NovelToon NovelToon
Dibalik Tirani Pernikahan

Dibalik Tirani Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Tukar Pasangan / Balas Dendam / Teen / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Rama dan Ayana dulunya adalah sahabat sejak kecil. Namun karena insiden kecelakaan yang menewaskan Kakaknya-Arsayd, membuat Rama pada saat itu memutuskan untuk membenci keluarga Ayana, karena kesalahpahaman.

Dalih membenci, rupanya Rama malah di jodohkan sang Ayah dengan Ayana sendiri.

Sering mendapat perlakuan buruk, bahkan tidak di akui, membuat Ayana harus menerima getirnya hidup, ketika sang buah hati lahir kedunia.

"Ibu... Dimana Ayah Zeva? Kenapa Zeva tidak pelnah beltemu Ayah?"

Zeva Arfana-bocah kecil berusia 3 tahun itu tidak pernah tahu siapa Ayah kandungnya sendiri. Bahkan, Rama selalu menunjukan sikap dinginya pada sang buah hati.

Ayana yang sudah lelah karena tahu suaminya secara terbuka menjalin hubungan dengan Mawar, justru memutuskan menerima tawaran Devan-untuk menjadi pacar sewaan Dokter tampan itu.

"Kamu berkhianat-aku juga bisa berkhianat, Mas! Jadi kita impas!"

Mampukah Ayana melewati prahara rumah tangganya? Atau dia dihadapkan pada pilihan sulit nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Siang itu, di Paviliun.

Ayana beristirahat, setelah tadi menyajikan menu makan siang bersama beberapa pelayan lainnya. Setelah terjadi sedikit drama di meja makan, dan seperti biasa Bu Anita selalu membuatnya kesusahan.

Wanita cantik itu berjalan menuju Paviliun sambil membawa nampan yang berisikan makan siang untuk Ibunya-Bu Ratih.

"Hai sayang, yuk kita makan siang sama Nek Uti sama-sama," kata Ayana pecah ketika memasuki ruangan itu dari samping.

Zeva menoleh. Ia bangkit meskipun agak tertatih.

"Pelan-pelan, Zeva! Kakinya 'kan masih sakit," tegur Bu Ratih.

Sementara Zeva, bocah kecil itu hanya tersenyum kuda, sudah tidak sabar melihat apa menu makanan yang dibawakan Ibunya saat ini.

"Kok nggak ada puding coklat lagi, Ibu? Zeva pingin makan puding coklat!" rengek Zeva.

"Iya, nanti Ibu buatkan setelah Zeva makan ya! Sekarang Zeva makan dulu yuk," kata Ayana memindahkan lauk serta sayur pada piring Ibunya dan sang Putra.

Dari arah pintu samping, tiba-tiba Bik Sumi datang.

"Non, maaf Bibi ganggu. Bibi masuk ya?!" ucap Bik Sumi sembari masuk kedalam.

"Iya, Bik... Masuk aja! Bibi sudah makan? Kalau belum, ayo kita makan bersama!" balas Ayana menoleh.

Bu Ratih juga ikut menimpali, "Iya, Bik Sumi ... Ayo kita makan sama-sama!"

"Sudah, terimakasih Bu Ratih. Saya juga baru saja makan, kok!" kata Bik Sumi sebelum duduk. "Eh Non, itu... Non di panggil Bu Anita! Katanya mau di suruh beli makanan di Resto. Soalnya Non Milya lagi nggak cocok sama masakan kita."

Ayana bedecak, "Ck! Merepotkan saja sih! Kenapa nggak dia aja yang pergi sih, Mbok? Padahal masakan kita siang ini juga enak."

Bik Sumi menyetujui cercaan Nona mudanya itu. "Benar, Non! Kalau di rumah rewelnya melebihi keponakannya sendiri! Bibi malah suka kalau Non Milya pergi sekolah."

"Ya sudah, Bik... Aya ke sana dulu! Aya titip Zeva sama Ibu, ya?" lalu Ayana menatap Putranya, "Zeva... Jangan nakal sama Bik Sumi ya, Sayang! Ibu mau bekerja lagi."

"Iya, ati-ati, Ibu!" bocah kecil itu melambaikan tangan, lalu kembali menikmati makanannya.

*

*

Ayana sudah berdiri malas di samping sofa ruang tengah.

Dengan wajah acuhnya, Bu Anita hanya menoleh sekilas lalu melempar kertas yang dimana terdapat beberapa catatan makanan kesukaan Milya.

Ayana tertunduk, lalu segera mengambil selembar kertas yang sudah kucel itu.

"Saya nggak mau tahu, pukul 2 kamu harus sampai di rumah!" tekannya.

Ayana terbelalak, wajahnya sudah menahan kesal, hingga bibirnya langsung terbuka. "Yang benar aja, Bu... Perjalanan ke Resto aja udah 1 jam. Belum lagi kalau macet-"

"Saya nggak mau tahu!" selanya.

"Ck!" decak Ayana. Setelah itu ia langsung melenggang keluar begitu saja. "Emangnya saya ini Jiny oh Jiny apa?! bisa sekali langsung menghilang," gerutunya.

Dengan penampilan apa adanya itu, Ayana bergegas menuju garansi, karena ia akan menggunakan motor agar cepat sampai di Resto langganan.

Setidaknya, hitung-hitung Ayana dapat me time, meskipun di kejar oleh waktu. Namun jika tidak seperti itu, jarang sekali ia keluar sendiri, sebab putranya tidak ada yang mengasuh.

Setelah keluar dari perumahan elit itu, Ayana melajukan motornya di jalan raya yang penuh dengan berbagai macam kendaraan. Untuk sejenak, senyum di bibirnya terukir lembut. Meskipun hidup dalam tekanan, namun ia menjalaninya dengan ikhlas. Jadi, ia tak begitu larut dalam kesedihan ataupun penderitaan.

Pikir Ayana, biarkan saja suaminya bebas dengan dunianya sendiri. Yang terpenting, semua kebutuhan keluarganya tercukupi oleh sang Mertua. Dan jikapun ia harus keluar dari Paviliun itu, Ayana pastikan kalimat itu keluar dari mulut Tuan Ibrahim sendiri.

Lampu merah.

Ayana menghentikan motornya paling depan. Ia membuka kaca helmnya, menunggu sambil bernyanyi ringan.

🎶 Menarilah dan terus tertawa...

🎶 Walau dunia tak se'indah surga...

🎶 Bersyukurlah pada yang kuasa...

Aya tak pernah tahu, jika saat ini ada seseorang di balik mobil yang melihat tingkah kekonyolannya itu dengan tersenyum sendiri.

"Bagaimana dia bisa bertingkah se lucu itu?" Pria dibalik mobil itu tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lampu sudah berganti merah.

Ayana kembali melajukan tarikan gas motornya, hingga dalam beberapa menit itu, motor motic yang ia kendarai sudah memasuki halaman parkir Resto langganan keluarga Jayantaka.

Cafe and Resto Dejavu

Setelah melepas helm dan merapikan sedikit kuncir rambutnya, Ayana segera berjalan menuju samping, sebab pintu utama sangat ramai akan pengunjung. Dan di pintu samping itu, ia langsung menuju kasir untuk menyerahkan pesanan dari Bu Anita.

Sementara dari depan, yang posisinya terhalang oleh dinding kaca, Rama tampak shock melihat istrinya berdiri di depan kasir.

"Sayang, kamu lihatin apasih?" Mawar sampai ikut menoleh ke belakang, namun ia tak melihat Ayana yang terhalang oleh beberapa orang.

'Ngapain Ayana sampai ke Resto ini? Sama siapa dia?' Rama masih terus menajamkan matanya ke depan.

Mawar semakin di buat bingung. Ia memicingkan matanya, lalu menepuk tangan Rama hingga pria itu tersadar.

"Rama, kamu kenapa? Lihatin apa sih?"

"Oh, em... Nggak, aku nggak lihatin apa-apa! Kamu lanjutin aja makanmu. Aku mau ke toilet bentar," pamitnya seraya bangkit.

Mawar hanya mengangguk sambil tersenyum. "Jangan lama-lama!"

Tak mengidahkan ucapan kekasihnya, Rama dengan langkah tegasnya langsung saja berjalan kedepan menuju kasir.

Ayana-wanita cantik itu akan berniat duduk, karena masih menunggu pesanannya dibuat. Ia hanya mampu menatap kesekeliling, melihat beberapa orang dengan antusiasnya menikmati makanan mahal itu. Senyum getir terbit dari bibir tipisnya, seraya menelan ludah kasar.

"Apa saya boleh duduk disini?" Ucap seseorang yang sudah berdiri di depan Ayana.

Deg!

Rama menghentikan langkahnya. Ia berdiri kaku menatap pemandangan didepannya kini. Wajahnya tegang, hingga dadanya terasa bergemuruh.

Ayana perlahan menghatamkan pandanganya. Ia bangkit, sedikit salah tingkah begitu terkejut.

"Dokter Devan... Si-silahkan duduk! Nggak papa, duduk aja!" balas Ayana terbata.

Devan tersenyum. Lalu ia segera menarik kursi didepannya, dan langsung duduk didepan Ayana.

"Loh, kok hanya duduk saja? Nggak pesen makanan?" Devan mengerutkan dahinya bingung.

"Em, itu... Saya lagi nunggu pesanan buat Majikan saya, Pak Devan."

Devan semakin terlihat serius mendengar kalimat Majikan dari Ayana. "Majikan? Maksud kamu?"

"Iya, saya bekerja sebagai pelayan rumahan, Pak! Hehe...." kata Ayana tersenyum segan.

"Oh... Memangnya, kalau kamu bekerja, lalu... Anak sama Ibu kamu bagaimana?" Devan masih ingin tahu seluk beluk keluarga Ayana.

Ayana sejenak berpikir. Ia tampak begitu kesusahan harus menjawab seperti apa. "Saya menggantikan Ibu saya, Pak! Putra saya titipkan sama Ibu. Dan untungnya tempat saja kerja itu deket, jadi kalau siang masih bisa pulang."

"Lalu, suami kamu?"

Dan disaat itulah, kasir memanggil Ayana sebab pesanannya sudah siap.

"Pak, sebentar ya... Saya mau ambil pesanan saya dulu."

Devan mengangguk, "Oh ya silahkan-silahkan!"

Rama mengepalkan tangannya kuat. Wajahnya sudah memerah menahan emosi yang siap meledak. Entah mengapa, rasanya tidak terlalu menyenangkan melihat istrinya di dekati pria lain. Rama urungkan niatnya ke toilet. Ia kembali menuju depan, namun tidak ke mejanya dengan Mawar.

"Siapa Pria itu? Apa Ayana sengaja membuat janji dengan pria lain di sini?!" geram batin Rama.

Ayana sudah kembali dengan membawa 2 tas bekal makan. Namun sebelum itu ia mendekat ke arah Dokter Devan terlebih dulu.

"Sudah selesai?"

Ayana sedikit mengangkat tas bekal tadi, "Sudah, Dokter! Kalau begitu saya permisi dulu," katanya sedikit tertunduk.

Sret!

Ayana tersentak kala tanganya ditahan sejenak. Wajahnya sampai menoleh sebatas bahu.

"Oh, maaf Ayana... Makanlah dulu, kamu pasti belum makan siang tadi 'kan?"

Lagi-lagi Ayana berpikir. Memang ia sejak pagi belum kemasukan makanan apapun. Tapi, lagi-lagi ia menunduk menatap pesanan Mertuanya itu. Aya hanya tidak ingin menimbulkan masalah lagi, jika ia sampai terlambat tibanya.

"Kamu takut jika Majikanmu marah?" Devan seolah tahu diamnya sang wanita.

Ayana menganguk kecil.

"Sebentar saja! Saya sudah memesankan makan siang untukmu. Jika Majikanmu sampai marah... Sebentar," Devan terlihat mengeluarkan sesuatu dalam dompetnya. "Ini, ambilah! Ada nomor pribadi saya, dan memang jika Majikanmu marah karena kamu terlambat, maka saya yang akan bertanggung jawab!"

Satu tangan Ayana ditarik Devan, dan diberikan tadi kartu nama miliknya.

Waiters sudah datang membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman pesanan Devan. Jadi mau tidak mau, Ayana mengiyakan traktiran Dokter Ibunya itu.

"Silahkan, Pak, Bu... Jika masih ada yang di perlukan bisa panggil kami! Terimakasih, selamat makan!"

Devan hanya mengangguk.

"Terimakasih, Mas!" Ayana menimpali.

Makanan Ayana disamakan oleh milik Devan, yakni dua piring steak daging beserta minumnya dua gelas jus alpukat. Devan juga memesan air mineral, karena memang ia tidak pernah bisa lepas dengan air sehat itu.

"Loh, ayo dimanakan Ayana! Kok hanya di lihatin saja?" tegur Devan.

"Maaf, Dok! Tapi saya nggak bisa caranya makan pakai pisau! Saya nggak biasa makan-makanan orang kaya gini," katanya tersenyum getir.

Devan hanya mampu tersenyum hangat. Selanjutnya, ia potong steak daging didepannya itu, dan langsung ia tukarkan miliknya dengan piring steak Ayana.

"Makan, ya! Itu sudah saya potongkan kecil-kecil. Kamu tinggal tusuk saja pakai garpu."

Ayana mengangguk kecil sedikit segan. Dan dengan perlahan namun pasti, ia mulai memasukan suap demi suap daging beserta sayurannya kedalam mulut.

Devan sedikit terkekeh melihat Ayana makan sampai belepotan. Ia sudah berniat menarik satu tisu dari tempatnya.

"Hehe... Maaf, Dok... Saya belepotan ya, makannya?" Ayana mencoba mengelap mulutnya sendiri.

Namun Devan dengan sigap mengulurkan tangannya untuk membantu Ayana mengelap bibirnya, "Sebentar, ini masih ada yang terkena sausnya. Kamu lucu ya, kalau makan?! Tapi saya senang melihat kamu begitu menikmatinya," Devan tersenyum puas.

"Dok, maaf-"

Dan untuk beberapa detik tatapan mereka saling terkunci.

1
Dini Anggraini
Alhamdulillah akhirnya karina terbebas dari Arash si jahat dan neraka itu semoga karina bisa hidup bahagia dengan Arsyad. 👍👍😍😍
Daulat Pasaribu
kenapa jodoh similya harus dika si thor.gk sukalah thor.wanita gk baik yah jodohnya sama yg gk baik
Septi.sari: nggak jadi kak, keduanya saling tentang🤭
total 1 replies
Dew666
🪸🪸🪸🪸
Daulat Pasaribu
bisa bisa wanita kotor macam milya dpt nya dika,berzinah ma org lai tapi si dika yg tanggung jawab.gk adil itu thor namanya.uda jahat perangainya.klo baik tadi gk papa
Septi.sari: ia nih kak, dika si lugu kasian jadi korban😭🔥
total 1 replies
Dini Anggraini
Enak banget milya habis yang senang2 dika kena imbasnya Q gak setuju milya menikah dengan dika Thor biarkan anaknya hidup dengan milya sendiri saja agar milya merasakan bagaimana rasanya jadi ayana hidup sendiri mengurus ibu sakit suami gak peduli. 🙏
Dini Anggraini: belum bunda karena banyak yang masih jahat banget anita, mawar dan milya kapan mereka jadi baik masih saja jahat meskipun di penjara. 🙏😭😭
total 2 replies
Dew666
💎💎💎💎
اختی وحی
typo nya thor, imelda jdi anita sampe bingung bacanya
Septi.sari: oh iya kak, maapken😭
total 2 replies
Dini Anggraini
Alhamdulillah kakak author mendengar nasihat kami para pembaca dengan Arsyad balik sama karina agar karina hidupnya gak menderita lagi bila mawar dan keluarganya menderita biarkan saja karena mereka jahat banget tapi kalau karina kan baik kasihan. Makasih kakak author yang baik. 👍👍😍😍😍
Dini Anggraini: ya kak
total 3 replies
Daulat Pasaribu
uda hamil pun ditinggalkan cowoknya gk mau bertanggung jawab,malah tetap jahat.dasar milya perempuan bodoh
Septi.sari: kesel banget ya kak🤭
total 1 replies
Elly Irawati
ditunggu episode selanjutnya kak, gas up lagiiiii biar ndx penisirin😅😅.. critanya loh masyaallah bikin greget.. ternyata si mawar dalang dari semuanya😡
Septi.sari: masya allah, tersayang, macihhhhh❤❤❤❤🤭🤭🤭
total 1 replies
Daulat Pasaribu
itulah balasan buat si milya karena uda jahat sama kaka iparnya ayana
Septi.sari: biar kapok kak🔥
total 1 replies
Daulat Pasaribu
si pak arman apa gk syok kalao tau anaknya otak dari pelaku pembunuhan berencana arsyad
Septi.sari: ntar di penjara dua2nya kak🤭🔥
total 1 replies
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Dini Anggraini
Benar rama kamu sudah putuskan yang terbaik kamu tidak tahu saja yang mencoba membunuh Arsyad bukan anita saja tapi juga mawar malah mawar dalang dari semua ini. Semoga pak Ibrahim segera menemukan video rekaman percakapan mawar dan anita tentang perencanaan pembunuhan Arsyad dan menguasai kekayaan pak ibrahim ya bunda. 😍😍
Septi.sari: apa di buatin novel buat Karina ya kak, 🤭
total 3 replies
اختی وحی
gk rela klw ayana balik sama rama. sama devam aja biar rama kapok
اختی وحی
males bngt rama msih ketemu² ayana, jrs ny cerai aja beres
اختی وحی
suka bngt karakter pak ibrahim jos👍👍
Septi.sari: bijaksana banget kak🔥
total 1 replies
Daulat Pasaribu
smoga rama dan ayana serta zeva keluarganya hidup bahagia.
Daulat Pasaribu
jgn sampai ada masalah lagi,smoga aja rama betul betul berjuang untuk ayana dan zeva
Septi.sari: iya kak, setelah bahagia, mau lanjutin kisahnya Arsyad🔥
total 1 replies
kalea rizuky
novel terburuk yg pernah q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!