Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Hubungan Yang Berbeda
Lokasi syuting kembali hidup sejak pagi. Lampu-lampu dipasang, kamera disiapkan, kru berlalu-lalang dengan headset dan clipboard. Namun bagi Nathan dan Nabila, suasananya terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ada sesuatu yang tak kasatmata mengalir di antara mereka, tegangan halus, rahasia yang hanya mereka berdua pahami.
Adegan pertama hari itu sederhana. Dialog ringan di sebuah kafe set lokasi. Nabila duduk di hadapan Nathan, sesuai naskah. Tapi saat kamera belum menyala, Nathan sedikit mencondongkan tubuh, suaranya direndahkan.
“Kau kelihatan kurang tidur,” bisiknya, seolah hanya membahas adegan.
Nabila menahan senyum. “Salah siapa?” balasnya cepat, matanya berkilat nakal.
Asisten sutradara memberi aba-aba. Kamera berputar. Dalam adegan, Nathan harus menyodorkan cangkir kopi. Tangannya sengaja menyentuh ujung jari Nabila sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Sentuhan singkat itu membuat Nabila hampir lupa dialognya, tapi dia menutupinya dengan senyum manis sesuai karakter.
"Cut! Ulang!"
Kali ini Nabila yang membalas. Saat berdiri untuk pergantian blocking, dia pura-pura tersandung ringan, tangannya mencengkeram lengan Nathan agar seimbang. Jari-jarinya menekan pelan, seolah berkata lebih banyak daripada kata apa pun.
Nathan menahan napas. “Hati-hati,” katanya keras, untuk semua orang, namun matanya mengatakan hal lain.
Di sela pengambilan gambar, mereka terus menemukan cara-cara kecil untuk saling mendekat. Sebuah bisikan saat kru sibuk mengatur properti. Sebuah senyum yang hanya muncul saat lawan mainnya menoleh. Bahkan jarak duduk yang dibuat sedikit lebih dekat dari tanda di lantai.
Tak ada yang curiga. Mereka profesional. Terlalu rapi untuk dicurigai. Namun di sudut lain lokasi, suasana berbeda terasa di antara Indy dan Zidan.
Indy datang dengan wajah dingin. Ia menolak kontak mata, menjawab seperlunya, lalu sibuk dengan ponsel atau naskah. Setiap kali Zidan berada dalam radius dekat, Indy secara refleks menjauh setengah langkah.
Indy berdiri beberapa meter dari monitor, tablet di tangan, mencatat jadwal dan memastikan alur produksi berjalan tepat waktu. Wajahnya terlihat datar, tapi matanya lelah. Sejak pagi, dia menghindari satu orang, yaitu Zidan.
Zidan, sebagai manajer Nathan, berdiri di sisi lain lokasi, berbincang dengan produser. Namun pandangannya beberapa kali melayang ke arah Indy. Setiap kali mata mereka hampir bertemu, Indy langsung memalingkan wajah.
Hubungan mereka berubah drastis sejak pagi itu. Dalam satu momen, mereka terpaksa berdiri berdekatan untuk membahas perubahan jadwal mendadak.
“Kita geser adegan Nathan ke sore,” kata Zidan, nada suaranya dibuat profesional.
“Terserah,” jawab Indy singkat tanpa menatapnya. “Asal tidak bentrok dengan jadwal wawancara.”
Zidan terdiam sejenak. “Indy… soal kemarin—”
“Tidak ada ‘soal kemarin’,” potong Indy cepat. “Kita profesional. Itu saja.”
Kalimat itu seperti dinding dingin yang sengaja ia bangun. Indy fokus pada pekerjaannya, seolah kejadian semalam tidak pernah ada. Namun justru sikap itulah yang membuat Zidan merasa dadanya sesak.
Karena berbeda dengan Indy, Zidan tidak bisa berpura-pura lupa. Sejak pagi, dia menyadari hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan. Cara Indy mengikat rambut saat stres. Kebiasaan menggigit ujung pulpen ketika berpikir. Bahkan nada dingin Indy sekarang terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. Ia merasa bersalah dan anehnya, merasa ingin lebih dekat.
Di sisi lain lokasi, syuting berjalan lancar. Nathan menyelesaikan satu adegan berat. Saat kamera dimatikan, Nabila mendekat seolah ingin membahas dialog.
“Terima kasih,” katanya pelan. “Kau membuat adegan itu terasa nyata.”
Nathan mencondongkan tubuh sedikit. “Karena sebagian memang nyata.”
Nabila menahan napas. “Hati-hati. Banyak mata.”
“Justru itu,” jawab Nathan. “Adrenalin.”
Mereka saling bertukar senyum singkat, cukup cepat untuk luput dari pengamatan siapa pun, namun cukup dalam untuk saling menguatkan.
Indy memperhatikan dari jauh. Nalurinya sebagai manajer tajam. Ada yang berubah. Ada jarak yang terlalu dekat, ada tatapan yang terlalu lama. Namun hari ini, dia tidak punya tenaga untuk mencurigai apa pun. Pikirannya masih penuh dengan satu kesalahan yang ingin dirinya kubur rapat-rapat.
Zidan melangkah mendekat, ragu-ragu. “Hei, mengenai kesalahan kemarin. Aku..."
"Stop! Aku nggak mau bicarakan tentang itu. Selama nggak ada apapun yang terjadi, kita anggap semua itu nggak pernah terjadi. Oke?" sahut Indy, lalu beranjak pergi begitu saja.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti