut pucuk rambut Lana. Sebuah gestur protektif yang kontras dengan sikap dinginnya pada Bima.
“Jaga nenek baik-baik.”
“Baik, Kak.”
Jake memberikan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat di balik maskernya, lalu melirik Kevin, “Kita kembali,” ucapnya datar sembari melangkah pergi terlebih dahulu, disusul oleh Kevin di belakangnya.
Keenam pasang mata di koridor itu terpaku pada punggung Jake yang perlahan menjauh, meninggalkan aura berat yang masih tertinggal di udara.
“Aku baru pertama kali bertemu kakakmu,” gumam Bima, masih dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, “Aku tidak tahu kau punya kakak yang terlihat... tidak biasa.”
Lana terkekeh hambar untuk menutupi kegugupannya, “Yah, itu karena dari dulu kau selalu sibuk mengusirku, jadi kau tidak memiliki kesempatan untuk mengenalnya.”
“Ekhem.” Bima berdehem kaku, menyadari bahwa sindiran Lana adalah sebuah kenyataan pahit di masa lalu, “Aku pergi sekarang.”
Lana mengangguk pelan. Ia melepas kepergian Bima dengan perasaan campur aduk, sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah masuk ke dalam kamar untuk menemui sang nenek.
“Nenek!!!” Lana segera menghamburkan diri, memeluk sang nenek yang tengah terbaring di ranjang VVIP itu.
“Hei, hei... kau menyakitiku,” ucap Belinda dengan suara yang terdengar masih cukup bugar meski tubuhnya sudah tidak muda lagi.
Lana segera menjauh dengan wajah bersalah, lalu duduk di kursi samping ranjang. Matanya tertuju pada pergelangan kaki Belinda yang kini sudah dibalut gips putih
“Apa sakit sekali, Nek?” tanya Lana dengan nada khawatir yang tulus.
Belinda menyipitkan mata, menatap cucu perempuannya itu dengan pandangan menyelidik, “Tidak biasanya kau begitu mengkhawatirkan wanita tua ini. Bukankah kau biasanya selalu menempel pada pria bernama Bima itu?” ucapnya dengan nada merajuk yang dibuat-buat.
“Nenek...” rengek Lana sambil menggoyangkan pelan lengan Belinda, mencoba merayu, “Walaupun aku mencintai Bima, tapi tetap Neneklah yang menjadi cinta nomor satuku.”
“Oh, benarkah?” tanya Belinda, pura-pura tidak percaya.
“Tentu saja! Buktinya aku langsung buru-buru ke sini begitu tahu Nenek masuk rumah sakit. Bahkan Bima sendiri yang mengantarku ke sini tadi.”
“Oh ya?” Belinda menaik-turunkan alisnya, tampak tertarik, “Lalu bagaimana perkembanganmu dengannya? Apa dia sudah mulai luluh?”
Lana tersenyum malu-malu, rona merah tipis muncul di pipinya, “Hanya butuh waktu, Nek. Dia orang yang sangat setia, jadi aku harus sabar.”
“Bagus, bagus. Kalau kau senang, Nenek juga ikut senang. Lalu bagaimana perkembangan mencari temanmu yang hilang itu?” tanya Belinda tiba-tiba. Karena Lana sempat berpamitan jarang di rumah karena harus mencari kenalan Bima.
Ekspresi wajah Lana berubah seketika, “Sudah kubilang dia bukan temanku, Nek. Hanya orang tidak penting,” jawabnya ketus.
“Eeeh? Kalau tidak penting, lalu kenapa kalian sibuk sekali mencarinya sampai kurang tidur begitu?”
“Sudah, Nek. Jangan memikirkan hal itu. Tidak penting.” Lana segera memotong pembicaraan dan membenarkan letak selimut Belinda dengan gerakan cekatan, “Lebih baik Nenek segera beristirahat. Aku yang akan menjaga Nenek malam ini.”
Belinda menghela napas, namun matanya masih memancarkan kecurigaan, “Tidak kakak, tidak adik, kalian berdua sama saja, penuh rahasia. Tadi itu... kenapa kakakmu tiba-tiba memakai masker? Seperti artis terkenal saja.”
Lana hanya terkekeh ringan, berusaha menutupi kegugupannya, “Mungkin Kakak sedang flu, Nek. Dia tidak ingin menulari Nenek yang sedang sakit.”
“Astaga, karena terlalu mengkhawatirkan lukaku, aku sampai lupa bertanya tentang kesehatannya. Sudah lama sekali aku tidak mengobrol lama dengan anak itu,” ucap Belinda dengan raut wajah sedih saat mengingat cucu laki-lakinya.
Lana menggenggam tangan Belinda yang keriput, mencoba memberikan kekuatan, “Kakak sudah dewasa, Nek. Dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk dirinya sendiri.”
“Tidak, Lana. Di mataku, Jake tetaplah anak kecil yang malang,” ucap Belinda lirih, matanya menerawang jauh seolah sedang memutar kembali memori masa lalu yang pahit.
Lana yang mengerti ke mana arah pembicaraan ini, segera mengusap lembut punggung tangan Belinda, “Jangan membicarakannya lagi, Nek. Aku tidak mau kita bersedih lagi malam ini.”
Belinda menoleh cepat pada cucunya, lalu mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia pun mengelus pipi Lana dengan kasih sayang.