Di Kota Sentral Raya, kejahatan bukan lagi bayangan yang bersembunyi—ia adalah penguasa. Polisi, aparat, hingga pemerintah berlutut pada satu orang: Wali Kota Sentral Raya, dalang di balik bisnis ilegal, korupsi, dan kekacauan yang membelenggu kota ini.
Namun, ada satu sosok yang tidak tunduk. Adharma—pria yang telah kehilangan segalanya. Orang tua, istri, dan anaknya dibantai tanpa belas kasihan oleh rezim korup demi mempertahankan kekuasaan. Dihantui rasa sakit dan dendam, ia kembali bukan sebagai korban, tetapi sebagai algojo.
Dengan dua cerulit berlumuran darah dan shotgun di punggungnya, Adharma tidak mengenal ampun. Setiap luka yang ia terima hanya membuatnya semakin kuat, mengubahnya menjadi monster yang bahkan kriminal pun takut sebut namanya.
Di balik topeng tengkorak yang menyembunyikan wajahnya, ia memiliki satu tujuan: Menumbangkan Damar Kusuma dan membakar sistem busuk yang telah merenggut segalanya darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saepudin Nurahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusup Ke Menara Permata
Hujan mengguyur Kota Sentral Raya dengan deras. Butiran air membasahi aspal, memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram. Di tengah dinginnya malam, Darma berdiri di atas gedung kosong, tepat di seberang Menara Permata—sebuah gedung pencakar langit yang menjulang megah di jantung kota.
Di balik topeng tengkoraknya, matanya menatap tajam ke arah bangunan itu. Menara Permata bukan sekadar gedung perkantoran biasa. Tempat ini adalah benteng bagi Raden Wijaya dan bisnis kotor yang ia jalankan. Jika ada satu tempat yang menyimpan jawaban atas pembunuhan keluarganya, maka tempat itu ada di dalam sana.
Darma menyesuaikan sarung tangannya, lalu mengecek ulang perlengkapannya.
Dua cerulit tajam terselip di punggungnya.
Sepucuk shotgun ganda tergantung di pinggangnya.
Pisau lempar tersembunyi di dalam sepatu boot-nya.
Alat pemotong kaca dan tali pengaman tersimpan di sabuknya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Ini bukan sekadar misi penyusupan—ini adalah langkah pertama dalam perburuan balas dendamnya.
Darma mengamati struktur keamanan gedung melalui teropong kecil yang ia bawa. Ia mencatat beberapa detail penting:
Dua penjaga bersenjata laras panjang berjaga di pintu utama.
Kamera pengawas terpasang di tiap sudut gedung.
Tiga mobil SUV hitam terparkir di lobi, menandakan ada tamu penting di dalam.
Jalur alternatif: Satu-satunya cara masuk tanpa ketahuan adalah melalui jendela lantai 15 yang sedikit terbuka.
Tanpa ragu, Darma mengaitkan tali pengaman ke pinggangnya dan meluncur dari gedung seberang. Ia berayun di udara, tubuhnya melayang di antara hujan dan gelapnya malam. Ketika mencapai kaca jendela lantai 15, ia menempelkan alat pemotong kaca dan membuat lingkaran kecil tanpa suara.
Kriiit...
Potongan kaca dilepas dengan hati-hati. Darma masuk ke dalam tanpa suara, mendarat ringan di atas lantai berkarpet. Ia merendahkan tubuh, matanya menyapu sekeliling ruangan. Sebuah kantor kosong, dengan berkas-berkas berserakan di meja.
Ia merayap ke pintu, lalu mengintip ke luar. Koridor tampak sepi, hanya ada satu kamera di sudut. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan pisau kecil dan melemparkannya tepat ke lensa kamera.
Ceklek!
Kamera mati seketika.
Darma bergerak cepat menuju tangga darurat. Ia tahu bahwa targetnya ada di lantai 30, di mana ruang rapat eksekutif berada. Di sana, Raden Wijaya dan orang-orang pentingnya sedang melakukan pertemuan tertutup.
Saat mencapai lantai 25, Darma berhenti sejenak. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah tangga. Dengan cepat, ia menyelinap ke balik lemari besi di lorong sempit.
Dua orang penjaga bersenjata lengkap berjalan melewatinya, berbicara dengan suara pelan.
"Bos besar nggak suka kalau ada yang coba ngusik bisnisnya. Dia bilang, siapa pun yang ketahuan menyelidiki terlalu dalam, harus dibereskan."
"Iya, apalagi soal kejadian di pelabuhan kemarin. Bos curiga ada seseorang yang mulai cari tahu tentang operasi kita."
Darma mengepalkan tangan. Mereka sudah tahu ada yang mengusik mereka.
Ketika kedua penjaga itu berbelok, Darma keluar dari persembunyiannya. Dengan kecepatan kilat, ia meraih kepala salah satu penjaga dari belakang dan membekapnya dengan lengan kuat. Pria itu berontak, tetapi hanya dalam hitungan detik, tubuhnya lemas tak bernyawa.
Penjaga kedua baru sadar saat Darma sudah berada di depannya. Sebelum pria itu sempat berteriak, Darma menyarangkan tendangan keras ke perutnya. Penjaga itu tersungkur, mencoba meraih pistolnya—tapi Darma lebih cepat. Ia mencabut cerulitnya dan membabat leher penjaga itu dalam satu tebasan bersih.
Darah mengalir di lantai.
Darma menghela napas pelan. Ia menyeret kedua mayat itu ke balik lemari besi, memastikan tak ada yang langsung menemukannya.
Dengan langkah mantap, ia naik ke lantai 30.
Pintu ruang rapat besar tampak di ujung koridor. Dua pria berbadan kekar berjaga di depan pintu. Darma berjongkok di balik pilar, mengamati situasi.
Dari dalam ruangan, samar-samar terdengar suara seseorang berbicara dengan nada serius.
"Kita harus bertindak cepat. Orang itu sudah mulai bergerak. Aku tidak akan membiarkan bisnis ini hancur hanya karena satu orang idiot yang haus balas dendam."
Darma mengenali suara itu. Itu Raden Wijaya!
Amarahnya membara. Ia ingin langsung menerobos masuk dan menghabisi orang itu. Namun, ia menahan diri. Buru-buru membunuh bukan pilihan. Ia butuh informasi.
Darma menarik napas dalam. Ia mengambil satu pisau lempar dari sabuknya, mengarahkannya ke penjaga di kiri.
Srett!
Pisau itu menancap tepat di leher penjaga. Pria itu jatuh ke lantai tanpa suara.
Penjaga satunya baru saja menyadari sesuatu yang aneh, tapi sebelum ia sempat bereaksi, Darma sudah berada di belakangnya. Dengan cekatan, ia menarik kepala penjaga itu ke belakang dan menyayat lehernya dengan cerulit.
Darah menyembur.
Tanpa menunggu lebih lama, Darma membuka pintu ruang rapat dengan perlahan dan menyelinap masuk.
Di dalam ruangan, Raden Wijaya sedang duduk di ujung meja panjang, dikelilingi oleh empat pria lain.
Darma menarik shotgun-nya dan mengarahkannya ke kepala salah satu pria di meja.
"Jangan bergerak."
Semua orang membeku.
Raden Wijaya menatap Darma dengan tatapan tenang.
"Jadi ini kau... Yang sudah membunuh anak buahku di pelabuhan," katanya sambil tersenyum kecil.
Darma menggeram. "Kau yang memerintahkan pembunuhan keluargaku. Aku datang untuk menyelesaikan ini."
Raden Wijaya tertawa kecil. "Kau pikir hanya aku yang terlibat? Kau masih jauh dari kebenaran, Darma."
Sebelum Darma sempat menarik pelatuk, sesuatu terjadi.
Pintu ruangan tiba-tiba meledak.
Ledakan dahsyat menghantam Darma, melemparkannya ke belakang. Suara tembakan menggema di dalam ruangan.
Darma merasakan panas membakar tubuhnya. Suara berdenging memenuhi telinganya. Dalam pandangan kabur, ia melihat beberapa sosok berlari masuk—sepasukan pria berbaju hitam dengan emblem khusus di lengan mereka.
Raden Wijaya melangkah mendekat, menatap Darma yang terkapar di lantai.
"Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Darma. Kau baru saja masuk ke neraka."
Lalu semuanya menjadi gelap.
Bersambung...