NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:846
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 RUMAH SAKIT

Seyna segera dilarikan ke rumah sakit bersama Risa dan salah satu pelayan tua yang selalu menjaganya yang bernama bi Surti. Ambulans berhenti tepat di depan IGD rumah sakit. Perawat segera menurunkan Seyna yang sudah tak sadarkan diri, darah masih merembes dari pelipisnya.

"Non, tolong sadar...jangan tinggalkan bibi dan risa," ucap Bi Surti.

"Gawat trauma kepala! Bawa ke ruang darurat, cepat!" teriak salah satu dokter saat meliha Seyna yang sudah terkulai lemas.

Seyna didorong masuk ke ruang IGD dengan cepat, tirai putih langsung ditutup. Beberapa dokter dan perawat berkumpul untuk mengecek kondisi Seyna.

"Tekanan darah turun!"

"Oksigen, cepat!"

"Ada kemungkinan gegar otak siapkan CT-Scan setelah perdarahan dihentikan!"

"Ambilkan kapas!"

Suara-suara panik itu bercampur menjadi satu, sementara tubuh Seyna yang kecil nyaris tenggelam di atas ranjang rumah sakit yang terlalu besar untuknya. Seyna sudah tidak sadarkan diri.

Di luar IGD, Risa berdiri dengan tangan gemetar. Sedangkan Bi Surti memeluk tasnya erat-erat, wajahnya pucat, matanya memerah. Ia tahu kekejaman yang dilakukan Dirga dan Reni, dan rasa sakit yang sekalu dialami Seyna.

"Ya Tuhan… tolong jaga Nona kecil saya… tolong jangan ambil dia, biarkan dia bisa merasa kebahagiaan dulu," ucapnya lirih.

Risa menunduk, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan saat mendengar doa Bi Surti. Setiap teriakan dokter dari dalam membuat lututnya semakin lemas.

Risa tahu betul betapa Seyna selama ini berusaha kuat, meskipun disakiti, dihina, diperlakukan bukan seperti manusia. Kini melihat gadis itu terbaring tak berdaya dengan darah berlumuran membuat hatinya hancur berkeping-keping.

"Nona Seyna, aku sudah bersamamu dari kecil dan aku tahu penderitaanmu. Tapi aku mohon bertahanlah, kau harus membalas dendammu!" gumam Risa.

.

Sementara itu di rumah keluarga Damar.Ruang keluarga berubah kacau, para manusia tersebut panik. Bahkan para pelayan merasa sedih dengan apa yang dialami oleh Seyna. Sedangkan Reni mondar-mandir, menarik rambutnya sendiri, wajahnya penuh ketakutan. Dirga duduk di sofa, memukul-mukul dahinya dengan telapak tangan.

"Aku bilang juga apa! Kamu dorong dia terlalu keras!" seru Reni panik.

"Kamu yang duluan mukul dia! Kalau dia mati gimana?" balas Dirga, suara bergetar.

"Kita bisa masuk penjara, Dirga! Itu pembunuhan!"

"Makanya aku bilang jangan pakai kekerasan! Tapi kamu keras kepala terus!"

"Tapi kau yang memaksanya!" teriak Reni yang sudah frustasi.

"Kau yang memintaku merebut surat wasiat kakek! Aku...aku tidak sengaja mendorong gadis itu," ucap Dirga lirih.

Mereka saling menyalahkan satu sama lain, saling adu mulut mencari pembenaran dari dalam dirinya sendiri, napas mereka memburu mencoba untuk menahan ketakutan. Bayangan Seyna tergeletak bersimbah darah menghantui pikiran mereka. Reni sudah hampir jatuh saking paniknya.

Dirga tak kalah gemetar, meski mencoba tetap terlihat tegas. Namun ketakutan jelas nampak di matanya ketakutan bahwa satu kesalahan bisa menghancurkan reputasi, hartanya, dan hidupnya sendiri.

Di tengah kepanikan itu, Alisha duduk di kursi dengan santai, memainkan kuku dan menatap ponsel. Ia bahkan tidak peduli dengan keadaan Seyna, ia malah senang jika Seyna tiada jadinya ancaman ancaman gadis itu tidak akan terjadi di dirinya. Ia merasa seolah kejadian sebelumnya hanyalah tontonan hiburan.

"Ayolah," gumam Alisha pelan.

"Kalian lebay banget. Itu cuma luka kecil. Seyna nggak bakal mati cuma gara-gara itu. Walau dia bodoh dia juga lumayan kuat, kita dari dulu siksa juga dia ga mati mati."

Reni spontan menatap Alisha dengan mata merah.

"Kamu diam, Alisha! Ini semua terjadi karena kamu juga! Kalau dia—"

"Kalau dia mati?" Alisha memotong, mengangkat alis.

"Justru bagus. Lebih cepat selesai semua drama warisan itu."

Reni membeku mendengar ucapan putrinya sedangkan Dirga pun terpaku, tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut putrinya. Dalam keheningan itu, ponsel Reni berdering. Nama rumah sakit terpampang jelas dilayar ponselnya. Reni menelan salivanya, tangan gemetar saat mengangkat telepon itu.

"Ha...Halo," ucap Reni gugup.

"Halo Bu Reni, kondisi Nona Seyna kritis. Kami membutuhkan izin untuk operasi," ucap seseorang dari balik telepon.

Mendengar itu Reni gemetar hebat, ia lalu buru buru berucap.

"Segera lakukan operasi dan cepat selamatkan dia."

"Kalau ibu sudah setujui, saya bisa cepat melakukan operasi."

Telepon di matikan, Dirga dengan cepat menghampiri sang istri untuk menanyakan kondisi Seyna.

"Dia..dia kritis, Aku tidak mau masuk penjara Dirga," ucap Reni ketakutan.

..

"Jadi bagaimana, apakah bapak mau menerima tawaran ini?"tanya Kael dengan tegas.

"Kami belum bisa menerima tawaran tuan," ucap salah seorang pria paruh baya.

Kael menepuk meja di depannya dengan keras, membuat pria di hadapannya terlonjak kaget.

"Saya sudah berniat baik membantu Valenta group untuk lebih maju dengan gabung bersama Adikara group!" tegas Kael sorot matanya menajam.

"Tapi tuan Kael...saya masih belum bisa memberikan Valenta group untuk dikelola bersama Adikara group. Saya masih mau mengurus perusahaan saya sendiri," ucap Pria paruh baya itu wajahnya menampilkan ketakutan.

Kael berdiri perlahan, tubuhnya tegang, sorot matanya menusuk tajam ke arah pria paruh baya itu.

"Baik. Kalau begitu kita lakukan dengan cara yang tidak kau suka." Nada suaranya datar, namun mengandung ancaman yang sangat jelas.

Pria itu menelan salivanya, napasnya tersengal. Kael merapatkan tubuh ke meja, mencondongkan badan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari pria tersebut.

"Valenta Group sedang dalam kondisi paling rapuh dan aku menawarkan tangan untuk menolongmu. Tapi kau malah menolakku?"

Pria itu mundur sedikit, kedua tangannya gemetar.

"Tu… Tuan Kael bukan begitu maksud saya. Hanya saja—"

Tanpa menunggu pria dihadapannya menyelesaikan perkataanya.Kael membanting meja di depannya begitu keras hingga seluruh berkas bergetar dan kursi pria paruh baya itu hampir jatuh.

Semua orang di ruangan terhenyak. Zidan yang berdiri di belakang hanya bisa menunduk, tahu bahwa Kael benar-benar berada di titik emosinya. Kael mendekat, napasnya terdengar berat.

"Kau menolak Adikara Group berarti kau menolak diriku dan saat menolak saya artinya…"

Ia berhenti, menatap langsung ke mata pria itu.

"...kau siap melihat Valenta Group bangkrut dalam hitungan minggu."

Pria itu terperanjat sat mendengar ancaman Kael, wajahnya tiba-tiba memucat.

"Tu-tuan! Anda tidak bisa begitu—"

Kael tersenyum tipis. Senyum yang dingin dan penuh kepalsuan. "Aku bisa melakukan lebih dari itu."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Kael mengambil jasnya, lalu meninggalkan ruangan dengan pintu dibanting keras. Sesampainya di luar gedung Valenta Group, Zidan buru-buru membukakan pintu mobil. Kael masuk dengan wajah dingin dan penuh amarah. Mobil mulai berjalan meninggalkan perusahaan itu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Tiba-tiba Kael memejamkan mata, mencoba mengendalikan emosinya. Namun wajah polos gadis itu yang bernama Seyna muncul secara tiba tiba dipikiran Kael.

Gadis lugu dan bodoh, tapi polos. Gadis yang entah kenapa membuat dadanya terasa aneh sejak kejadian di mobil tadi. Kael membuka matanya, menatap me arah depan tepat dimmana Zidan berada.

"Zidan," Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Zidan menoleh sedikit dari kursi pengemudi. "Iya, Tuan?"

"Gadis itu…" Kael menahan napas sejenak.

"…Seyna. Bagaimana keadaanya?"

.......

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!