ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 14: Jaring yang Terajut di Balik Bayang.
Malam di kediaman Alaska kian mendingin, namun udara di dalam dada sang tuan rumah justru terasa menyesakkan. Setelah konfrontasi di meja makan, Alaska tidak bisa memejamkan mata. Kamar tidurnya yang luas terasa seperti penjara tanpa jeruji. Ia masih terngiang doa lirih Sania yang sempat ia dengar saat melewati pintu kamar istrinya—sebuah permintaan agar hatinya "dilembutkan".
"Lembut?" desis Alaska pada bayangannya di cermin. "Kelembutan adalah awal dari kehancuran."
Namun, di sudut hatinya yang paling gelap, ada sebuah retakan. Kata-kata Sania bukan sekadar serangan lisan; itu adalah cermin yang dipaksakan di depan wajahnya. Untuk pertama kalinya, Alaska merasa bahwa musuh terbesarnya bukanlah kartel saingan atau pengkhianat di dalam organisasinya, melainkan seorang wanita kecil yang hanya bersenjatakan kain penutup wajah dan sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan.
Ancaman di Balik Kabut.
Pagi harinya, suasana di markas besar Alaska, sebuah gedung perkantoran legal yang menyembunyikan operasi gelap di bawah tanahnya, tampak tegang. Alaska duduk di kursi kebesarannya saat Bara masuk dengan wajah pucat.
"Tuan, ada laporan dari intelijen kita di pelabuhan," lapor Bara. Suaranya sedikit bergetar, bukan karena takut pada musuh, melainkan karena ia merasa aura Alaska hari ini jauh lebih tidak stabil dari biasanya.
"Katakan!" perintah Alaska singkat.
"Grup 'Scorpion' mulai bergerak. Mereka tahu Anda sering mengirim pengawalan ke panti asuhan di pinggiran kota. Mereka juga sudah mengidentifikasi... Nyonya Sania," lanjut Bara dengan hati-hati.
Mendengar nama Sania disebut oleh musuhnya, darah Alaska mendidih. Ia berdiri seketika, menumpahkan kopi hitam di atas meja mahagoninya.
"Siapa yang membocorkannya? Siapa yang berani menjual informasi tentang istriku?!"
"Kami sedang melacaknya, Tuan. Tapi sepertinya, perubahan sikap beberapa pengawal yang mulai 'melunak' karena pengaruh Nyonya menjadi celah bagi mereka untuk menanam mata-mata," jelas Bara.
Alaska tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan mengerikan.
"Kau lihat, Bara? Inilah yang kukatakan semalam. Kebaikan istriku adalah racun. Dia membuat kalian semua lemah! Sekarang, nyawanya terancam karena 'cahaya' yang dia bangga-banggakan itu."
Alaska segera mengambil ponselnya. Ia menghubungi tim keamanan rumah.
"Perketat penjagaan! Jangan biarkan Nyonya Sania keluar rumah satu inci pun tanpa seizinku. Jika dia protes, katakan ini perintah mutlak. Dan kau, Bara... siapkan tim penjemput. Kita akan memindahkan operasinya ke tempat yang lebih aman."
Penjara Emas yang Semakin Sempit.
Di halaman mansion, Sania sedang menyiram tanaman di taman belakang ketika sekumpulan pria berpakaian hitam dengan senjata laras panjang mulai mengambil posisi di setiap sudut pagar. Ia melihat Kaito—yang kini kembali bertugas setelah masa hukuman ringannya—mendekat dengan raut wajah cemas.
"Nyonya, mohon segera masuk ke dalam. Keadaan sedang tidak aman," ujar Kaito.
Sania meletakkan penyiram airnya dengan tenang.
"Tidak aman bagi siapa, Kaito? Bagi saya, atau bagi ketenangan jiwa Tuan Alaska?"
"Ada ancaman nyata, Nyonya. Musuh Tuan Alaska mulai mengincar Anda," jawab Kaito jujur, meski ia tahu ia melanggar protokol untuk tidak membuat target panik.
Sania menghela napas panjang. Ia menatap langit biru yang seolah tidak peduli dengan kekacauan manusia di bumi.
"Allah adalah pelindung terbaik, Kaito. Jika ajal saya tertulis hari ini, tidak ada seribu pengawal pun yang bisa menghalanginya. Dan jika Allah belum mengizinkan saya pergi, tidak ada satu peluru pun yang akan menyentuh saya."
Meski berkata demikian, Sania tetap menuruti permintaan Kaito untuk masuk. Namun, di dalam hati, ia merasa sedih. Ia tahu Alaska akan menggunakan situasi ini sebagai alasan untuk semakin menjauhkannya dari dunia luar, dan yang lebih buruk, sebagai alasan untuk semakin membenci konsep "kebaikan".
Strategi Sang Mafia.
Beberapa jam kemudian, Alaska pulang dengan deru mesin mobil yang kasar. Ia langsung menuju ruang tengah di mana Sania sedang membaca Al-Qur'an. Tanpa mengetuk, ia masuk dan berdiri di depan Sania.
"Puas?" tanya Alaska dengan nada menuduh.
Sania menutup mushafnya, lalu menatap suaminya.
"Apa yang harus saya puaskan, Tuan?"
"Karena kebaikanmu, karena cara bicaramu yang sok suci kepada pengawal-pengawalku, musuhku sekarang tahu titik lemahku! Mereka mengincarmu, Sania! Kau hampir membuat dirimu sendiri terbunuh karena kecerobohanmu membantu orang asing di jalan!" teriak Alaska.
Sania berdiri, menjaga jarak yang sopan namun tetap menunjukkan ketegasan.
"Jadi, menurut Anda, membantu orang yang kecelakaan adalah kecerobohan? Memberi makan orang lapar adalah kelemahan? Tuan Alaska, jika Anda merasa terancam hanya karena istrinya melakukan hal manusiawi, maka pertanyakanlah kekuatan imperium yang Anda bangun. Apakah itu sebuah kekaisaran, atau hanya tumpukan kartu yang mudah runtuh oleh tiupan angin?"
Alaska mendekat, mencengkeram lengan Sania—tidak cukup keras untuk menyakiti, tapi cukup kuat untuk menunjukkan dominasi.
"Kau tidak mengerti! Mereka bukan orang biasa. Mereka adalah iblis yang tidak akan segan-segan menguliti wajahmu hanya untuk mengirim pesan padaku!"
"Dan Anda?" tanya Sania lirih, matanya menatap tepat ke manik mata Alaska. "Apa bedanya Anda dengan mereka jika Anda terus menggunakan ketakutan untuk melindungi apa yang Anda miliki? Anda melarang saya keluar, Anda mengurung saya. Anda tidak sedang melindungi saya, Tuan. Anda sedang melindungi ego Anda agar tidak terlihat gagal di mata musuh Anda."
Alaska melepaskan cengkeramannya seolah-olah kulit Sania membakarnya. Ia berpaling, napasnya tidak beraturan.
"Aku akan memindahkanmu ke markas di pulau pribadi besok pagi. Di sana, tidak ada panti asuhan, tidak ada pengamen, dan tidak ada orang yang perlu kau tolong. Kau akan aman di sana."
"Anda bisa memindahkan raga saya ke mana pun, Tuan," jawab Sania dengan suara yang mulai serak menahan tangis. "Tapi Anda tidak bisa memindahkan doa saya. Dan saya akan terus berdoa agar suatu hari nanti, Anda menyadari bahwa satu-satunya tempat yang benar-benar aman adalah di bawah perlindungan-Nya, bukan di balik tembok-tembok beton dan moncong senjata."
Serangan Tak Terduga.
Malam itu, saat persiapan pemindahan sedang dilakukan, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari arah gerbang depan. Lampu seluruh kediaman mendadak padam. Sistem keamanan yang canggih itu seolah lumpuh dalam sekejap.
"Bara! Laporan!" teriak Alaska melalui walkie-talkie.
"Tuan! Mereka meretas sistem listrik! Ada serangan dari sektor barat! Mereka menggunakan granat asap!" suara Bara terdengar di tengah desingan peluru.
Alaska segera berlari menuju kamar Sania. Ia menemukan Sania sedang berdiri di tengah kegelapan, menggenggam tas kecil berisi perlengkapan salatnya. Tanpa bicara, Alaska menarik tangan Sania, membawanya menuju lorong rahasia di balik rak buku.
"Ikut aku! Jangan lepaskan tanganku!" perintah Alaska.
Di dalam lorong yang sempit dan remang, Sania bisa merasakan tangan Alaska yang kasar dan dingin itu gemetar. Bukan karena takut mati, tapi karena ketakutan yang luar biasa akan kehilangan kontrol atas situasi.
Tiba-tiba, sebuah ledakan terjadi di dekat lorong tersebut, meruntuhkan sebagian atap kayu. Alaska dengan sigap memeluk Sania, melindungi tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri. Serpihan kayu dan debu menghujani mereka.
"Tuan! Anda tidak apa-apa?" tanya Sania cemas saat debu mulai menipis.
Alaska terbatuk, dahinya berdarah karena terkena serpihan. Namun, ia tidak peduli. Ia menatap Sania, memastikan wanita itu tidak terluka.
"Kenapa kau bertanya? Bukankah ini saatnya kau bersyukur jika aku mati agar kau bebas?"
Sania menyeka darah di dahi Alaska dengan ujung cadarnya yang bersih.
"Kematian Anda dalam keadaan seperti ini adalah musibah bagi jiwa Anda, Tuan. Saya ingin Anda hidup, bukan hanya secara fisik, tapi hidup hatinya."
Alaska tertegun. Di tengah desingan peluru di luar sana dan ancaman maut yang mengintai, perhatian Sania pada jiwanya terasa lebih menggetarkan daripada ledakan granat tadi.
Cahaya dalam Kegelapan.
Mereka berhasil mencapai bunker bawah tanah yang terhubung ke dermaga pribadi. Di sana, Bara dan beberapa pengawal setia sudah menunggu dengan speedboat cepat.
"Tuan, kita harus berangkat sekarang sebelum mereka mengepung jalur laut," ujar Bara.
Namun, sebelum naik ke kapal, Sania melihat seorang pengawal muda, mungkin masih berusia 20 tahun, terduduk di sudut bunker dengan kaki yang bersimbah darah. Pengawal itu tampak ketakutan, napasnya tersengal-sengal.
"Tunggu," kata Sania. Ia melepaskan pegangan tangan Alaska dan mendekati pemuda itu.
"Sania! Apa yang kau lakukan? Kita tidak punya waktu!" bentak Alaska.
Sania tidak mendengarkan. Ia merobek sebagian kain luar gamisnya, lalu membalut luka pengawal itu dengan cekatan. "Tenanglah. Berzikirlah. Mintalah perlindungan pada Yang Maha Menghidupkan," bisik Sania lembut.
Pemuda itu menatap Sania dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih... Nyonya..."
Alaska hanya bisa terpaku melihat pemandangan itu. Di saat ia hanya memikirkan cara melarikan diri dan menyelamatkan asetnya, Sania masih sempat memikirkan nyawa seorang bawahan yang dianggap Alaska hanya sebagai "bidak catur".
Saat mereka akhirnya berada di atas speedboat yang membelah ombak malam, Alaska duduk diam di pojok kapal. Ia menatap Sania yang kini duduk tenang sambil berzikir dengan jemarinya. Ia menyadari satu hal, Istrinya ini memiliki kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan uang atau dipaksakan dengan senjata.
Itu adalah kekuatan Ikhlas.
Rencana Balas Dendam Musuh.
Di tempat lain, sang pria dengan bekas luka tertawa puas melihat kediaman Alaska terbakar. Meski ia tahu Alaska berhasil melarikan diri, misinya telah berhasil sebagian.
"Biarkan dia lari," ujar pria itu sambil menghisap cerutunya. "Ketakutan adalah penjara yang lebih kejam dari sel mana pun. Sekarang, dia akan mengurung istrinya lebih ketat lagi. Dan saat dia merasa paling aman, saat itulah kita akan mengambil 'permata' itu langsung dari tangannya."
__Ego sering kali membangun tembok tinggi dengan alasan melindungi, namun tanpa sadar ia sedang membangun penjara bagi dirinya sendiri. Kebenaran tidak butuh pasukan untuk menang, ia hanya butuh satu hati yang tulus untuk tetap berdiri tegak di tengah badai. Karena pada akhirnya, pelindung terbaik bukanlah baja yang keras, melainkan doa yang menembus langit__
Bersambung ....