"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...
Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bab 13
Arina duduk di salah satu bangku di lantai dua, dia capek berkelilinga lantai tiga, akhirnya dia turun ke lantai dua, dan memilih untuk membaca di sana. Dia sudah memilih dua buku untuk di bawa pulang dari lantai tiga, dan satu buku dari lantai dua. Sementara itu Rania masih sibuk memilih, dia tidak ada habisnya mondar-mandir saja dari tadi melihat buku.
Arina tidak menghiraukan ke sibukan Rania, dia masih sibuk membaca buku yang di pilih oleh nya sambil menunggu Rania selesiai menilih, tak lama berselang setengah jam kemudian Rania berhasil memilih tiga buku untuk di bawa pulang. Rania senang sekali Arina mengajaknya ke toko buku, tempat itu selalu menjadi tujuan utama mereka dari dulu.
Arina masih membaca, hingga gerah menyertai Arina, dia lalu menyalakan kipas angin di belakangnya. Dia menatap jendel perpustakaan yang terbuat dari kaca besar, Arina melihat pemandangan laut dari kaca tersebut, sunggu indah, pikirnya.
Arina merasa sejuk menerpanya, tidak lain tidak bukan adalah semilir kipas angin. Andai saja AC-nya bolrh di nyalakan sendiri maka Arina akan menyalakannya. Dan tak lama berselang, petugas yang peka terhadap rasa gerah yang menggelayut pun menyalakan AC. Arina sangat senang, akhirnya udara berubah jadi sejuk, tidak lagi panas seperti tadi.
Arina senang sekali di perpustakaan, ada Wi-Fi gratis, kipas angin, dan AC, dan pemandangan indah pantai yang terpampang di perpustakaan. Arina tidak menyangka akan bisa melihat laut dari kaca perpustakaan. Dia puas sekali dengan segala fasilitar perpustakaan, selain itu ada toiletdi lantai dua yang memungkinkan untuk dia mengenakannya jika terpaksa harus pipisdi sana. Arina paling suka dengan fasilitas komputer yang di sediakan perpustakaan. Meski Arina punya laptop sendiri di rumahnya, dia juga suka memakai komputer untuk mengerjakan tugas-tugas yang di milikinya.
"Arina, sebentar lagi kita akan olimpiade tingkat nasional, apa kamu sudah siap dengan itu? Aku gugup sekali." Tukas Rania.
"Aku tidak gugup, karena ada kamu di sampingku." Balas Arina pada Rania.
Rania senang Arina mengatakannya, kini rasa gugup Rania mulai berkurang, dia merasa kebih baik saat Arina mengatakannnya.Rania senang sekali berada di sisi Arina Andrews.
"Aku juga, aku juga senang bersama denganmu. Terima kasih telah mengajariku selama latihan." Ujar Rania Putri pada Arina Andrews. Rania duduk di samping Arina Andrews. Dia melihat ke arah pantai, dia sangat takjub dengan pemandangan pantai yang asri.
Rania merasa senang pergi ke perpustakaan kali ini. Dia yang bosan lalu melangkah menuju komputer perpustakaan. Rania menggunakan komputer itu untuk coding, dia sangat mahir dalam hal itu, dia tidak takut komputer akan rusak, karena sudah di pasangi anti virus. Rania mengcoding untuk membuat sebuah webb, dan tak lama berselang webb pun jadi. Dia pun mencopot flashdisk miliknya, dan menyimpannya di kantung, di flashdisk itulah tersimpan webb yang di buat Rania.
Arina melihat Rania, dia selalu kagum dengan bakat coding Rania, Rania sangat ahli dalam pemrograman. Arina sendiri juga bisa menghack simtem, seperti nomor telepon, alamat orang, latar belakang, dan lain sebagainya, meski dia bisa codinh seperti Rania, tapi codinh Arina masih kalah cepat dengan Rania.
Setelah mereka berdua selesai dengan urusan masing-masing di perpustakaan, Arina, dan Rania pergi ke rumah Arina. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Rania.
Saat masuk di halaman rumah, Rania terpana oleh megahnya rumah itu, dia tidak bisa membayangkan, berapa miliar yang harus di keluarkan untuk membangun rumah tersebut. Rania sendiri tidak ambil pusing soal itu. Yang penting dia sekarang ingin melihat kamar tidur Arina yang ada di lantai atas.
"Kita naik tangga, dan ini kamarnya. Kamu akan menginapkan Rania?" Tanya Arina pada Rania. Rania hanya menganggukkan kepalanya. Dia sudah izin dengan ibunya sebelum ke sini. Jadi aman-aman saja.
"Arin, aku mau ke toilet sebentar." Tukas Rania. Arina lalu mengantarkan Rania ke toilet di kamarnya. Rania tidak habis pikir, Arina tidak harus bolak-balik ke bawah jika ingin ke toilet, dia hanya tinggal ke toilet yang ada di kamarnya untuk membersihkan diri.
"Arin, aku lapar ingin makan." Ujar Rania pada Arina Andrews. Arina mengelus kepala Rania, dia lalu mengajak Rania untuk pergi ke ruang makan, di sana Arina memberitahu pelayan untuk menyiapkan makanan. Mereka pun menunduk hormat pada Arina, dan Rania. Meski Rania sahabat Arina, dan bukan majikan mereka, mereka tetap hormat pada Rania sebab Rania adalah sahabat dari bos mereka.
Tak lama kemudian makanan pun jadi, Arina, dan Rania menyantap makanan dengan lahab, makanan bikinan pelayan Arina Andrews sangat enak. Terutama bikinan Sari yang merupakan kepala pelayan. Arina lalu mengajak Rania untuk pergi cuci piring bersamanya, sama seperti yang mereka selalu lakukan di panti asuhan, setelah ibu kepala panti memasakkan makanan untuk mereka, mereka akan mencuci piring untuk ibu kepala panti. Tapi ini rumah keluarga Andrews, bukan panti asuhan, Arina di tahan oleh para pelayannya, mereka merasa tidak seharusnya Arina cuci piring, itu adalah tugas mereka.
"Sari, aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini sejak kecil, jadi tolong biarkan aku, dan Rania mencuci piring kmi sendiri." Ujar Arina pada Sari yang melarangnya mencuci piring.
"Tetap saja tidak boleh nona, nona belum menikah, belum ada kewajiban untuk melakukan tugas rumah tangga." Ujar Sari pada Arina. "Lagi pula jika nona sudah menikah pun, kan ada pelayan yang mengurus pekerjaan."
Arina, dan Rania lalu mengalah. Mereka tidak ingin berdebat dengan Sari lagi. Arina masuk kembali ke dalam kamar, dia merasa bosan sekaki sebab tidak ada yang bisa dia lakukan di rumah. Arina memang seperti itu, dia lebih suka beraktivitas dari pada harus diam. Dia hiperaktif, dan sangat suka beraktifitas.
Arina menatap Rania, Rania yang berbaring di samping dirinya juga tampak bosan. Mereka berdua bosan sekali dengan hidup di rumah yang besar tapi tidak bisa melakukan apapun. Apa ini yang di namakan burung di sangkar emas?
"Bagaimana ya orang tuamu hidup? Apa mereka tidak bosan hidup begini-begini saja? Tidak ada yang di lakukan, hanya ke kantor, lalu makan, dan tidur di rumah, tidak ada aktifitas yang dilakukan." Ujar Rania pada Arina.
Arina duduk lalu mengangguk kan kepalanya. "Kamu benar, radanya bosan sekali, semua sudah di urus pelayan. Apa mereka tidak ingin berkebun, atau melakukan sesuatu yang menguras sedikit tenaga. Kebun di urus tukang kebun, kerjaan rumah di urus pembantu. Rasanya seperti ada yang kurang. Padahal kalau di panti asuhan kita malas melakukannya." Ujar Arina pada Rania.
Rania, dan Arina tertawa bersama akhirnya. Mereka berdua saling tertawa dengan apa yang mereka masing-masing katakan. Arina dengan bahagianya menatap Rania, begitu juga Rania bahagia menatap Arina.
"Arina, bagaimana jika kita ke perpustakaan pribadi di rumahmu? Aku dengar kamu punya koleksi baru dari paris, dan Inggris kan?" Ujar Rania.
Arina menganggukan kepalanya, dia akan bersenang-senang dengan Rania kali ini. Mereka masuk ke dalam perpustakaan pribadi di rumah Arina. Perpustakaan itu besar, dan bersih, tertata rapi, dan ada penjaga yang membersihkan serta membereskannya.
Arina di sambut oleh seorang wanita muda yang bersih-bersih di sana. Arina hendak membantu menata buku tapi wanita muda itu menolak dengan sopan.
"Tidak usah sungkan, aku sedang bosan dengan sahabatku." Tukas Arina, akhirnya wanita muda yang bernama Serena itu pun mengijinkan Arina, dan Rania untuk membantu dirinya.