Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pelan tapi pasti.
Bang Rico menengadah, matanya memandang Hanna, matanya bercampur antara rasa marah dan kesedihan. Dia masih memeluk Dilli yang kini diam, kepalanya bersandar pada dadanya. "Jangan kau paksakan hal yang tidak mungkin, Hanna. Kinan dan kandungannya adalah tanggung jawab saya, tapi Dilli..." Ucapnya berhenti sejenak, menatap si kecil di pelukannya, "... Tanpa perlu kau katakan, dia juga tanggung jawab saya. Saya tidak akan meninggalkan salah satunya."
Hanna menangis deras, tubuhnya menggigil. "Apa gunanya tanggung jawab sekarang? Selama ini aku sendiri merawat Dilli sendirian..!!!! Kamu bahkan tidak pernah tau keberadaannya dan tidak pernah tau anak kita kembar."
"Kamu yang menyembunyikannya dari saya, Hanna." ujar Rico dengan nada tegas tapi tidak kasar. "Kita bisa bicara tentang semuanya dengan tenang, tanpa ancaman. Tapi kamu harus lepaskan dendammu pada Kinan. Dia tidak bersalah, tidak ada hubungannya dengan masalah kita..!!"
Seakan tau ada bahaya mengancam, Hanna memilih pergi dari tempat itu dan meraih Baby D dengan paksa. Bang Rico tak punya pilihan, ia segera menyerahkan batita itu pada ibunya.
Sejenak Bang Rico terdiam. Setelah itu, dia segera menghampiri Kinan yang kini juga terdiam tanpa kata tapi pandangan itu berubah kosong.
"Kamu baik-baik saja?? Ada yang luka??" Tanya Bang Rico cemas.
"Kinan mau pulang." Pinta Kinan lirih.
"Kita bicara di rumah ya, dek..!!!" Ajak Bang Rico tapi Kinan menepis tangannya. "Kita harus bicara, tidak bisa begini terus..!!" Bujuk Bang Rico.
Tiba-tiba Kinan melelehkan air mata, tanpa suara, semuanya seperti tercekat berat.
Bang Rama mengarahkan agar Bang Rico segera membawa Kinan pulang ke rumah.
...
Sesampainya di rumah, Bang Yudha sudah tiba. Ia langsung menangani Kinan. Beberapa saat penanganan, tangis Kinan mulai terdengar, istri Letnan Rico itu menjerit histeris.
Di saat itu Bang Rico mulai panik. Ia mondar-mandir gelisah tapi tidak berani mendekat pada Kinan. Cairan bening pun sudah menggenang di pelupuk mata.
"Bagaimana, Yud?????" Tanya Bang Rico.
"Saya lihat, istrimu ini depresi. Terkadang pembawaan wanita pendiam malah cenderung menakutkan karena dia memendam perasaan sakitnya sendirian tanpa mau berbagi dengan orang lain." Jawab Bang Yudha. "Sekarang coba kamu dekati Kinan dan bicarakan semua..!!"
Bang Rico tak tahan lagi. Ia mendekati Kinan dan duduk di ranjang. Kedua bola mata Kinan menatapnya penuh kesedihan.
"Apa Kinan tidak bisa menyenangkan Mas Rico???? Kalau tau ini semua tidak boleh, kenapa Mas Rico menyelamatkan Kinan?? Kenapa Mas Rico menikahi Kinan??? Kinan tidak mau menjadi duri yang memisahkan anak dan bapaknya." Pekik Kinan masih terus berteriak.
Jelas batin Bang Rico begitu terpukul. Ia menggenggam tangan Kinan, seperti yang selalu terjadi, Kinan menepis tangannya. "Kejadiannya tidak seperti yang kamu pikirkan, dek. Mas tau, Mas salah. Tapi semua di luar kendali Mas Rico. Semua terjadi tanpa Mas sadari, saat Mas sedang bertugas. Kalau saja Mas sadar, Mas tidak akan pernah melakukannya, Mas haramkan wanita manapun menyentuh tubuh ini selain kamu." Ucapnya memberikan penerimaan bahwa dirinya kini memang sebenar-benarnya suami Kinan. Ia ingin menjelaskan, bukan sebagai pembelaan diri tapi sebagai wujud keseriusannya ingin memulai hubungan sebagai suami istri dengan Kinan dan bukanlah sebagai kakak dan adik.
"Tapi Mas Rico punya anak..!!!!!"
Kini sesak dan sesal bercampur aduk menjadi satu. Sejak kecil dirinya sudah mengenal Kinan, si gadis cantik jelita yang memang pendiam. Kebiasaan seorang 'wanita kedaton' adalah mengikuti aturan dan menurut pada petuah 'prianya'.
Sudah menjadi kebiasaan pula bahwa petinggi kedaton memiliki banyak selir, itulah sebabnya Kinan bereaksi keras, namun kerasnya reaksi Kinan tak pernah Bang Rico bayangkan sebelumnya, Kinan sampai ingin lari dari kamar, seketika Bang Rico meraih Kinan kembali dan memeluknya dari belakang.
"Maaf, maaf.. Mas sungguh-sungguh minta maaf. Jika memang tidak ada obat atas rasa sakit hatimu, hukum Mas sesukamu, apapun itu akan Mas Rico terima."
"Kinan mau selingkuh..!!!"
"Uusshh.. Nggak boleh bilang begitu..!! Nggak baik dek..!!" Kata Bang Rico.
"Lantas apa yang di lakukan Mas Rico itu baik????" Omel Kinan.
"Ini beda permasalahan, sayang..!!!"
"Kinan bukan sayangmu........" Pekik Kinan.
"Nggak boleh, ndhuk. Nggak baik." Bujuk Bang Rico secara halus.
"Kinan marah, Mas ngerti nggak sih??? Kinan lagi marah, Kinan mau selingkuh."
Bang Rico mengarahkan Kinan agar bisa berhadapan dan menatap wajahnya. "Mas nggak ijinkan, tapi kalau kamu pengen mengenal laki-laki yang berbeda, kamu bisa coba dulu mengenal Bang Rico."
Kinan semakin kesal, tingkah khasnya pun refleks. Ia menepis Bang Rico tapi Bang Rico tersenyum padanya.
Bang Rama dan Bang Arben saling lirik. Meskipun Kinan masih menangis tapi tangisnya sudah terdengar berbeda.
"Menurutmu ini rayuan?" Bisik Bang Arben.
"Aku tidak yakin." Balas Bang Rama.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara