NovelToon NovelToon
Pesona Gadis Malam

Pesona Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novia_dwi

Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.


Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.


Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.

Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.

Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

oleh-oleh

"Tidak tau?? ". Beo Ben dengan alis berkerut dalam.

" Lalu kenapa mengobrol? ". Tanya Ben lagi.

" Hanya membagi sedikit rezeki saja". Terang Zee menatap Ben sambil tersenyum.

"Memang apa yang kamu berikan? ". Tanya Ben penasaran.

" Makanan yang tidak kita sentuh tadi. Aku minta penjualnya buat bungkus makanannya.. aku tambah nasi beberapa. Hehe.. maaf ya pak Ben, jadi nambah deh bayarnya". Meminta maaf karena tidak izin lebih dulu pada yang membayar.

"Kenapa tidak dipesankan yang baru. Tadi kenapa nggak bilang? ". Zee tersenyum.

" Mubadzir pak Ben.. kan tadi ikan sama cumi nya juga sama sekali nggak kita sentuh. Itu bukan bekas.. masih layak bahkan sangat layak untuk diberikan". Jelas Zee panjang lebar.

"Jadi itu alasannya tadi hanya memakan lauk yang sama seperti ku? ". Batin Ben yang mulai paham mengapa Zee makan dengan lauk yang sama seperti dirinya. Rupanya ia sudah memiliki niat itu saat melihat banyak makanan yang Ben pesan.

" Tidak masalah. Harusnya tadi kamu bilang ke saya, jadi bisa kita tambah lagi". Keduanya melanjutkan langkah menuju hotel.

"Segitu saja mereka sudah sangat bahagia dan bersyukur.. "

"Makanya saya bilang juga ke bapak tadi, lain kali kalau pesan makanan jangan berlebihan. Secukupnya kita makan saja.. " Kembali menasehati Ben yang hanya menghela nafas panjang.

"Sudah.. jangan ngomel lagi. Kamu dari tadi ngomelin saya terus". Zee yang baru sadar tersenyum kaku menatap Ben. Ia jadi merasa sungkan.

...☘️☘️☘️☘️...

Selama di pantai, Sasa selalu menempel pada Zee. Kemanapun Zee pergi, Sasa selalu mengikuti dirinya.

Esok mereka sudah akan kembali ke kota mereka. Hari ini Leon membebaskan semua karyawannya mau melakukan apa.

Zee duduk di tepi pantai ditemani sebuah kelapa muda yang sangat menyegarkan. Ia tengah menunggui Maya dan Sasa bermain air.

Sejak tadi ia dipaksa ikut, tapi ia sedang malas saja untuk bermain air. Berulang kali Zee mengambil gambar Maya dan Sasa dengan berbagai pose.

Ia tersenyum saat melihat kembali hasil jepretan nya. Ini akan menjadi kenang-kenangan yang indah nantinya.

" Boleh aku duduk disini Zee? ". Meidina tiba-tiba sudah berdiri disamping Zee yang tengah duduk beralaskan tikar.

" Boleh bu.. silahkan.. " Sahut Zee ramah.

Keduanya kembali terdiam. Namun fokus tatapan mereka adalah obyek yang sama, yaitu Sasa yang terlihat tertawa lepas.

"MAMAAA.. " Teriak Sasa sambil melambaikan tangannya pada Mei.

"Bagaimana kamu bisa mendekati nya Zee? ". Zee langsung menoleh pada Meidina. Otaknya belum bisa mencerna kemana arah bicara Mei saat ini.

" Maaf bu? ".

" Sasa.. ". Mei menatap Zee yang juga tengah menatap dirinya.

" Saya selalu kesulitan mendekati dan memberinya pengertian Zee.. "

"Tapi sejak bertemu denganmu, dia banyak berubah. Aku bahkan seperti tidak mengenali anakku sendiri". Mei bercerita pada Zee, namun matanya tetap fokus pada Sasa.

" Dia hanya kesepian bu.. kenakalan Sasa hanya untuk menarik perhatian ibu dan suami ibu". Zee ikut menatap Sasa. Tidak sulit melunakkan Sasa karena Sasa adalah gambaran dirinya saat kecil.

"Sasa adalah saya waktu kecil bu Mei. Tidak sulit menebak isi hatinya karena dulu saya juga merasakan apa yang dirasakan Sasa.. " Kini Mei menatap Zee.

"Mama dan papa saya juga selalu sibuk, sama seperti ibu dan suami ibu sekarang ini" Tatapan Zee menerawang jauh. Mengingat kembali kenangan nya bersama kedua orang tuanya.

"Saya merasa kesepian, seperti sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan kehadirannya".

" Tapi itu tidak benar Zee. Tidak seperti itu.. " Sela Mei tidak terima. Membuat Zee terkekeh pelan.

"Iya.. saya tau bu. Tapi saya baru memahaminya saat saya sudah dewasa, bukan saat saya masih kecil". Mei terdiam mendengar kata-kata Zee.

" Karena anak kecil tidak akan terpikir sejauh orang dewasa berpikir bu. Mereka hanya berpikir jika orang tuanya tidak memperhatikan, itu berarti dirinya tidak penting bagi orang tuanya. Itu yang dulu saya rasakan.. "

"Mungkin juga Sasa.. " Mei kembali menatap putri semata wayangnya. Semua yang Zee ucapkan benar adanya

"Bukan saya merasa lebih pintar lebih bijak atau apapun itu. "

"Kalau boleh saya memberikan saran.. setidaknya coba luangkan waktu ibu sedikit untuk bermain bersama Sasa. Dia lebih baik dari saya dulu, dia jauh lebih pengertian dibanding anak seusianya bu.. " Zee kembali tersenyum saat Sasa melambaikan tangan padanya.

"Ya.. mungkin aku harus mencoba saranmu itu Zee". Mei tersenyum menatap Zee. Sepertinya bukan hal buruk mencoba saran Zee, tidak ada salahnya di coba.

" Dan berhentilah memanggilku ibu Zee. Aku merasa sangat tua". Omel Meidina pada Zee yang justru tertawa pelan.

∆∆∆∆∆

Zee memilih beberapa makanan khas untuk dijadikan oleh-oleh. Ia juga sudah membelikan beberapa pakaian untuk diberikan pada emak.

Zee membeli cukup banyak oleh-oleh. Ia akan meminta emak untuk memberikan sebagian pada bu Haji yang selalu baik padanya dan emak.

Siang ini mereka akan pulang ke kotanya. Maka dari itu Zee menyempatkan diri mencari oleh-oleh.

Jangan lupakan Maya dan Sasa yang sudah seperti ekor Zee. Mereka tak lelah mengikuti Zee kemanapun.

"Kamu nggak beli apa-apa May? ". Tanya Zee saat Maya tak membawa apapun.

" Mau dikasih siapa juga lagian Zee.. " Sahut Maya acuh. Ia tak memiliki teman dekat selain Zee, tak ada yang mau berteman dengan dirinya apalagi tetangga kost nya.

mereka selalu memandang jijik pada Maya karena sikap dan perilaku Maya yang seperti perempuan

"Beli aja May. Nanti kasih ke aku.. " Seloroh Zee menghibur Maya. Ia tahu Maya sedih jika membicarakan hal itu.

"Eh dasar nggak waras". Maki Maya bercanda membuat keduanya tertawa lepas.

" Kak Zee.. aku mau ini". Seru Sasa menunjuk sebuah topi pantai berwarna pink. Sasa tak pernah sungkan meminta sesuatu dari Zee, karena Zee juga selalu memberikan selagi mampu.

"Ambil aja Sa.. bawa sini biar kakak bayar" . Seru Zee membuat Sasa memekik kegirangan. Hal sederhana yang membuat Sasa selalu betah dan sayang pada Zee.

Zee berdiri di depan kasir dengan semua belanjaannya. Kasir sedang menghitung jumlah belanjaannya.

"Totalnya 954.000 ya kak.. " Zee mengeluarkan kartu nya hendak membayar. Namun seseorang lebih dulu menyerahkan sebuah kartu.

"Pakai ini saja.. " Zee langsung menoleh saat mengenali suara itu.

"Pak Ben.. " Seru Zee.

"Jangan pak.. saya bayar sendiri saja". Sang kasir masih belum menggesek kartu milik Ben. Ia masih menunggu keputusan dari dua orang didepannya.

" Disitu juga ada barang Sasa.. " Ucap Ben tenang.

"Tapi Sasa hanya mengambil topi saja pak.. " Kekeh Zee.

"Tetap saja ada barang keponakan saya". Ben tak Mau kalah.

Maya yang melihat jadi tersenyum sendiri, ia merasa ada benih-benih cinta yang tumbuh di antara dua orang yang tengah berdebat perihal bayar membayar itu.

" Ya sudah kalau begitu, bapak bayar milik Sasa. Dan saya akan membayar milik saya sendiri". Putus Zee

"Tidak bisa". Tegas Ben

" Pakai itu saja. Cepat ". Titah Ben mutlak membuat kasir akhirnya menggesek kartu yang disodorkan Ben.

" Pak Ben.. "

"Kamu ini berisik sekali sih.. " Zee menghela nafas kasar. Ia jadi merasa memiliki hutang pada Ben jika begini.

"Saya kan jadi punya hutang sama bapak kalau begini". Gerutu Zee dengan suara pelan.

" Saya tidak menganggap Ini hutang, Zee.. "Zee mendongak, menatap Ben yang baru saja menyebut namanya. Ini kali pertama Ben memanggil Zee dengan nama.

" Tapi.. "

"Kalau kamu menganggap ini hutang. Maka lain kali aku akan minta traktir makan sama kamu". Putus Ben pada Akhirnya. Zee keras kepala, itu yang Ben tahu sekarang.

Zee akhirnya pasrah saja belanjaannya dibayarkan oleh Ben. Ia bertekad suatu hari nanti akan membayar hutangnya pada Ben.

Maya sudah membawa Sasa pergi saat Zee dan Ben asyik berdebat. Topi yang tadi belum terbayar pun sudah menutupi kepala Sasa.

" Aku cantik nggak kak Maya? ". Tanya Sasa sambil berpose centil.

" Cantik.. "

"Tapi masih cantikan aku sih.. " Tukas Maya membuat Sasa mendengus kesal.

...¥¥¥°°°¥¥¥...

...Gas tipis-tipis deh ya readers, asupan pagi nya untuk yang setia baca kisah yang sepi ini😅🤣...

...Ayok pada mampir sini dilapak othor, kasih like komen ny juga tolong ya🫰🙏😍😍...

...Happy reading semua 🫰 saranghae readers kuuu💋💋💋 ❤❤❤🫰😘😍😍😘😍😍🤭😘😘😘❤🌹...

1
Astrid Fera
seru kok kak cuma Zee dbuat yg lbih tangguh lgi kak,,kyg pinter bela diri gtu kn tmbh seru nnti,,itu saran aku j SC kak😄😄tetap smngt kak💪💪
amma_iKiss: hihi.. tenang kak, pemeran perempuan di novel aku semua strong kok🤭 Btw makasih dukungannya ka😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!