"Biarlah ini menjadi taqdir yang harus aku lalui, bu"
Aku yakin suatu hari nanti Allah akan memberikan jodoh yang Allah Ridhoi untuk, Kia!
Nakia Rahmadhani Aulia, gadis yg berusia 22 tahun. Yang harus mengalami gagal menikah dengan pembatalan yang tak layak, yang membuat kedua orangtuanya kecewa kepada Rendy yang telah memutuskan tanpa alasan yang jelas.
Akankah Nakia bisa menata hatinya, dan menemukan jodoh yang terbaik untuknya?
Ikuti laju cerita cinta Nakia yang penuh luka di hatinya.
Selamat membaca karya pertamakku, ya. Mohon maaf bila banyak kekurangan dalam novel ini.
Selang beberapa bulan Kia dapat melupakan sosok Rendy dengan kehadiran Prama sang anak pengusaha. Yang memiliki kisah percintaan yang membuatnya menjadi seoang yang dingin terhadap wanita.
Lama-kelamaan ia sering bertemu dengan Nakia sang penjaga butik langganan almarhumah mamahnya. Mereka menjalani kisah cinta yang hampir kepelaminan. Namun taqdir lagi-lagi membuat Kia harus bersedih kembali karena kematian Prama yang 2 minggu lagi akan menjadi suaminya.
Setelah ke pergian sang calon suami membuat Kia terpuruk dan selalu bersedih bila menatap semua kenangan-kenangan bersamanya. Sampai akhirnya Kia tinggal jauh dari kedua orangtua, kakak dan adiknya.
Dapatkah Kia menemukan JODOH yang sudah siapkan oleh Sang Maha Kuasa? Ikuti selalu setiap episodenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Jerapah Cungkring
"Kia... tolong berkas ini kamu cek lagi ya, karena tadi aku liat ada kesalahan sedikit di bagian ini, kalau udah rapi kamu taro di mejaku ya!." perintah Sasa.
"Terima kasih.!
" Baik...!, mba. Nanti aku perbaiki lagi. ucapnya sambil meraih berkas tersebut.
Tok... tok... tok...
"Mba ini berkasnya sudah aku perbaiki, apa ada yang lain lagi?"
"Gak, udah selesai semua kok, makasih ya. Kamu udah boleh pulang!,, aku juga udah mau pulang nih. Ooh ya...! kamu pulang naik apa?"
"Ya, mba. Paling aku pulang naik ojek online kok, mba."
"Ooh gitu, kalau kamu pulangnya searah sama aku, ikut bareng aja sama aku, ucap Sasa menawarkan diri."
"Gak usah mba, masih... soalnya aku mau mampir ke tempat kerja temen aku dulu."
"Baiklah kalau gitu, aku duluan ya? BTW kalau di luar kamu panggilnya Sasa aja ya, kesannya kalau di panggil mba aku tua banget."
"Siaaaapp...!, aku cuma gak enak aja kalau di kantor masa aku panggilnya Sasa aja, kan gak enak sama yang lain." senyum Kia yang mengembang.
"Ya udah..., kamu pulangnya hati-hati ya, "Dahhh...!!"
****
Seseorang sedang duduk tenang menunggu. Namun sesekali ia berdiri karena terlalu lama ia duduk, matanya selalu tertuju pada lift yang terbuka, namun orang yang ia nantikan tak kunjung tiba.
Pada akhirnya ia memutuskan untuk menunggunya di depan kantor tersebut.
Sesekali iya berbincang-bincang dengan satpam yang berjaga di depan pintu utama kantor.
Percakapanya terhenti ketika orang yang di nantikannya telah menunjukan batang hidungnya.
"Dasar tikus dapur, lama banget sih?, ucapnya."
"Apa sih jerapah cungkring, balasnya."
"Apa tadi kamu bilang?? enak aja aku di katain jerapah cungkring, jawabnya tak terima."
"Lagian siapa suruh ngatain aku duluan."
Aku itu punya nama tau...!! Gak enak kan kalau dikatain kaya gitu?"
"Ya sudahlah...! terserah kamu aja, mau ngatain apa, aku pasrah. Puas??" ada sedikit penekanan
"Ngapain nungguin aku disini?"
"Idihhh... idihh dia lupa dah, mulai pikun baru kerja sehari disini!?.
"Ya aku inget, udah ya kak jangan ngajakin ribut ke aku."
****
"Ini mobil siapa?"
Tanya Kia yang kini sudah di parkiran kantor tersebut.
"Ya mobil aku dong, Kia. Masa mobilnya Attahalilintar, ucapnya yang sudah membukakan pintu mobil untuk Kia."
"Bukanya kakak suka pake motor ya?, kalau lagi ke butik?"
"Itu kalau lagi males bawa mobil aja, karena kalau bawa motor lebih cepet sampenya, aku pake mobil kalau lagi ngator aja kok."
Ucap Prama yang sudah melajukan kendaraannya.
"Gimana hari pertama kerja di sini?"
"Alhamdulillah, menyenangkan. Orangnya baik-baik, walau ada beberapa yang gak suka sama aku."
"Biarin aja jangan diambil pusing sama orang-orang kaya gitu. ucapnya yang sambil fokus ke arah depan."
"Gak aku ambil pusing kok, karena ada mba Sasa yang selalu bantuin dan aku juga gak sungkan-sungkan nanya sama dia soal kerjaan karena dia orangnya baik banget, awalnya aku pikir dia bakalan jutekin aku. hehe.
" Makannya jangan nilai orang dari penampilannya aja, kalau belum tau lebih deket."
Kamu udah kabarin Ulan belum kalau kita mau ke kantornya?
"Aku tadi udah telpon dia, tapi dia mau ke mall katanya, gak tau dah mau ngapain".
Kita samperin aja dia kesana ya, kak, sekalian aku mau cari-cari baju kerja, karena kata mba Sasa aku harus perbaikin cara berpakaianku yang terlalu sederhana mungkin."
"Oke...!! kamu tau kan dia di mall mananya?"
Jangan lupa kamu kabarin orang rumah juga, biar orangtua kamu gak khawatir."
"Udahhhh, jerapah cungkring!, Aku tuh selalu kabarin keluarga dulu kalu mau pergi.
" Bagus dech kalau gitu. Mulai kan, ngatain aku lagi, tar kalau di katain marah?!"
****
Kini Kia dan Prama pun tiba di mall yang mereka tuju, matanya berkeliaran mencari seseorang yang telah berjanji menunggunya di sebuah tempat makan yang ada di mall tersebut.
Satu persatu ia cari orang tersebut, dan pencariannya pun tak sia-sia, ia temukan temannya itu di meja pojok kanan yamg menghadap pemandangan di luar kaca.
Dengan lambayan tangan mereka mengisyaratkan bahwa mereka telah menemukan satu sama lainnya.
"Lama banget dahh, udah gatel nih pengen milih-milih, ucap Ulan sambil cipika cipiki."
"Kaya gak tau aja kalau jam segini jalanan macet, ucap Kia yang menbalas uluran tangan Ulan."
"Tungguuu... kayanya aku pernah liat dech peria yang bersamamu ini, bisik Ulan dengan sedikit melirik ke arah Prama.
" Ya ini kak Prama pelanggan setiaku, waktu di butiknya tante Renata."
"Hai, kak aku Ulan, ucapnya mengenalkan diri."
"Saya Prama." imbuhnya yang kini duduk bersama.
"Ini Diva sepupu kamu itu kan, Lan?"
Apa kabar, Diva? ucapnya seraya tersenyum pada gadis yang hampir seumuran dengan adiknya.
"Alhamdulillah, aku baik, kak Kia"
Beberapa menit mereka berbincang-bicang di tempat itu, bertukar cerita tentang semua kegiatan mereka yang kini tidak bisa sedekat dulu, canda tawa, umpatan, dan kegembiraan mereka tuangkan.
Hanya Prama yang duduk tenang mendengarkan dua teman yang saling bernostalgia. Wala sesekali ia melirik ekspresi Kia ketika berbicara, menjadi pendengar yang baik tidak masalah baginya.
"Kia aku pulang pamit duluan ya, karena mau cari-cari buku untuk Diva di gramed lain, buku yang dia cari disini ada satu yang belum ketemu. Kapan-kapan aku main dech ke rumah kamu, ya?!, maaf ya aku gak bisa nemenin, ucap Ulan yang sudah hendak beranjak pergi.
" Yaaahhh gak seru deh, aku gak ada yang nemenin buat pilih-pilih baju, ucapnya dengan nada sedikit kecewa.
"Kan ada kak Prama, dia pasti ngerti kok baju yang cocok buat, kamu? iya kan kak?
" Inshaa Allah" ucapnya singkat.
"Aku pamit ya, Kia, sampai ketemu lagi, jangan lupa kalau ada berits baik kabarin sama aku ya, ucapnya dengan menjerjapkan matanya kepada Kia.
" Apaan sih kamu, Lan awas tuh tar matanya copot gelinding ampe lantai. Balas Kia dengan memajukan bibirnya..
"Dahhh... Assalamu'alaykum...
Jangan lupa kalau udah jadian teraktir aku nonton, bisiknya dengan berlalu pergi.
" Dasar Ulan markulan...
"Ulan bisikin apaan ke kamu, Kia?
" Gak bukan apa-apa kok, biasa dia kalau ngomong suka ngaco.
Oohh gitu...!! seru ya kalau perempuan ketemuan, apa aja dibahas dari hal yang paling kecil sampai hal pribadi. ucap Prama yang melangkah lebih dulu dari, Kia.
"Emang kalau laki-laki gak begitu juga ya? bukanya sama aja, kalau udah ketemu temennya apa aja suka di bahas, apalagi masalah game, yang bagi perempuan itu membuang-buang waktu. Ucapnya yang sekarang melangkah mengimbangi langkah Prama.
" Siapa bilang, aku gak terlalu begitu menyukai game jadi aku jarang ngomongin maslah game, paling yang aku bahas tentang kerjaan."
Hayookk agak cepet jalannya biar pas pulang gak kemaleman.
"Emang kakak gak masalah nemenin aku cari baju kerja?"
"Udah cepetan tikus dapur jangan banyak tanya.
" Yaa ...jerapah cungkring. Huuuhh...
.
.
.
.
**Bersambung-----
Buat yang udah mapir jangan lupa ya Votenya untuk karyaku ini, sumbangin sebagian poin kalian untuk aku gak apa-apa walau cuma 20-50 Vote juga, aku bersyukur. Karena aku juga gak pernah pelit sama kalian kalai aku punya poin lebih... hehe Lebay ya...
JANGAN LUPA LIKE, DAN KOMENNYA APALAGI VOTE NYA**
jangan lupa meninggalkan jejak like dan komennya ...
masukan ya sangat di tunggu