Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Balik
Malam itu Ravindra pulang dengan tangan penuh. Kantong belanja di kiri, buket bunga di kanan. Tafana yang sedang melipat pakaian di ruang tengah menoleh, lalu berhenti bergerak.
“Lho…?” matanya langsung berbinar. “Banyak amat.”
Ravindra tersenyum canggung. “Aku mampir sebentar. Kepikiran kamu.” Ia meletakkan semuanya di meja. Bunga, camilan kesukaan Tafana, dan satu kotak makanan hangat. “Maaf ya soal tadi siang. Aku keterusan emosi. Kepala lagi penuh banget.”
Tafana mendekat, memeriksa satu per satu seperti anak kecil yang membuka hadiah. “Kamu beli ini?” tanyanya, mengangkat camilan favoritnya.
“Iya. Kamu kan suka.”
Ia tersenyum lebar. Rasa lelah di wajahnya luruh begitu saja. “Makasih. Aku juga minta maaf kalau kehadiranku bikin kamu nggak nyaman di kantor.”
Kalimat itu menusuk Ravindra lebih dalam dari yang ia perkirakan. “Bukan salah kamu,” katanya cepat. “Aku yang salah. Harusnya nggak bicara begitu.”
Tafana mengangguk pelan. Tidak memperpanjang. Tidak mengungkit. Ia menerima bunga itu, mencium aromanya singkat, lalu menyusunnya di vas. Seolah insiden siang hari hanyalah satu kesalahpahaman kecil yang pantas dimaafkan.
Mereka makan malam bersama. Obrolannya ringan. Tentang kerja, tentang cuaca, tentang hal-hal yang aman.
Ravindra beberapa kali melirik Tafana, merasa bersalah sekaligus lega karena perempuan itu tidak bertanya lebih jauh.
Setelah Ravindra tertidur lebih dulu, rumah kembali tenggelam dalam sunyi. Tafana bangun pelan, mengambil buku kecil dari laci meja samping ranjang. Buku harian yang jarang ia buka, tapi selalu ia isi saat pikirannya terlalu ramai.
Ia menulis dengan rapi, tanpa emosi berlebihan.
"Aku mendatangi kantornya tadi siang, membawakan makanan. Harusnya Ravindra senang, tapi reaksinya terlalu keras.
Bibirnya merah. Dia tampak panik waktu aku datang."
Tidak ada tanda tanya. Tidak ada kesimpulan. Hanya catatan.
Tafana menatap halaman itu lama. Ia tidak merasa marah. Juga belum merasa curiga. Tapi ada naluri kecil yang meminta diingat, bukan dilupakan. Ia menutup buku itu perlahan, menyelipkannya kembali ke laci, lalu berbaring.
Dalam gelap, Tafana menarik selimut hingga ke dada. Ia belum menuduh apa pun. Namun ia tahu satu hal dengan pasti: tidak semua kebohongan datang dengan suara ledakan. Ada yang disusun tenang, hari demi hari, menunggu waktu sampai beratnya sendiri membuatnya runtuh.
-oOo-
Kafe itu berisik oleh suara mesin kopi dan obrolan yang saling tumpang-tindih. Ravindra duduk setengah bersandar, cangkirnya belum disentuh sejak lima menit lalu. Teman-teman SMP-nya mengisi meja panjang dengan tawa yang terasa terlalu akrab untuk dihindari.
“Eh, Vin,” kata Gano sambil menyeruput kopinya. “Ulang tahun Yunika sebentar lagi, kan?”
Ravindra mengangkat alis. “Eh iya ya? Masih inget aja.”
“Ya iyalah,” sahut yang lain. “Masa kita lupa tanggal ultah kembang sekolah?”
Tawa pecah. Ravindra ikut tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip refleks daripada ketulusan. “Kalian niatnya mengingatkan atau menyindir?”
“Niatnya baik,” Gano menyeringai. “Kita kepikiran bikin kejutan yang proper. Sekalian reunian lagi.”
Ravindra memutar cangkirnya pelan. Dalam kepalanya, kata kejutan terdengar seperti ironi. Hidupnya sendiri sudah penuh kejutan yang tak ia minta. Tapi ia tidak menolak.
“Tempatnya di Le Grande aja," Ravindra menawarkan.
“O iya, itu restoran keluarga Arvana ya?” Gano menoleh cepat.
"Sekalian lah sponsorin semua. Kamu kan 'dekat' sama Yunika," Anto mengompori.
Ravindra mendengus. Cynical, tapi tidak menyangkal. “Kalian mau bikin pesta kejutan atau mau pelorotin aku?”
“Kami mau jadi panitia kok,” potong yang lain cepat. “Kita-kita yang kerjain, kamu modalnya aja.”
Ada jeda. Ravindra menatap kopi yang sudah mendingin. Dalam diam itu, ia tahu betul ia sedang melangkah lebih jauh dari yang seharusnya. Tapi justru di situlah daya tariknya, melawan akal sehat dengan alasan yang terdengar manis.
“Oke,” katanya akhirnya. “Aku yang tanggung semua.”
Sorak kecil menyambut keputusan itu. Ravindra hanya mengangguk, senyum sinis menggantung di bibirnya. Ia baru saja menyetujui sebuah perayaan untuk seseorang yang seharusnya sudah ia lepaskan, di tempat yang tak pernah benar-benar netral.
-oOo-
Di kamar yang tenang, Tafana duduk di tepi ranjang dengan kotak kecil di pangkuannya. Kertas pembungkus berwarna krem itu ia rapikan perlahan, ujung-ujungnya ditekan rapi seolah takut merusak isinya. Hadiahnya sederhana—tidak mahal, tidak mencolok—tapi pasti akan mengejutkan Ravindra karena ini hal yang sangat personal.
Ia tersenyum sendiri saat membayangkan ekspresi suaminya nanti. Cara alis itu terangkat sedikit, lalu senyum yang biasanya datang terlambat tapi jujur. Tafana mengikat pita tipis di atas kotak, menarik napas lega. Dalam kepalanya, kebahagiaan masih terasa sesederhana itu.
-oOo-
Ravindra sedang di ruang kerjanya, ponsel menempel di telinganya. Suaranya rendah, terkontrol, seperti orang yang sedang membicarakan proyek penting.
“Iya, dekorasinya jangan norak. Yunika nggak suka yang terlalu rame,” katanya. “Kuenya cokelat ya, dia alergi stroberi. Jam tujuh pas, biar pas dia datang, semua sudah ready.”
Tafana berhenti di depan pintu. Kotak hadiah kecil di tangannya terasa mendadak berat. Ia tidak berniat menguping. Ia hanya ingin menyelipkan bingkisan itu di lemari, lalu keluar diam-diam. Tapi nama itu sudah terlanjur tertangkap telinganya.
Yunika.
“Kamu tenang aja,” lanjut Ravindra di seberang sana. “Semua beres. Sudah aku konfirmasi ke staf di Le Grande, akan disterilkan sehari.”
Le Grande.
Dada Tafana mengencang. Restoran keluarga Arvana. Tempat yang bahkan untuk ulang tahunnya sendiri, ia tak pernah diajak. Tahun lalu, ia meniup lilin kecil di rumah, dengan kue dan dekorasi sederhana dan ucapan singkat.
Ia berdiri membeku, seperti tamu di rumahnya sendiri.
Dia hapal alerginya, pikir Tafana. Dia hapal seleranya. Dia hapal tanggal ulang tahunnya.
Sementara tanggal pernikahan mereka—yang ia set alarmnya sendiri—bahkan tak pernah disebut.
Tafana ingat bagaimana Ravindra mengernyit waktu ia menyinggung hari jadi mereka.
“Oh ya?” katanya waktu itu, seolah itu informasi baru.
Tangannya mengerat di sisi kotak hadiah. Sesuatu yang hangat di dadanya turun pelan, berubah jadi perih yang dingin.
Jadi begini rasanya dibandingkan, batinnya. Bukan ditinggalkan. Tapi dikalahkan.
Ravindra tertawa kecil di telepon. Tawa yang jarang ia dengar akhir-akhir ini. Tawa yang ringan, tanpa beban.
Tafana melangkah mundur. Ia tidak menangis. Belum. Ia hanya merasa ada sesuatu yang bergeser, rapi tapi pasti. Jika selama ini ia masih ragu, malam itu keraguannya menemukan bentuk.
Kalau dia sebegitu pedulinya, pikir Tafana pelan, maka aku harus tahu seberapa jauh.
Ia membawa kembali hadiah itu ke kamarnya. Disimpan, untuk nanti.
Mulai detik itu, Tafana tidak lagi hanya menunggu. Ia memutuskan untuk melihat—lebih dekat, lebih jujur—hubungan yang selama ini dibiarkan berjalan di belakang punggungnya.
-oOo-
Tafana masuk lewat pintu samping Le Grande dengan seragam staf cadangan dan masker menutup setengah wajahnya. Rambutnya disanggul rapi, langkahnya tenang, nyaris tak menarik perhatian. Di ruangan itu, lampu-lampu menggantung hangat, balon dan bunga memenuhi sudut, tawa berlapis-lapis bercampur musik yang riuh. Sebuah pesta yang dipersiapkan dengan cinta—atau setidaknya, dengan niat yang serius.
Ia melihat mereka dari kejauhan.
Ravindra berdiri di samping Yunika, terlalu dekat untuk sekadar teman lama. Tangan Ravindra refleks melindungi punggung Yunika saat seseorang menyenggol. Yunika menoleh, tersenyum, lalu mencondongkan kepala untuk mengatakan sesuatu yang hanya mereka berdua dengar. Ravindra tertawa, membalas dengan nada rendah, intim. Sorak sorai teman-teman SMP mereka meledak ketika kue dibawa keluar.
Seseorang mendorong Ravindra agar berdiri lebih dekat lagi.
“Cium pipinya dong!” teriak seseorang.
Ravindra menuruti tanpa ragu. Yunika menutup mata sesaat, menikmati. Tepuk tangan bergemuruh.
Di balik masker, napas Tafana tercekat. Dadanya terasa sesak, bukan karena cemburu semata, tapi karena kejelasan yang telanjur datang. Ini bukan salah paham, ini kebiasaan.
Dari sudut lain ruangan, Darren bersandar dekat bar, matanya tajam mengawasi. Sesekali ia melirik Tafana, memastikan wanita itu masih berdiri. Tatapan mereka bertemu singkat. Darren mengangguk kecil, seolah berkata: lihat sendiri.
Tafana mengangguk balik. Tangannya dingin. Tapi hatinya, anehnya, justru menjadi sangat tenang.
Karena akhirnya, ia tidak lagi menebak-nebak.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅