Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Sisi Lain Kejahatan Bu Ratna
Hari-hari setelah putusan tidak datang dengan gemuruh, tidak ada perubahan drastis, tidak ada sorak kemenangan...
Hidup Zahra justru berjalan lebih pelan, seperti sungai yang akhirnya menemukan alurnya sendiri.
Pagi pertamanya sebagai perempuan yang sepenuhnya merdeka ia lalui dengan membuat kopi sendiri...
Tidak ada pesan masuk, tidak ada kewajiban menjelaskan apa pun pada siapa pun.
Sunyi.
Zahra duduk di meja kecil dekat jendela, memandangi sinar matahari yang menembus tirai tipis, dulu, sunyi terasa menakutkan sekarang, ia terasa jujur..
ia mulai menata ulang hidupnya, jadwal kerja diatur ulang, proyek-proyek lama ditinjau kembali..!
Zahra memilih klien dengan lebih selektif bukan karena sombong, tapi karena ia tahu nilainya..
Wulan sering datang, kadang hanya untuk duduk tanpa banyak bicara.
"Kamu baik-baik saja Ra?” tanya Wulan suatu sore.
Zahra tersenyum kecil.
“Aku sedang belajar nyaman dengan diriku sendiri.”
"Bagus kalau begitu! Ini baru sahabat ku" ucap Wulan dan mereka berdua tertawa lepas bersama..!
Lepas berbincang-bincang Wulan mengantar Zahra untuk berangkat ke kantor..!!
"Ra, aku drop disini ya, aku juga lagi terburu-buru mau ada meeting penting" ucap Wulan
"Iya gak apa-apa Lan... Terima kasih sudah mengantar aku" jawab Zahra
"Oh ya... Selamat bekerja dihari pertama kamu bebas" ucap Wulan sambil tertawa dan pergi, Zahra hanya tersenyum tipis menanggapi candaan dari sahabat nya itu..!
Sementara itu Fadhil tetap profesional, tidak berubah, tidak melampaui batas, namun kehadirannya stabil, memberi rasa aman tanpa menuntut apa pun.
"Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa lagi, karena reputasi mu sudah berdiri sendiri" ucap Fadhil suatu kali..
Zahra mengangguk.
“Dan aku ingin menjaganya dengan cara yang benar.”
***
Malam itu rumah Bu Ratna kembali sunyi, tetapi bukan sunyi yang menenangkan, sunyi yang menekan, membuat dada terasa sesak.
Bu Ratna duduk di ruang tengah dengan punggung tegak, wajahnya dingin, tangannya menggenggam ponsel erat, seolah dari benda kecil itulah semua kendali hidupnya masih tersisa..
Ia menekan nomor yang sudah sangat dikenalnya.
(“Rena... datang ke rumah Mak sekarang ya”) ucapnya begitu panggilan tersambung..
Di seberang sana, Rena terdiam sejenak.
(“Sekarang, Mak?”)
("Iya. Sekarang,”) ulang Bu Ratna dengan nada yang tidak memberi ruang untuk menolak.
(“Ada hal penting yang ingin Mak bicarakan")
Tanpa menunggu jawaban lebih jauh, Bu Ratna mematikan sambungan, wajahnya mengeras, tidak ada lagi keraguan di matanya. Yang tersisa hanya tekad.
Beberapa saat kemudian, mobil Rena berhenti di halaman rumah itu.
Dini yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh, begitu melihat Rena turun dari mobil, sorot matanya berubah tajam, tidak ada senyum, tidak ada sapaan.
Rena melangkah masuk dengan langkah ragu.
“Dini,” sapa Rena singkat.
Dini tidak menjawab, ia hanya menatap Rena dari ujung kepala sampai kaki, tatapan yang jelas-jelas menolak kehadirannya.
“Kamu mau ke mana? Sudah malam begini masih saja bertamu, gak sopan tahu gak, lagian kak Genta juga gak dirumah” ucap Dini dingin.
“Mak kamu yang minta aku datang,” jawab Rena berusaha tenang.
Dini berdiri, menghalangi jalan.
“Rumah ini sudah cukup kacau tanpa kehadiran kamu.”
Rena menelan ludah, namun ia tetap melangkah.
“Aku cuma memenuhi permintaan Mak kamu.”
Tanpa menunggu izin lebih jauh, Rena melewati Dini..
Dini mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, tetapi ia tidak menghentikan langkah Rena.
Di dalam kamar, Bu Ratna duduk di tepi ranjang, begitu Rena masuk, Bu Ratna langsung menutup pintu.
“Kamu duduk,” perintahnya singkat.
Rena duduk perlahan, jantungnya berdegup tidak nyaman, ada sesuatu di wajah Bu Ratna malam itu, lebih gelap dari biasanya.
"Semuanya sudah berjalan sejauh ini,” ucap Bu Ratna.
"Zahra sudah lepas, Genta sudah kembali ke rumah, sekarang tinggal memastikan tidak ada yang mengganggu.”
Rena mengernyit.
“Maksud Mak?”
Sebelum Bu Ratna sempat menjawab, ponselnya bergetar keras di atas meja, nama yang muncul di layar membuat wajah Bu Ratna seketika berubah pucat.
Siti.
Tangannya gemetar saat mengangkat telepon.
("Halo?”) ucapnya pelan, terlalu pelan.
Suara panik terdengar dari seberang.
(“Bu… Bu Ratna… polisi sudah mulai menyisir, nama saya dan suami saya sudah disebut, kami jadi buronan.”)
Bu Ratna berdiri mendadak.
(“Kamu gila menelepon ke nomor ini!”) desisnya.
Rena membeku di tempat duduknya, kata “polisi” membuat tubuhnya menegang.
("Bu, saya takut, mereka tanya-tanya soal saya kesemua orang, yang mengenal saya") suara Siti bergetar
Wajah Bu Ratna menegang, matanya melirik Rena sekilas, lalu menjauhkan ponsel dari telinga..
(“Dengar saya baik-baik,”) ucap Bu Ratna kembali ke telepon dengan suara rendah namun penuh ancaman..
("Kalau kamu berani menyebut nama saya, hidup kamu dan keluarga kamu akan jauh lebih hancur daripada sekarang.”)
Di sisi lain, Siti terisak.
("Tapi Bu… bagaimana dengan kami?")
("Kalian tanggung sendiri resikonya!") Ucap Bu Ratna keras.
(“Kalian dibayar untuk diam, ingat itu.”)
Rena menutup mulutnya dengan tangan, napasnya tercekat, setiap kata yang keluar dari mulut Bu Ratna terasa dingin dan kejam.
("Kalau polisi menangkap kalian, kalian hadapi sendiri, saya tidak pernah ada di sana, tidak pernah memerintahkan apa pun, mengerti?”) lanjut Bu Ratna tanpa sedikitpun empati
Siti terdiam lama sebelum menjawab lirih,
("Iya, Bu…”)
Bu Ratna langsung mematikan sambungan, ruangan itu senyap, hanya suara napas Rena yang terdengar, cepat dan tidak teratur.
"Mak… itu maksudnya apa?" suara Rena bergetar.
Bu Ratna menoleh perlahan, tatapannya tajam, tanpa rasa bersalah.
“Kamu dengar sendiri.”
Rena berdiri, wajahnya pucat.
“Jadi… semua yang terjadi pada Zahra… kebakaran itu… ayahnya yang meninggal…”
Bu Ratna melangkah mendekat..
“Semua itu bukan urusanmu,” ucapnya dingin.
“Yang perlu kamu tahu, Rena, semua ini demi masa depan.” lanjut Bu Ratna
Rena mundur satu langkah.
“Mak tahu ini kejahatan, kan?”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Dunia tidak pernah adil pada orang yang lemah, kalau mau bertahan, kita harus berani.” jawab Bu Ratna
Rena menatap wanita di depannya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak menyangka… Mak bisa senekad ini.”
“Sekarang kamu sudah tahu, karena itu, kamu harus tetap di sisiku.” balas Bu Ratna tanpa ragu
Rena terdiam lama, dadanya terasa sesak, selama ini ia mengira Bu Ratna hanya keras, hanya manipulatif, tapi malam ini, ia melihat wajah lain dari Bu Ratna..
Wajah seorang wanita yang tidak segan menghancurkan hidup orang lain demi mempertahankan dirinya..
Di luar kamar, Dini berdiri menempel di dinding, wajahnya pucat, ia mendengar sebagian percakapan itu..
Tangannya gemetar..
Untuk pertama kalinya, Dini menyadari satu hal yang mengerikan:
Ibunya bukan hanya keras… tetapi berbahaya..!!
__Bersambung__