Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara
Naura menatap sekelilingnya. Ia mengatur nafasnya yang tersengal, dan mulai waspada pada sekitarnya.
Meskipun ia merasa jika sebagian para makhluk mutasi berada didunia nyata, tetapi itu bukan berarti seluruhnya, sebab pasti ada yang masih berjaga didalam istana.
Deguban jantung Naura cukup kencang, ia menggegam belati Ra Tanca dengan ujung mengarah ke atas pergelangan tangannya, dengan cara ia masukkan sebagian ke dalam lengan pakaiannya.
Dug dug dug
Terdengar suara langkah kaki yang cukup berat, dan berjumlah sekitar lima orang.
Naura menarik nafasnya dengan berat dan mengontrolnya.
Suara langkah tersebut semakin dekat, dan membuatnya waspada.
"Siapa disana?" suara berat terdengar dari ujung lorong, dan menghentikan langkah sang gadis.
Kelimanya berjalan menghampiri Naura, dan saat jarak mereka cukup dekat, sosok mutasi dari sukma pertapa yang menyatu dengan Macan Tutul menegurnya dari belakang,
"Siapa, Kau?!" sosok pimpinan mutasi Macan Tutul kembali mengulangi pertanyaan.
Naura menarik nafasnya dengan berat, menjaga sikap agar lebih tenang. "Aku Naura, gundik Raja Kala Gemet, dan sedang menunggu kembang wijaya kusuma, permintaan selir kesayangan Raja," jawab Naura dengan tegas.
Gadis itu memutar tubuhnya, lalu menatap ke arah para mutasi Macan Tutul yang tinggi mencapai dua metee, sehingga membuat ia harus mendongak saat menatap mereka.
"Heem, ternyata kamu?" pimpinan mutasi membenarkan pengakuan gadis tersebut, sebab pernah bertemu sebelumnya dan mendapati Naura sedang melayani sang Raja.
"Ya. Apakah kalian sudah menemukan kembang wijaya kusuma yang diperintahkan oleh Raja? Sebab aku harus membawanya segera, karena malam pertama Raja harus tertunda karena menunggu lama," ucap Naura dengan penuh selidik.
"Ya, kami membawanya." sosok itu membawa kembang yang hanya mekar saat malam saja dan sangat jarang ditemui, lalu menyerahkannya kepada Naura.
Naura meraihnya. Namun sosok pemimpin itu tanpa sengaja melihat sebilah belati yang disembunyikan dibalik lengan kebayanya yang berlengan panjang dan berbahan beludru.
"Sial! Kau pengkhianat!" pekik sosok pimpinan mutasi Macan Tutul, dan dengan cepat disadari oleh Naura.
Ia merampas kembang tersebut, lalu menyelipkannya disanggulnya, dan mengeluarkan belati yang disembunyikannya, kemudian menyerang para mutasi Macan Tutul yang berasal dari jiwa pra pertapa.
Wuuush
Wuuuussh
Serangan demi serangan dilancarkan, dan membuat Naura harus kewalahan, sebab ada lima Mutasi Macan Tutul yang cukup kuat.
Craaaaas.
Naura terkena cakaran dibagian punggungnya, membuat ia meringis kesakitan, rasa perih dan panas menyatu dengan cukup pedih.
Ia tahu jika punggungnya mengalirkan cairan pekat berwarna merah, sehingga harus merapatkan giginya demi untuk menahan rasa sakitnya.
Naura melihat sang pimpinan menyerangnya kembali, tak ingin memberi jeda, sehingga membuat ia harus menyerang sosok tersebut dengan menghujamkan ujung belati tepat dibagian dada kirinya.
Craaaaas
"Aaaaaargh, pekik sosok pimpinan tersebut, lalu cairan pekat berwana hitam menyembur dari dadanya dan juga bagian mulut.
Perlahan tubuh sosok sang pimpinan tersebut berubah menjadi asap hitam yang mengepul, dan perlahan menghilang.
Nafas Naura tersengal, ia masih menggenggam erat belatinya, dan menatap keempatnya dengan sikap waspada.
Melihat hal itu, para bawahannya yang berjumlah empat mutasi tercengang.
Tak terima pimpinan mereka dikalahkan, mereka menyerang Naura secara beramai-ramai, dan hal itu mmebuat sang gadis menghujamkan ujung belati lebih dalam, lalu merobeknya dengan cukup kuat, dan bergegas mencabutnya.
Saat salah satu mutasi Macan Tutul menyerangnya dari arah belakang, ia melayangkan tendangannya, lalu berputar dengan cepat, dan menghujamkan kembali ujung belatinya, dan kali ini mengenai perut sosok tersebut.
Akan tetapi, sosok mutasi dari arah utara, datang menyerangnya, dan memberikan tendangan, hingga membuat ia tersungkur, dan kembang Wijaya Kusuma terjatuh dilantai goa.
"Hah!" Naura tersentak kaget, dan ia surut mundur, hingga membentur dinding goa.
Sisa tiga sosok mutasi Macan Tutul melayangkan ujung tombaknya, lalu menghujamkannya ke arah Naura yang sudah terpojok dan tak dapat menyelamatkan dirinya.
Hingga akhirnya...,
Craaaaassh
Suara hujaman berasal dari arah belakang, dan mengenai punggung mutasi Macan Tutul dan menembusnya.
Naura memejamkan matanya, menerima nasib yang sedang mempermainkannya.
Akan tetapi, ia mencoba membuka matanya, dan sesaat ia tercengang, dimana ia melihat Kael yang sudah berusaha menyelamatkannya.
Meskipun rasa kesal pada sosok tersebut masih cukup besar, tetapi saat ini, ia masih mencoba mengesampingkannya.
"Pergilah, cepat!" titah Kael pada sang gadis, dan ia mencoba menahan sisa dua sosok mutasi yang berusaha menyerang sang gadis.
Sosok yang terkena tombak Kael akhirnya menghilang dan berubah menjadi asap hitam yang mengepul, lalu menghilang .
Sedangkan dua sosok lainnya kembali menyerang Kael, dan membuat Naura merangkak untuk mengambil kembang Wijaya Kusuma yang tergeletak dilantai goa, lalu membawanya pergi dan berjalan denngan setengah berlari menyusuri lorong.
Sesaat ia merasa, jika Kael masih peduli padanya, sebab mengikutinya dari alam dunia, dan tak memperdulikan resiko yang akan ia terima nantinya.
Naura menghentikan langkahnya, dan sejenak memutar tubuhnya, lalu melihat ke arah Kael yang saat ini sedang berjuang melenyapkan kedua mutasi Macan Tutul tersebut.
Kael meliriknya sejenak, lalu melemparkan senyum sebagai permintaan maaf padanya yang sudah membuat gadis itu harus menjadi gundik sang Raja.
Naura membalas dengan senyum tipis, tetapi cukup membuat Kael merasakan mood booster yang cukup besar baginya.
Dengan gerakan cepat, ia mengjajar lawannya, sedangkan Naura kembali berlari menuju ruangan tempat dimana Sena dan juga Raja Kala Gemet sedang saling bermanja.
Sementara itu, Amara sudah tiba didepan ruangan peraduan sang raja. Dengan berat hati ia mengetuk pintu, meskipun ia tahu akan mendapatkan bahaya, tetapi baginya, menyelamatkan puterinya adalah hal yang harus ia utamakan, meskipun harus mengorbankan nyawanya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu diruangan peraduan yang terbuat dari tembok batu andesit dan juga batu cadas.
Raja Kala Gemet yang mendengar ketukan tersebut menghentikan cumbuannya pada Sena, meskipun sat ini, gadis itu belum mau untuk melakukan hubungan ranjang, tetapi sudah dalam tahap pemanasan.
Sang Raja beranjak dari ranjangnya, sedangkan Sena dengan cepat membenahi pakaiannya, lalu turun dari ranjangnya
Saat pintu dibuka, sang Raja tersentak kaget saat melihat seorang wanita cantik paruh baya yang sedang berdiri diambang pintu.
Sena membeliakkan kedua matanya, tetapi Amara memberi isyarat agar puterinya bersikap biasa saja, agar tak memancing kecurigaan sang Raja.
"Apa yang sudah membuatmu datang kemari? Dan kau adalah manusia murni,"sang Raja memperhatikan Amara dengan cukup teliti.
"Maaf, Paduka Raja, saya diutus karena Raja meminta saya untuk menghadap, sebab mempertanyakan siapa yang sudah memasak daging rusa panggang tersebut." Amara mengatupkan kedua tangannya didepan dad, sebagai adab kepada seorang penguasa kerajaan.
Kala Gemet manggut-manggut. "Oh, ternyata kamu juru masaknya. Pantas saja daging itu terasa sangat enak, sebab yang memasak cantik rupawan." sifat gatal sang Raja kembali kambuh saat melihat wanita cantik.
Lanjut kak Author, semangat... 💪💪
Semoga kitab kuno segera ditemukan, jadi Sena dan yang lain bisa pulang dengan selamat ke rumah mereka masing-masing... 😙
untung wae lagsg crassss tesss tess tess ehh darah nya bukan merah ges apa mgkin darah nya biru 🙈🙈🙈