NovelToon NovelToon
You Can Run, But You'Re Still Mine

You Can Run, But You'Re Still Mine

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kehidupan Tentara / Nikahmuda / Karir / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:143.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.

Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.

Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.

Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Di Bawah Dua Langit, Satu Takdir

Pagi itu, langit masih gelap.

Elvara duduk di tepi ranjang, menahan napas saat rasa tak nyaman menjalar dari perut ke pinggang. Awalnya ia mengira hanya kelelahan. Namun rasa itu datang lagi. Lebih kuat. Lebih teratur.

Jemarinya menggenggam sprei.

“Ibu…” suaranya bergetar.

Elda yang kebetulan melintas di depan kamar langsung menoleh. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu. Wajahnya berubah saat melihat ekspresi putrinya.

“Vara… kamu mau lahiran?”

Elvara hanya mengangguk, rahangnya mengeras menahan nyeri. Satu tangannya mencengkeram selimut, satu lagi menekan perutnya.

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil, melaju menuju rumah sakit terdekat di negeri asing itu.

Udara dingin. Lampu kota berselimut kabut pagi tampak kabur di balik kaca. Elvara memejamkan mata, menahan kontraksi yang datang tanpa ampun.

 

Di saat yang hampir bersamaan...

Di barak, Raska baru saja selesai mandi setelah seharian beraktivitas. Rambutnya masih basah saat ia duduk di tepi ranjang.

Lalu… ia berhenti bergerak.

Perutnya terasa seperti diremas dari dalam. Keringat dingin langsung membasahi punggung dan pelipisnya. Ia menarik napas dalam, mengunci rahang, berusaha menahan rasa sakit itu tanpa suara.

Disiplin sudah tertanam terlalu dalam. Namun wajahnya kehilangan warna.

“Ras?” Jovi mendekat, panik melihat kondisi sahabatnya. “Lo kenapa?”

Raska tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Ada apa?” tanya taruna lain, mulai mendekat.

Raska akhirnya menggeleng pelan. “Gak tahu…”

Tubuhnya goyah.

Jovi tak menunggu lebih lama. Ia dan beberapa taruna lain segera menopang Raska, membawanya menuju klinik barak.

Langkah-langkah mereka cepat. Tegang.

Di bawah lampu lorong yang mulai menyala, Raska menunduk, napasnya tertahan, tangannya kembali menggenggam cincin di saku celananya. Erat, seolah itu satu-satunya pegangan.

Jauh di luar sana, di negeri asing yang tak pernah ia datangi...

Seseorang yang tak pernah lepas dari pikirannya sedang berjuang menahan sakit yang sama sekali berbeda.

Dan keduanya belum tahu—

Saat malam jatuh di tempat Raska,

dan fajar menyingsing di tempat Elvara,

segalanya akan berubah.

 

Lampu putih di ruang bersalin terasa terlalu terang, dingin, steril, nyaris menyilaukan.

Elvara menggenggam sisi ranjang dengan napas terputus-putus. Keringat membasahi pelipis dan tengkuknya, rambut hitamnya menempel di wajah. Di sekelilingnya, mesin monitor berdetak pelan, layar digital menampilkan garis-garis yang naik turun mengikuti detak jantung.

Setiap kontraksi datang seperti gelombang yang tak memberinya waktu bernapas.

“Deep breath… slowly… push,” suara dokter terdengar tegas, beraksen asing tapi menenangkan.

Elvara mengangguk lemah. Tangannya gemetar.

Sakitnya bukan sekadar di perut. Pinggangnya seperti diremukkan. Tubuhnya seolah ditarik dari dua arah berlawanan, tanpa ampun.

“Aaah—!” erangnya pecah.

Air mata jatuh tanpa bisa dicegah, mengalir ke pelipis, hilang di seprai putih.

Di antara rasa sakit yang menghantam bertubi-tubi itu, bayangan lain menyusup tanpa izin.

Wajah Raska.

Bukan Raska yang dingin. Bukan yang menjadikannya obyek taruhan.

Tapi Raska di hari itu, duduk tegak di sampingnya, rahangnya mengeras, bahunya kaku oleh tanggung jawab yang tak pernah ia minta, suaranya mantap mengucap ijab kabul.

"Saya terima nikahnya…"

Dada Elvara bergetar.

Ia terisak, napasnya patah-patah.

“Fokus, Ra. Kamu kuat,” suara Elda terdengar di sisi ranjang, sedikit bercampur bahasa asing yang baru saja ia ucapkan pada perawat. Tangannya menggenggam tangan Elvara erat-erat, hangat di tengah ruang yang terasa dingin.

Elvara mengangguk, meski rasanya tubuhnya hampir menyerah.

“Push—now!”

Elvara mengerahkan tenaga.

Di negeri asing yang bahasanya belum sepenuhnya dipahami sang ibu, di bawah lampu putih yang tak memberinya belas kasihan,

Elvara berjuang, sendirian, namun tidak sepenuhnya sendiri.

 

Sementara itu—

Di klinik barak, Raska terbaring di ranjang pemeriksaan.

Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis. Napasnya tertahan, tidak terengah, lebih seperti ditahan paksa oleh disiplin yang sudah mendarah daging.

Tangannya mencengkeram sisi ranjang. Bukan ingin mengeluh. Tapi menahan.

“Nyeri di mana?” tanya dokter militer sambil memeriksa perutnya.

“Perut… tengah,” jawab Raska pendek.

Dokter mengernyit. “Sejak kapan?”

“Baru… satu jam,” sahut Jovi cepat dari samping. Wajahnya jelas cemas. “Tapi dari pagi dia udah aneh, Dok.”

Dokter menoleh. “Aneh bagaimana?”

Jovi menggaruk tengkuknya. “Gelisah. Padahal hari ini latihan terakhir. Biasanya dia fokus banget.”

Raska menutup mata sebentar. Napasnya berat.

“Waktu latihan tadi?” dokter bertanya lagi.

Jovi mengangguk. “Sempat kehilangan fokus. Sedikit. Tapi untung latihan tetap jalan lancar.”

Dokter menatap Raska lebih saksama. “Kamu sendiri ngerasa apa?”

Raska membuka mata. Tatapannya kosong sesaat.

“Gak tahu,” katanya jujur. “Cuma… dari pagi kayak ada yang narik-narik dari dalam. Gelisah.”

Ia menelan ludah.

“Saya terus kepikiran… orang yang saya cintai.”

Jovi terdiam. Dokter ikut terdiam.

Dokter menghela napas pelan, lalu menyuntikkan obat pereda nyeri.

“Ini harusnya membantu,” katanya.

Namun menit berlalu.

Lima.

Sepuluh.

Raska masih menggigit bibir. Nyeri itu tidak pergi.

Sebaliknya, semakin menekan.

 

Di ruang bersalin, Elvara menahan teriakan. Tangannya mencengkeram seprai putih hingga ruas jarinya memutih.

“Aku bisa… aku bisa…” gumamnya lirih, entah ditujukan pada siapa.

Tubuhnya bergetar hebat. Lampu putih di atas kepalanya terasa terlalu terang, bau antiseptik menusuk hidung. Monitor di samping ranjang berdetak teratur, berlawanan dengan napas Elvara yang tersengal.

“Good… breathe… now push,” suara dokter terdengar tegas namun terkontrol, dengan aksen Eropa yang kental.

Seorang bidan memberi isyarat pelan, tangannya terangkat, mengatur ritme napas.

“Slowly. You’re doing well.”

Di sisi ranjang, Elda menggenggam tangan putrinya erat-erat.

“Dorong, Ra, kamu bisa,” ujarnya, suaranya bergetar tapi tegar.

Elvara mengangguk lemah. Air mata mengalir tanpa ia sadari.

"Aaahhh...."

Ia mengejan, mengumpulkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, seolah seluruh hidupnya bertumpu pada detik itu.

 

Di klinik barak, Raska tiba-tiba melengkungkan tubuh. Tangannya menekan perut, napasnya tercekik.

“Ras!” Jovi refleks menahan bahunya.

Dokter jaga langsung mendekat. Gerakannya cepat, efisien. “Nyeri meningkat?” tanyanya singkat.

Raska mengangguk. Rahangnya mengeras, giginya mengatup menahan erang.

“Pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya?” suara dokter datar, profesional.

Raska menggeleng.

Dokter menatap monitor, lalu wajah Raska yang mulai pucat, kemudian beralih ke Jovi.

“Ada peristiwa emosional besar akhir-akhir ini?” tanyanya.

Jovi terdiam sesaat. Lalu menjawab pelan, “Tidak ada, Dok.”

Dokter tak langsung percaya. Ia kembali menatap Raska. “Kamu sudah menikah?” tanyanya tiba-tiba.

DEG.

Jantung Raska seperti dipukul keras.

“Atau pernah memiliki keterikatan emosional yang intens,” lanjut dokter tanpa basa-basi. “Hubungan yang melibatkan kedekatan fisik.”

Raska terdiam. Napasnya tertahan di dada.

Dokter menghela napas pendek. “Saya menduga ini sindrom,” katanya.

Raska mengangkat wajah, keringat dingin membasahi pelipis.

“S-sindrom?”

...🔸🔸🔸...

...“Takdir tidak selalu mempertemukan dua hati....

...Kadang, ia hanya perlu satu jiwa kecil…...

...untuk memaksa mereka saling menemukan kembali.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
anonim
Elda tidur nyenyak menjelang subuh. Saking lelap tidurnya Elda tidak mendengar kalau Elvara dan Raska pulang.

Elvara tidur sebentar tapi nyenyak, hangat dalam dekapan Raska

Suamimu memang tampan Elvara. Elvara ketahuan memandang suami yang ternyata pura-pura masih tidur.

Elvara mulai nyaman dengan Raska.

Ciuman pagi yang tidak terencana, berhenti takut kebablasan 😁.
abimasta
hufff ikut tegang
Eem Suhaemi
semoga selalu bahagia. plong dech. seru..👍👍
tse
semoga kalina hidup bahgia setelah kesalapahaman ini, dan ambil hikmahnya dari kesalapahaman ini kalian bisa menjadi mandiri yang tangguh, kokoh, dan bisa membaca situasi tanpa harus tergesa2 dalam bertindak... kalian bisa menciptakan kembali kenagan indah bersama Rava.
Sri Hendrayani
mau donk mommy pakek lagi cincinnya
Anitha Ramto
Bu Elda belum tahu kalo Raska dan Elvara sudah pulang,dan mereka sekarang sedang bermesraan melepas rindu enam tahun...
Asih Prawawati
Pelan tapi pasti ya Rasss ...

Semangat Kak Naa..
Tiara Bella
adegan romantis blm ada gangguan ini bocilnya blm bangun tidur....🤭😍
Endang Sulistiyowati
Elvara ketagihan nih berada di pelukan suaminya. Berdamai lebij enak kan, siapa tau juga bisa menyembuhkan luka yang pernah ada.
Cicih Sophiana
bunga terkirim untuk kak Nana dan Elvara 🌹😍🌹
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang Raska dan Elvara baru mulai mendekatkan hati mereka kembali dan dimulai dengan Raska yang akan memakaikan cincin pernikahan mereka dahulu yang selalu Raska pakai sebagai bandul kalungnya
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Elda juga belum menyadari kalo anak dan menantunya sudah ada di kamar mereka yah,,,
love_me🧡
benda bulat keras menggantung di bawah kaos tipis, ya Allah maafkan saya thor otak saya traveling ternyata cincin 🤭🤣🤣🤣
🌠Naπa Kiarra🍁: Wkwkwk
Tenang, Kak. Cincin doang. Yang lain cuma lewat di pikiran 🙏😂
total 1 replies
Sugiharti Rusli
ternyata si Rava pun juga baru bisa terlelap saat sudah menjelang subuh yah, jadi sampai sekarang pun belum terbangun dan mencari keberadaan kedua ortunya,,,
anonim
Raska jangan cemburu sama Adrian. Adrian sudah tahu posisinya di mana, tak bakalan merebut Elvara. Elvara pun sudah tahu batasnya.

Sampai di rumah setelah pada mandi, Elvara mengobati luka Raska.

Tidur seranjang - berbincang kenyataan yang ada.

Elvara masih belum siap untuk menunaikan kewajibannya sebagai istri. Ya sudah - nikmati pelukan Raska dulu Vara.
love_me🧡
sabar ras sabar nanti kalau Vara sudah siap tanganmu bisa mengembara berarti 😀😀
Lilik Juhariah
laki laki dingin , penuh strategi, kl sama anak buah gak masalah Pak Kapten , jangan sama istrinya ya , GK bayangin kl rumah tangganya siap , grak🤣
Dek Sri
ayo elvara terima lagi cincinnya
vj'z tri
tuh kan El ...mau cari model apa lagi raska dah komplit 🤭🤭🤭🤭
Fadillah Ahmad
Lanjutkan kak Nana... 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya kak 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!