Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka
"Bagaimana dokter? Katakan sesuatu!" Suara itu bertanya dengan penuh kekhawatiran. Wajahnya sudah basah dengan manik yang bergerak tak beraturan.
"Lukanya sudah ditangani. Tidak begitu serius, tapi untuk beberapa waktu, dia akan menangis karena tidak nyaman. Tapi jangan khawatir, sudah diberi gel pendingin. Lukanya akan terasa dingin." Jelas dokter.
"Apa bekasnya bisa hilang?" Entah mengapa, pertanyaan itu keluar dari bibir Alina. Saat bibi menoleh padanya, dia langsung membuang muka.
Dokter tersenyum kecil. "Bisa, tentu saja. Tapi itu perlu waktu. Tapi jangan khawatir, ilmu kedokteran berkembang pesat, itu bisa ditangani. Untuk sekarang mungkin aktivitas si kecil akan sedikit terganggu ya." Lanjut dokter.
"Terimakasih dokter."
"Sama-sama, saya permisi dulu." Bibi mendekati Rosa yang tertidur setelah diberikan obat bius dan juga pertolongan untuk lukanya. Di lengan kanan itu, ada bulatan yang terbentuk karena air panas.
"Mawar nenek... Maafkan nenek ya. Seharusnya nenek bisa lebih berhati-hati menjagamu sayang."
"Aku akan bayar dulu." Jelas Alina.
"Terimakasih nona. Nona sudah mau datang."
"Aku datang untuk bibi. Bukan karena yang lain." Jelas Alina.
Bibir bibi tersenyum kecil. "Tapi nona tau, kalau bukan bibi yang dirawat."
Alina tidak mengatakan apapun lagi, dia keluar dari sana. Bibi hanya menatap kepergiannya. "Tapi rasa kekhawatiran itu terselip dalam diri nona. Pertanyaan itu.... bibi bisa mendengar nya." jelas bibi.
"Rosa, perlahan.... dirimu akan diterima oleh nona Alina. Dia pasti akan menyayangimu. Lagipula..... Kau pantas untuk itu sayang ku. Cepatlah sembuh, hmmmmm.... Nenek menyayangimu."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Tuan, terakhir pria ini membawa bayinya dan setelah itu tidak diketahui lagi." Lapor pria berkepala plontos itu.
"Kemana? Jangan hanya mengatakan setengah infomasi saja!"
"Pria ini nampak ahli Tuan, dia mengambil jalanan yang tidak terekam cctv, sehingga kami belum menemukan informasi lagi."
Brak! Meja kayu itu menjadi sasaran empuk dan menimbulkan bunyi yang berbahaya. "Cari seluruh rumah sakit satu tahun belakangan! Aku ingin infomasi segera! Sebelum mendapatkan dimana keberadaan nya, jangan datang padaku! Mengerti?"
"Baik Tuan." Selepas kepergian pria plontos itu, pintu kembali dimasuki oleh seseorang.
"Tuan, ada pertemuan setelah ini." Lapornya melihat keadaan junjungannya yang tengah pusing dengan masalah ini.
"Ya. Aku tidak lupa. Siapkan mobil, kita berangkat!"
"Baik Tuan." Ketika melangkah menuju keluar, tangga bergaya elegan itu membuat langkah itu terhenti sejenak.
"Dimana putriku! Katakan! Aku mau putriku! Bawa putriku! Aghh!" Teriakan terdengar keras menggema di ruangan itu.
"Tuan, itu...."
"Aku ingin putriku! Putriku, aku ingin putriku.... bawa dia, aku ingin putriku...." tangan yang sudah mengurus itu mencengkram erat jas hitam itu.
"Aku akan membawanya, tenanglah..... tenang." Meskipun beberapa kali ada pemberontakan tapi tak lama tampak tenang meksipun bibirnya tidak berhenti mengatakan hal yang sama.
"Aku ingin putriku."
"Aku akan membawanya."
*****************
Dokter sudah mengizinkan Rosa untuk pulang. Bibi membawanya, tangan kecil Rosa dihiasi dengan salep. Meskipun begitu, dia tersenyum lebar.
"Nona bisa kembali bekerja. Bibi pesan taksi saja." Jelas bibi sambil menyeka rambut tebal Rosa.
Alina tidak mengatakan apapun, dia menuju parkiran. Sedangkan bibi hanya tersenyum simpul, dia kembali menatap wajah cantik Rosa yang tersenyum lebar padanya. Mentari cukup terik, untung saja pepohonan mengelilingi rumah sakit, dan membuat tempat berteduh yang nyaman untuk Rosa. Bibi tampak celingak-celinguk mencari taksi untuk pulang.
Sebuah mobil tampak mendekat dengan kaca yang perlahan turun memperlihatkan sang pengemudi. "Naiklah bi! Ayo!"
"Apa nona....."
"Bibi, naik!" Titah Rosa, bibi mengangguk. Dia membuka pintu mobil dan duduk di belakang. Rosa menggerakkan jari-jari tangan nya yang mungil dengan mulut yang melebar dengan senyuman manis.
"Terimakasih nona."
"Untuk bibi. Cuaca panas tidak baik untuk kesehatan bibi." Jelas Alina.
"Ya nona."
"Mammamamama. Akhahaha." Sejenak suasana menjadi hening dengan tangan Alina yang membeku.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰🙏🥰