NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Hai, Sayang." Sapa Aurora ramah.

Arjuna mengerjapkan kedua matanya, saat penglihatannya sudah jelas dia baru bisa melihat wajah Aurora yang berjarak tidak terlalu jauh darinya.

"Baru pulang?"

Aurora mengangguk. "Kenapa tidur di sini? Kalian bisa kedinginan."

Arjuna menoleh ke arah Riven. "Dia tidak mau di ajak ke kamar."

Suara kekehan halus terdengar dari mulut Aurora, dia berdiri lalu mendekat ke arah Riven dan mengangkat anak itu ke dalam gendongannya.

Riven menggeliat pelan dan kembali terlelap, setelahnya Aurora mengulurkan tangan pada Arjuna. "Ayo, Mommy gendong ke kamar."

"Tida us–"

Ucapan Arjuna terhenti kala Aurora langsung mengangkat anak itu ke dalam gendongannya, meski membawa dua anak Aurora sama sekali tidak terlihat kesusahan.

Aurora melangkah pelan menaiki tangga menuju lorong menuju kamar anak-anaknya. Lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan lembut yang mengikuti setiap langkahnya. Riven terlelap di sisi kiri, kepalanya bersandar di bahu Aurora, napasnya teratur. Arjuna di sisi kanan, awalnya tubuh anak itu terasa kaku dan tidak nyaman tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terlalu dekat dengan Aurora.

Aurora jelas merasakannya. Namun dia tak mau berkomentar apa pun, dia paham jika Arjuna masih sulit menerima dirinya.

Tanpa berkata apa-apa, dia menyesuaikan gendongannya agar lebih nyaman, gerakannya stabil dan pasti. Tubuhnya terasa hangat ketika mendekap kedua anaknya, perasaan asing yang baru pertama kali Aurora rasakan.

"Apa aku berat?" tanya Arjuna pelan, nadanya defensif seolah siap menolak jika Aurora mengiyakan.

"Tidak," jawab Aurora singkat. Jujur. "Kau sangat ringan, seperti kapas."

Arjuna mendengus kecil. "Boong."

Aurora tidak tersenyum lebar, hanya sudut bibirnya yang terangkat tipis. "Aku tidak punya alasan untuk berbohong soal itu."

Mereka tiba di depan kamar. Aurora mendorong pintu dengan bahunya, lalu melangkah masuk. Kamar itu rapi, sederhana, dengan seprai berwarna netral dan lampu tidur kecil di sudut ruangan. Aroma sabun bayi masih tertinggal di udara.

Aurora menurunkan Riven lebih dulu. Dia membaringkan anak itu dengan hati-hati, menyelimuti tubuh kecilnya, lalu menyelipkan boneka di sisi bantal. Riven bergerak sedikit, bergumam tak jelas, namun kembali tenang.

Aurora beralih pada Arjuna. Anak itu masih berada dalam gendongannya, menatap langit-langit kamar dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Aku bisa turun sendiri," katanya cepat, seolah merasa harga dirinya terancam.

"Aku tahu," jawab Aurora. "Tapi aku belum selesai denganmu."

Arjuna terdiam.

Aurora membaringkannya di ranjang sebelah Riven. Dia menarik selimut hingga dada Arjuna, lalu merapikannya. Gerakannya efisien, tidak berlebihan, namun penuh perhatian. Tidak ada pelukan, tidak ada kata manis yang dipaksakan.

Justru itu yang membuat Arjuna menatapnya lama.

"Mommy capek?" tanyanya tiba-tiba.

Aurora berhenti sejenak. Pertanyaan itu sederhana, tapi datang dari arah yang tak terduga. Dia menatap Arjuna, lalu mengangguk sekali. "Iya."

"Kenapa masih pulang malam?"

"Karena ada hal yang harus Mommy selesaikan."

"Hal penting?"

"Penting," jawab Aurora tegas.

Arjuna memalingkan wajahnya. "Lebih penting dari kami?"

Hening.

Aurora tidak langsung menjawab. Dia duduk di tepi ranjang, posisinya sejajar dengan Arjuna. Tatapannya lurus, menatap anak itu.

"Tidak," katanya akhirnya. "Justru karena kalian ini menjadi penting."

Arjuna menoleh kembali. Alisnya berkerut, seolah mencoba memahami kalimat itu.

Aurora melanjutkan. "Kalau Mommy tidak melakukan itu, akan ada banyak hal yang menyakiti kalian di masa depan. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Arjuna menggigit bibirnya. Ada konflik di matanya antara ingin percaya dan takut kecewa.

Aurora berdiri. "Tidurla. Besok kita bicara lagi."

Dia berbalik hendak keluar, namun langkahnya terhenti ketika Arjuna berkata pelan, nyaris tak terdengar, "Mommy…"

Aurora menoleh.

"Terima kasih… sudah pulang."

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari apa pun yang Aurora hadapi hari ini.

Aurora mengangguk satu kali. "Selamat tidur, Jun."

Dia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Pintu kamar ditutup perlahan hingga hanya tersisa celah kecil.

Di lorong, Aurora berdiri beberapa detik lebih lama dari yang dia rencanakan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, lalu mengendur.

Malam itu, Aurora kembali ke kamarnya dengan langkah tenang. Di balik ketegasan dan rencana-rencana besar yang menantinya esok hari, ada sesuatu yang diam-diam berubah.

Perang di luar akan dia hadapi tanpa ragu.

Namun di dalam rumah ini dia akan belajar bertahan dengan cara yang berbeda untuk anak-anaknya.

***

"Dari mana, Calix?"

Suara bariton menggema di dalam rumah mewah bernuansa modern, dari arah ruang tamu terlihat sosok pria berusia tiga puluhan yang sedang duduk sembari memegang tablet.

Calix menoleh, dia mendengus sebal saat matanya bertatapan dengan pria itu. "Bukan urusan, Kakak."

"Katakan," pria itu meletakan tabletnya ke atas meja. "Apa kau baru saja berkelahi?"

"Sudah aku katakan itu bukan urusan Kakak!"

Pria bernama Aldric Salvatore berdiri dari duduknya. Tubuhnya tinggi, bahunya bidang, dan sorot matanya tajam tipe pria yang terbiasa memberi perintah dan dituruti. Dia melangkah mendekati Calix dengan langkah tenang, namun aura tekanannya membuat udara di sekitar terasa berat.

"Aku bertanya bukan untuk ikut campur," kata Aldric dingin. "Aku bertanya karena wajahmu bengkak dan bibirmu pecah. Itu cukup jelas."

Calix membuang pandangannya. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Aku masih hidup. Itu saja sudah cukup."

Aldric berhenti tepat di depan adiknya. Dia menunduk sedikit, menatap wajah Calix dengan saksama. Lebam di mata, luka di sudut bibir, dan goresan di pelipis. Rahangnya mengeras.

"Siapa?" tanyanya singkat.

"Tidak ada," jawab Calix cepat. "Aku jatuh."

Aldric terkekeh kecil, tanpa humor. "Kau jatuh empat kali di wajah dan sekali di rusuk?"

Calix terdiam.

Hening menekan ruangan. Lampu gantung memantulkan cahaya putih dingin ke lantai marmer. Jam dinding berdetak pelan, seolah menghitung kesabaran Aldric yang menipis.

"Aku sudah bilang berkali-kali," ucap Aldric akhirnya, suaranya rendah namun mengandung peringatan. "Jangan cari masalah di luar."

"Aku tidak mencarinya!" Calix membalas, emosinya naik. "Masalah yang selalu mencariku."

Aldric menghela napas pelan. Dia mengangkat tangan, menahan ucapan Calix sebelum meluncur lebih jauh. "Masuk ke ruang medis. Bersihkan lukamu."

"Aku bisa sendiri."

"Aku tidak bertanya bisa atau tidak." Tatapan Aldric mengeras. "Lakukan."

Calix menatap kakaknya beberapa detik, lalu berbalik dengan langkah kasar menuju lorong. Namun baru beberapa langkah, suaranya terdengar lagi lebih pelan dan tertekan.

"Aku tidak minta di kasihani."

Aldric memejamkan mata sesaat. "Aku tahu."

Calix berhenti, menoleh setengah. "Lalu kenapa Kakak selalu bertingkah seolah aku anak kecil?"

Aldric membuka mata. Ada sesuatu yang berkilat cepat di sana bukan marah. Melainkan kekhawatiran yang disembunyikan rapat.

"Karena kau tidak perlu membuktikan apa pun dengan cara itu," jawabnya. "Dan karena dunia di luar sana tidak punya belas kasihan pada siapa pun termasuk dirimu."

Calix tertawa kecil, getir. "Aku sudah tahu sejak lama. Kakak memang terlalu meremehkanku."

Dia melanjutkan langkahnya dan menghilang di ujung lorong.

Aldric kembali duduk, namun tablet di depannya kini tak lagi menarik perhatiannya. Pikirannya tertinggal pada adiknya dan pada cerita yang jelas tidak diceritakan.

Beberapa menit kemudian, pelayan rumah datang membawa kotak P3K.

"Panggilkan bodyguard dan suruh siapkan mobil," kata Aldric tanpa menoleh.

"Baik, Tuan."

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!