NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benteng Kaca di Lantai 17

Pagi itu dimulai dengan kesulitan yang konyol.

Alina sedang berusaha memarkir mobil Honda CR-V putih mengkilap—mobil dinas barunya—di mulut gang sempit kosannya di Rungkut. Mobil itu terlalu lebar, terlalu mewah, dan terlalu mencolok untuk lingkungan padat penduduk tersebut.

Beberapa tetangga yang sedang menyuapi anak atau menjemur pakaian menonton dengan tatapan sinis bercampur iri.

"Wuidih, Mbak Alina sekarang jadi simpanan bos ya? Mobilnya ganti baru, glowing lagi," celetuk salah satu ibu-ibu dengan suara sengaja dikeraskan.

Alina mengabaikan komentar pedas itu. Ia mengunci mobilnya, lalu berjalan cepat menyusuri gang becek dengan sepatu hak tingginya, berusaha mati-matian agar cipratan lumpur sisa hujan semalam tidak mengenai blazer mahalnya.

Di dalam kamar kos 2x3 meter itu, kontradiksi semakin terasa menyakitkan. Di atas meja plastik reot, tergeletak berkas rahasia perusahaan bernilai miliaran rupiah dan laptop canggih keluaran terbaru. Sementara di sudut kamar, ember penampung air dari atap yang bocor sudah hampir penuh.

Alina menghela napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kusam.

"Sabar, Al," bisiknya. "Sedikit lagi kamu bisa pindah dengan uangmu sendiri."

Alina menyambar tas kerjanya, keluar dari kamar pengap itu, meninggalkan realitas kemiskinan menuju menara gading tempat ia berkuasa.

Pukul 09.00 di Abraham Tower.

Alina baru saja selesai membacakan agenda harian Wisnu ketika bosnya itu tiba-tiba meletakkan cangkir kopinya dengan suara klontang yang cukup keras.

Wisnu tidak melihat ke arah buku agenda, melainkan menatap lurus ke sepatu Alina. Ada sedikit noda lumpur kering di bagian tumit stiletto hitam itu, noda kecil yang lolos dari pembersihan Alina tadi pagi.

"Kamu masih tinggal di Rungkut?" tanya Wisnu tiba-tiba, memotong pembacaan jadwal rapat direksi.

Alina berhenti membaca. Ia menarik kakinya sedikit ke belakang, menyembunyikan noda itu di bawah meja. "Masih, Pak. Kenapa?"

Wisnu mendengus, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang besar. Tatapannya tajam menilai.

"Saya memberikanmu fasilitas mobil operasional seharga setengah miliar bukan untuk diparkir di pinggir selokan atau dibaret anak-anak main layangan," ucap Wisnu pedas. "Dan saya memberikanmu akses data Level A bukan untuk disimpan di kamar kos yang pintunya bisa didobrak maling dengan sekali tendang."

Alina terdiam. Argumen Wisnu masuk akal secara keamanan, meski cara penyampaiannya menusuk harga diri.

"Saya sedang menabung untuk pindah ke apartemen bulan depan, Pak. Depositnya cukup besar," jawab Alina defensif.

Wisnu membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil sebuah benda kecil—sebuah kartu akses magnetik dan serangkaian kunci konvensional yang tergantung pada gantungan kulit mewah.

Ia melempar kunci itu ke atas meja, meluncur tepat di hadapan Alina.

"Ambil."

Alina menatap kunci itu. "Ini...?"

"Apartemen One Icon Residence. Unit 17-B. Tepat di sebelah Tunjungan Plaza, hanya sepuluh menit dari kantor ini," jelas Wisnu datar. "Itu salah satu unit investasi properti saya yang kosong. Full furnished. Tinggal bawa baju."

Mata Alina membelalak. Itu adalah salah satu apartemen termewah di pusat Surabaya. Tinggal di sana adalah mimpi yang dulu rasanya mustahil.

"Pak, ini terlalu berlebihan," tolak Alina halus. "Gaji saya sudah Bapak naikkan tiga kali lipat. Saya tidak bisa menerima fasilitas tempat tinggal gratis juga. Saya tidak mau berhutang budi lebih banyak."

Wisnu menatap Alina tajam, mata elangnya memancarkan aura dominasi yang membuat nyali siapa pun ciut.

"Siapa bilang gratis?" Wisnu mengangkat alis. "Potong gaji bulananmu 20 persen sebagai biaya sewa. Anggap saja sewa harga teman. Saya tidak butuh uangnya, saya butuh efisiensi."

Wisnu berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri menjulang di depan Alina.

"Alina, kamu sekarang adalah tangan kanan Wisnu Abraham. Citra kamu adalah citra saya. Saya tidak bisa membiarkan orang kepercayaan saya tinggal di lingkungan kumuh. Bagaimana kalau klien melihatmu keluar dari gang sempit itu? Mereka akan meragukan kredibilitas perusahaan saya."

Alasan itu sangat logis. Sangat bisnis. Tapi Alina bisa menangkap sesuatu yang lain di nada bicara Wisnu. Ada kepedulian yang tersamar. Wisnu tidak ingin Alina kesulitan.

"Dan satu lagi," tambah Wisnu, suaranya sedikit melembut. "Untuk menyusun rencana penghancuran musuhmu... kamu butuh markas yang tenang. Bukan kamar sempit yang bising."

Kalimat terakhir itu meruntuhkan pertahanan Alina. Wisnu benar. Di kosan itu, ia tidak bisa berpikir jernih. Ia butuh ketenangan. Ia butuh benteng.

Dengan tangan sedikit gemetar, Alina mengambil kunci unit 17-B itu dari meja. Terasa dingin dan berat di telapak tangannya.

"Baik, Pak. Saya terima tawarannya. Silakan potong gaji saya bulan depan," ucap Alina profesional.

"Bagus. Pindah hari ini juga. Suruh sopir kantor bantu angkut barangmu. Saya tidak mau melihat noda lumpur lagi di sepatumu besok," pungkas Wisnu sambil kembali duduk dan membuka laptopnya, seolah pembicaraan itu tidak penting.

Malam harinya.

Alina berdiri di balkon lantai 17 apartemen barunya. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan rambutnya yang baru saja ia gerai setelah seharian dicepol.

Pemandangan di depannya luar biasa. Gemerlap lampu kota Surabaya terhampar seperti lautan berlian. Dari ketinggian lantai 17 ini, ia bisa melihat dunia yang dulu terasa begitu jauh di atasnya. Suara bising kota terdengar samar, teredam oleh ketinggian.

Apartemen ini luas. Sangat luas untuk satu orang. Ada dapur bersih dengan peralatan lengkap, ruang tamu dengan sofa kulit empuk, kamar mandi dengan bathtub, dan kamar tidur dengan kasur kualitas terbaik.

Tidak ada lagi suara tikus di plafon. Tidak ada lagi suara dangdut tetangga. Tidak ada lagi antre kamar mandi.

Hening. Mewah. Aman.

Alina menggenggam pagar balkon erat-erat. Ia memejamkan mata, menghirup udara kebebasan dan kenyamanan yang asing baginya.

"Terima kasih, Pak Wisnu," bisiknya pada angin.

Ia kemudian berbalik masuk ke dalam, mengambil berkas merah berisi daftar vendor yang diberikan Wisnu kemarin. Ia duduk di meja makan marmer yang dingin, menyalakan laptop barunya.

Suasana yang kondusif di lantai 17 ini membuat otaknya bekerja lebih tajam.

Alina membuka halaman yang memuat profil CV. Maju Karya Sejahtera milik ayah Sisca. Ia mulai menelusuri riwayat transaksi mereka selama lima tahun terakhir. Matanya yang jeli menangkap pola-pola aneh. Pengiriman yang terlambat, kualitas kardus yang menurun di tahun terakhir, dan beberapa mark-up harga yang mencurigakan.

Alina tersenyum miring. Ia menemukan celahnya. Celah yang cukup besar untuk memutus kontrak secara sepihak tanpa terkena penalti hukum.

"Rumah baru, strategi baru," gumam Alina.

Di benteng kaca barunya ini, sang Ratu mulai menyusun bidak caturnya. Dan langkah pertamanya adalah mematikan sumber uang sang Putri Manja.

Besok pagi, surat pemutusan kontrak itu akan meluncur ke meja ayah Sisca. Dan Alina tidak sabar menunggu telepon panik dari seberang sana.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!