Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bab 20 Mawar Hitam
Dion Leach menyipitkan matanya, nada suaranya berat dan mengandung ancaman, “Kau tidak akan pulang malam ini?”
Meskipun hanya lewat sambungan telepon, Anita Lewis bisa merasakan hawa dominasi Dion yang begitu kuat, seolah menembus jarak. Suaranya dingin dan berwibawa, membuat siapa pun bisa gemetar karenanya. Tapi Anita tidak mudah gentar. Ia menarik napas pelan dan menjawab dengan nada tenang, “Nenek tahu kalau aku menikah denganmu. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi padaku, jadi dia melarang aku pulang malam ini.”
Dion tak langsung menanggapi. Suaranya menurun, tapi ketegangan terasa, “Lalu maksudmu apa?”
“Aku ingin kau datang ke rumah nenek kalau sempat,” ujar Anita dengan hati-hati. “Berbicaralah padanya, yakinkan kalau kau orang baik. Nenek sedang sakit, dan aku tidak mau membuatnya marah dengan membantah.”
Nada dingin Dion perlahan melembut, bahkan ada sedikit kehangatan yang jarang muncul, “Aku baik, ya?”
Ucapan itu diiringi tawa pendek yang terdengar getir. Sejak penyakitnya kambuh, tak ada satu pun yang menyebutnya baik. Semua orang hanya membicarakan sisi gilanya, kekerasannya, kegelapannya. Tapi kali ini, dari suara Anita, ia merasakan ketulusan.
“Hmm?” gumam Anita, tidak paham kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu.
Dion akhirnya berkata lebih lembut, “Baiklah. Aku akan ke sana nanti. Malam ini kau boleh tinggal di sana.”
Anita tersenyum kecil, sedikit lega. “Aku sudah menyiapkan obatmu, dan juga bantal baru yang ku buat khusus. Itu bisa membantu tidurmu lebih nyaman, terutama kalau kau letakkan di lenganmu. Lalu......”
Dion diam. Ia hanya mendengarkan suara lembut perempuan itu, dan mendadak perasaannya menjadi tenang. Setiap kata Anita seperti menenangkan kegilaan yang menggerogoti pikirannya. Ia membayangkan, mungkin meskipun Anita tak di sisinya, cukup dengan mendengar suaranya saja, ia bisa tidur nyenyak malam ini.
“Dion?” panggil Anita setelah beberapa detik tanpa respons. “Kau masih di sana?”
Dion tersenyum samar dan menurunkan suaranya, “Panggil aku ‘suami’.”
Anita mendengus halus, sedikit malu sekaligus jengkel. “Tuan Leach, apakah kau mendengar apa yang baru saja kukatakan?”
“Suami,” ulang Dion pelan tapi tegas.
Nada Anita naik sedikit, kesabarannya menipis. “Tuan Leach, aku sedang bicara serius padamu!”
“Dan aku serius juga,” balas Dion dengan nada rendah yang nyaris terdengar seperti rayuan. “Aku suka saat kau memanggilku ‘suami’.”
Anita terdiam beberapa detik, kemudian bergumam dalam hati bahwa mungkin pria ini memang ada gangguan di otaknya. “Aku tidak peduli kau dengar atau tidak. Pokoknya aku sudah bicara. Tubuhmu urusanmu, bukan urusanku. Ponselku juga rusak, jadi cukup sampai di sini!”
Dengan kesal, Anita menutup telepon begitu saja.
Dion menatap ponselnya yang kini gelap dengan ekspresi masam. Begitu sulitkah baginya untuk sekadar mendengar Anita memanggilnya “suami”? Wanita itu memang keras kepala dan justru karena itulah dia semakin menarik.
Ia kemudian menekan tombol interkom. “Jack, batalkan semua jadwalku hari ini.”
Asisten pribadinya, Jack, langsung membeku. “Tuan Leach, tapi ada dua pertemuan besar .....”
Dion menatapnya dingin, “Kenapa? Perusahaan ini akan runtuh kalau aku tidak hadir sehari saja?”
Seketika Jack menelan ludah dan mengangguk patuh. “Tidak, Tuan. Akan saya batalkan segera.” Ia lalu bertanya hati-hati, “Tapi, Tuan Leach... apakah Anda ada urusan penting hari ini?”
Dion dikenal sebagai pria yang hidupnya hanya berputar di sekitar pekerjaan. Ia bisa bekerja tanpa tidur selama tiga hari penuh tanpa keluhan. Jadi ketika tiba-tiba membatalkan semuanya, tentu saja Jack curiga ada hal besar yang terjadi.
“Urusan penting,” jawab Dion singkat. “Aku mau menemui neneknya Anita.”
Jack hampir tersedak udara. Ia sempat mengira Dion akan bertemu presiden dengan ekspresi serius seperti itu, ternyata hanya untuk menemui nenek dari istrinya.
Dion melanjutkan dengan nada tenang tapi tegas, “Siapkan hadiah. Harus berkelas, tapi bukan hanya mahal.....” ia berhenti sejenak, berpikir, lalu menambahkan, “Tidak usah. Aku akan pilih sendiri. Aku tahu apa yang akan menyentuh hati wanita tua itu.”
Sambil bersiap meninggalkan ruangan, Dion masih sempat bertanya, suaranya sedikit ragu ,sesuatu yang sangat jarang keluar dari mulutnya, “Menurutmu, Jack... apakah nenek Anita akan menyukaiku sebagai cucu menantunya?”
Jack terdiam, tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang tampak sederhana tapi mengandung banyak makna itu.
Sementara Dion berpikir dalam diam tanpa Anita harus mengatakannya pun, ia tahu, neneknya pasti ingin mereka bercerai. Tapi ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak kali ini. Ia sudah mulai jatuh terlalu dalam untuk melepaskan Anita begitu saja.
Jack menatap Dion Leach dengan hati-hati, mencoba memilih kata yang aman. “Tuan Leach, dengan…”
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Dion menatapnya tajam. Tatapan dingin itu membuat bulu kuduk Jack berdiri. Ia langsung mengganti nada bicaranya dengan cepat, “Dengan penampilan, latar belakang, dan kepribadian Anda, saya yakin Nenek Nyonya Leach akan sangat puas.”
Dion menurunkan pandangannya, tampak puas dengan jawaban itu. Ia mengeluarkan ponsel, mengingat sesuatu yang pernah dikatakan Anita Lewis , bahwa ponselnya rusak.
“Ponsel Anita rusak,” gumamnya. Ia kemudian menatap Jack. “Apakah model ponsel khusus itu masih tersedia?”
Ponsel Dion berbeda dari yang beredar di pasaran. Desain dan sistemnya dibuat khusus dengan keamanan tingkat tinggi , hanya digunakan oleh kalangan elit seperti dirinya.
Jack berpikir sejenak lalu bertanya, “Apakah Anda ingin memesan yang versi pasangan, Tuan?”
Kata pasangan terdengar baru di telinga Dion. Ada sesuatu dalam kata itu yang menarik hatinya , seperti konsep yang asing tapi menyenangkan. Ia mengangguk perlahan. “Ya. Kirimkan desainnya padaku.”
Jack segera menghubungi perusahaan pembuat ponsel eksklusif tersebut dan menampilkan beberapa desain di layar tablet. Dion memandangi pilihan-pilihan itu sejenak sebelum menunjuk salah satu. “Yang ini.”
Sementara itu, di rumah tua keluarga Lewis…
Anita duduk di ruang tamu bersama sang nenek. Mereka sedang menggulung benang wol menjadi bola sambil menonton drama keluarga di televisi.
Sesekali, neneknya berbicara lembut namun tegas, menasihati agar Anita lebih berhati-hati dan tidak terlalu menuruti emosinya. Anita hanya tersenyum. Ia tidak marah atau tersinggung sedikit pun , baginya, momen kecil seperti ini justru sangat berharga. Sudah lama ia tak merasakan hangatnya percakapan keluarga.
Namun ketenangan itu segera terganggu ketika salah satu pelayan berlari kecil masuk, wajahnya tegang. “Nyonya Lewis, ada tamu di depan. Namanya Tuan Dion… Dion Leach. Haruskah saya mengizinkannya masuk?”
Nenek menatap Anita dengan alis terangkat. “Dion Leach?”
Anita meletakkan gulungan wol di tangannya dan berkata tenang, “Kurasa iya, Nek. Mari kita lihat.”
Nenek bangkit perlahan dengan bantuan Anita. Keduanya berjalan keluar menuju pintu utama.
Di halaman depan, sosok tinggi tegap berdiri dengan tenang di bawah sinar matahari sore. Dion tampak rapi dan berwibawa, memegang sebuah kotak hadiah di tangan kanan dan buket bunga di tangan kiri. Cahaya jingga senja menyorotinya dari belakang, membuatnya tampak seperti pria dari dunia lain memancarkan aura keagungan yang sulit dijelaskan.
Namun, meski begitu berkuasa dan berkarisma, pria itu berdiri menunggu di luar pagar besi dengan sabar, tanpa sedikit pun tanda ketidaksabaran.
Anita terpana beberapa detik sebelum segera berlari kecil membukakan pintu pagar. “Kenapa kau datang ke sini?” tanyanya dengan nada bingung.
Bukankah tadi dia bilang akan datang kalau sempat? Baru beberapa jam berlalu, belum juga malam, dan kini Dion sudah muncul di depan rumah neneknya dengan buket bunga?
Dion menatap Anita yang mengenakan sweater rumah berwarna lembut, rambutnya diikat ke atas dengan sederhana. Pemandangan itu membuat hatinya terasa hangat. Dalam sorot matanya, Anita tampak seperti gadis rumahan polos yang begitu kontras dengan citra dingin dan misterius yang biasanya ia tunjukkan.
Ia menyodorkan buket bunga itu sambil tersenyum samar. “Aku ingin membuat nenekmu tenang secepat mungkin.”
Anita menunduk, melihat bunga-bunga yang ia bawa. Seketika matanya membesar sedikit ,bukan mawar merah seperti yang biasa pria berikan, melainkan mawar hitam.
Mawar hitam itu begitu mencolok. Kelopaknya pekat dan mengilap, bagaikan terbuat dari beludru gelap. Ada kesan dingin, misterius, namun juga menawan dan tak bisa diabaikan.
Anita menatapnya lama, tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Dion sedikit khawatir melihat reaksinya. “Kau tidak menyukainya?” tanyanya hati-hati.
Anita mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. “Aku suka.”
Senyum itu langsung membuat Dion tenang. Ia tertawa pelan, nada suaranya hangat namun tetap rendah dan berkarisma. “Saat aku melihat bunga ini, aku langsung teringat padamu. Gelap, misterius, dan… berbeda dari siapa pun yang pernah kutemui.”
Ia berhenti sejenak, menatap Anita dengan sorot mata dalam yang nyaris tak bisa disembunyikan , campuran antara kekaguman dan kepemilikan.
“Kau tahu,” lanjutnya pelan, “bagi sebagian orang, mawar hitam melambangkan bahaya, tapi bagiku… itu melambangkan pesona yang tak bisa ku lawan. Seperti dirimu. Iblis kecilku yang indah. Suatu hari nanti, kau akan benar-benar menjadi milikku.”
Nada suaranya terdengar lembut, tapi di balik kata-kata itu tersimpan rasa dominasi yang tak bisa disembunyikan.
Anita hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa , ia tak tahu harus membalas dengan apa. Tapi di lubuk hatinya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Bersambung.....
Catatan Penulis:
Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca sejauh ini, mohon dukungannya agar tetap bisa berkarya.
Tinggalkan jejak komentar bila kalian suka .....