Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sop Buntut
Hari ini di kantor Adrian berusaha menemui Davina, Adrian menyadari sikap Davina yang mungkin sudah mengetahui hubungannya dengan Sita.
"Vina, aku minta maaf.. aku nggak bermaksud menyakiti perasaan kamu, siang ini aku harap kita bisa bicara dan aku nggak menerima penolakan" ujar Adrian serius.
Waktu telah berganti siang, Adrian tampak berada di ruangan Davina, "ayo Vin kita makan siang dulu pakai mobilku aja" ujar Adrian.
"Kenapa sih harus jauh-jauh makan siang mas, di kantorkan bisa, lebih praktis" ujar Davina. "Please, no debat lah Vin" ujar Adrian sambil membuka pintu mobilnya untuk Davina.
Adrian lalu mengemudikan mobil SUVnya keluar area perkantoran pemda kota Bandung, ia menuju ke sebuah resto di jalan Ir H Juanda, setelah memilih tempat duduk lesehan agar bisa lebih dekat dengan Davina.. Adrian mulai memesan menu makanan..
"Yuk Vin, silahkan kamu mau pesan apa, bebas" ujar Adrian. "Mm, aku pesan nasi timbel, ayam bakar sama sayur asem" ujar Davina.
"Nah, gitu dong sayang.. ehh maksud aku Vin," ujar Adrian yang keceplosan. Mata Davina pun melotot mendengar perkataan Adrian barusan.
Adrian tampak akrab dengan Davina. Davina adalah janda, ASN dengan golongan III B.
"Vin, masih suka lihat live toktok? kamu pengagum mbak Hanin kan?" ujar Adrian, Davina senang Adrian memperhatikan apa kesukaannya termasuk menonton siaran live toktok.
"Mm, ya gitu deh aku memang suka dengan mbak Hanin juga produk-produknya yang bagus, dan itu kenyataan, sampai sekarang aku rajin pakai produknya kok.. sangat bermanfaat" ujar Davina. Adrian mengangguk.
"Oh gitu, boleh nggak aku lihat gimana sih hasilnya produk mbak Hanin itu?" ujar Adrian sambil bercanda.
"iih, mas Adrian ini.. nggak bolehlah, kecuali untuk suami aku nanti, aku akan pakai serum kulit tubuh, jadi mas Adrian nggak boleh lihat" ujar Davina sambil memukul lengan Adrian.
"Hmm, berarti Davina ini perempuan baik, baru aku becandain dikit aja agak marah" gumam Adrian sambil tersenyum.
"Oh ya Vin, ngomong-ngomong boleh nggak aku mencicipi masakan kamu?" tanya Adrian. "Boleh dong, nanti aku bawain air rebus ya!" ujar Davina bercanda. "Kamu tuh ya Vin, gemesin deh!" ujar Adrian sambil tertawa.
"Emangnya mas Adrian suka masakan apa?" tanya Davina. "Ya, seperti kamu tahu aku kan sendiri Vin di rumah, kata orang-orang nggak sehat, aku cuma pingin masakan rumahan aja, aku pesan sop buntut ya sama kamu bilang aja harganya berapa.." ujar Adrian.
"Sop buntut? Oke nanti aku buatin besok ya, nanti dikabarin kalau bahan-bahannya udah ada, aku kasih free deh sama tempe goreng, plus sambal tomatnya" ujar Davina.
Adrian bahagia mendengar pernyataan Davina ini, "Mau sekarang uangnya Vin.. takutnya kamu butuh bahan-bahannya" ujar Adrian.
"Udah nanti aja itu mah kalau udah jadi sop buntutnya, mau berapa porsi mas?" tanya Davina. "ya itu sih terserah kamu aja gimana jadinya nanti, baru aku bayar ya" ujar Adrian yang sebenarnya sedang mengetes Davina.
"Hmm, kayaknya si Davina bisa masak dan juga bisnis, biar aku kejar terus Davina terserah ibu suka atau nggak, kalaupun nggak dapatkan dia mending aku menduda aja sekalian biar ibu puas" gumam Adrian dalam hati.
Tanpa Adrian ketahui, ada sepasang mata memperhatikannya dari jauh.. Sita dan temannya juga berada di sana, tampak Adrian dan Davina sudah berjalan ke parkiran mobil, wajah Adrian terlihat bahagia, Sita pun merasa kesal.. Sita menganggap Adrian berselingkuh, sedangkan dia sudah memberikan kegadisannya.
Dengan cepat Sita segera mengirim pesan pada kakak perempuan Adrian, melampiaskan apa yang dilihatnya.
Tiba di kantor, Adrian teringat orderannya pada Davina, ia senang Davina menyetujuinya. Tiba di ruangan Adrian membuka beberapa notifikasi pesan yang masuk di ponselnya, termasuk pesan dari Astrid kakaknya.
Astrid : Adrian, kamu nggak sepantasnya berselingkuh, jangan begitu.. kasihan Sita, coba kamu pikirkan itu.
Adrian : Mbak Astrid nggak perlu repot-repot atur hidup aku, aku laki-laki bebas, dan aku nggak ada urusan dengan Sita yang yang sebenarnya itu adalah keinginan mbak dan ibu, aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri, aku mau selingkuh kek dengan perempuan mana saja mbak nggak usah ikut campur..
Pesan Adrian.
Astrid tampak marah menerima balasan pesan dari adiknya, lalu berusaha menghubungi Adrian tapi Adrian merejectnya.
Adrian malas menanggapi Astrid kakaknya.
Tak terasa waktu menunjukkan jam 4 sore, Adrian berjalan ke arah lobby kantor, setelah absen ia pun langsung menuju mobilnya dan tidak langsung pulang, melainkan mampir ke kosan Hanin.. tapi sayang Adrian tidak berhasil bertemu, karena Hanin sedang meeting di kantor pusat.
Adrian tampak kembali lagi ke kosan Hanin setelah lepas waktu magrib, dan melihat motor PCX silver sudah ada di depan kamar kosan.
Adrian lalu berjalan menghampiri Hanin yang sedang re-stok barang di gudang, "Assalamualaikum Han.. "sapa Adrian. "Waalaikumsalam mas, pulang kerja mas?" ujar Hanin ramah.
"Mm, iya.. boleh ya aku main sebentar kesini?" ujar Adrian tersenyum. "ya boleh dong, sok mangga" ujar Hanin dengan senyum yang datar.
"Oh ya Han, aku mau beli serum pemutih kulit, serum wajah, juga beberapa cream siang, cream malam full paket aja bisa ya dikemas yang bagus nanti kayak hadiah gitu?" ujar Adrian.
"Haaaa, buat tunangannya ya?" tanya Hanin biasa saja tanpa cemburu, karena memang Hanin saat ini menganggap Adrian hanya seorang teman baik saja. Memang itulah motto Hanin semakin banyak silahturahmi semakin banyak rejeki mengalir padanya.
"Boleh banget mas, ini ada list paket-paket produknya, pilih aja, "ujar Hanin sambil memberikan contoh list produknya.
"Mm, aku pilih yang ini aja Han.. sama kemasannya sekalian dibungkus rapi" ujar Adrian sambil menunjuk pilihannya.
"Siap, beres boss.. jadi totalnya 920 ribu aja" ujar Hanin. "Nomor rekening kamu Han tolong, apa masih yang lama?" tanya Adrian.
"Nomor rekening yang lama udah aku closed mas, maaf ya, sekarang aku pakai Mandiri" ujar Hanin. Adrian pun mengangguk.
Setelah itu tampak Adrian mentransfer jumlah yang tadi disebutkan ke rekening Hanin yang sekarang, "oke.. sudah masuk ya Han" ujar Adrian. Hanin pun mengangguk dan mengecek m-Bankingnya.
"Terima kasih mas, semoga hubungannya langgeng ya.." ujar Hanin tersenyum. Adrian hanya diam mematung.
Tidak lama kemudian seorang pegawai Rima memberikan paket produk pesanan Adrian dengan kemasan yang sesuai permintaannya.
"Mas, ini sudah selesai.. gimana?" ujar Hanin. "Mm, bagus Han.. lucu juga kemasannya, makasih ya, mas pamit dulu sekarang" ujar Adrian sambil tersenyum puas. Lalu Adrian melambaikan tangan dan menuju mobilnya menuju rumah.
Keesokan paginya, setelah memarkirkan mobil Adrian langsung menuju ke ruangannya, tampak Adrian mengirim pesan singkat pada Davina menanyakan pesanannya,
Adrian : udah jadikan pesanan aku?
Davina : iya mas, ini aku udah bawain.. sop buntut, free tempe goreng, free sambal tomat hehe.. jadi semuanya 89 ribu, sop buntutnya aku buat 2 porsi ya mas..
Adrian : oke cantik, terima kasih nanti aku ambil ya..
Saat ini sudah jam 12 siang, saatnya waktu istirahat.. Adrian bergegas menuju ruang kantor Davina yang tidak begitu jauh, "Vin .. mana?" tanya Adrian tersenyum. "ini mas, tapi harus dipanaskan dulu karena sudah agak dingin" ujar Davina.
Adrian pun mengangguk, lalu membawa pesanannya ke mobil.. Davina tampak mengikuti Adrian yang katanya mau mengambil dompetnya tang tertinggal di mobil.
"Mm, ini Vin uangnya.. "ujar Adrian sambil memberikan selembar uang seratus ribuan pada Davina, "iya terima kasih.. "ujarnya sambil memberikan kembalian uang Adrian.
"Eeh jangan pergi dulu dong.. sebentar.. "ujar Adrian. "ada apa lagi mas?" tanya Davina heran, Adrian lalu memberikan bingkisan dengan kemasan yang eksklusif pada Davina yang tampak bengong.
"Hah.. ini buat aku?" tanya Davina. "Mm, iya buat kamu" ujar Adrian santai.
"Lho, ini kan produknya mbak Hanin mas, komplit sekali, ini kan mahal mas, terima kasih ya mas jazakallah.." ujar Davina menatap Adrian.
"Sama-sama.. cantik, nanti aku makan sop buntutnya, aku kasih testimoni juga deh" ujar Adrian.
Davina pun mengangguk, dan tersenyum manis sekali kepada Adrian.
*****