NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Lepas Landas

Riuh ramai bandara masih terasa walau waktu telah menunjukkan tepat pukul sepuluh malam. Gerimis nyatanya tak menjadi pertanda sunyi, ketika setiap insan yang Sarah lihat saat ini tengah sibuk berlari kesana-kemari.

Ada satu keluarga yang bahkan tampak tergesa karena hampir tertinggal pesawat mereka. Adapula dua orang lelaki parlente mencurigakan yang saling bergandengan tangan menuju bagian pemeriksaan. Sesekali wanita dengan baju pelayan tertutup jaket abu itu pun mendengar dengung mesin pesawat diiringi suara jeritan anak kecil yang menangis ataupun tertawa terbahak-bahak.

Begitu gaduh dunia, namun Sarah yakin tidak bisa mengalahkan kegaduhan yang tengah berkecamuk di dalam dirinya saat ini. Kepergian Suratih sebentar lagi memang membuat dirinya sangat senang. Akan tetapi, disisi lain ia juga merasa khawatir atas apa yang akan terjadi. Padahal semua telah sesuai rencana.

Namun apakah ia yang memegang kendalinya? Sarah cukup ragu sebenarnya.

"Bagas! Boleh minta tolong ambilkan kalung bunda di mobil? Tadi kayaknya sempat terlepas deh. Minta tolong ya nak."

Lamunan Sarah terkoyak saat suara Suratih menggema di dekatnya. Ia sedari tadi hanya berdiri mematung, membersamai dua orang atasannya yang sedang duduk santai di bangku ruang  tunggu umum bandara saat ini. Namun, salah dari seorang disana mau tak mau harus beranjak karena titah sang bunda.

Sarah pikir lelaki itu akan langsung melewatinya, namun ternyata kini tubuh besarnya itu telah sepenuhnya menghadap ke arah dirinya sambil dengan malas berkata, "Thalia kamu ambil ya kalung bunda saya di mobil."

Singkat saja dan Sarah hendak bergegas menuruti titah Bagas. Akan tetapi urung pula karena baru dua langkah ia berjalan, Suratih telah menghentikannya.

"Tunggu Thalia, kamu disini saja. Biar Bagas yang ambil."

Bagas yang tengah sibuk dengan gadget-nya itu refleks mengangkat kepalanya dan menatap heran sosok sang bunda yang duduk tepat disebelahnya.

"Gak salah Bun? Kenapa harus Bagas? Kita bawa pelayan kan biar ada yang disuruh-suruh," tanya Bagas sambil mengangkat satu alisnya pertanda heran.

Dengan cepat Suratih menjawab, "Kamu tuh ya. Itu Thalia dari tadi udah berdiri lebih dari setengah jam loh gara-gara gak ada tempat duduk lagi. Masa dia juga harus jalan ke parkiran? Kamu jadi cowok peka sedikit dong nak. Gantian biar Sarah duduk dulu ya."

What? Jadi dia harus mengalah untuk seorang pelayan? Bagas tidak kuasa untuk tidak mendebatnya. Namun baru saja hendak membuka mulut, ibunya itu malah melotot tajam memberikan peringatan secara tersirat.

Menghela napas pasrah, Bagas pun mau tak mau akhirnya beranjak untuk mengambil kalung ibunya yang tertinggal di mobil mereka. Dengan malas ia melangkah menjauh dari dua sosok wanita disana, dimana saat ini Thalia telah mengambil duduk disebelah Suratih—tempat Bagas sebelumnya.

Keduanya hening sejenak. Keduanya sama-sama menatap ke arah depan seperti dua orang asing yang tidak kenal satu sama lain. Sepatah kata dari Suratih kemudian mengawali obrolan sunyi mereka. Pelan asal terdengar, Suratih menyampaikan pesan kepada Sarah disana.

"Ingat Sarah! Apapun yang terjadi saat saya pergi maka bukan urusan saya ketika nanti saya kembali. Jaga rahasia kita sampai mati walaupun mungkin rencana payahmu itu tidak berhasil."

Tersenyum miring, Sarah kemudian menanggapi dengan kata-kata yang lebih tajam lagi, "Ck. Nyonya tidak usah khawatir. Saya bukan tipe orang yang suka ingkar janji. Pikirkan saja bagaimana nyonya akan bersikap saat nanti melihat kondisi putra nyonya yang mengenaskan dan kehilangan jati diri."

Menoleh cepat, Suratih menatap tajam ke arah Sarah yang tampak tenang. "Apa maksud kamu Sarah?!"

Mendengar kepanikan dari nenek lampir itu, membuat Sarah diam-diam merasa tergelitik. Ia pun terkekeh geli namun terkesan sengit dan menyebalkan bagi Suratih.

"Anda akan mengerti nyonya. Tenang saja saya tidak akan menyakiti putra nyonya. Tapi ya, saya tidak menjamin bahwa Bagas mungkin akan menyakiti dirinya sendiri," ucap Sarah ambigu.

Geram Suratih rasakan. Ia mencoba menekan amarahnya dengan mengeratkan giginya kuat. "Brengsek Sarah! Sebenarnya bicara apa kamu?!"

Melirik ke sebelahnya, masih dengan senyum miring penuh misteri itu, Sarah semakin memprovokasi sang mantan mertua. "Emm bagaimana ya? Kalau saya kasih tahu sekarang, tidak seru dong nyonya."

'Sialan! anak ini berani-beraninya bermain denganku!'

Merasa jauh lebih kesal, Suratih kemudian mencoba meminta penjelasan lagi kepada Sarah dengan hendak mencengkram lengan wanita itu. Namun pada akhirnya urung ia lakukan karena Sarah menghindar dan berdiri cepat dari tempat duduknya saat terlihat kehadiran Bagas yang sudah berada di dekat mereka dengan membawa kalung yang ia minta sebelumnya.

Setelahnya ketiga orang itu pun mengambil posisi yang sama seperti sebelum Bagas pergi. Akan tetapi masih cukup tampak ketegangan yang tersisa di wajah nyonya Aryanaka. Bagas yang masih disibukkan dengan urusan yang ada di handphone-nya itu untung tidak menyadarinya.

Lagi pula Suratih pun sepertinya tidak mampu untuk menjelaskan apabila sang putra bertanya. Pikirannya masih berkecamuk dan tidak tenang setelah mendengar perkataan dari Sarah. Semoga saja itu semua hanyalah gertakan semata. Ia masih percaya jika mantan menantu sialnya itu bukanlah tandingannya.

"Diberitahukan kepada para penumpang penerbangan Boeing 599-51 dengan tujuan Bangkok, Thailand, yang akan berangkat pada pukul 22.45 Waktu Indonesia Barat, agar segera menuju gate keberangkatan untuk proses boarding. Kami ulangi, kepada para penumpang penerbangan Boeing 599-51 tujuan Bangkok, dipersilakan segera menuju gate keberangkatan. Terima kasih."

Pengumuman terkait penerbangan yang akan datang tergema diseluruh penjuru bandara. Menjadi sebuah tanda pula bagi Sarah, bahwa hidupnya akan segera rumit kembali. Namun, apapun itu demi anaknya, maka akan ia lakukan walau harus ditukar dengan ketenangan hidupnya sendiri.

...****************...

Setelah mengantar Suratih hingga pesawat yang nenek lampir itu naiki telah lepas landas. Sarah dan Bagas pun kini telah berada di dalam mobil. Suasana canggung menyelimuti keduanya, karena hanya ada mereka berdua dengan Bagas yang menyetir dan Sarah yang mau tak mau duduk disebelahnya. Itu semua karena Bagas tidak ingin dianggap sebagai seorang sopir apabila Sarah masih tetap duduk di bangku belakang.

Gerimis ternyata turun kembali membasahi kaca mobil yang tengah Sarah tatap guna mengalihkan kesunyian yang terasa. Namun ketenangan terbalut keterdiaman dua insan disana seketika buyar saat seorang ibu-ibu pengendara motor tiba-tiba berbelok ke kanan sementara lampu sein kirinya masih menyala, sehingga membuat Bagas refleks menginjak rem dan membanting setir. Untung saja jalanan saat ini terbilang sepi.

Sayangnya, Sarah harus rela sebentar lagi kepalanya terantuk dashboard mobil karena kencangnya pemberhentian secara mendadak itu. Namun tanpa di duga tiada rasa sakit yang ia dapati. Seperti ada yang aneh.

Ternyata, tubuhnya di tahan oleh sang tuan. Entah bagaimana, tetapi Sarah aman dan kepalanya tidak harus benjol. Namun, tidak lama setelahnya ia baru sadar kalau tangan sang tuan menahannya di depan tubuh dan tepat menangkup erat bongkahan dadanya.

“Ahhh,” desah Sarah terkejut.

Dan apa-apaan ini? Bukannya langsung melepaskan, mengapa malah sang tuan memberi sedikit remasan hingga membuat Sarah berdesir tidak karuan?

1
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!