NovelToon NovelToon
Dosen LC Itu, Milikku

Dosen LC Itu, Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Berondong
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Musoka

Niat hati ingin menghilangkan semua masalah dengan masuk ke gemerlap dunia malam, Azka Elza Argantara justru terjebak di dalam masalah yang semakin bertambah rumit dan membingungkan.

Kehilangan kesadaran membuat dirinya harus terbangun di atas ranjang yang sama dengan dosen favoritnya, Aira Velisha Mahadewi

Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apakah hubungan mereka akan berubah akibat itu semua? Dan apakah mereka akan semakin bertambah dekat atau justru semakin jauh pada nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

“Ibu … buka lagi mulutnya … satu suap lagi habis itu udah makannya.”

Azka mengarahkan sendok berisikan bubur ayam hangat terakhir ke bibir mungil milik Aira yang sedang tertutup dengan begitu sangat rapat. Ia mengukir senyuman tipis penuh kebahagiaan, lantaran sang dosen pada pagi hari ini makan lebih banyak daripada sebelumnya.

Aira mengunyah sisa-sisa bubur ayam yang masihlah berada di dalam bibir mungilnya, sembari menatap wajah tampan Azka dengan sorot mata dipenuhi perasaan campur aduk begitu sangat luar biasa—rasa hangat, damai, aman, sedih, dan marah—bercampur menjadi satu-kesatuan di dalam dirinya.

Detik demi detik berlalu, Aira secara perlahan-lahan mulai kembali membuka bibir mungilnya, menerima suapan terakhir dari Azka tanpa mengatakan apa-apa.

“Pintar … Kalau kayak gini terus … aku yakin Ibu bisa pulih dan calon anak kita bisa makin kuat,” ucap Azka tanpa ada beban sedikit pun, menaruh mangkuk berisikan bubur ayam di atas nampan, lantas bergerak ingin memberikan elusan lembut di perut ramping milik Aira.

Akan tetapi, Azka sesegera mungkin menghentikan gerakan tangannya, ketika menyadari bahwa sang dosen belumlah memaafkan dan menerima semua kesalahannya beberapa minggu lalu.

“Jangan sentuh saya …,” ucap Aira sambil menundukkan kepala, napasnya tersengal-sengal, bibir mungilnya bergetar seolah ada banyak hal yang ingin dirinya ucapkan, tetapi tertahan di tenggorokan. Tangannya menggenggam kuat selimut tebal yang sedang menutupi tubuhnya.

Azka menarik pelan tangannya dari atas udara. Ia menelan air liur dengan begitu sangat susah payah, berusaha tetap tersenyum meskipun hatinya terasa sangat sakit saat mendengar perkataan sang dosen favorit.

“Maaf … aku cuma … pengin mastiin Ibu dan bayi kita baik-baik aja,” ucap Azka dengan begitu sangat lirih.

Aira mengalikan pandangan ke arah luar melalui salah satu jendela ruangan kamar rawat inap VVIP tempat dirinya berada saat ini, mencoba menenangkan diri dengan melihat keindahan taman belakang rumah sakit.

“Saya masih belum bisa … Azka. Kamu datang seenaknya. Kamu melakukan hal yang jamy mau seolah saya ini … milik kamu … Padahal … kita bukan siapa-siapa,” gumam Aira, suaranya pecah di akhir kalimat.

Azka sontak menggelengkan kepala dengan sangat kencang, menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum kembali membuka suara. “Nggak! Kamu memang bukan milikku, Bu … tapi … kamu ngandung darah dagingku … aku takut kehilangan dia … aku takut kehilangan kalian berdua. Itu aja.”

Aira memejamkan mata, berusaha meredam seluruh badai di dadanya. “Saya belum bilang saya mau kamu ada di sini. Saya belum siap ngelihat kamu. Dan kamu juga belum tanggung jawab atas rasa sakit yang kamu bikin.”

Kata-kata itu menghantam Azka seperti sebuah tonjokan telak. Namun, ia tetap duduk di tempatnya—tidak bangkit dan tidak pergi—hanya menundukkan kepala, menahan diri agar tidak menyentuh atau mendekati Aira lebih jauh lagi.

“Oke ….” Azka akhirnya bersuara setelah beberapa detik keheningan panjang. “Kalau Ibu mau aku pergi, bilang aja. Aku nggak akan maksa.”

Aira menggigit bibir bawahnya begitu keras hingga hampir berdarah. Ia tahu seharusnya ia mengatakan ‘pergi’, karena itu cara paling aman untuk hatinya, tetapi entah kenapa, kata itu tidak mau keluar.

Beberapa detik berlalu, hanya suara detak jarum jam yang terdengar.

Aira akhirnya membuka suara—pelan, hampir tidak terdengar. “Jangan sentuh saya dulu … tapi … jangan pergi juga.”

Azka yang sejak tadi menahan napas, akhirnya mendongak pelan. Mata gelapnya membulat, penuh ketidakpercayaan, harapan, dan rasa bersalah yang menumpuk.

“Jadi … aku boleh tetap di sini?” tanya Azka hati-hati, seolah khawatir jika suaranya terlalu keras akan membuat perempuan itu berubah pikiran.

Aira tidak menatapnya, tetapi ia memberikan anggukan kecil—sangat kecil, nyaris tak terlihat.

Azka tersenyum lirih. Bukan senyum lega, tetapi semacam senyum seseorang yang merasa diberi kesempatan kedua yang sangat rapuh.

“Terima kasih …,” ucap Azka dengan begitu sangat pelan, “Aku janji … aku nggak akan nyentuh kamu kalau kamu nggak mau. Aku cuma mau jagain kalian dari jauh.”

Aira menarik napas panjang, mencoba mempertahankan ketenangan yang tersisa. “Saya bukan ‘kalian’, Azka. Saya cuma saya. Kamu jaga jarak.”

Azka mengangguk patuh. “Iya. Tapi calon anak kita tetep harus dijagain.”

Aira memejamkan mata. Ada sesuatu di dalam hatinya bergetar saat mendengar kata-kata itu—bukan benci, bukan juga cinta, tetapi campuran rumit yang bahkan ia sendiri tidak bisa pahami.

Azka kembali bersandar di kursinya, memejam mata sebentar sambil menahan seluruh gejolak di dalam dirinya.

Aira membuka mata kembali perlahan, dan hal pertama yang dilihatnya adalah Azka yang kini duduk tegak dengan kedua tangan mengepal di atas pahanya—seolah cowok itu sedang berusaha keras mengikat dirinya agar tidak bergerak mendekat. Sikap itu, tanpa Aira sadari, justru membuat dadanya terasa sedikit lebih sesak.

“Azka …,” panggil Aira pelan, hampir seperti sebuah refleks.

Azka langsung menoleh, cepat, seolah dipanggil oleh sesuatu yang sudah lama ia rindukan. “Iya, Bu?”

Aira menelan air liur dengan susah payah. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak hal yang ingin ia tegaskan, tetapi lidahnya terasa terlalu berat.

“Kok, kamu masih di sini? Padahal tadi saya bilang kamu jangan pergi, tapi kamu bisa aja pura-pura nggak denger.”

Azka melemparkan senyuman kecil—penuh luka dan kejujuran. “Aku nggak bisa pura-pura nggak denger kalau itu soal kamu.”

Aira memalingkan wajah, pipinya memanas meski hatinya masih penuh amarah. “Kamu harusnya bisa.”

Azka menggeleng pelan. “Sayangnya aku nggak bisa. Waktu kamu pingsan di toilet dan aku nemuin kamu kayak gitu … aku kira aku beneran kehilangan kamu ….”

Nada suaranya merendah, patah.

Aira meremas selimutnya dengan sangat kencang. “Saya bukan siapa-siapa buat kamu, Azka.”

“Buat aku … kamu banyak,” balas Azka tanpa ragu.

Kalimat itu menghantam Aira begitu kuat hingga ia kehabisan kata.

Azka melanjutkan dengan suara berat, “Dan kalau kamu mau aku jaga jarak, aku bakal jaga jarak. Tapi bukan berarti aku bisa pura-pura nggak peduli.”

Keheningan melingkupi ruangan. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar—satu bergetar, satu menahan diri.

Beberapa detik kemudian, Aira tiba-tiba menyentuh sisi ranjang, memberi ruang kecil.

“Kalau mau duduk … duduknya agak jauh,” ucap Aira dengan begitu sangat lirih.

Azka langsung mematuhi, memindahkan kursinya sedikit mundur. Tidak dekat, tetapi tidak terlalu jauh—titik tengah yang ganjil, tetapi entah kenapa justru terasa paling aman bagi Aira.

Cowok itu duduk dengan hati-hati, seolah takut gesekan kecil pun bisa dianggap melanggar janji barusan. “Gini cukup?”

Aira mengangguk tanpa menatap. “Cukup.”

Beberapa menit berlalu dalam diam. Namun, kali ini bukan diam yang menegangkan. Ini diam yang entah bagaimana terasa seperti jeda bernapas setelah badai.

Aira akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya sangat pelan. “Azka … kamu nggak jijik? Sama saya … yang jauh lebih tua … dan lagi hamil karena kesalahan kamu?”

Azka mengangkat wajahnya, dan mata itu—mata yang biasanya penuh kenakalan—kini menjadi hitam, jujur, dan menyakitkan sekaligus.

“Ibu bukan kesalahan. Kamu bukan,” jawab Azka dengan sangat tegas.

Aira merasakan dadanya mencubit. “Terus kehamilan ini?”

Azka menghirup napas panjang, lalu mengembuskannya dengan bergetar. “Kehamilan itu memang datang dari kesalahan… tapi bayi itu sendiri bukan kesalahan. Dia nggak salah apa-apa.”

Aira menunduk, tangan gemetar perlahan menyentuh perutnya. Emosi kembali mengalir, menyengat tenggorokan.

“Dan kalau nanti kamu benci aku … aku ngerti,” lanjut Azka dengan suara serak, “Tapi … aku mohon … jangan benci dia. Jangan jauhin dia dari aku juga. Aku siap nerima semua kemarahan kamu, semua hukuman kamu … asal jangan buat aku kehilangan … keluarga kecil yang aku bahkan belum sempat punya.”

Aira sontak membeku dan terdiam seribu bahasa saat mendengar jawaban itu.

1
Sherin Loren
double up
Aulia Shafa
tidak egois , karena Azka jua mau . beda cerita kalau kamu minta dinikahi tapi Azka ga mau , itu baru egois ...
Aulia Shafa
bagus Azka , 👍👍👍👍
Aira , terima dong biar belum cinta usaha jalani sama-sama . cinta akan datang seiring waktu
Aulia Shafa
setuju banget 👍👍👍👍👍👍👍
Aulia Shafa
kenapa ga dinikahin aja sih
Musoka: Kan Aira masih belum cinta
total 1 replies
Sherin Loren
next
Musoka: siap 🤭
total 1 replies
Aulia Shafa
alurnya terlalu lama kak , maaaaaafff🙏
Aulia Shafa
kenapa sosok azka ini terlalu friendly banget sih , apa gak ada rasa tanggung jawab sedikitpun atas semua perbuatanmu itu 🤬🤬🤬🤬🤬
Aulia Shafa
kapan azka sama aira satu cerita lagi👍👍👍👍
Musoka: Nanti, ya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!