Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Pangeran di Angkot 04
Siang itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seolah ingin memanggang aspal sampai meleleh.
Adrian dan Rania berdiri di trotoar depan RS Citra Harapan. Adrian masih memakai kemeja putih mahalnya (yang kini lengannya digulung sampai siku) dan celana bahan yang potongannya sempurna. Bedanya, di tangannya tidak ada kunci mobil sport, dan di saku belakangnya tidak ada dompet tebal.
"Jadi," Adrian memecah keheningan sambil menyipitkan mata menahan silau. "Apa prosedur selanjutnya untuk menjadi warga sipil biasa?"
Rania menahan tawa melihat Adrian yang tampak seperti model majalah yang tersesat di Pasar Senen. "Prosedur pertama: Transportasi. Lo mau ke mana sekarang?"
"Saya harus cari tempat tinggal. Apartemen saya pasti kuncinya sudah diganti aksesnya oleh asisten Papa. Saya butuh tempat yang... strategis, higienis, dan ekonomis."
"Oke. Ada kosan kosong di sebelah kamarnya Kevin. Jaraknya cuma 10 menit dari RS. Harganya 800 ribu per bulan. Mau?"
Mata Adrian membelat. "800 ribu? Dolar?"
"Rupiah, Pangeran. Rupiah."
Adrian terdiam, menghitung dalam kepalanya. "Itu... lebih murah dari biaya laundry jas saya sekali cuci. Apakah bangunannya aman? Ada atapnya?"
"Ada. Cuma kadang airnya mati kalau jam sibuk. Ayo, kita ke sana." Rania melambaikan tangan ke jalan raya. "Kita naik Angkot 04."
Sebuah mobil angkutan kota berwarna biru telur asin yang penyok-penyok menepi dengan agresif. Asap knalpot hitam mengepul. Musik house music jedag-jedug terdengar dari dalam.
"Naik," perintah Rania.
Adrian menatap angkot itu dengan horor. "Ini... kendaraan operasionalnya? Pintunya tidak ditutup? Sabuk pengamannya mana?"
"Masuk aja, Ad! Keburu diklaksonin orang!" Rania mendorong punggung Adrian.
Adrian terpaksa masuk dengan canggung. Dia duduk di bangku panjang yang kulitnya sudah sobek di sana-sini, memperlihatkan busa kuning. Di depannya duduk seorang ibu-ibu membawa keranjang sayur, dan di sampingnya ada anak sekolah yang sedang makan cilok.
"Geser dikit, Bang!" teriak sopir angkot sambil tancap gas.
Tubuh Adrian terhuyung ke belakang. Dia refleks berpegangan pada besi di langit-langit angkot yang terasa lengket.
"Rania," bisik Adrian panik. "Sopirnya menyetir seperti sedang dikejar polisi. Ini melanggar batas kecepatan!"
"Nikmatin aja sensasinya, Ad. Angin sepoi-sepoi campur debu," Rania tertawa, terlihat sangat menikmati penderitaan Adrian.
Sepanjang perjalanan 10 menit itu, Adrian mengalami culture shock hebat. Dia belajar kosa kata baru: "Kiri Bang" (untuk berhenti), "Operan" (pindah mobil), dan "Ngetem" (menunggu penumpang sampai penuh).
Ketika mereka akhirnya turun (Adrian hampir jatuh karena angkotnya belum berhenti sempurna), wajah Adrian pucat pasi. Rambutnya berantakan tertiup angin.
"Saya... mual," keluh Adrian. "Gaya sentrifugal di tikungan tadi setara dengan roller coaster."
"Selamat datang di dunia nyata," Rania menepuk punggung Adrian. "Nah, itu kosannya."
Kosan Pak Haji Mamat.
Bangunan dua lantai bercat kuning itu tidak seburuk bayangan Adrian. Ada pohon mangga di halaman, dan motor-motor parkir berjejer.
Rania memanggil Pak Haji Mamat. Setelah negosiasi singkat (Rania yang meminjamkan uang sewanya dulu karena Adrian benar-benar nol rupiah tunai saat ini), Adrian mendapatkan kunci kamar nomor 3B.
Kamar itu ukurannya 3x4 meter. Ada kasur springbed single, lemari kayu jati tua, dan... yang paling penting bagi Adrian: kamar mandi dalam.
Adrian berdiri di tengah kamar, memindai sekeliling.
"Gimana?" tanya Rania cemas. "Bisa bertahan hidup di sini?"
Adrian berjalan ke kamar mandi. Dia menyalakan keran. Airnya mengalir, meski agak kecil. Dia melihat gayung plastik warna pink di ember.
"Tidak ada water heater," gumam Adrian. "Dan klosetnya jongkok."
"Ya iyalah! Emang lo mau jongkok di mana lagi? Di wastafel?"
Adrian keluar dari kamar mandi, menghela napas, lalu duduk di tepi kasur. Dia menatap Rania.
"Ini... downgrade yang signifikan, Rania. Sangat signifikan."
Rania merasa bersalah. "Sori ya, Ad. Kalau lo nggak nyaman, mungkin kita bisa cari pinjeman buat hotel murah..."
"Tidak," potong Adrian cepat. Dia menepuk kasur itu. "Ini cukup. Saya akan bertahan. Saya sudah berjanji pada Papa—dan pada kamu—bahwa saya bisa hidup sendiri."
Adrian mulai menggulung lengan kemejanya lagi. "Lagipula, saya punya misi baru di sini."
"Misi apa?"
"Mengubah kamar ini menjadi steril. Rania, ayo ke minimarket. Saya butuh pemutih lantai, disinfektan, kapur barus, dan sikat kamar mandi. Pinjami saya 100 ribu."
Rania melongo. "Lo baru aja jatuh miskin dan hal pertama yang lo pikirin adalah beli pemutih lantai?"
"Kebersihan adalah sebagian dari iman, dan sebagian dari kewarasan saya. Ayo."
Malam harinya.
Kamar 3B sudah berubah. Lantainya mengkilap dan berbau karbol menyengat. Sprei kasur (yang untungnya Adrian temukan yang polos di lemari) sudah dipasang rapi tanpa kerutan sedikit pun.
Adrian dan Rania duduk di teras depan kamar, di lantai 2. Mereka makan Nasi Goreng Tek-Tek yang lewat.
Adrian makan dengan lahap, menyuap nasi goreng pedas itu dengan sendok plastik. Keringat bercucuran di pelipisnya karena sambal dan udara malam yang gerah tanpa AC.
"Pedes?" tanya Rania, menyodorkan es teh manis dalam plastik (yang Adrian minum pakai sedotan dengan ragu-ragu).
"Pedes," desis Adrian, wajahnya merah. "Tapi enak. MSG-nya menembus sawar darah otak."
Rania tertawa. Dia menatap langit malam Jakarta yang (tumben) ada sedikit bintang.
"Lo nyesel nggak, Ad?" tanya Rania tiba-tiba, nadanya serius.
Adrian meletakkan piringnya. Dia menyeka mulutnya dengan tisu.
"Nyesel soal apa? Kehilangan mobil? Kehilangan kartu kredit tanpa batas?"
"Kehilangan semuanya. Hidup lo yang nyaman."
Adrian menoleh menatap Rania. Di bawah lampu teras yang remang-remang, mata cokelat pria itu terlihat tenang.
"Jujur? Mandi pakai gayung tadi sore adalah pengalaman yang... traumatis," aku Adrian, membuat Rania terkekeh. "Dan kasur ini keras, punggung saya pasti sakit besok."
"Tapi," lanjut Adrian, suaranya melembut. "Malam ini, makan nasi goreng sepuluh ribuan di teras sempit ini... rasanya lebih tenang daripada makan steak jutaan rupiah sama Papa tapi harus dengar dia merendahkan orang lain."
Adrian menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke Rania.
"Saya baru sadar, Rania. Kemewahan itu memabukkan, tapi juga mengekang. Sekarang saya nggak punya apa-apa, tapi saya merasa... saya punya kendali penuh atas hidup saya. Dan saya punya teman yang mau minjemin duit buat beli karbol."
Rania tersenyum haru. "Inget ya, bunganya 10 persen per hari. Lo ngutang ke rentenir UGD."
"Siap, Bu Dokter."
Tiba-tiba, pintu kamar sebelah (3A) terbuka.
Kevin keluar hanya pakai celana kolor dan kaos oblong sobek, membawa handuk.
"Lho? Dokter Adrian? Dokter Rania?" Kevin kaget setengah mati melihat dua seniornya mojok di teras. "Lagi ngapain di sini? Sidak kosan?"
"Saya tetangga baru kamu, Kevin," kata Adrian santai.
Rahang Kevin jatuh. "Hah? Dokter Adrian ngekos di sini? Di kosan Pak Mamat?"
"Iya. Dan mulai besok, kamu berangkat bareng saya. Jalan kaki. Biar lemak perut kamu terbakar," titah Adrian.
Kevin lemas. "Yah... kirain bakal ditebengin mobil sport..."
Rania tertawa lepas melihat wajah putus asa Kevin.
Malam itu ditutup dengan tawa. Adrian Bratadikara mungkin kehilangan istananya, tapi dia menemukan sesuatu yang lebih berharga: rumah.
Dan di hati Rania, benteng pertahanan terakhir untuk tidak jatuh cinta pada "mantan" pangeran ini perlahan runtuh.
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
betewe ini cerita bagus napa masih sepi ya?
ceritanya bagus banget