Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU LANGKAH LEBIH CEPAT
Dikala seribu ragu datang memaksanya untuk segera menghapus semua ingatan juga harapan yang terlalu menyiksa, disaat yang sama rasa ingin bertahan berbisik menguasai kesadaran.
Runa ingin lepas, tapi dia tak bisa. Bukanlagi kenangan indah, tapi masa depan Razqa dan semua mimpi tentang membangun keluarga yang utuh serta membuktikan pada Abah, dia juga punya kesetiaan yang setiap hari Abah ajarkan.
Malam ini usai membereskan perlengkapannya, Runa sengaja menemani Abahnya yang sedang menikmati acara televis, sambil memberi pijatan lembut untuk Abah.
“Kamu chattingan sama siapa sih dari tadi? Gak pernah-pernahnya sambil senyum-senyum gitu. Rangga?” selidik Abah.
Mas Rangga? Oh iya, aku lupa belum ngasi tau Mas Rangga kalau besok gak perlu ngantarin karena aku bakalan pagi banget.
“Bukan, Abah.”
“Syukurlah kalau bukan. Abah cuma mengingatkan supaya kamu gak sakit hati dua kali. Ingat, jarum jam gak pernah berputar ke kiri," tutur Abah diiringi suara gesekan jarum jam di dinding. "Sebentar lagi panggil Reza, suruh jemput Razqa,” perintah Abah.
Runa baru saja akan beranjak menuju kamar Reza, suara ketukan pintu depan terdengar, ucapan salam yang begitu lembut dari seorang perempuan. Runa bergegas membukanya.
“Waalaikumsalam. Lah, kok malah Aisyah yang mengantar Razqa pulang? Baru aja Mba Runa mau suruh Reza jemput, jadi merepotkan.”
“Ah tidak Mba, tadinya juga udah aku bilangin ke Razqa kalau sebentar lagi akan dijemput, tapi Razqa katanya kebelet pipis dan gak mau ditemenin pipis di rumah kita.”
“Ya ampun. Maaf ya, Aisyah. Razqa tuh emang pemalu banget, dan sungkan anaknya.” Runa mengarakahkan Razqa untuk masuk.
Seseorang keluar dari arah kamar dengan peci putih dan sarung kotak-kotak hijau.
“Ekhem, Iya Dek Aisyah. Razqa itu pemalu, sama seperti Omnya,” ucap Reza menghampiri Runa dan Aisyah yang masih di depan pintu.
“Tapi besok-besok gak usah ya repot-repot lagi jalan kaki nganterin kesini, catet aja nomer kak Reza nih, tinggal chat aja kalau Razqa udah pulang,” imbuhnya lagi.
“Jangan mau Aisyah digombalin sama Reza, dia shalat magrib sama isya aja di rumah, gimana mau bangun rumah tangga, cemen dia mah.” Celetuk Abah dari dalam.
Aisyah hanya tersenyum menunduk menanggapi kalimat Abah. Bagi Reza, senyuman Aisyah mengandung segala krtieria lengkap calon istri soleha, seolah mengajaknya berumah tangga, tapi benar kata Abah, dia masih cemen dan belum punya apa-apa.
“Maaf Aisyah, itu senyuman atau psikotropika ya? kok bikin tenang?” Reza menyentuh dadanya dengan penuh drama.
Rasanya Runa ingin sekali mengambil gagang penyapu yang ada di balik pintu dan menghantam kepala Reza agar kembali waras.
“Astagfirullah.” Runa ikut mengelus dada, “Aisyah mampir dulu, yuk.” Runa berbasa-basi, tapi tentu senang sekali kalau si gadis hitam manis ini bersedia.
“Lain kali, Mba. Udah malam juga,” tolak Aisyah halus, “Aku pulang, Mba ya, salam buat Abah. Assalamualaikum.”
“Eh eh eh tunggu, gak baik anak gadis jalan kaki sendirian, ini udah malam. Jurig berkeliaran diluar sana,” cegah Reza sambil buru-buru mengenakan sendalnya.
“Loh, bukannya akan lebih berbahaya kalau berduaan ya?” balas Aisyah penuh retorika, “Aku pamit ya kak Reza,” imbuhnya lagi.
Reza terdiam menguasai kesadarannya, daya serap otaknya selain sulit mengartikan syair-syair Abah ternyata juga kalah menterjemahkan arti senyuman Aisyah.
“Rasain kamu!”
Akhirnya Runa bisa menampol adiknya itu, walau tidak dengan tangkai sapu.
Runa, Reza dan Razqa ikut menikmati tayangan TV bersama Abah sambil menikmati singkong goreng dan roti sisir.
“Runa permisi jawab telepon sebentar ya, Bah.”
“Rangga?”
“Bukan, Abah .…”
Runa berlalu sebelum filosofi jarum jam disebut-sebut lagi.
***
Senin pagi yang dingin, baru pukul enam tapi Runa sudah rapi. Rencananya dia akan langsung ke kampus nanti. Bagi mahasiswa tingkat akhir, bertemu dosen pembimbing nyatanya lebih sulit dari pada mencari pendamping.
“Ja, bangun dong! kamu kebiasaan tidur abis subuh, kan Mba udah bilang minta anterin pagi-pagi banget.”
Sebenarnya selain karena akan ke kampus, berangkat lebih pagi juga mengantisipasi Rangga yang tadi malam tak berhasil diajak kompromi.
“Apa sih Mba?” Reza menggeliat, seperti biasa dia memang baru tidur dini hari
“Tadi kata Abah, itu udah ada yang nungguin Mba Runa buat berangkat bareng ke pelabuhan? Tu lagi pada makan bubur ayam di depan.”
“Siapa ih?”
Kalau itu adalah Mas Rangga, mana mungkin Abah sehangat bubur di pagi buta.
“Siapa Ja? Mas Rangga? Kalau Mas Rangga yang datang mana mungkin abah kasi bubur ayam, pur ayam kali, kamu salah lihat.,” gerutu Runa.
“Aduh ya itu tinggal liat sendiri aja sana, Mba. Aku ngantuk banget ini dah, sana Mba ah, sana ….”
Reza kembali menutup wajahnya dengan bantal. Runa memeriksa kamar Abah, Razqa masih tertidur disana. Anaknya itu tidak akan bangun sampai Runa berangkat karena dia takut menangis dan merengek ingin ikut pulang bersama Ibunya.
Dibelainya sebentar kepala Razqa dan mengecup pipi gembul anak itu. Harus dia tahan, sedikit lagi saja. Begitu pikir Runa.
“Mimi pulang duluan ya, Nak. Razqa jangan nakal. Doakan mimi dan Daddy,” bisik Runa sebelum keluar dari kamar Abah.
Gadis dengan rambut ikal sebahu itu menyandang ranselnya, Runa hanya mengenakan kaos putih dan menutupinya dengan jaket berwarna ungu, rambut coklatnya digerai, hanya poninya yang dikuncir ke belakang dengan pita kecil berwarna merah.
Dia bergegas menuju teras. Benar saja, Abah sedang menikmati bubur ayam ditemani teh satu mug blirik jadul bercorak hijau putih bersama seorang lelaki berkemeja hitam dengan dua kancing terbuka dan lengan dilipat setengah tiang.
“Kamu?”
Nada Runa penuh penekanan, dia ingin keluar dari kendang serigala kenapa malah masuk ke kendang domba?
“Dah siap, Na? sudah sudah ayo bergangkat nanti ketinggalan ferry pertama, ternyata Nak Abhi ini ya yang telpon tadi malam?”
Abah sangat sumringah, entah mantra apa yang Abhi baca pada semangkuk bubur ayam itu hingga membuat dia diterima pada kedatangan pertama.
“Hay, pagi!”
Abhi berdiri menatap kesegaran di depan matanya, dapat dihirupnya wangi kombinasi bunga peoni dan sakura dari parfum Runa, semakin membuatnya mantap dengan rencana yang ada di kepala.
Runa tidak akan memarahinya di depan Abah. Abhi sudah membuat perhitungan matang.
Sedang Abah enak-enakan menyuap bubur ayam hangat ke mulutnya, Runa harus menelan buah simalakama.
Menerima tawaran Abhi sama saja dia membuka jalan baru untuk memuluskan modus lelaki ini, jika dia menolak artinya sebentar lagi dia akan berpas-pasan dengan Rangga dan drama antara mantan menatu dan mertua akan dimulai, dia tak ingin Razqa melihat kakeknya memarahi sang Daddy.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Abhi tak tau diri.
Asal Runa mau, malu itu urusan nanti.
***
Abhi : "Kita berangkat sekarang?"
Aruna : "Kamu baca ajian apa ke buburnya Abah, HA?"