Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante Bohong!
Beberapa menit kemudian Aulia dan Ryan sudah berada di dalam mobil mewah Ryan. Hendak ke Rumah Sakit tempat Ibu Reni di rawat.
"Sayang, gimana kalo Ibu kamu dipindahkan ke penthouse aja. Peralatan medis sama dokter dan perawatnya juga ikut ke penthouse kita," tanya Ryan.
Aulia menoleh ke arah Ryan. "Apa nggak merepotkan? Maksudnya kalo di rumah kan kalo misalkan Ibu perlu apa-apa nanti harus ambil lagi dari Rumah Sakit. Dokternya juga pasi repot kalo harus bolak-balik Rumah Sakit dan Penthouse." Kata Aulia merasakan keberatan. Karena pasti selain harus mengeluarkan biaya tambahan, pasti juga agak repot kalo semua peralatan di angkut ke penthouse.
"Kan bayarannya beda, Sayang. Kamu nggak usah mikirin masalah biaya." kata Ryan lagi.
"Mas, aku ngerti maksud kamu, biar aku nggak jauh-jauh dari ibu aku, tapi aku rasa kurang praktis kalo Ibu di rawat di penthouse. Ribet urusannya." kata Aulia lagi.
Mobil mewah itu terhubung kemacetan Jakarta dengan tenang, namun suasana di dalamnya sedikit memanas karena perbedaan pendapat antara si praktis Aulia dan si perfeksionis Ryan.
"Mas, Kejutan dulu," Aulia memulai, suaranya lembut tapi tegas. Ibu butuh lingkungan medis yang steril dan respon cepat. Di rumah sakit, kalo ada apa-apa dokter jaga cuma butuh waktu satu menit untuk sampai ke kamar Ibu. Di Penthouse? kita harus nunggu lift, nunggu ambulans, itu resiko, Mas."
Ryan mengetuk- ngetukkan jarinya di setir, matanya lurus menatap jalanan. "Aku bisa telepon dokter pribadi dan dua perawat untuk beralaskan di sana dua puluh empat jam, Aulia. Aku bahkan bisa mengubah salah satu kamar tamu menjadi unit semi ICU kalau perlu. Aku cuma ingin kamu merasa tenang, nggak perlu bolak balik Rumah Sakit setiap hari setelah lelah mengurus proyek Lavana."
Aulia menghela napas, ia tersenyum tipis melihat sisi protektif suaminya yang terkadang sedikit berlebihan. "Aku tahu, kamu ingin memanjakanku, tapi Ibu itu orangnya sederhana. Dia bakal merasa tertekan kalo melihat kamarnya dipenuhi mesin medis dan orang unik berseragam medis di rumah barunya. Dia butuh suasana rumah untuk sembuh, bukan rumah sakit yang dipindahkan ke rumah."
Ryan terdiam sejenak. Argumen Aulia tentang psikologis Ibunya mulai masuk ke logikanya. "Jadi, rencanamu apa?"
"Biarkan Ibu menyelesaikan masa pemulihannya di rumah sakit sampai dokter benar-benar memberikan izin pulang. Setelah itu baru kita bawa ke penthouse untuk tinggal kita. Tanpa alat medis yang menyeramkan, cukup kita yang merawatnya dengan cinta. Itu jauh lebih efektif daripada mesin manapun."
Ryan menoleh sebentar saat mobil berhenti di lampu merah, menatap istrinya dengan pandangan kagum yang tak disembunyikan. "Kamu selalu punya cara untuk membuatku merasa bahwa uang bukan solusi untuk segala hal, ya?"
"Karena memang nggak semua hal bisa di beli dengan saham 5%, Pak CEO," goda Aulia sambil mencolok lengan Ryan.
Ryan tertawa lepas, tawa yang terdengar sangat lepas dan bahagia. "Baiklah, kali ini kamu menang. Kita ikuti saranmu. Tapi sebagai gantinya, aku ingin Ibu dipindahkan ke kamar presidential suite di Rumah Sakit itu. Lebih luas dan ada ruang tunggu yang layak untukmu kalo kamu mau menginap. Jangan dibantah, ini kompromi terakhirku."
Aulia terkekeh, sadar bahwa suaminya nggak akan menyerah sepenuhnya sebelum memberikan sesuatu yang mewah. "Oke, Presidential Suite. Deal?"
"Deal," jawab Ryan sambil meraih tangan Aulia dan mencium punggung tangannya dengan lembut, saat mobil kembali melaju.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di lobi Rumah Sakit. Saat turun dari mobil, Ryan tidak lagi berjalan dengan jarak formal. Ia merangkul pinggang Aulia, menunjukkan pada dunia bahwa desainer di sampingnya ini adalah pusat dari dunianya sekarang.
Saat mereka melangkah menuju ruang perawatan, langkah Aulia mendadak terhenti di depan pintu kamar ibunya. Ia melihat melalui kaca kecil di pintu, Ibunya sedang duduk di tepi ranjang, sedang berusaha melipat bajunya sendiri dengan tangan yang masih sedikit gemetar, tapi wajahnya tampak jauh lebih segar.
"Mas, Lihat!" bisik Aulia haru.
Ryan ikut mengintip, lalu berbisik di telinga Aulia, "Ayo masuk, mari kita berikan kabar bahwa dia sekarang punya menantu yang siap menjaganya."
Aulia mendorong pintu perlahan. Bunyi gesekan pintu membuat Ibu Reni menoleh. Matanya yang semula redup seketika berbinar saat melihat putri tunggalnya datang.
"Aulia," suara Ibu Reni serak namun penuh kerinduan.
"Ibu! Jangan banyak gerak dulu," Aulia menghambur ke pelukannya Ibunya membantu wanita itu duduk dengan nyaman.
Ibu Reni kemudian mengalihkan pandangannya kepada pria jangkung yang berdiri di belakangnya Aulia. Ryan melangkah maju, melepaskan aura CEOnya yang tidurmu, lalu membungkuk hormat. Ia meraih tangan Ibu Reni dan menciumnya dengan takzim -sebuah gestur yang membuat Aulia berdesir.
"Ibu, ini Ryan. Suami Aulia," bisik Aulia sambil menahan haru.
Ibu Reni menatap Ryan lama, jemarinya yang kurus menyentuh lengan jas Ryan. "Terima kasih... terima kasih sudah menjaga putri saya. Aulia sering bercerita tentang kebaikanmu," dusta kecil Ibu Reni (atau mungkin firasat seorang Ibu) membuat Ryan tersenyum tulus.
"Sama-sama Ibu, justru saya yang berterima kasih karena Ibu sudah melahirkan dan membesarkan wanita sehebat Aulia," jawab Ryan hangat. "Ibu nggak perlu memikirkan apa-apa lagi sekarang. Mendarat saja pada kesembuhan. Semua urusan di sini sudah saya atur."
Momen hangat itu berlangsung sekitar lima belas menit, penuh dengan tawa kecil saat Ryan menceritakan betapa galaknya Aulia saat berdebat soal desain. Namun, kebahagiaan itu terinterupsi saat pintu menyuruh tiba-tiba terbuka dengan kasar tanpa ketukan.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian bermerk tumpukan dan tas mewah masuk ke dalam ruangan. Di belakang nya berdiri seorang pria muda yang tampak acuh tak acuh sambil memainkan ponselnya.
Dia adalah Tante Melinda, adik dari almarhum ayah Aulia, yang selama ini menghilang saat keluarga Aulia jatuh miskin dan terlilit hutang biaya Rumah Sakit.
"Oh, jadi benar beritanya? Keponakanku sudah jadi Nyonya Besar, sekarang?" suara cempreng Tante Melinda memecah kedamaian kamar itu.
Aulia berdiri, wajahnya berubah dingin. 'Tante Melinda? Ada perlu apa ke sini? Selama enam bulan Ibu kritis, Tante bahkan nggak pernah mengangkat teleponku."
Melinda resmi sambil melihat sekeliling kamar VIP itu dengan tatapan menilai. "Jangan sombong kamu, Aulia. Tante ini cuma mau memastikan kalo kamu nggak lupa pada keluarga sendiri setelah dinikahi konglomerat. Ryan Aditama, Kan?" Melinda menatap Ryan dengan pandangan lapar akan harta. "Pak Ryan, Saya ini satu-satunya keluarga Aulia yang tersisa. Saya yang dulu ikut membantu biaya sekolahnya-"
"Tante bohong!" potong Aulia, suaranya bergetar karena marah. "Ibu harus menjual seluruh perhiasannya dan rumah kita karena keluarga Tante menolak meminjamkan uang sepeserpun!"
Ryan, yang sedari tadi mengamati denga mata tajamnya, maju satu langkah ke depan Aulia, menciptakan dinding pelindung yang kokoh. Atmosfer ruangan seketika mendingin.
"Nyonya Melinda," suara Ryan rendah namun mengancam, seperti harimau yang Rumah menerkam. "Saya sangat teliti dalam hal administrasi. Sebelum menikah, saya sudah menyewa detektif untuk menelusuri seluruh sejarah finansial Aulia. Dan menariknya, tidak ada nama Anda dalam daftar orang yang membantu masa sulitnya. Yang ada justru catatan hutang almarhum suami Anda pada Ayah Aulia yang belum lunas sampai sekarang!"
Wajah Melinda pucat pasi. Ia tidak menyangka Ryan akan melakukan riset sejauh itu.
"Dan satu hal lagi," Ryan merobohkan saku jasnya, mengeluarkan kartu namanya dan menjatuhkannya di meja dengan suara "klik" yang tajam. "Jika Anda datang ke sini untuk meminta uang atau mengganggu ketenangan Ibu mertua saya, pengacara saya akan memastikan hutang keluarga Anda ditagih hingga ke aset terakhir. Sekarang, silahkan keluar!"
"Kamu ... kamu lancang sekali!" Melinda berteriak, tapi ia gemetar saat melihat dua pengawal Ryan sudah berdiri di ambang pintu setelah mendengar keributan.
Pria muda di belakang Melinda, sepupu Aulia, segera menarik lengan ibunya. "Ayo, Ma. Pergi aja, malu dilihat orang."
Bersambung.....